
Dira hanya bisa meremas kedua tangannya, mencoba mengurangi rasa gugup yang tiba-tiba mendera takkala mereka memasuki salah satu hotel ternama dikota itu.
Tanpa bertanya pada resepsionis, Semmy langsung saja menerobos masuk. Tentu saja dengan Dira yang senantiasa mengekor dibelakangnya.
Setelah memasukkan acces cards, pintu dihadapan Semmy terbuka.
"silahkan masuk nona, tuan akan datang sebentar lagi, dan silahkan ganti baju anda dengan ini." Semmy memberikan sebuah paperbag yang sejak tadi ia bawa.
"ganti lagi?." Dira menerima paperbag itu dengan ragu.
Semmy hanya mengangguk, "silahkan masuk nona."
Dengan ragu Dira memasuki ruangan itu, kamar nomor 66.
Ia melakukan apa yang dipinta Semmy. Memasuki kamar mandi dan mulai mengganti pakaiannya. Melihat dirinya di pantulan cermin.
"astaga.. baju macam apa ini?."
"kenapa tidak sekalian aja telan****."
"apa bedanya coba."
"apakah aku harus merangkak keranjang dan berpose seksi seperti difilem-filem kupu-kupu malam?. hii.."
Gerutuan Dira membuat dirinya bergidik ngeri. "menjijikkan."
"tapi emang kenyataannya gitu sih, aku kan emang menjual diri." wajah Dira berubah sendu.
"mah, maafin Dira, ini semua Dira lakukan untuk mamah."
Akhirnya Dira memutuskan keluar dari kamar mandi setelah mengenakan jubah mandi yang tersedia disana.
Dira peraih ponselnya, mengirim pesan pada Clara untuk menjaga mamahnya malam ini.
Ia duduk disofa dengan gelisah. Berbagai posisi duduk pun telah ia lakukan, tapi sedikitpun tak membuatnya nyaman, entahlah, rasanya begitu embuh.
Hingga suara pintu terbuka, Dira mendongak melihat seorang pria dengan gesture tubuh yang tinggi kekar, rahang tegas dan hidung bangirnya, berjalan kearahnya.
"kau sudah lama?." tanya pria yang kini telah duduk disampingnya.
"be belum tuan."
"baiklah, saya akan membersihkan diri dulu. Sebentar lagi akan ada pelayan yang datang membawa makan malam, kau makanlah dulu biar bertenaga. fuuuhh." Dean meniup daun telinga Dira dengan sensual sebelum ia melesak kekamar mandi.
Tak selang berapa lama, Dean telah keluar dari kamar mandi dengan hanya menggunakan jubah mandi saja.
Dira hanya melirik sekilas, ia tak cukup berani untuk menatap pria yang akan melahapnya nanti.
"kau tidak makan?." kini Dean sudah berada disamping Dira, bahkan tubuhnya menempel pada tubuh Dira.
"em m.. i itu.." gugup. Tentu saja. Siapa sih yang tidak akan gugup ketika masuk ke kandang buaya?.
"makanlah sayang, biar kau bertenaga dan bisa mengimbangi permainanku nanti." Dean merangkul pinggang Dira dengan tangan kirinya, sedangkan tangan kanannya mengambil makanan yang ada diatas meja, dan mengarahkannya ke mulut Dira.
Dira hanya bisa menurut, menerima suapan demi suapan yang diberikan Dean padanya.
"ternyata kamu lapar ya.." cletuk Dean dengan tawa mengejek.
Dira yang sejak tadi hanya menunduk kini melirik piring yang ada di atas meja.
Astaga.. udah abis aja, memalukan sekali, aku bener-bener kelparankah?!. batin Dira menjerit.
"minumlah." Dean menyodorkan segelas air putih pada Dira.
"kenapa kau memaki jubah mandi?." Dean perlahan menarik tali pada jubah Dira.
"apa Semmy tidak menyiapkan baju untukmu?."
Aduh mati aku, kenapa aku tidak berfikir jika itu perintah pria ini. Dira merutuki kebodohannya.
"hemm?, kenapa kau tidak menjawab?. Semmy tidak menyiapkan bajunya?." tali pada jubah Dira telah berhasil terurai.
"Bu bukan begitu tuan, tuan Semmy menyiapkannya, ha hanya saja, sa saya.."
"malu?, begitu?." potong Dean cepat. Dan mendapati anggukan dari Dira.
"kenapa haru malu?, bukankah tubuhmu malam ini milikku?." Dean berbisik dengan sensual ditelinga Dira.
"fuuuhh.."
🖤
tanda cinta untukku mana??
😊
🖤