Single Parents

Single Parents
MAKE OVER.



"Nona Alia..."


Seorang owner cantik menghampiri Alia dengan seulas senyum manis di bibirnya.


"Bagaimana wanita ini bisa... apa tuan Hisyam yang memberitahunya?


Cih! Memang apa pentingnya memberitahu namaku, toh, tak ada siapapun yang akan penasaran melihat penampilanku yang sederhana ini..."


Batin Alia mulai menggerutu, hingga tak menyadari sosok Hisyam sudah hilang dari pengawasannya.


"Nona Alia!"


"Ya...!" Wanita itu kembali menyadarkan Alia dari lamunannya.


"Tuan Hisyam sedang menunggu anda di sana"


Jelas wanita berpenampilan menarik itu, sambil menunjukkan arah ke sebuah ruang ganti private di mana Hisyam sedang menunggunya sambil menikmati secangkir coffee favoritnya.


"Bukankah kita akan menghadiri pesta? Lalu apa yang kita lakukan disini?"


Tanya Alia, bingung karna suasana pesta yang di harapkannya sangat berbeda dari situasi sekitar saat ini.


Sedang Hisyam yang tak bereaksi pada pertanyaan Alia, kini bangkit dan memberi kode, hingga owner cantik itu pun mengangguk, mengerti dengan perintah Hisyam.


"Nona Alia, please follow me"


"Ya, tapi..."


Alia semakin bingung melihat dua wanita yang baru saja datang, kini menghampirinya dan membawanya pergi ke suatu kamar khusus.


"Sesuai perintah tuan Hisyam, kami akan me-make over anda, so percayakan semuanya pada kami, i will meke you like a princess"


Terang seorang pria gemulai yang berprofesi sebagai make up artis bersiap untuk melakukan tugasnya.


"Tunggu! Um... saya tidak terbiasa dengan semua ini jadi, bisakah make up nya yang natural saja?"


Tawar Alia dengan senyum manis di bibirnya, sehingga membuat pria gemulai itu gemas dan tanpa segan menoel pipi Alia.


"Of course darling, apapun yang kamu inginkan"


Ucap pria itu lembut dan mulai memoles wajah polos Alia dengan hati hati .


"And done!"


Selesai dengan wajahnya, dua orang wanita pun masuk dengan membawa beberapa gaun, di antaranya adalah gaun merah yang di peragakan oleh patung manekin di luar tadi.


"Oh... bukankah gaun itu yang..."


"Betul nona, tuan Hisyam sendiri yang memilihnya"


"Benarkah! Cih... dia pikir semua orang menginginkan gaun mewah dan terbuka seperti ini"


Cibir Alia, sambil melihat satu persatu gaun di tangan pramuniaga itu, hingga pilihannya jatuh pada dress party, kombinasi hitam gold, yang pasti terlihat elegant dan sangat cocok pada tubuh mungil Alia yang putih.


"Kalau tuan Hisyam melimpahkan semua tagihannya padaku, setidaknya ini lebih murah dari gaun bling bling itu..."


Batin Alia mulai perhitungan, apalagi jika harus mengeluarkan uang hanya untuk sebuah gaun yang tentu saja lebih mahal dari gajinya.


"Kalau aku pilih yang ini, tidak apa-apa kan?"


Tanya Alia sambil menujukkan pilihannya pada pelayan toko itu


"Tapi nona, tuan Hisyam akan sangat..."


"Argh... apa dia selalu memaksakan kehendaknya pada orang lain, dia memang tak memiliki perasaan!"


Alia kembali bergumam saat pelayan toko tadi terlihat resah dengan pilihannya.


"Hei, tak perlu risau, tuan Hisyam tak akan menyalahkanmu, aku akan menjelaskan padanya"


Pujuk Alia prihatin, dia tak ingin gara-gara dirinya seseorang bisa kehilangan pekerjaan karnanya.


Alia masih mematut dirinya di hadapan cermin, meski dress yang di pilihnya terlihat lebih sederhana di antara dress di toko itu, tapi itu cukup membuat para pramuniaga iri dengan kecantikannya.


Penampilan Alia kini berubah, tapi dirinya masih merasa ragu, ini pertama kalinya dia menghadiri pesta yang identik dengan minuman beralkohol.


"Wow... tuan Hisyam memang tak pernah salah pilih"


Sang owner yang baru saja masuk ke kamar ganti memuji kecerdasan Hisyam memilih wanita wanita, dan secara tak langsung memuji kecantikan Alia yang natural meski dengan make up tipis.


Setelah merasa penampilan Alia telah sempurna, sang owner pun membawa Alia keluar menemui Hisyam, pria itu sudah mulai merasa bosan menunggunya.


Hisyam terus mengerling jam di tangannya namun pengasuh itu bahkan belum menunjukkan batang hidungnya, hingga ia pun mengeluarkan smartphone dan memutuskan untuk mengecek pekerjaan yang di tinggalkanya lebih awal tadi.


"Bagaimana tuan Hisyam, do you like it?"


Tanya sang owner, membuat Hisyam bergegas bangkit saat sadar Alia kini sedang berdiri tepat di hadapannya.


Hisyam terkesima melihat perubahan Alia, dress hitam bermotif floral gold, hingga rambut yang biasa di ikat ponytail, kini di biarkan tergerai menutupi bahunya.


Sehingga membuat Hisyam semakin tak bisa berkedip menatap kesempurnaan sang pengasuh yang tak pernah di sadarinya selama ini.


"Anything else, tuan Hisyam?" Tanya sang owner.


"Ya... no, i mean thanks, kami harus pergi sekarang"


Jawab Hisyam gugup, namun masih beracting cool saat kembali ke alam sadarnya.


Sang owner beserta beberapa pramuniaga lainnya ikut mengantar mereka hingga ke depan toko.


"Aku tak memiliki waktu banyak untuk pikiran kalutmu itu" Ucap Hisyam kesal saat melihar pengasuh itu hanya berdiri kaku di hadapan toko.


Seketika Alia kembali ke alam sadarnya dan bergegas menyelaraskan langkahnya dengan pria itu.


"Abaikan kata-kata mereka, mereka tak mengenalmu saja" Ucap Hisyam tiba-tiba dan beralih ke satu toko lainnya.


Alia berhenti sejenak mencerna kata-kata tuannya tadi hingga ia kembali melangkah mengekori Hisyam, dengan seulas senyum di bibirnya pengasuh itu seakan mendapat suntikan semangat dari kata-kata Hisyam tadi.


"Apa lagi sekarang? Apa kita akan mencari hadiah untuk nyonya Sarah?"


Tanya Alia polos saat mendapati majikannya berdiri melihat satu persatu sepatu dengan merek dan model yang berbeda.


"Bagaimana dengan yang ini?"


Tanya Hisyam sambil menunjuk sepasang flat shoes yang cocok dengan penampilan Alia yang sederhana.


Alia memuncungkan bibirnya sambil mengelengkan kepala, tak sejalan dengan pilihan Hisyam.


"Bagaimana dengan yang ini? Menurutku itu terlalu sederhana untuk seorang wanita glamour dan berkelas seperti nyonya Sarah"


Alia mengeluarkan pendapat dari sudut pandangnya lalu meraih sepasang high heels, dan menunjukkannya pada Hisyam.


"Apa kamu yakin?"


Tanya Hisyam sambil melipat tangan di depan dada, pria itu sengaja tak meminta bantuan pramuniaga agar wanita itu bisa memilih sesuai keinginannya.


Karna hari ini ia tahu satu hal tentang wanita itu, menurutnya Alia memang wanita yang berbeda dari wanita yang pernah di temuinya, bahkan ia sama sekali tak tertarik dengan semua hal yang berbau kemewahan.


Itu terbukti saat Alia mengganti dress yang di pilih Hisyam untuknya dan menggantinya, dengan dress yang lebih sederhana dan tentunya jauh lebih murah dari dress yang bertabur kristal swarovski di bagian pinggangnya.


"Try it..."


Ucap Hisyam pada Alia yang sedang membanding bandingkan antara flat shoes dan high heels pilihannya.


"Ini kan hadiah untuk nyonya Sarah, kenapa aku yang harus mencobanya?"


Alia yang sedang menekuk lutut sambil memperhatikan dua sepatu di hadapannya akhirnya mendongak menatap Hisyam, dengan senyum yang di buat buat wanita itu mencoba mencari alasan karna sebenarnya ia tak terbiasa dengan sepatu ber hak tinggi.


"Bagaimana kamu bisa tahu Sarah akan nyaman menggunakannya kalau kamu sendiri tak mau mencobanya"


Hisyam membungngkuk di hadapan Alia, membuka sepatu kets lusuh yang di gunakan pengasuh itu, sehingga Alia kelabakan dengan Aksi bos nya yang tiba-tiba memasang high heels pada kakinya.


"Eh... apa yang tuan..."


"Berpegang padaku jika tak ingin terjatuh"


Hisyam meraih tangan Alia dan meletakkannya pada pundaknya agar tak terjatuh saat Hisyam memasangkan high heels ke kakinya.


Alia melempar pandangannya ke arah lain saat Hisyam mendongak menatapnya, merasa dirinya mendapat perhatian lebih dari seorang Hisyam, menghadirkan satu getaran aneh tiba-tiba muncul, sehingga membuat pipinya semakin merona dan terasa panas.


"Aku akan mencobanya sambil berjalan"


Tutur Alia, seraya mengtur langkahnya mencoba mencairkan suasana canggung di antara mereka.


Karna perasaan gugup, membuatnya lupa bahwa dirinya tak pernah belajar menggunakan high heels sebelumnya.


Sehingga baru saja di langkah pertama Aliapun sudah hampir tersungkur mencium lantai, beruntung Hisyam masih berdiri di belakannya, hingga dengan pantas pria itu menangkap tubuhnya dan...


SSRREEKKK.....


Sesuatu seakan mengalir dalam darah mereka dan membuat keduanya berhenti sejenak saat tangan kekar Hisyam melingkar di pinggangnya dari arah belakang hingga membuat posisi mereka semakin tak berjarak.


Selang berapa detik, keduanya tersadar, saat suara langkah semakin mendekat ke arah mereka, sehingga Hisyam perlahan melerai tangannya dari pinggang Alia yang masih kaku dengan sentuhan tak terduga itu.


"Tuan Hisyam! I am really, really sorry, kunjungan anda begitu mendadak, hingga kami tak mempersiapkan apapun"


Sang manager menghampiri keduanya namun pandangannya lebih fokus pada wanita muda di samping Hisyam.


"Tolong urus semuanya, kami akan mengambil high heels itu"


Ucap Hisyam pada manager toko,


"High heels? Bukanka flat shoes adalah pilihan tuan" Bisik Alia pada bossnya.


"Karna kamu lebih menyukai high heels, jadi kamu bisa memilikinya"


Ucap Hisyam sebelum berlalu neninggalkan Alia dan menghampiri manager toko.


"Aaiisshh... dia mengerjaiku lagi dengan hak tinggi pembawa bencana ini! Apa dia sengaja ingin mempermalukan aku di pesta nanti, dasar pria pendendam!"


Alia komat,-kamit setelah mengganti high heels dengan sepatu kets miliknya dan berlalu mendapati Hisyam yang sudah menunggunya di depan toko.


"Terima kasih atas kunjungannya and have a nice day..."


Ucap manager saat mendapati Alia sudah berdiri di antara mereka.


"Bisa kita pergi sekarang?"


Tutur Hisyam, pria itu bertingkah seolah-olah tak terjadi apa-apa padahal batinnya bersorak sorai setelah berhasil mengerjai pengasuh itu, mungkin dengan cara itu Alia tak akan menolak dan mau mengenakan barang bermerek dan sedikit mahal.


Sedang Alia yang masih kesal sekaligus bingung hanya bisa bertanya-tanya dalam hati .


"Apa kita akan pergi begitu saja tanpa harus membayar, baju yang aku kenakan dan high heels ini, pasti harganya sangat mahal..."


Batin Alia, ia mulai berpikir polos tanpa menyadari logo yang terdapat di setiap penjuru mall adalah singkatan dari nama keluarga Osmand.