Single Parents

Single Parents
MERASA DI BUTUHKAN.



"Mamaa...! Mamaaa....!"


Terdengar teriakan Ozan dan Assyifa yang berlarian menghampiri kala melihat mobil yang di kemudikan Hisyam memasuki kawasan mansion.


Dua balita itu tampak kegirangan mendapati mamanya telah pun kembali.


Setelah semalaman di tinggal oleh mamanya kedua balita itu terlihat heboh menyambut kedatangan mamanya yang baru saja keluar dari mobil.


Dengan celoteh khas anak yang berumur dua tahun, Alia tampak kewalahan mendengarkan kedua balitanya yang berlomba ingin di perhatikan oleh mamanya.


"Kalian sudah pulang! Ozan, Assyifa, makan dulu sayang!"


Teriak nyonya Farida sembari menghampiri mereka dengan sebelah tangannya memegang mangkuk berisi bubur.


"Mah...." Panggil Alia, lalu mencium tangan mertuanya.


"Maaf, telah merepotkan mama" Ungkap Alia dengan rasa bersalah.


Mendengar permintaan maaf menantunya, Farida tak menggubris, bukannya menjawab wanita paruh baya itu malah mengitari Alia yang terbalut gaun satin berwarna biru.


"So beautiful ...." Ucap Farida dengan senyum menggoda, "Oya, bagaimana kencan kalian?" Bisik Farida.


Tak ingin Hisyam mendengar pertanyaan yang sangat di benci oleh putranya, Farida pun bertingkah seolah-olah tak penasaran dengan kepergian anak dan menantunya semalam.


Meski begitu Hisyam yang baru saja keluar dari mobil bisa mendengar pertanyaan mamanya.


"Mama tau dari mana?" Hisyam tiba-tiba menyela, dengan melipat tangan di depan dada.


"Hm, tentu saja mama tau, cih! Susah payah mama mengatur kencan untuk kalian berdua, pada akhirnya kalian merencanakannya tanpa memberi tahu mama" Rajuk Farida dangan bibir yang sengaja di manyun-menyunkan.


"Baiklah, kali ini mama maafkan, tapi.... kalian harus berjanji untuk tidak menunda keinginan mama untuk segera memiliki cucu dari Alia, deal"


Cetus Farida yang lagi-lagi ingin mengambil kesempatan dalam kesempitan.


"Bagaimana sayang, kamu mau kan mengabulkan permintaan mama?"


Pinta Farida sambil bergelayut manja di lengan menantunya.


Sehingga Alia yang tadinya ingin membujuk mertuanya seketika bungkam namun sejenak melirik ke arah Hisyam yang nampak tak tertarik dengan topik pembicaraan mamanya.


"Mah, Alia ajak anak-anak bermain dulu, ya"


Pamit Alia lalu menggandeng tangan anak-anaknya pergi, meninggalkan suami dan mertuanya


Sebenarnya ia sangat penasaran dengan tanggapan suaminya mengenai permintaan nyonya Farida, tapi setelah melihat reaksi Hisyam yang tampak tak senang, membuat Alia terpaksa beranjak, membiarkan ibu dan anak itu menyelesaikan masalah mereka.


"Kamu lihat, kan! Alia pasti kecewa melihat tanggapanmu tadi, kurang apa sih dia?" Protes Farida saat Hisyam masih saja ragu untuk mengambil keputusan.


"Mom, please! Tidak semuda itu melupakan masa lalu, dia mengalami trauma dan butuh waktu untuk...."


"Bukan dia yang butuh waktu, Hisyam, tapi kamu! Kamu lah yang belum bisa melupakan perempuan itu, iya, kan!"


"Mom, bagaimana bisa aku masih memikirkan Renata setelah apa yang telah ia perbuat pada keluarga kita!"


"Kalau bukan karna itu, lalu kenapa sampai sekarang kamu belum bisa menerima kehadiran Alia, apa kurangnya dia?"


Mendengar desakan mamanya membuat Hisyam menghela napas berat.


"Dia tidak kurang apa-apa, ma...." Ucap Hisyam dengan suara lirih.


"Bahkan, dia wanita paling sempurna yang pernah ku temui, hanya saja...." Lagi-lagi Hisyam menjeda kata-katanya.


"Hanya saja, dia terlalu baik untuk pria sepertiku" Ungkap Hisyam dengan helaan napas yang terlihat begitu berat.


Mendengar ungkapan putranya membuat nyonya Farida terdiam, ia mengerti apa yang membuat putranya terus menutup hati dan selalu bersikap dingin pada Alia.


Dengan tatapan nanar, Farida meraih tangan putranya dan menglusnya dengan lembut.


"Hisyam, tak ada yang menyalahkanmu atas apa yang terjadi di masa lalu, apa yang terjadi bukanlah kesalahanmu, sayang, kamu korban, kita semua korban kelicikan Renata...." Bujuk Farida.


"Tapi papa, papa lah yang harus menanggung akibat dari kebodohanku" Potong Hisyam penuh rasa bersalah.


Seketika Hisyam memejamkan matanya, seakan tubuh papanya masih tergeletak tak berdaya dengan lumuran darah di mana-mana.


Dengan perlahan Hisyam melerai genggaman Farida, tak ingin mamanya merasakan reaksi yang di rasakan tubuhnya setiap kali peristiwa naas itu kembali menghantui pikirannya.


"Hisyam ke dalam dulu, ma, ku harap mama bisa bersabar sampai aku benar-benar yakin dengan keputusan ini"


Pesan Hisyam sebelum meninggalkan wanita paruh baya itu seorang diri.


-


"Cih! Awal yang baru?" Alia berdecak sebal.


Cibir Alia yang tengah duduk di bawah pohon bersama anak-anaknya.


Meski tak mendengar percakapan ibu dan anak itu, tapi Alia bisa menebak dari tingkah laku Hisyam.


Ya, pria itu tampak tak tertarik setiap kali nyonya Farida mengutarakan keinginannya.


***


Lelah bermain bersama Ozan dan Assyifa, Alia pun membawa anak-anaknya untuk beristirahat.


Jam menunjuk ke arah satu siang, setelah menidurkan Ozan dan Assyifa Alia pun berniat untuk merebahkan tubuhnya di samping anak-anaknya.


Setelah semalaman di luar membuat tubuhnya ingin segera beristirahat.


Namun, ada sesuatu yang mengganjak pikirannya, ia penasaran kemana suaminya pergi setelah mengakhiri pembicaraannya dengan nyonya Farida tadi.


Bahkan saat semua anggota keluarga berkumpul di meja makan tadi pria itu pun tak menunjukkan batang hidungnya di sana.


"Ke mana dia pergi? Apa dia sengaja menghindar dari Hamish, atau.... menghindar dari aku?" Gumam Alia sambil berjalan meninggalkan kamar anak-anaknya.


"Argh.... dia pasti menyesal dengan keputusannya untuk memulai hidup denganku" Lagi-lagi Alia menerka.


Meski begitu ia tak menemukan jawaban pasti apa sebenarnya yang membuat Hisyam menghindarinya seharian ini.


Dengan langkah gontai Alia terus berjalan menyusuri lorong di lantai dua itu dan tak sengaja menemukan sebuah ruangan dengan pintu yang sedikit terbuka.


Karna penasaran Alia pun memasuki kamar asing itu.


Seketika Alia membelalakan matanya, menemukan berbagai macam piala dan beberapa potret kebersamaan tuan Osman dengan berbagai macam orang ternama dunia, membuat Alia bisa menebak bahwa ruangan itu merupakan ruang kerja tuan Osman, ayah dari Hisyam dan Hamish.


"Apa yang kamu lakukan di sini?"


Tanya Hisyam dengan suara bariton yang sukses membuat Alia terperangah.


Alia kaget dan tak menyangka jika seharian ini Hisyam berdiam diri di kamar gelap dan pengap itu.


"Aku bertanya padamu, sedang apa kamu di sini, apa kamu mencariku?" Tanya Hisyam datar.


"Am.... aku hanya lewat dan menemukan pintunya sedikit terbuka.... aku penasaran dan...."


"Apa kamu mencariku?" Potong Hisyam.


"Um.... i-iya, sih, tapi bukan...."


"Kenapa?"


"Hah! Kenapa, apanya?" Alia balik bertanya.


"Kenapa mencariku?" Jelas Hisyam.


"Oh, itu.... tadi tuan tidak makan siang bersama kami, apa tuan tidak lapar, ingin makan sekarang, aku bisa membawakannya kesini?"


"Tidak terima kasih" Tolak Hisyam dengan posisi masih membelakangi Alia.


"Oh.... baiklah" Ucap Alia dengan nada kecewa.


Mendengar penolakan Hisyam, Alia pun perlahan mengatur langkahnya ke arah pintu, tapi tiba-tiba langkahnya terhenti tatkala sebuah tangan kekar menyentuh tangannya, dan perlahan tangan itu beralih melingkar di pundaknya.


Mendapat perlakuan seperti itu tentunya Alia tertanya-tanya dan ingin segera membalikkan tubuhnya, namun segera di cegah oleh Hisyam.


"Biarkan seperti ini sejenak" Ucap Hisyam dengan suara serak.


Alia terdiam dan menghentikan gerakannya, saat itu ia baru sadar ada sesuatu yang tak kena dengan suaminya, dan itu jelas terlihat setelah melihat obat yang selalu di konsumsi Hisyam berserakan di lantai.


Awalnya Alia merasa tegang tapi setelah mengetahui situasinya, Alia pun berusaha meredam rasa gugupnya dan perlahan menerima perlakuan suaminya.


Dengan terbata-bata Alia mulai menyentuh lengan Hisyam dan menepuknya dengan lembut, berharap pria itu bisa tenang kembali dan melupakan masa lalunya meski sulit.


Berapa menit mereka dalam posisi itu hingga perlahan Hisyam melerai pelukannya dan melepaskan Alia yang masih mematung membelakanginya.


"Terimakasih...." Ucap Hisyam datar


Meski terdengar dingin namun ada rasa lega di hati Alia, merasa dirinya begitu di butuhkan dan di hargai sebagai seorang istri.


"Ehemmm!"


Suara Hisyam seketika membuat Alia tersontak dari lamunannya.


"Um.... ji-jika tidak ada lagi yang ingin tuan sampaikan, aku akan ke bawah, ya, aku.... aku harus membantu bik Ina menyiapkan makan malam"


Ucap Alia spontan, dan dengan absurd ia berlari keluar tanpa memperdulikan kakinya yang tersandung kusen pintu.