Single Parents

Single Parents
PERSIAPAN LIBURAN.



Tak seperti biasanya, jadwal Hisyam yang selalu padat dengan berbagai kegiatan positif yang berhubungan dengan bisnisnya, kini bertolak 185 derajat.


Akhir-akhir ini, pria yang sudah berusia tiga puluhan itu terlihat begitu sibuk menghadiri beberapa panggilan stasiun televisi untuk melakukan klarifikasi terkait scandal yang menyeret nama perusahaannya.


Akhir-akhir ini nama Hisyam sering disebut sebut ikut membantu bisnis ilegal yang di jalankan Mr.Lee, itu karena duda beranak satu itu sering terlihat bersama Mr.Lee dan Mike secara diam-diam.


Bahkan Hisyam sering terlihat mendatangi kantor kejaksaan untuk melakukan pemeriksaan atas tuduhan keterlibatan perusahaannya dengan perusahaan Mr.Lee.


Dari situlah rumor mulai beredar di kalangan pebisnis yang memang tak menyukai keberhasilannya selama ini.


Sedang Mr. Lee, yang memang berniat mengalihkan kecurigaan masyarakat tentang bisnis ilegalnya, kini tersenyum puas bisa menjadikan nama besar Hisyam sebagai tumbal bisnis penyelundupan senjata yang di jalankannya selama ini.


-


"Syam! Breakfast dulu sayang!"


Panggil nyonya Farida setelah melihat putranya tergesa-gesa menuruni anak tangga.


"Sorry, mom, tapi Davis sudah menugguku... kami harus memenuhi paggilan pengadilan hari ini...


Huft... ku harap jaksa bisa membuktikan kalau perusahaan kita tidak terlibat dalam bisnis Arms smuggling milik Mr.Lee"


Hisyam mendengus kesal, sambil melirik jam di pergelangan tangannya, pria itu terlihat begitu lelah dengan permainan Mr.Lee kali ini.


"Arms smuggling! Jadi mereka benar-benar menjalankan bisnis itu, tapi, bagaimana kamu bisa tahu?" Nyonya Farida terlihat terkejut.


"Mereka pernah memintaku untuk bekerja sama dalam bisnis itu, sebagai gantinya dia akan menemukan bukti keterlibatan pengasuh itu dalam rencana gila Renata mengambil hak asuh Ozan"


"So! apa keputusanmu saat itu?" Tanya nyonya Farida penuh selidik.


"Mom! Tentu saja aku menolaknya, tapi karna itu jugalah, gadis indo itu hampir menjadi korban kebuasan Mike, huft...."


Hisyam menghela napas kasarnya, seketika rasa bersalah itu datang menghampirinya, hingga nyonya Farida bisa merasakan kali ini putranya benar-benar dalam masalah besar, sampai sampai harus berurusan dengan pihak yang berwajib.


"Kamu terlihat sangat lelah, itulah kenapa mama ingin segera mencarikan jodoh untukmu, supaya ada yang mengirusmu..."


Nyonya Farida menyindir sambil mengolesi roti dengan selei kacang untuk putranya.


"Mom, please, just to day aku tak ingin membicarakan hal ini, okay"


"All right! Kalau begitu duduklah, ada hal yang ingin mama bicarakan denganmu ..."


Nyonya Farida mencoba menghibur putranya, hingga Hisyam pun ikut duduk meghadap beberapa menu sarapan di atas meja.


"About what, mom?" Tanya Hisyam sambil menyeruput coffee hitam yang baru saja di letakkan bik Ina untuknya.


"Mama sudah memikirkan hal ini dan, mama memutuskan untuk tak ikut campur dalam urusan jodohmu, so, sebagai gantinya, mama akan meminta hal lain dari kamu"


Ucap nyonya Farida sambil mengeluarkan beberapa tiket first class dari handbagnya, wanita itu seolah melakukan negosiasi.


"Hm... apa ini, mom?"


Tanya Hisyam, sambil menghelah napas beratnya, ia mulai mencium bau bau mencurigakan dari tingkah mamanya.


"Ingat, saat itu kamu memberi mama beberapa pilihan? Dan salah satunya adalah berlibur, mama harap kamu tidak lupa akan hal itu"


Nyonya Farida memicingkan matanya.


"Jadi, maksud mama ini liburan keluarga, dan aku juga harus ikut?"


Hisyam memastikan apa yang ada di pikirannya memang benar, sedang mamanya hanya menjawab pertanyaan putranya dengan anggukan.


"Tapi, mom, why me? Kenapa aku harus ikut, mama bisa membawa semua staf di rumah ini berapapun yang mama mau, but, not me" Protes Hisyam tak setuju.


"Mama mau ulang tahun pertama Ozan berjalan dengan sempurna, semuanya harus perfect, maka dari itu mama sudah memesan sebuah villa pribadi untuk merayakan birthday party untuk Ozan"


Kata-kata yonya Farida terdengar menegaskan, hingga putranya di buat geleng-geleng dengan permintaan mamanya.


"Akh....! Terserah mama saja, saat ini aku hanya ingin krisis perusahaan cepat selesai, hingga aku tidak perlu lagi mencul di hadapan media terkait scandal yang menyeret nama perusahaan kita"


Tutur Hisyam kesal, sambil menggenggam kuat cangkir di tanganya, wajah licik Mr.Lee seakan tersenyum puas menatap ke arahnya.


"Se...selamat pagi...." Sapa Alia hampir tak terdengar setelah menyadari keberadaan Hisyam yang membuat nyalinya menciut.


"Selamat pagi sayang, oh, cucu oma sudah mandi rupanya" Sambut nyonya Farida hangat, lalu bangkit menyiapkan kursi untuk Alia.


Alia yang merasa tak nyaman hanya melirik Hisyam yang terlihat acuh dan sibuk dengan smartphone di tangannya.


"Oke mom, aku berangkat dulu" Ucap Hisyam lalu bangkit mencium mamanya.


"Wait! Ozan belum mendapat ciuman darimu"


Cegat nyonya Farida, hingga Hisyam terpaksa harus kembali mendekati putranya dan mencium bocah yang sedang bergelayut di leher pengasuhnya.


Tanpa melirik Alia sedikitpun, Hisyam mencium putranya, lalu mengelus pipi gembul itu dan berlalu seakan tak ada desiran yang mempengaruhi detak jantungnya.


"Huft..."


Alia menghela napas panjangnya setelah Hisyam hilang di balik pintu.


" Kenapa aku merasa sedih saat tuan Hisyam mengabaikanku seperti itu? Ah, sudahlah, bukankah lebih baik seperti ini, dari pada harus terus berbergantung padanya"


Alia bermunolog sendiri dan tak tau nyonya Farida sedang memperhatikan mimik wajahnya yang menunjukkan kekecewaan.


"Alia!"


Panggil nyonya Farida, hingga membuat Alia beralih memandang wanita paruh baya itu.


"Duduklah, ada sesuatu yang harus ku sampaikan" Ucap nyonya Farida sambil menepuk kursi di sampingnya.


"Ada apa nyonya?"


"Berkemaslah setelah ini, bik Ina juga, ya" Jelas Farida setelah bik Ina turut duduk di hadapan mereka.


"Memangnya kenapa nyonya, apa aku dan bik Ina melakukan kesalahan?"


Tanya Alia kaget, mengira akan di pecat, tapi jika di pikir, dia tak melakukan kesalahan apapun, apalagi bik Ina yang sudah mengabdikan dirinya selama berpuluh puluh tahun lamanya di keluarga Osmand.


"Bukan begitu Alia, apa kamu sudah lupa dengan ulang tahun Ozan, kita akan merayakannya di luar negeri dan nyonya meminta kita berdua untuk ikut"


Kini bik Ina yang menjawab pertanyaan Alia yang polos itu.


"Kita? Apa aku harus ikut?"


"Of course, Alia, kalau kamu tidak ikut, Ozan akan terus rewel dan susah untuk didiamkan, lagi pula semua fasilitas dan tempat semua sudah di siapkan, akh... apa aku harus cencel semua itu, ya..."


Nyonya Farida mencoba mencari alasan yang masuk akal, agar Alia tidak curiga akan rencana yang telah di susunnya bersama bik Ina.


"Ayolah Alia, bibik juga ingin sekali merasakan liburan"


Kini bik Ina ikut mengeluarkan jurus rayuannya.


"Baiklah, aku akan ikut tapi, kita akan kemana?"


"It's a surprise! Kamu pasti menyukainya"


Nyonya Farida mengedipkan matanya, saking antusiasnya wanita paruh baya itu memperlakukan pengasuh itu layaknya seorang putri.


-


Malam semakin larut, Alia kembali ke kamarnya setelah menidurkan Ozan.


Sesampai di kamar, Alia menatap sekeliling ruangan yang hanya memperdengarkan suara jangkrik yang bersahutan, sunyi, sesunyi perasaannya saat itu.


Dengan berat wanita itu menyeret langkahnya ke kamar mandi, membasuh muka, sebentar, memandang pantulan wajahnya di dalam cermin, dan mulai mengambil air untuk wudhu.


Mungkin dengan sholat membuat perasaannya sedikit lebih bersemangat, ia lalu melakukan sholat isya dengan khusyu, di akhiri dengan do'a yang selalu sama, yaitu kesehatan untuk keluarga tersayang.


Selesai melipat mukenanya, Alia mulai mengemasi pakaiannya ke dalam tas yang berukuran sederhana,


Sedang ia sibuk memilih pakaian yang harus di bawanya, tangannya berhenti pada selembar foto yang terselip di antara lipatan pakaiannya.


Seketika sesak memenuhi rongga dalam dadanya, nyeri kembali menjalar saat melihat foto Assyifa, seolah sedang menatapnya, merengek, menagih waktu yang telah terlewatkan tanpa kasih sayang seorang ibu dalam hidupnya.


"Selamat ulang tahun, sayang, maafkan mama karna sampai saat ini, mama belum bisa menjadi orang tua yang baik buatmu... bahkan mama tak bisa berada di sisimu, di hari ulang tahun pertamamu... maafkan mama, hiks... hiks..." Ucapan Alia terdengar lirih.


"Alia! Apa kamu ada di dalam?"


Suara bik Ina membuat Alia bergegas menghapus bekas basah di pipinya sebelum wanita paruh baya itu menyadari keadaannya yang begitu rapuh.


"Bibik baru saja bersiap untuk beristirahat dan melihat lampu di kamarmu menyala... apa kamu akan tidur di sini malam ini?"


Tanya bik Ina saat menyadari wajah Alia terlihat kusut seakan baru bangun dari tidur.


"Tidak, aku akan kembali ke kamar Ozan setelah menyiapkan pakaian yang di perlukan saat liburan nanti"


Jawab Alia datar, tanpa menatap bik Ina ia kembali memasukkan pakaiannya ke dalam tas.


"Alia, bibik tau perasaanmu, saat ini kamu pasti merasa telah menjadi ibu yang gagal untuk Assyifa, tapi, tak ada seorang pun ibu di dunia ini yang ingin melewatkan hari ulang tahun pertama putrinya...


Tanpa kamu sadar, kamu telah melakukan hal ini untuk kehidupan yang lebih layak untuk putrimu Assyifa, itu adalah pengorbanan yang sangat mulia dan suatu hari nanti putrimu akan merasa bangga memiliki seorang ibu tangguh seperti dirimu"


Ucapan bik Ina semakin membuat Alia tak bisa menahan tangisnya lagi, hingga bembuatnya semakin tersedu dalam pelukan wanita paruh baya itu.