
Satu bulan telah berlalu.
Setelah menggali informasi dari Kanjeng mami, akhirnya Dean tahu jika Dira adalah pemilik El butik yang tidak lama ini baru buka. Bahkan mamanya sudah dua kali mengunjungi butik itu.
Satu bulan ini pula Dean selalu mengunjungi El butik, berharap akan dapat bertemu dengan Dira, tapi nyatanya nihil. Ini sudah yang kesekian kalinya Dean pergi kesana dan tidak dapat bertemu dengan Dira.
"apakah mama berbohong padaku?." gumam Dean kesal, ia baru saja keluar dari butik milik Dira.
"Damn!!."
Semmy yang berada tak jauh dibelakang Dean terperanjat kaget mendengar umpatan Dean. Ia mensejajarkan langkahnya dengan Dean.
Menepuk bahu Dean pelan "bersabarlah."
"sabar kepalamu!."
🍃
Kediaman Nadira.
Akhir-akhir ini Dira sangat disibukkan dengan kompetisinya, apalagi setelah ia dinyatakan lolos masuk 10 besar. Ia bahkan menyerahkan penuh tanggung jawab El butik pada Maya untuk sementara.
Nama El butik akhir-akhir ini memang semakin melambung, Dira juga sudah memperluas butiknya beberapa Minggu lalu, dan tentu saja juga merekrut karyawan baru untuk membantu mengelolanya.
"terimakasih mbak Dira, aku akan menjalankan tugas dari mbak dengan sungguh-sungguh." Maya menggenggam erat tangan Dira saking senangnya.
"iya, mbak percaya sama kamu, tapi ini sakit loh tangan mbak." Dira meringis seraya melirik tangannya yang digenggam Maya.
Refleks Maya melepas genggamannya, *maaf mbak.." nyengir tanpa dosa.
"ayo kita makan malam dulu mbak, El sudah menunggu di meja makan sama dokter Clara." ajak Maya, Dira hanya mengangguk pelan sambil membereskan pekerjaannya.
"mom kenapa lama sekali?!." kesal El ketika melihat mommynya baru muncul dari ruang kerja, "cacing diperut El sudah berdemo sejak tadi."
"maafkan mommy sayang, yasudah, ayo kita makan, sini mommy ambilkan." Dira mengambil piring El dan mulai mengisi makanan kesukaan sang buah hati.
"nih, jangan lupa berdoa dulu sayang."
Hening, hanya ada suara denting sendok dan garpu yang bersahutan, Dira melarang keras jika saat makan ada suara, ia tidak suka, kecuali jika sedang makan diluar dengan orang-orang tertentu.
Salah satu Apartemen mewah dipusat Kota itu terlihat kacau, terlihat wanita didalam sana tengah mengeluarkan seluruh amarahnya.
"bergs*k!!."
"aagggrrrhhh!!!."
prangggg
prangggg
prangggg
carrrrrr
Wanita itu menghancurkan segala yang ada didalam sana.
"ini sudah kesekian kalinya aku kesana, tapi tidak bertemu juga!, hahh!!, benar-benar!!."
ceklek
"ang... el, oh astaga..."
Mega baru saja masuk apartemen miliknya, ia menutup mulutnya dengan tangan ketika melihat isi apartemen miliknya sudah seperti kapal pecah. Ia berjalan pelan kearah Angel yang tengah duduk dibawah lantai dekat sofa, takut-takut jika nanti kakinya yang mulus terkena pecahan kaca yang berserakan dimana-mana.
"apa yang terjadi ngel?." Mega ikut berjongkok didepan Angel.
"hiks hiks hiks, Mega...." Angel menyembunyikan wajahnya diantara dua lututnya.
"why?, ceritakan padaku, ini soal Dean kan?." tepat sekali apa yang dikatakan oleh Mega.
"huaaa...."
"eh ehe eh.. kok tambah kenceng nangisnya.." panik sendiri. "usttt, udah, sekarang kamu beres-beres setelah itu kita jalan saja biar otak kamu fresh." mega membantu Angel berdiri dan bersiap-siap bembetsihkan diri.
"huh, kalo bukan karena kompetisi ini, gak Sudi aku bersikap baik sama kamu, huh..! lihatlah, apartemen ku yang malang." bergumam pelan setelah Angel masuk kedalam kamar mandi.
🖤