
Suasana langit malam semakin gelap dan dingin menandakan sebentar lagi akan turun hujan, dengan langkah gontai Alia terus berjalan menyusuri trotoar setelah meninggalkan gedung hotel tadi.
Rintik hujan dan gemuruh yang terdengar dari kejauhan mulai mengusik kesendiriannya, dengan berlari kecil wanita bergaun biru itu mendekati halte yang berada di luar kawasan hotel.
Buru-buru Alia mengusap rambutnya yang sedikit basah oleh air hujan, kemudian duduk dengan memeluk erat tubuhnya yang mulai menggigil akibat angin malam yang semakin sejuk dan lembab.
Sebuah bus kini berhenti tepat di hadapannya, orang-orang yang tadinya menunggu bersamanya telah pun pergi dengan menaiki bus tadi.
Alia membiarkan bus berlalu begitu saja, ia hanya menatap kosong ke hadapan dan lagi-lagi menghela napas berat kala peristiwa memalukan tadi kembali mengusik ingatannya.
"Hm, bagaimana aku akan menghadapi tuan Hisyam setelah ini, dia pasti akan menertawakanku setelah tahu bagaimana perasaanku padanya, akh, bodoh! Bodoh!"
Gumam Alia, sambil menutup wajahnya, terlihat ia berkali-kali menghentakkan kakinya, kesal dangan kecerobohannya sendiri.
"Kenapa jadi seperti ini, sih!" Sungutnya pada diri sendiri.
Padahal selama ini ia sudah begitu berhati-hati dengan perasaannya, hingga dengan percaya diri ia menerima tawaran Hisyam kala itu, dengan harapan, ia bisa memberi kehidupan yang lebih baik untuk putri kecilnya.
Namun, semuanya pun berubah menjadi bumerang baginya, pasalnya mereka sudah berjanji akan menjalani pernikahan hanya untuk kebahagiaan anak-anaknya.
Tapi, kenapa ia malah terjebak dan sekarang ia merasa takut jika Hisyam akhirnya memutuskan untuk mengakhiri pernikahan mereka.
"Akh.... jujur, aku begitu takut jika harus menjalani hidupku sebagai ibu tunggal lagi"
Lagi-lagi ketakutan terbesarnya kembali membuatnya merinding, pasalnya ia sudah mulai merasa nyaman dengan perlindungan yang diberikan oleh Hisyam selama ini, akankah ia bisa menghadapi kerasnya kehidupan setelah ini?.
Dan Assyifa, gadis kecilnya itu pasti akan merasa sedih jika harus kehilangan sosok ayah lagi, seperti saat ia kehilangan kakeknya, satu-satunya orang yang berperan sebagai ayahnya sebelum mengenal Hisyam.
-
Hujan semakin deras, Alia bangkit dengan wajah yang kusut, tadinya ia memutuskan untuk kembali ke gedung, tapi karna hujan semakin deras membuatnya berdiam diri dan kembali mengeratkan pelukannya.
Tiba-tiba sebuah jas kini menutupi pundak Alia yang terbuka, dengan spontan Alia mendongak, lalu kembali menunduk setelah menatap suaminya sejenak.
"Ayo kita pulang...."
Hisyam mengulurkan tangan namun Alia hanya menatapnya.
"Setidaknya keringkan dulu pakaianmu, kamu akan sakit jika...."
Alia bangkit dan segera memasuki mobil meski tanpa arahan dari suaminya.
Melihat respon Alia, Hisyam pun bergegas mengikuti istrinya ke dalam mobil tanpa berkomentar, meski ia sedikit jengkel saat niat baiknya di abaikan begitu saja oleh istrinya itu.
Sesampainya di dalam mobil Hisyam tak langsung menghidupkan mesin, ia ingin segera menyelesaikan permasalahannya dengan wanita yang masih terdiam, menatap ke luar jendela.
Setelah beberapa menit mereka masih saling terdiam, akhirnya Hisyam menyerah dan kemudian melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.
Menyadari kecepatan berkendara Hisyam yang tak seperti biasanya, membuat Alia sadar dan panik.
"Tuan! Apa yang tuan lakukan?" Alia panik dan tak sadar tangan Hisyam kini sedang dalam genggamnya.
Tau perhatian Alia sudah teralih padanya, Hisyam pun mendadak menginjak rem hingga tubuh Alia terhuyung ke depan.
Beruntung Alia mengenakan seat belt hingga hanya kepalanya yang terbentur oleh dashboard.
Melihat Alia meringis kesakitan sambil memegangi kepalanya membuat Hisyam panik dan segera melepas sabuk pengamannya agar bisa menghadap ke arah istrinya.
"You okay?"
Tanya Hisyam panik, lalu mengangkat wajah pucat istrinya menghadap padanya.
Alia melepas tangan Hisyam dari wajanya, "Apa kamu sudah bosan hidup! Kalau ingin mengakhiri hidup sebaiknya jangan mengajakku...!"
Dengan nafas yang memburu Alia akhirnya meluapkan kekesalannya, entah karna cara mengemudi Hisyam yang hampir menyebabkannya geger otak atau karna pria itu telah menolak perasaannya dan yang lebih parah lagi, Hisyam dengan sengaja memberikan dirinya pada pria lain.
"Sepertinya kamu baik-baik saja" Ucapan Hisyam membuat Alia menghentikan omelannya.
"Um, ma-maksudku... kita bisa saja mengalami kecelakaan dengan cara mengemudi tuan yang seperti tadi"
Nada bicara Alia kembali merendah saat menyadari kelancangannya memaki suaminya tanpa sungkan, padahal status pernikahan mereka hanyalah sebatas kesepakatan dan Hisyam sama sekali tak pernah menganggapnya sebagai seorang istri.
"Hm.... padahal setelah mendengar pengakuanmu di restoran tadi, membuatku yakin kalau kamu tak akan keberatan jika harus meregang nyawa bersamaku"
Sindiran Hisyam membuat Alia salah tingkah hingga menunduk, seakan ingin menyembunyikan wajahnya yang terasa memanas karna malu.
"Um, mengenai hal tadi, bisakah tuan melupakannya...."
"Tergantung bagaimana kamu menuruti semua keinginanku dan tak akan membantah kata-kataku lagi"
Pancing Hisyam, sambil tersenyum puas, ia kemudian menghidupkan mesin mobilnya dan mulai berkendara dengan kecepatan sedang.
*****
"Kenapa kita kembali kesini?"
Tanya Alia setelah menyadari Hisyam kembali memarkirkan mobilnya di hotel yang mereka tinggalkan beberapa menit yang lalu.
"Karna aku menginginkannya dan, kita akan menginap di sini malam ini?"
"Sebelum tuan memberitahuku apa maksud tuan membawaku kembali kesini, aku tak akan masuk ke dalam!"
Alia mempertegas, tak ingin beranjak dari tempatnya, namun Hisyam tetap tak menjawab.
Malah tanpa memberi Alia waktu untuk berkomentar, pria itu menghampiri meja resepsionis menanyakan sebuah kamar atas nama Hamish.
Petugas reseptionis seketika sibuk dengan komputernya, beberapa saat kemudian menatap Hisyam dengan ramah.
"Reservasi atas nama tuan Hamish...."
"Apa? Hamish!"
Mendengar nama Hamish di sebut oleh si resepsionis membuat mata Alia seketika nyalang menatap Hisyam yang tak perduli dengan pertanyaannya.
Malah dengan acuh Hisyam mengikuti pelayan hotel yang akan menunjukkan kamar mereka, hingga Alia tak melanjutkan aksi protesnya
Setelah menerima tip dari Hisyam, pelayan hotel pun pamit meninggalkan Alia yang masih mematung di ambang pintu, sedangkan Hisyam sudah lebih dulu melenggang di hadapan Alia.
"Kenapa berdiri di sana, ayo masuk...." Titah Hisyam setelah menyadari Alia tak ikut masuk bersamanya.
"Aku tak akan masuk, sebelum tuan memberitahuku rencana tuan kali ini" Jawab Alia yang tetap teguh pada pendiriann
Dengan alasan lain, dia tak ingin Hisyam menganggapnya wanita mur**an yang siap di berikan kepada siapapun termasuk Hamish, pria yang sengaja memesan kamar untuknya.
"Alia, came on, orang-orang sedang memperhatikan, sebaiknya kita bicarakan semuanya di dalam, hm...."
Bujuk Hisyam kemudian menarik tangan istrinya yang tetap saja bergeming, tak ingin beranjak dari tempat itu.
"Alia, please, jangan memaksaku untuk berbuat kasar padamu!"
Bisikan Hisyam terdengar penuh penekanan, sehingga membuat Alia bergidik apalagi saat Hisyam semakin mengeratkan cengkramannya.
"Auw....! Lepaskan aku, aku tak akan masuk ke dalam!"
Tolak Alia sekuat tenaga, namun tetap saja ia tak bisa berbuat apa-apa dan terpaksa mengikuti kehendak suaminya.
"Kenapa kamu begitu keras kapala, hah! Aku hanya ingin menyelesaikan masalah kita dengan baik-baik "
Pekik Hisyam sembari mendudukkan istrinya di atas sofa tanpa perduli Alia kini sedang menatap tajam ke arahnya.
"Baik-baik katamu? Apa dengan membawaku ke kamar pria lain, adalah hal yang baik! Belum cukupkah memanfaatkanku untuk kepentingan bisnis...."
Alia mengungkit pe**cehan yang di alaminya beberapa waktu lalu.
"Baiklah, aku mengaku aku telah melanggar perjanjian kita dengan diam-diam menaruh hati pada tuan tapi....
Bukan berarti tuan bisa seenaknya membawaku pada Hamish, seperti saat tuan membawaku pada tuan Mike, hiks.... hiks...."
Alia terisak sambil menutupi wajahnya, peristiwa pe**cehan yang pernah di alaminya dulu kembali terlintas di pikirannya.
Hisyam bungkam menatap prihatin pada wanita yang telah di nikahinya itu.
Ia baru mengerti maksud dari penolakan yang di lakukan Alia sejak tadi tak lain dari kesalahannya di masa lalu.
Kesalahan yang membuat Alia mengalami trauma hingga sekarang.
Dengan ragu ia mendekati wanita yang sedang terisak, meratapi nasibnya yang menyedihkan.
"Maaf karna telah membuatmu tersiksa selama ini" Ucap Hisyam setelah melabuhkan bokongnya di samping Alia.
Melihat Alia masih sesenggukan, ingin saja ia menenangkan wanita di sampingnya namun ia bingung dari mana ia harus mendapatkan keberanian itu.
"Setelah mendengar semuanya darimu, aku baru sadar kalau hubungan kalian hanya sebatas teman dan aku telah salah paham dengan kedekatan kalian"
"Apa maksud tuan?"
Penasaran dengan kata-kata suaminya, Alia akhirnya menunjukkan wajahnya, meski masih berderai air mata.
"Dengan mengatur makan malam dan membiarkan kalian berbicara dari hati ke hati, ku pikir kalian bisa mengutarakan perasaan satu sama lain, tapi ternyata...."
"Tunggu! Jadi selama ini tuan berpikir kalau aku berselingkuh sengan Hamish, adik tuan sendiri!"
Alia bangkit dari duduknya sembari menghapus bekas basah di pipinya.
Dengan tatapan kesal ia sama sekali tak menyangka jika selama ini ia begitu rendah pada pandangan Hisyam.
"Seburuk itukah aku di mata tuan? Apa karna itu, tuan sama sekali tak pernah meliriku?"
"Alia bukan seperti itu, menurutku kamu adalah wanita yang baik, hanya saja aku...."
"Aku tak pantas untuk tuan, kan, aku sadar akan hal itu"
"Alia, aku sebenarnya hanya tak...."
"Sudahlah, tuan tak perlu merubah keputusan tuan hanya karna tak ingin mengecewakanku, setidaknya aku sudah merasa lega telah mengakui perasaanku pada tuan"
Alia berusaha terlihat tegar, meski dalam hatinya ia begitu kecewa, bukan pada Hisyam yang telah menolak perasaannya tapi kecewa pada dirinya sandiri, karna kekurangannya lah membuat dirinya selalu di anggap rendah oleh orang-orang hingga tak pantas mendapatkan cinta dari pria manapun.