
Mobil yang di kendarai Hisyam kini berhenti di sebuah Resort spa yang mengusung tema Outdoor dan terletak di sebuah pinggiran pantai yang berpasir.
Terlihat para pelayan dan terapis kompak menggunakan kemben dengan motif batik khas pulau itu serta bunga melati yang tersemat di telinga.
Hisyam turun dari mobil tanpa mengatakan sepatah kata pun, di ikuti Alia yang tampak bingung dengan keadaan sekitar yang jauh dari gambaran yang ada di pikirannya.
"Apa benar spa seperti ini yang di maksud oleh nyonya Farida? Tapi tempat ini terlalu ramai dan terbuka..."
Pikir Alia dalam hati, apalagi setelah melihat para wanita bule yang sedang lalu lalang hanya mengenakan bikini dan hampir memperlihatkan keseluruhan bagian tubuhnya.
"Maaf karna membawamu kemari"
"Ya! Owh, ini permintaan nyonya, kenapa tuan yang harus meminta maaf"
Alia heran dengan permintaan maaf bos nya, di pikirannya pria itu akan memarahinya karna harus melewatkan temu janjinya dengan rekan bisnisnya hanya untuk mengantarkan dirinya ke spa.
"Maksudku, maaf karna membawamu ke tempat ini bukan ke spa yang di maksud oleh mamaku tadi"
"Uh... begitu rupanya.... tapi kenapa?"
Alia benar-benar kebingungan dengan kata-kata Hisyam, menurutnya bukankah lebih baik kalau mereka ke tempat yang di rekomendasikan oleh nyonya Farida.
Selain pemiliknya adalah teman nyonya Farida sendiri, tentunya ia juga akan mendapat diskon atau bahkan perawatan gratis,
Author.
(Maklum jiwa emak-emaknya mulai kambuh, he, he...)
"Kita tidak bisa kesana, teman-teman mama ada di sana, mereka akan langsung mengenaliku.... kamu mengerti kan, maksudku?"
"Ah.... tentu saja, orang-orang akan mengenali tuan di sana"
Jawab Alia singkat dan kembali melanjutkan langkahnya, mengikuti Hisyam yang sudah lebih dulu memandu di hadapan.
Alia berlari kecil menyamai langkah Hisyam, suasana kembali hening, meski mereka sedang di tengah-tengah keramaian, terlihat Hisyam sesekali melirik jam merek casio yang melingkar di pergelangan tangannya.
"Um.... kalau tuan memiliki janji sebelumnya, tidak apa-apa, kita bisa pulang sekarang"
Akhirnya Alia bisa menemukam alasan agar bisa meng-akhiri situasi canggung yang di hadapinya.
"Ah.... benar! Aku punya janji sebelumnya dan aku harus pergi, but, don't worry! Kamu masih bisa bersantai di sini dan mendapatkan perawatan yang kamu inginkan"
"A-apa! Tapi aku benar-benar tidak apa-apa jika harus pulang sekarang...."
"Come on, aku akan mengantarmu ke meja resepsionis"
Hisyam menarik lengan Alia menuju meja resepsionis, sedang Alia yang kaget hanya mengikuti kemana bosnya akan membawanya.
"Can i help you, sir? (Ada yang bisa saya bantu, tuan?)"
Seorang resepcionis cantik menyapa mereka dengan ramah.
"Yes, i want... (ya, aku mau...)"
"Maaf, bisa beri kami waktu sebentar"
Alia menyela dan sedikit menarik tangan Hisyam yang masih menggenggam jemarinya tanpa sadar.
"Bisakah kamu tak mengulur waktuku, aku sudah sangat terlambat sekarang!"
Hisyam mulai kesal dan lagi-lagi melirik jam di tangannya, hingga Alia perlahan melepas tangan Hisyam yang sedari tadi menggenggamnya.
"Maaf telah merepotkan, tapi, saya benar-benar tidak keberatan jika tuan mengantarkanku pulang sekarang, tuan juga harus pergi ke suatu tempat, kan?" Alia berusaha meyakinkan Hisyam.
"Alia, mamaku tak akan suka jika membawamu pulang sekarang, jadi nikmati semua perawatan di sini dan setelah itu terserah padamu!"
"Ada yang bisa saya bantu? Sepertinya anda kesulitan memilih jenis perawatan yang di inginkan"
Sang resepsionis kembali menawarkan bantuan, sehingga Alia tak dapat menjawab kata-kata Hisyam lagi.
"That's right! (benar sekali!) Ini pilihan yang sulit, so please! rekomendasikan jenis perawatan yang cocok untuknya"
"Baiklah mas, mbak, biasanya untuk pasangan calon pengantin, kami rekomendasikan lulur serta pijatan khusus, terapi ini sangat cocok untuk pasangan yang akan me...."
"What! Calon pengantin....!"
"Calon pengantin....!"
Alia dan Hisyam kompak berteriak lalu menatap satu sama lain, hingga wanita resepsionis tadi pun kaget di buatnya.
"Maaf mas, mbak, agar lebih jelas anda bisa melihat brosur sebelum memilih jenis perawatan dari kami" Jelas si resepsionis tadi.
Menyadari ada yang salah dengan ucapannya tadi, resepsionis itu pun melirik wajah Hisyam yang memerah menahan kekesalannya.
Setelah memberikan dua lembar brosur pada Hisyam dan Alia, wanita itu pun perlahan mundur dan kembali ke posisinya semula.
"Calon pengantin? Hah... tak bisa di percaya!"
Hisyam mendesis kesal sembari mengeluarkan dompetnya dari saku jasnya dan mengambil salah satu kartu kredit dari dompetnya lalu memberikannya pada Alia.
"Take this! Gunakanlah sesukamu, dan tolong biarkan aku pergi, aku tak bisa membuang waktuku lagi!"
Hisyam terlihat kesal, hingga suaranya pun sedikit meninggi, namun bukan itu yang membuat Alia sakit hati hingga menatap pria itu dengan kebencian.
"Sorry, but, i really have to go....(Maaf, tapi, aku benar-benar harus pergi....)"
Ucap Hisyam, bukannya ia tak menyadari kesalahannya dengan meninggalkan Alia di tempat itu, tapi dia benar-benar harus mengurus kekacauan lain yang di sebabkan oleh Mr.Lee.
Setelah meletakkan sebuah kartu kredit di genggaman pengasuh itu, Hisyam pun berlalu meninggalkan Alia yang terlihat kesal dengan sikap Hisyam yang menurutnya sungguh tak bertanggung jawab.
Seorang terapis lain menghampiri Alia yang masih mematung di tempat di mana Hisyam meninggalkannya.
"Mbak...?"
"Ya! Maaf, tapi saya harus pergi ke suatu tempat"
Jawab Alia sambil memijit tengkuknya yang tidak sakit, sebenarnya dia hanya beralasan agar bisa segera meninggalkan tempat itu.
-
Mobil yang di kendarai Hisyam meninggalkan pesisir pantai yang ramai, ia melaju menuju pusat kota dan memberhentikan mobilnya di salah satu cafe sesuai yang di janjikan Asisten Davis padanya.
Setibanya di cafe, Hisyam mengedarkan pandangannya ke seluru penjuru cafe yang bernuansa classic.
Hisyam berjalan menghampiri Davis yang sedang duduk di meja paling ujung dan sedang melambai ke arahnya.
"Whats is the problem? Is everything okay?
(Apa masalahnya? Apa semua baik-baik saja?)" Sosor Hisyam tanpa basa-basi.
"Calm down, how was your vacation, was it fun? (Tenanglah, bagaimana liburanmu, apa menyenangkan)"
Davis kembali bertanya sesaat setelah Hisyam duduk di hadapannya.
"Huft....! Dengan semua tingkah tiga wanita itu? Believe me everythink is so messed up (percayalah semuanya sangat kacau)"
Jawab Hisyam kesal lalu meneguk jus yang terletak di hadapannya, tanpa menyadari jus itu bukanlah miliknya.
Sedang Davis yang mendengar keluhan bos nya hanya tersenyum sambil mengangguk-anggukkan kepalanya.
Ia sangat mengenal bagaimana heboh dan cerianya kepribadian ibu dari sahabatnya itu, hingga terkadang putranya sendiri di buat pusing tujuh keliling menghadapi tingkah nyonya Farida yang senantiasa bersemangat.
Hisyam terus menyesap jus avokado di hadapannya, setelah gelas yang berisi jus telah habis barulah ia menyadari dirinya belum memesan apapun.
"Wait! Jus siapa ini, aku kan belum memesan apapun sama sekali.....?"
Menyadari hal itu, Hisyam menatap sahabatnya dengan heran.
"Jus itu milik si Dokter playboy kepercayaanmu itu, dia sedang ke toilet.... ah! itu dia sudah datang, pasti semuanya akan jadi heboh"
Davis memonyongkan bibirnya ke arah Dokter Daniel yang baru saja kembali dari toilet.
"Apa yang dia lakukan di sini? Kamu tahu kan, betapa hebohnya dia!" Bisik Hisyam pada Davis tak ingin Dokter Daniel mendengar kata-katanya.
"Sorry, tapi mau bagaimana lagi, aku tak bisa mencegahnya untuk datang... uh, dia juga akan menghadiri birthday party Ozan malam ini"
Ucapan Davis membuat Hisyam semakin prustasi.
"Bagaimana kalau Daniel mencium rencana perjodohanku dengan pengasuh itu? Dia pasti akan mengejekku habis-habisan!"
Ungkap Hisyam geram, ingin saja ia berteriak, namun melihat keadaan sekitar, terpaksa, ia harus merendahkan suaranya.
"Hi bro! You miss me.....?"
Daniel menghampiri dua sahabatnya yang sedang berbincang mengenai dirinya.
"Oke, mari kita mulai perbincangan ini, tapi sebelum itu, aku sangat penasaran dengan kebenaran artikel itu...." Daniel menjeda kata-katanya.
"Um.... apa yang ku maksud adalah, pria brengsek itu tidak benar-benar menyentuh my lovely Alia, kan?"
Baru saja Daniel melontarkan pertanyaannya, Hisyam sudah lebih dulu mengarahkan pandangan elangnya tepat ke arah Daniel.
"Hey! Kamu itu seorang Dokter atau Reporter, sih?"
Davis menimpali geram pertanyaan Daniel yang tak pernah di saring seperti biasanya, hingga Hisyam hanya bisa menghela napas kasar sambil menggelengkan kepalanya.
"Ya, sorry, aku hanya tidak rela jika pria berparas standar seperti Mike mendapatkan my lovely Alia yang polos dan lembut itu..." Ungkap Daniel kecewa.
"Cih...! Lembut apanya, kamu itu sudah tertipu dengan sikap polos gadis indo itu"
"Gadis indo!/Gadis indo! Bhuaaa.... haa.... haaa...!"
Daniel dan Davis tergelak kompak hingga semua pengunjung Cafe menoleh ke arah mereka.
"What's so funny? (Apanya yang lucu?)"
Hisyam gugup menyadari kesalahannya yang di tanggapi ejekan kedua sahabatnya.
"Hisyam, kamu bahkan punya panggilan khusus buatnya, bukankah itu aneh?" Jawab Davis dengan senyum mengejek.
"Apa yang salah? Aku juga punya panggilan khusus buat bik Ina"
"Wait! There seems to be something i don't know here....(tunggu, sepertinya ada sesuatu yang tak ku ketahui disini...) panggilan khusus dan masalah di hotel, apa kalian, menyembunyikan sesuatu dariku?"
Daniel bertanya penuh curiga hingga Hisyam dan Davis terpaksa harus menceritakan bagaimana peristiwa di hotel malam itu bisa terjadi.
"Sial....! Jadi pria br*ngs*k itu sengaja menjebak my lovely Alia hanya demi kepentingan bisnisnya! Mereka benar-benar menjijikkan!" Umpat Daniel geram.
"Jadi mereka banar-benar ingin menjatuhkanku dengan menyebar luaskan vidio itu?"
Hisyam langsung bisa menebak dalang dari permasalahan yang melibatkan pengasuh dari putranya tersebut.
"Benar, aku memang bisa mencegah agar penyebaran vidionya tak meluas, tapi rumor tentang adanya penyediaan wanita di hotel kita malah mempengaruhi citra dan penurunan pengunjung hotel hingga lima puluh persen"
Jelas Davis geram, hingga ketiga pria yang sudah bersahabat sejak lama itupun kompak terdiam dengan pemikiran masing-masing.