
Adzan subuh telah berkumandang beberapa menit yang lalu, Alia yang sudah mengenakan mukena berwarna putih mulai menggelar sajadahnya di depan tempat tidur Ozan.
Dua rakaat telah di akhirinya dengan do'a, yang selalu sama yaitu untuk kesehatan putri kecilnya yang sangat di rindukannya.
Alia keluar menghampiri balkon, menunggu sang mentari pagi yang akan segera menyinsing dari ufuk timur untuk menghangatkan tubuhnya yang terasa kosong dan hampa.
Ia menengadahkan wajahnya sambil menutup matanya dan membiarkan angin pagi menyapa wajahnya yang putih tanpa polesan make up.
Terlihat Alia sangat menikmati mentari yang semakin terik menyapa kulitnya, hingga ia baru teringat tentang ponsel barunya, membuatnya bergegas menggapai benda pipih itu.
Lama menatap benda pipih di tangannya, ingin rasanya melihat wajah Assyifa melalui video call, namun keadaan tak memungkinkannya, mengingat luka di sudut bibirnya belum sepenuhnya pulih karena ulah Mike yang br****ek itu.
"Huft... sebaiknya aku menahan rinduku dulu pada Assyifa, aku tak ingin mama khawatir jika melihatku dalam keadaan seperti ini "
Batin Alia seraya menekan tombol dial pada layar keypad ponselnya, dan tanpa di sadarinya Hisyam yang baru saja kembali dari ruang gym memerhatikan gelagatnya di seberang balkon.
Alia meremas dadanya sesaat setelah mengakhiri panggilannya, mendengar celoteh khas dari Assyifa, tanpa bisa di tahan lagi, awan mengapung yang tercipta begitu saja di balik pelupuk matanya kini luruh tanpa henti, menyisakan perih yang telah lama di tahannya.
Sedang Hisyam yang terus memandangi raut sendu di wajah pengasuh itu, kini bisa sedikit memahami rencana mamanys mengenai perjodohan dirinya dengan Alia.
"Mama benar, tanpa aku sadari, aku telah memisahkan seorang ibu dari anaknya, hanya karena kepetinganku sendiri, tapi bagaimana dengan Ozan...
Apa ini artinya aku harus mengetepikan keegoisanku, dan mencoba untuk menuruti permintaan mama"
"Tok... tok...! Alia, ini bik Ina, tuan Farhan sedang menunggumu di bawah!"
Suara ketukan di sertai panggilan dari bik Ina, menyadarkan Alia dari khayalannya yang entah kapan akan terjadi dalam kehidupan nyatanya.
Dengan segera pengasuh itu menghapus sisa cairan di pipinya dan bergegas menghampiri pintu.
"Bik maaf, tapi... Ozan sedang rewel, jadi aku tak bisa menemui om Farhan saat ini" Jawab Alia sedikit berteriak.
"Oh, begitu rupanya, baiklah kamu tenangkan saja Ozannya dulu, nanti bik Ina sendiri yang memberi tahu tuan Farhan!" Teriak bik Ina masih di balik pintu.
Mendengar suara langkah kaki bik Ina semakin jauh meninggalkan kamar Ozan, membuat Alia kembali bernapas lega.
Pasalnya, rewelnya Ozan hanyalah alasan, lagi-lagi ia ingin menghindari pamannya, tak ingin Farhan khawatir melihat kondisi wajahnya yang belum sepenuhnya pulih.
"Tok... tok...!"
Berapa menit berlalu pintu kamar kembali di ketuk, dan nyonya Farida seketika masuk dengan ekspresi khawatir di ikuti Hisyam dari belakang.
"Alia! Ozan kenapa? Tadi bik Ina bilang kamu kerepotan menenangkan Ozan yang lagi rewel"?"
Tanya nyonya Farida khawatir, sementara Hisyam hanya menyimak dengan ekspresi datarnya.
"Uh itu... Ozan tidak apa-apa nyonya, dia rewel mungkin karna baru bangun saja, ini kami juga akan turun"
Jelas Alia sambil meraih Ozan yang sudah tak sabar ingin di ajak berjalan jalan.
"Syukurlah cucu oma baik-baik saja..." Ungkap nyonya Farida lega.
"Uh, Hisyam sebentar lagi ulang tahunnya Ozan, apa kamu sudah menyiapkan sesuatu untuknya?"
Tanya nyonya Farida, kini wanita paruh baya itu beralih menatap putranya.
"Umm... Hisyam belum merencanakan apa-apa, tapi, soal itu aku serahkan semuanya pada mama"
Tutur Hisyam yang sedang duduk di sofa sambil memainkan ponselnya.
"Tidak bisa begitu, Hisyam! Ini ulang tahun pertama putramu, seharusnya kamu bisa meluangkan waktumu untuk Ozan!" Geram nyonya Farida.
"But, mom, i don't have time for this..."
"Lupakan tentang pekerjaanmu! Bawalah Ozan berbelanja hari ini, lagipula kalian belum pernah menghabiskan waktu bersama, kan? And don't worry about you workers, mama sudah memberitahu Davis untuk mengurus semuanya untuk hari ini!"
Seru nyonya Farida tak ingin kalah, sedang Alia yang menyaksikan perdebatan ibu dan anak itu hanya bisa mengelengkan kepalanya sambil menyiapkan perlengkapan Ozan, sebelum daddynya membawanya untuk berbelanja.
"Fine! Aku akan meluangkan waktuku, sekarang bersiaplah aku menunggu kalian di bawah!"
Hisyam menyerah dan ingin segera berlalu.
"Tunggu! Bukan mama yang akan pergi tapi kalian bertiga!"
"What! Mom, bagaimana mungkin, aku bahkan tak tahu harus berbuat apa jika Ozan sampai rewel!"
Lontar Hisyam namun nyonya Farida tak peduli dangan aksi protes putranya, wanita paruh baya itu malah meraih Ozan dari pelukan Alia.
"Bersiaplah Alia, Ozan akan menunggu kalian di meja makan"
"Um... kalau begitu saya permisi tuan..."
Ucap Alia gugup, ingin saja ia segera berlalu meninggalkan suasana yang terasa mencekam dengan adanya Hisyam, sedang berkacak pinggang menatap nyonya Farida yang sudah hilang di balik pintu.
"Wait! You're not thinking of running away from your responsebileties, are you? (Kamu tak berpikir untuk lari dari tanggung jawabmu kan?)"
Tanya Hisyam, sambil memicingkan matanya, pria itu menghampiri Alia yang perlahan mundur ke belakang.
"Bersiaplah! Aku dan Ozan akan menunggumu di bawah..."
Perintah Hisyam sebelum barlalu meninggalkan Alia yang masih mematung di sudut ruangan itu.
-
Setelah membersihkan kamar Ozan, Alia pun kembali ke kamarnya untuk bersiap, seperti yang di perintahkan Hisyam padanya.
Seketika Alia tercengang saat keluar dari kamar mandi, mendapati sebuah kotak putih yang bertengger di atas ranjangnya.
Dengan ragu Alia membuka kotak dengan pita berwarna silver tersebut, dan mendapati sebuah gaun selutut berwarna merah muda di dalamnya.
"CEKLEEK...! Mendengar suara pintu yang tiba-tiba terbuka membuat Alia spontan menghadap bik Ina yang muncul di balik pintu.
"Bik, hadia ini..."
"Oh, itu ole-oleh dari nyonya, beliau lupa memberikannya kemarin"
Celetuk bik Ina, wanita paruh baya itu langsung tau, ada keraguan di hati Alia untuk menerima hadiah di dalam box itu.
"Jangan khawatir, bibik juga dapat kok... oya, tadi nyonya berpesan agar kamu menggunakan gaun ini"
"Gaun ini? Tapi ini terlalu bagus, bik, mau ke pasar saja harus pake baju sebagus ini"
Alia menggerutu sambil mengenakan hadiah dari nyonya Farida.
"Jalanin saja, bibik malah senang jika mendapat hadiah dari nyonya setiap hari..." Goda bik Ina sambil memasang resleting di bagian belakang gaun.
"Sudahlah cepat bersiap, kamu tak ingin kan, amarah tuan Hisyam naik ke ubun lagi"
Ancam bik Ina sebelum meninggalkan Alia seorang diri.
walau sebenarnya ia tahu wanita paruh baya itu hanya menggodanya, tapi ia masih merasa trauma jika harus berpergian dengan Hisyam, mengingat kehidupannya selama ini sangat bertolak belakang dengan gaya hidup Hisyam yang selalu membuatnya merinding takut.
"Argh... kalau saja aku bisa menolak permintaan nyonya dan berani mengutarakan ketidak nyamananku di samping tuan Hisyam...."
Sungut Alia, namun tak menghilangkan keresahannya, takut jika sewaktu-waktu Mike kembali muncul di hadapannya.
-
Alia melangkah ragu saat keluar dari kamarnya, menghampiri nyonya Farida yang sedang menyuapi Ozan di meja makan.
"Alia, kamu sudah siap?" Tanya nyonya Farida lembut dan namun hanya di tanggapi Alia dengan sedikit anggukan ragu.
"Bik, lihatlah, bukankah sudah ku bilang, Alia akan terlihat cantik mengenakan apakaian ini?"
Tanya nyonya Farida pada bik Ina yang sedang menata sarapan di atas meja.
"Cantik apanya, kami hanya akan berbelanja bukannya mau fashion show..."
Cetus Hisyam datar, seraya meneguk kopi hitam favoritnya, sedang Alia yang merasa sindiran itu di tunjukan padanya, hanya bisa menelan ludah dengan sikap acuh Hisyam.
"A...aku akan menggantinya..." Ucap Alia seraya memutar tubuhnya.
"Tidak perlu! Kita akan berangkat sekarang!"
Cegat Hisyam sembari bangkit dari duduknya.
"Hisyam! Alia kan belum sarapan..."
"Tidak apa-apa, nyonya! Saya hanya perlu meminum susu ini saja, kan?"
Potong Alia, lalu meraih susu yang baru saja di letakkan bik Ina di atas meja dan meneguknya hingga tandas.
"Ozan pamit dulu ya, Oma, Assalamualaikum..." Ucap Alia dengan gaya tokoh pororo, kartun kesukaan Ozan.
"Wa'alaikumsalam... Ozan don't be naughty, oke"
Nyonya Farida menjawabnya sembari mendorong stroller Ozan keluar menuju mobil yang terparkir di garasi