Single Parents

Single Parents
BERTEMU SAHABAT LAMA.



Alia turun ke lantai dasar rumah sakit setelah mendapat telpon dari om Farhan, terlihat seseorang sedang menuju ke arahnya dengan melambaikan tangan padanya.


Hamish yang terlihat sedang menenteng sebuah tas berukuran sederhana kini semakin mendekat menghampirinya.


"Hey!" Sapa Hamish sambil menunjukkan tas di tangannya.


Alia sedikit mengangkat alis ke atas, "Kamu di sini juga.... om Farhan mana?" Tanya Alia, saat tak melihat sosok yang di tunggunya.


"Aku bertemu denganya di luar, jadi aku menyuruhnya untuk pulang saja, kebetulan aku juga ingin menjenguk Hisyam, sekalian mengantarkan keperluan kalian"


Jelas Hamish setelah mereka keluar dari lift.


Setelah mengetuk pintu, Hamish melangkah memasuki ruangan tempat Hisyam di rawat tanpa menunggu jawaban dari dalam.


Alia mendelik melihat kelakuan adik iparnya itu, mungkin jika dia ada di posisi itu ia akan menunggu sampai Hisyam mengijinkannya masuk.


Meski, dirinya sudah menjadi istri dari penghuni kamar tersebut tapi Alia masih merasa belum pantas jika harus mem-posisikan dirinya sebagai istri dari seorang Hisyam yang merupakan mantan majikannya dulu.


"Alia, kenapa berdiri di sana? Kemarilah"


Suara Hamish membuyarkan lamunan Alia, sementara si pesakit dan dokternya baru menyadari kehadiran wanita itu di antara mereka.


"A-aku harus membeli minuman dulu" Jawab Alia sebelum meninggalkan ruangan itu.


Karna tak ingin mengganggu, Alia pun memberi alasan agar bisa memberi ruang ke-tiga pria itu, lagi pula, sekeras apapun ia berusaha, dirinya tak akan pernah bisa mengerti pembicaraan mereka yang selalu mengusung tema bisnis dan kemewahan.


Setelah mendapat kopi yang di inginkan, Alia kembali dan mencoba berjalan sesantai mungkin.


Tak ingin terlihat terlalu ikut campur dengan urusan tiga pria di dalam sana, Alia pun berhenti di sebuah kursi yang terletak tak jauh dari ruang perawatan Hisyam.


Sambil menyesap kopi yang baru di belinya, perhatiannya tertuju pada sosok wanita yang di kenalnya.


"Eh.... Nisha?"


Panggil Alia ragu, sementara wanita di hadapannya itu juga menatapnya penuh tanda tanya.


Alia mendekat, "Ini aku, Ali...."


"Alia!"


Baru saja Alia ingin melanjutkan kata-katanya, Nisa sudah lebih dulu memeluknya.


"Alia, kamu kemana saja, kenapa tidak menghubungiku?" Tanya Nisa setelah melepas pelukannya.


"Hehe, maaf, aku tak sengaja menghilangkan nomor yang kamu berikan" Jawab Alia sambil menggaruk-garuk kepalanya yang tak gatal.


"Cih! Sini ponselmu! Kamu masih menggemaskan seperti dulu" Rajuk Nisa sambil mengutak atik ponsel milik Alia.


"Cieee, yang punya ponsel limited edition sekarang..."


Goda Nisa sambil menyenggol sahabatnya.


Dan dengan gelak tawa mereka kembali mengingat bagaimana mereka di pertemukan dalam keadaan dan situasi yang sama kala itu.


"Oya, putramu? Mm, namanya...."


"Nathan?" Potong Nisa.


"Iya, Nathan apa kabar dengannya? Dan.... bagaimana dengan pernikahanmu dengan calon dokter itu"


Tanya Alia ragu, tapi ia begitu penasaran bagaimana kelanjutan rumah tangga wanita itu sekarang.


"Yah, begitulah, masih belum ada kepastian darinya, tapi aku berjanji akan mengakhiri semuanya setelah cita-citaku tercapai.....


Oya, bagaimana denganmu, apa semenjak perpisahan kita di Airport dulu, kamu sudah menemui putrimu lagi atau bahkan menemukan sosok ayah baru untuknya?" Goda Nisa dan lagi-lagi menyenggol sahabat lamanya itu.


Alia tersenyum canggung, "Mm... Assyifa sekarang ikut bersamaku, dan sebenarnya, aku sudah menikah" Jawab Alia canggung.


"Oya! Ceritakan padaku dan, di mana suamimu? Kenalkan aku padanya!" Nisa mengerling ke kiri dan kanan, mencari sosok pria yang di maksud oleh sahabatnya itu.


"Tuan Hi.... ma-maksudku, suamiku sedang di rawat disini, tapi maaf, aku belum bisa mengenalkanmu padanya, aku akan memberi tahumu alasannya kenapa" Jelas Alia.


Sambil memperbaik posisi duduknya Alia ingin menceritakan apa yang telah di laluinya setelah mereka berpisah di Airport saat itu.


"Nisa, sebenarnya aku menikah...."


Alia pun ingin mulai menceritakan kisah hidupnya, namun wanita di depannya itu tampak gelisah dan tak fokus pada apa yang ingin di ceritakan oleh Alia.


"Tunggu! Kamu bisa menjelaskannya lain kali, aku sedang terburu-buru, call me, bye" Bisik Nisa sebelum meninggalkan dirinya dengan seribu tanda tanya.


Melihat tingkah sahabatnya, Alia langsung berdiri, "Ada apa dengannya? Bukankah tadi dia begitu antusias ingin mendengar ceritaku" Gumam Alia bingung.


Belum menemukan penyebab Nisa tiba-tiba bertingkah aneh, ia pun di kejutkan oleh suara berat asisten Davis yang tiba-tiba muncul di depannya.


"Bagaimana keadaannya?"


"Astaghfirullah!" Alia begitu kaget, sontak, mengurut dada.


"Tu-tuan Hisyam sedang...."


"Lalu, kenapa kamu hanya berdiri disini?"


Potong Davis dan tanpa menunggu jawaban dari Alia pria yang tak kalah kaku dengan suaminya itu pun berlalu meninggalkannya seorang diri.


****


Protes Hisyam saat Alia hanya meletakkan tiga gelas kopi di atas meja.


"Hm, jangan bilang kalau kamu juga belum tau minuman kesukaan suamimu" Sambung dokter Daniel yang nampak setuju dengan keinginan pasiennya.


"Owh, maaf, biar ku ambilkan lagi"


"Tunggu!" Cegat Hamish sambil mengerling ke arah dokter Daniel.


"What?" Satu tanggapan dari Daniel saat mendapat protes dari Hamish.


Hamish mendengus sambil mengelengkan kepalanya, "Apa kafein baik untuk pasien yang masih dalam perawatan?"


Pertanyaan Hamish membuat dokter dan pasiennya itu gelagapan dengan pandangan yang saling menatap satu sama lain.


"Me-memang ada apa dengan ka-kafein? Kenapa kalian jadi over protektif seperti ini, hah!


Cih! Kalian memperlakukanku seakan aku mau mati saja!"


Sembur Hisyam yang tampak kesal, padahal ia sangat lega bisa mengelabui semua orang dengan acting-nya yang tampak sangat meyakinkan orang-orang di sekitarnya.


"A-aku harus memeriksa beberapa pasien dulu" Ucap dokter Daniel beralasan.


Setelah beberapa menit mereka saling berdiam, satu persatu dari mereka akhirnya ikut bangkit, termasuk Hamish.


"Aku juga seharusnya berangkat ke airport sekarang.... liburanku di sini juga sudah hampir habis"


Jelas Hamish.


Melihat Alia tampak terkejut dengan kabar keberangkatannya yang begitu mendadak, membuat Hamish mendekati wanita yang hampir menjadi pelabuhan terakhirnya itu.


"Rawat kakak-ku dengan baik, kadang ia bersikap sedikit kekanak-kanakan" Bisik Hamish pada kakak iparnya itu.


"Ehm....!" Hisyam berdehem.


Melihat kedekatan istri dan adiknya itu, membuat Hisyam di hinggapi rasa cemburu.


"Lihat, sepertinya tenggorokan suamimu bermasalah, mungkin memang sebaiknya dia di rawat lebih lama lagi di sini"


Goda Hamish sebelum meninggalkan sepasang suami istri itu beserta asistennya yang tak banyak berkomentar.


Setelah hanya tinggal mereka bertiga, Alia hanya bisa menyibukkan diri di antara dua pria yang kaku dan mengerikan itu.


Alia memasukkan beberapa minuman ke dalam lemari pendingin kemudian menyusun pakaiannya ke dalam kabinet yang sudah tersedia.


Sesekali Alia mencuri pandang ke arah pria yang sedang membahas sesuatu dengan begitu serius.


Hinggalah ia lelah sendiri dan tertidur di sofa tanpa tahu bahwa dua pria di sana sedang membicarakan dirinya.


"Bagaimana dengan bisnis kita, tak ada masalah, kan?" Hisyam memulai pembicaraan.


"Semuanya berjalan dengan baik dan mereka tak akan curiga kalau masih ada beberapa perusahaan yang belum mereka bekukan" Jelas Davis dengan raut serius.


"Good..." Puji Hisyam sambil menganggukkan kepalanya.


"What about you, apakah hubungan kalian sudah ada kemajuan?"


Pertanyaan Davis seketika membuat Hisyam terdiam kemudian beralih menatap Alia yang sudah tertidur pulas di sofa.


"Hm! Entahlah, aku rasa dia masih trauma dengan masa lalunya" Jawab Hisyam dengan nada berat.


Dan tanpa ia sadari Davis sekarang sedang menatap lekat ke arahnya, mencari kebenaran dari kata-kata yang baru saja keluar dari mulut sahabatnya.


"Hah!" Davis tergelak mengetahui satu kebenaran.


"What?" Tanya Hisyam melihat ekspresi Davis.


"Bukan apa-apa, tapi, tampaknya pesonamu sedikit memudar belakangan ini, buktinya, dia sama sekali tak tertarik denganmu" Ejek Davis yang masih terkekeh dengan asumsinya.


"Jangan mengaitkannya dengan pesonaku, aku bisa saja membuatnya berubah pikiran dalam sekelip mata, hanya saja... aku tak ingin dia menerima perjodohan ini hanya karna terpaksa"


Tutur Hisyam, dengan tatapan sendu ia memerhatikan wajah lelah istrinya yang sedang terlelap, tak jauh dari tempat tidurnya.


"Ya, ya, ya... sepertinya, pengaruh si gadis indo itu, begitu besar mengubah hidupmu sekarang"


"Apa maksudmu?"


Hisyam tampak kesal, hingga Davis semakin tergelak di buatnya.


"Bukan apa-apa..... sudahlah, aku akan pulang dan, sebaiknya gunakan waktumu sebaik mungkin"


Sindir asisten Davis yang sebenarnya sudah tau alasan di balik kerelaan Hisyam menginap di rumah sakit yang sama, di mana ia kehilangan sosok papa dalam hidupnya.


"Jangan terlalu memaksanya jika tak ingin dia semakin menjauh darimu"


Pesan Davis sebelum meninggalkan Hisyam yang sudah bersiap untuk mengungkapkan ketidak senangannya atas tuduhan Davis.


"Cih! Apa maksudnya, apa dia pikir aku sengaja memanfaatkan keadaan ini!"


Hisyam berdecih kesal mendengar tuduhan sahabatnya.


Namun, kekesalan itu tak berlangsung lama kala melihat wajah tenang istrinya yang sedang tertidur pulas di atas sofa, tanpa bantal maupun selimut


Hisyam bergegas meraih bantal dan selimut dalam lemari, dengan perlahan ia mendekati tubuh mungil Alia dan menyelimutinya.