Single Parents

Single Parents
KEJUTAN UNTUK ALIA.



Setelah beberapa jam membujuk dan meyakinkan nyonya Farida bahwa dirinya tak akan pernah meninggalkan Ozan, akhirnya wanita paruh baya itu menyerah dan bisa terlelap saat jam menunjuk ke arah sebelas malam.


Karna nyonya Farida telah mempekerjakan seorang pengasuh untuk Ozan dan Assyifa, jadi Alia bisa tenang dan dengan santai mendengarkan curhatan nyonya Farida yang telah lama di pendamnya seorang diri.


Setelah menyelimuti mertuanya, mengamati wajah nyonya Farida yang sedang tertidur pulas, wanita yang sentiasa terlihat tenang dan hangat di setiap tutur katanya itu, ternyata menyimpan kekhawatiran yang cukup besar dalam hatinya.


Alia beranjak setelah memastikan nyonya Farida telah tertidur pulas.


Sambil menaiki anak tangga, Alia terus memerhatikan kemegahan di kiri dan kanan, menelusuri setiap sudut di lantai dua itu.


Terdapat tiga kamar di lantai itu dan dia bingung harus masuk ke kamar yang mana.


Beruntung, seorang wanita yang terlihat lebih dewasa darinya keluar dari salah satu kamar yang paling ujung.


"Nyona, ada yang bisa saya bantu?"


Wanita berseragam merah muda itu mendekatinya, pengasuh itu sepertinya tahu ia sedang kebingungan mencari sesuatu.


"Iya, saya sedang mencari tas yang di bawa oleh pelayan tadi, apakah kamu melihatnya?"


"Oh, barang-barang nyonya ada di kamar ini"


Dengan sopan wanita yang mengenakan seragam bermotif garis-garis itu menunjukkan sebuah kamar tepat di samping Alia.


"Namaku Alia, kamu bisa memanggilku dengan nama itu" Alia mengulurkan tangan memperkenalkan diri dengan ramah.


"Saya Amina nyonya, tuan Hisyam menugaskan saya untuk menjaga tuan muda Ozan dan non Assyifa"


"Nn-non Assyifa?"


Alia mengulang kata-kata Amina, tak terbiasa dengan sebutan yang di sematkan pengasuh itu pada putrinya.


"Nyonya...!" Panggilan Amina membuat Alia tersadar.


"Nyonya baik-baik saja, kan?"


"Uh.... i-iya, aku tidak apa-apa, oya, apa anak-anak sudah tidur?" Tanyanya lagi.


Karna terlalu fokus mendengar curhatan nyonya Farida, Alia pun baru teringat akan anak-anaknya, dan tentu saja mereka sudah tidur di jam seperti ini.


Setelah meminta izin untuk beristirahat Amina pun pergi, begitu pun Alia yang ikut beranjak memasuki kamar yang di tunjukkan oleh pengasuh itu padanya.


Alia menapaki kamar baru yang telah di siapkan untuknya.


Ia merasa lega melihat tas bawaannya sudah terletak di dalam, itu artinya dirinya tak salah memasuki kamar, karna dari awal ia merasa heran melihat kamar yang di siapkan untuknya di dominasi dengan warna gelap, sama seperti desain kamar suaminya yang hitam sesuai dengan karakter Hisyam yang mengerikan.


"Tak apalah, mungkin saja ini kamar Hamish, dia kan tidak ada di sini"


Pikir Alia sembari berjalan mendekati kamar mandi.


"Hm.... begini, nih, kalau dalam keluarga kebanyakan cowok, sampai peralatan dan produk yang di gunakan, pun, semuanya beraroma maskulin"


Gumam Alia sambil berkacak pinggang memerhatikan semua produk yang tersusun dalam rak kamar mandi.


Setelah menyelesaikan ritual mandinya Alia akhirnya keluar dengan sehelai handuk di tubuhnya dan mulai mengeluarkan satu persatu pakaian yang akan di kenakannya dari dalam tasnya.


Terlalu fokus dengan semua pakaiannya sampai tak sadar Hisyam kini berdiri di belakangnya.


"Kenapa tidak mengganti pakaian di dalam?"


"Apa....!"


Karna terlalu kaget Alia segera berdiri menghadap Hisyam yang sama sekali tak berkedip memandangi tubuh putih istrinya yang sampai sekarang tak pernah bisa ia sentuh.


Senentara Alia yang belum sadar hanya mengenakan sehelai handuk di tubuhnya kini mengikuti kemana arah pandangan Hisyam mendarat.


"Hei! Kamu....!"


Alia tersadar akan situasinya namun karna terlalu malu, Alia tak dapat melanjutkan kata-katanya, ia segera menggapai selimut yang ada di atas tempat tidur dan menutupi tubuhnya.


"Kenapa.... tuan ada di sini?"


Setelah menutupi tubuhnya, Alia kembali melanjutkan kata-katanya namun tak berani bersitatap dengan suaminya.


"Hm.... ini kamarku, apa mama tidak memberi tahumu"


Jawab Hisyam santai, meski sebenarnya jantungnya juga seakan ingin keluar.


"Tapi.... kenapa barang-barangku ada disini?" Tanya Alia polos.


Jelas Hisyam sambil merapikan tas Alia dan membawanya ke dalam walk in closet, sekaligus menyembunyikan detak jantungnya yang masih bertalu hebat.


Alia yang masih berbalut selimut bergegas mengekori Hisyam "Bagaimana dengan tuan, apa tuan akan menyerah begitu saja dan tak akan memperbaiki hubungan tuan dangan Hamish?"


Alia memberanikan diri membuka topik pembicaraan yang sangat sensitif untuk di ceritakan.


Tapi karna janjinya pada nyonya Farida yang akan mendekatkan dua beradik yang sedang berseteru itu, membuatnya memiliki keberanian untuk mengungkitnya kembali


"Jawab aku, tuan! Tidakkah tuan ingin memperbaiki hubungan...."


Bruukkk....!


Alia yang sedari tadi mengekori Hisyam kini terpental ke lantai saat pria itu tiba-tiba menghentikan langkahnya.


Sementara Hisyam yang baru saja berbalik segera mengulurkan tangan pada Alia yang masih berbungkus selimut tebal.


"Kamu tidak apa-apa, kan?" Tanya Hisyam khawatir.


"Kenapa tuan begitu keras kapala?" Jawaban Alia tak sesuai dengan pertanyaannya.


Bukannya menyambut uluran tangan Hisyam, Alia malah melanjutkan topik pembicaraan mereka yang sempat terputus.


Hisyam yang kesal bantuannya tak di tanggapi, pria itu pun tanpa permisi mengangkat tubuh kecil istrinya beserta selimut dan mendudukkannya di atas tempat tidur.


Alia yang tak menyangka akan di perlakukan seperti itu, hanya bisa terdiam layaknya seorang anak yang sedang menanti hukuman dari orang tuanya, tapi anehnya Alia malah merasa salah tingkah di buatnya.


"Alia! Dengar, kamu tidak mengert apa pun tentang kami, jadi, berhentilah ikut campur masalah ini"


"Tapi aku mengerti.... aku juga pernah merasakan hal yang sama, merasa bersalah atas kepergian papaku saat itu...."


Hisyam terdiam, kini gilirannya yang merasa bersalah telah mengungkit masa lalu Alia yang membuat ayahnya terkena struk dan akhirnya menghembuskan nafas terakhirnya di hari ijab kabul mereka.


"Maaf, aku tak bermaksud..."


"Tidak perlu minta maaf, aku sudah merelakannya, jadi.... bisakah kita melupakannya, dan memulai semuanya dengan awal yang baru, hm....?"


Pinta Alia, dengan mengumpulkan keberaniannya ia akhirnya bisa menggenggam tangan Hisyam yang sedang menatap kagum padanya.


"Aku tidak bisa!" Hisyam melerai genggaman tangan Alia.


"Kenapa....?" Tanya Alia kecewa.


"Aku sudah punya rencana sebelumnya"


"Apa itu lebih penting dari hubungan tuan dengan Hamish?"


"Iya, dan bukankah tadi kamu bilang ingin memulai semuanya dengan awal yang baik...."


"Ma-maksud tuan....?"


"Aku punya rencana untuk memulai hal yang baik itu"


"Apa....?" Alia penasaran.


"Dinner.... um, maksudku makan malam" Jelas Hisyam.


"Jadi karna itu, tuan tidak bisa menjemput Hamish, karna ingin membicarakannya saat makan malam, nanti" Tanya Alia antusias.


"Uh.... bukan seperti itu, Alia, maksudku...."


"Argh.... bagaimana aku harus menjelaskan padanya, padahal aku ingin memberikan kejutan ini pada mereka"


Hisyam mulai bingung harus menjelaskan pada Alia maksud dari rencana makan malam yang telah di rencanakannya.


"Kenapa tuan diam, apa sebenarnya yang...."


"Lupakan saja! Yang pasti besok kamu ikut denganku, kita akan pergi ke sebuah tempat!"


Hisyam yang mulai kesal dengan semua pertanyaan istrinya kemudian pergi meninggalkan Alia yang masih berbalut selimut.


"Apa maksudnya? Dia mengajak Hamish atau mengajak aku...." Gumamnya sambil berjalan ke arah walk in closet.


"Tunggu! Apa itu artinya dia ingin mengajakku makan malam romantis dan mengatakan kalau dirinya akan mencoba menenerima kehadiranku dalam hidupnya"


Alia berjingkrak kegirangan, bahkan sampai dalam tidur pun ia terus memimpikan betapa romantisnya makan malam mereka nanti.