
Di dalam lift aku mencatat lantai tujuan di kepala, tak ketinggalan lorong demi lorong aku perhatikan dengan seksama, namun tak ada kejanggalan yang ku temukan.
Semua yang terlihat berjalan sesuai fungsinya, puluhan karyawan yang sedang melakukan pekerjaannya, hingga ruangan devisi kesekretariatan yang tampak biasa saja, malah tak ada yang perduli dengan kehadiranku di sana.
"Silahkan, nona...."
Ucapan wanita di sampingku membuatku kembali ke alam sadar.
Ku lirik pria berjas hitam yang sejak tadi hanya terdiam juga masih setia mengikuti kami dari belakang, "Emang, harus, ya, aku di kawal seperti ini?"
Tentu saja pertanyaan itu hanya berputar-putar di kepala. Mana berani aku mengutarakan protesku pada pria kaku di belakangku itu.
"Ya sudahlah, toh, tuan Hisyam juga sudah berjanji akan menjemputku setetelah urusannya selesai" Batinku lagi kemudian melanjutkan langkah mengikuti kemana wanita ini akan membawaku.
"Ini ruangan apa?" Tanyaku saat wanita tadi membukakan pintu untukku.
"Ini ruangan pribadi tuan CEO dan nona di minta untuk menunggu disini" Jelas wanita itu sopan.
"Menunggu di sini?" Gumamku, "Padahal aku hanya butuh toilet, kenapa mereka malah membawaku ke sini...." Pikiran ini mulai melantur, takut kejadian beberapa waktu lalu kembali terulang lagi padaku.
"Nona, saya harus kembali bekerja, jika butuh sesuatu nona bisa memberitahu sekretaris atau pria yang sedang berjaga diluar" Ucapnya lagi.
Aku mengangguk berusaha mengerti, "Argh! Kalau saja tadi aku menerima ponsel yang di berikan tuan Hisyam tentu aku tak akan seragu ini"
Aku bergumam lagi seraya menutup pintu tapi karna panggilan alam sudah tak bisa di tunda lagi aku sampai lupa untuk menguncinya, ya setidaknya aku bisa mempersiapkan diri dari segala hal buruk yang mengintai.
Rasanya sedikit plong, meski perut bagian bawah masih terasa tak nyaman, mungkin karna tamu bulanan sedang absen untuk beberapa hari kedepan, jadi tak ku hiraukan rasa tak nyaman itu karna sudah terbiasa.
Suara Adzan berkumandang, menandakan waktu telah memasuki waktu dzuhur, reflek aku mencari letak jam, dan pada saat itu baru ku sadari betapa mewah dan berkelasnya ruangan ini.
Tapi yang membuatku semakin takjub ialah dinding kaca transparan berukuran raksasa menampilkan pemandangan kota dengan gedung pencakar langit lainnya, namun sayang semua itu masih begitu asing bagiku.
"Jadi sekarang aku tengah berada di pusat kota?"
Melihat pemandangan yang menakjubkan, membuat kekhawatiranku sedikit mereda, namun hal itu tak berlanjut lama kala pandangan ini menangkap design interior serta pernak-pernik yang sangat tak asing di mataku.
"Design ruangan ini tampak tak asing, tunggu! Bukankah senjata itu sama persis dengan milik tuan Hisyam yang ada di rumah"
Aku berjinjit meraih senjata api bermodel classic itu.
Benar-benar sama, tapi, bukankah ruangan ini milik CEO O.Z Grup, atau sebenarnya CEO yang di maksud adalah dia sendiri?
Tidak, tidak! Aku dengar sendiri semua aset milik tuan Hisyam di bekukan dan hanya nyonya Renata yang bisa membantunya untuk memulihkan semuannya, lantas, bagaimana benda kesayangn tuan Hisyam bisa ada di sini? Apa mungkin dia menjualnya karna terdesak?.
Tiba-tiba hati ini di hinggapi rasa bersalah, juga penasaran mengapa tuan Hisyam membawaku ke sini, dan jujur, aku sampai bergidik jika menerka-nerka hal buruk yang akan terjadi.
"Argh! Kenapa semuanya semakin rumit?"
Aku memijat kening, jujur kepala Ini rasa ingin pecah jika mengingat masalah yang ku ciptakan di keluarga tuan Hisyam, apa lagi jika mengingat tuan Hisyam sudah merintis semuanya dengan susah payah sampailah aku hadir dan membuatnya terseret dalam kasus prostitusi yang sama sekali tak pernah ia lakukan.
Apa kembali adalah satu-satunya cara untuk menebus kesalahanku? Tapi aku hanyalah korban, dialah yang salah dalam hal ini.
Kesalahanku hanyalah satu.... salah mengartikan kepeduliannya terhadapku juga pada Assyifa yang memang haus akan sosok seorang ayah.
Aku terdiam sejenak sambil merenung jauh ke dalam relung hati serta mempertimbangkan sekali lagi permasalahan yang mungkin akan terjadi jika aku sampai salah mengambil keputusan.
Apakah harus menolak? Tapi juga merasa bersalah dengan apa yang menimpa bisnis tuan Hisyam, dan bagaimana jika lagi-lagi hal ini bukanlah keinginan tuan Hisyam melainkan wujud baktinya kapada nyonya Farida?
Pintu tiba-tiba terbuka, aku seketika menoleh sambil memegang senjata api yang sama persis dengan senjata kesayangan milik tuan Hisyam di rumah.
"Maaf membuatmu menunggu lam... A-Alia, kenapa senjata itu ada padamu" Tanya Hisyam begitu gugup dan mungkin mulai berpikir yang tidak-tidak.
"Apa yang kamu lakukan dengan benda itu! Drop It! Itu berbahaya, Alia!"
Dia semakin mendekat dan semakin pula meninggikan suaranya, namun, aku tak sedikitpun merasa takut dengan bentakannya itu, malah merasa ingin meraung meluapkan rasa stres serta rasa bersalah karna telah membuat Hisyam kehilangan segalanya, sampai harus menjual barang-barang kesayangannya.
"Keep calm, and put it down slowly, yeah good"
Hisyam mendekat sambil membujukku layaknya seorang ayah yang membujuk putrinya dengan lolipop, "Cih, apa dia masih berpikir aku bocah ingusan!"
Aku berdecih dalam hati, sepertinya memang benar tuan Hisyam memintaku kembali hanya karna mengikuti keinginan mamanya.
"Kamu tidak apa-apa, kan?" Hisyam tampak lega, sementara tangannya mulai meraba keberadaan senjata api yang ku letakkan di atas meja.
"Huft.... good job" Puji Hisyam kemudian menyembunyikan senjata itu ke dalam laci dan menguncinya.
"Sebenarnya apa terjadi, apa yang kamu pikirkan, hah!"
Hisyam menggoncang tubuhku, tapi aku hanya bergeming karna sebenenarnya pikiran ini sudah seperti benang kusut dan sekarang aku hanya ingin merapikan semua yang berkecamuk di pikiran ini.
"Hey, whats wrong! Apa kamu terluka, dimana, hah!" Hisyam terlihat begitu panik sampai mengitari tubuhku yang masih mematung tak merespon.
"Mana yang sakit! Atau kita ke rumah sakit saja?" Ucapnya lagi.
"Hm! Aku tidak apa-apa.... tapi, kenapa tuan tidak memberitahuku?" Pertanyaan gamblangku seketika membuatnya berhenti untuk menatapku dengan tatapan tak mengerti.
"Apa tuan seputus asa itu, sampai harus menjual semua barang-barang kesayangan tuan!"
Tanpa kata kulihat tuan Hisyam menautkan keningnya, sepertinya dia masih belum mengerti kemana arah pembicaraanku.
Aku beranjak, "Setidaknya aku bisa sedikit terlepas dari rasa bersalah ini" Gumamku, dan dengan kesal menghampiri sofa, di mana ada tasku di sana.
Aku mengeluarkan buku tabungan yang pernah dia berikan, mungkin sebagai upah atas dedikasiku selama ini.
"Apa ini!" Tanya Hisyam dengan nada tinggi saat benda itu kini berpinda ke tangannya.
"Bukankah ini buku tabungan yang ku berikan padamu! Kenapa tidak kamu gunakan?"
Aku mendongak memberanikan diri untuk menatapnya, meski sedikit ciut kala dia membalas tatapanku dengan begitu tajam.
"Apa kamu meremehkanku, hah!"
"Bukan begitu, tapi aku juga tidak ingin menggunakannya, itu bukan hakku, tuan tahu sendiri, kan, nyonya Renata lah yang mempekerjakanku dan upahku telah di bayar sepenuhnya di awal"
Aku berusaha meyakinkan sosok keras kapala itu dengan hati-hati, takut menyinggung perasaannya yang juga keras layaknya batu.
"Maaf tapi, melihat tuan menggadaikan barang-barang kesayangan tuan, ku rasa tuan lebih membutuhkannya dari pada aku"
Mendengar penuturan tulusku, ku lihat wajah tuan Hisyam tak yakin akan pernyataanku, mungkin menurutnya aku berlagak sok baik lagi, ya, selama hidup seatap dengannya ia paling tidak suka melihatku mendahulukan kenyamanan orang lain ketimbang diri sendiri, dan itu justru salah satu sikapnya yang mampu meluluh lantakkan pertahananku untuk tak terpaut padanya.
"Pokoknya tuan harus mengambil ini! Setidaknya itu bisa membuatku lega karna bisa membantu kekacauan yang pernah ku sebabkan" Aku mempertegas niatku, tak ingin rasa bersalah ini terus menghantuiku.
"Baiklah, kamu yakin ingin membantuku menyelesaikan masalah ini?" Aku mengangguk.
"Tahu apa yang ku butuhkan saat ini?"
Hisyam menatapku begitu dalam, hingga membuatku menunduk dan sejenak berpikir, "Uang? Dan, kepercayaan publik bahwa tuan tidak pernah melakukan semua hal yang di tuduhkan" Jawabku polos
Dia mendengus lagi, mungkin sedang kesal dengan jawabanku yang kurang tepat.
"Aku membutuhkanmu, Alia, don't you know that?..." Ralatnya kemudian, sambil mengikis jarak di antara kami dan aku hanya bisa menunduk, kikuk.
"Apa tuan tidak takut masalah akan semakin rumit dengan kehadiranku di keluarga tuan?" Aku kembali bertanya, mungkin dengan pertanyaan ini, ia kembali mempertimbangkan keputusannya.
"Apa itu penting?"
Aku mengangguk, "Aku hanya bisa mendatangkan masalah untuk tuan" Ucapku berat hati.
"Siapa bilang? Buktinya, aku baru saja menyelesaikan satu masalah besar dengan mudah, itu karna kamu sedang menungguku disini"
Ucapnya sambil menatapku dalam sementara tangannya sudah mendarat di bahu ini.
"Masalah besar, maksud tuan?" Tanyaku tak mengerti dan dia juga tak segera menjelaskan malah harus kembali ke meja kerjanya, mengambil benda berbentuk persegi di atas sana.
Aku masih menunggu jawaban darinya tapi Ia terus sibuk dengan benda pipih tersebut dan tak lama sebuah layar LED raksasa menyala, menampilkan sebuh video syur di sana.
Segera aku membuang muka, "Untuk apa tuan memperlihatkan ini padaku lagi!" Ucapku kurang nyaman.
"Sorry, tapi, ku pikir kamu perlu melihat keseluruhan video-nya, please...."
Aku mengalah, meski hal itu membuatku tak nyaman tapi aku juga penasaran apa sebenarnya hal penting yang selama ini berusaha tuan Hisyam tunjukkan padaku dalam video itu.
Satu detik, dua detik, akhirnya aku menemukan kejanggalan di video itu, "Sarah!"
Tubuhku membeku, aku bagitu shock melihat wanita di video itu adalah Sarah, wanita yang ingin ku lindungi malah sengaja menjerumuskanku ke dalam masalah.
"That's right, itu adalah Sarah dan Mike"
"Tapi, bagaimana bisa, apakah mereka...."
"Yup, mereka telah menjalin hubungan cukup lama, bahkan jauh sebelum mereka mendapat tugas dari Mr.Lee yang bekerja sama dengan Renata"
"Tapi, Sarah adalah?"
"Istri Mr.Lee?"
Jawabnya. Aku mengangguk membenarkan.
"Itu cuma di atas kertas, Alia.... dan Mr.Lee tidak mempermasalahkannya selagi ia mendapat keuntungan dari hubungan terlarang Mike dan Sarah"
"Keuntungan, maksudnya?" Sebagai wanita desa, semuanya begitu rumit untuk ku pahami, jujur, baru kali ini aku berada di tengah-tengah konspirasi rumit seperti ini, sebelumnya aku hanya menyaksikannya di film-film atau drakor.
"Let me axplain, ketika mereka merasa video-mu dengan Mike tak berjalan lancar, Mr.Lee menggantinya dengan video bukti perselingkuhan Mike dan Sarah, itu sangat simple, kan?
Intinya, sekali tepuk dua nyamuk terkapar, itulah kenapa Sarah memilih diam meski ia sangat merasa bersalah padamu"
"Lalu, apa untungnya untuk tuan mengungkapkan masalah ini, toh semua aset milik tuan sudah..."
Belum sempat aku melanjutkan kata-kata, Hisyam kembali meraih bendah pipih itu lagi dan kali ini ia menunjukkan sebuah video perss conference yang baru saja ia adakan dan itu berlangsung di aula gedung tempat kami sekarang.
"Jadi, selama aku menunggu di sini, tuan sedang mengadakan klarifikasi?"
"Uhm.... dan dengan video itu mereka akan mempertimbangkan rumor tantang adanya pelayanan khusus di hotelku....
So.... apa kamu masih berpikir bahwa kehadiranmu hanya akan mendatangkan masalah buatku?"
Tuntut Hisyam sembari mendekatiku
Ku lihat ia melangkah yakin ke arahku, pasti sekarang dia ingin pamer keberhasilan rencananya.
"Cih, dasar tukang pamer!" Gerutuku melihat tingkahnya yang angkuh.
"Did you say something?" Ralatnya.
Aku pun menganga apa dia bisa mendengar ucapanku tadi?.
"Entahlah, tapi, aku merasa semua masalah yang tuan hadapi ada hubungannya denganku...." Aku menunduk.
"Kalau saja aku tak menerima tawaran pekerjaan dari nyonya Renata kala itu, semua ini tak akan pernah terjadi dan...."
"Dan aku tidak akan pernah bertemu denganmu, seseorang yang telah merubah cara pandangku dengan kesederhanaan-nya, bukankah begitu Alia?"
Aku kembali mendongak saat kata-kata pengakuan itu kudengar langsung dari mulut tuan Hisyam, apa itu artinya dia mengakui kehadiranku adalah salah satu takdir yang harus ia terima setelah sebelumnya ia menuduhku telah merencanakan semuanya dengan nyonya Renata.
"Maaf telah meragukanmu" Ucapannya lagi saat aku tak merespon perkataannya tadi.
Ya, memang ia terlihat tulus, tetapi aku malah tak bisa mengendalikan degupan jantungku yang semakin mendominasi kala tuan Hisyam semakin mendekatkan wajahnya hingga wajah kami hanya berjarak beberapa centi saja.