Single Parents

Single Parents
Otakku! beristirahatlah



Sudah seminggu sejak insiden kecelakaan El, dokter Clara bak ditelan bumi, hilang begitu saja, dan itu sukses membuat asisten Semmy kalang kabut.


Bahkan asisten itu melayangkan ancaman untuk dokter Arya yang tak lain adalah papah dari dokter Clara.


Clara sendiri?.


Ia lebih memilih bersembunyi dengan alasan cuti karena lelah, bukan takut ataupun apa, ia hanya belum menemukan alasan yang pas untuk ia berikan pada asisten Semmy jika bertemu nanti. Bahkan ia sangat yakin jika saat ini pasti asisten Semmy tengah murka karena tidak bisa menemukan dirinya.


"hah..." Clara menghembuskan nafasnya kasar. Otaknya terasa lelah karena dipaksa untuk mencari jalan keluar.


"kenapa?." Dira menjatuhkan dirinya disofa samping Clara berada.


Sudah satu minggu ini Clara menginap dirumah baru Dira, sesekali ia akan ikut Dira pergi ke butiknya yang baru empat hari ini buka.


"astaga!, kamu ngagetin aja." pekik Clara terlonjak kaget, ia mengelus dadanya pelan.


"abisnya aku lihat kamu ngelamun aja, mikirin apa sih?."


'mikirin nasib aku, gara-gara kamu ini..' ingin rasanya Clara berkata demikian, tapi yang keluar dari mulutnya adalah...


"gak mikirin apa-apa kok, cuman rindu aja sama papa."


"ya temuin lah Cla, om Arya pasti juga rindu sama kamu. Apa kita kesana aja?, aku juga rindu sama om Arya." Dira meletakkan bantal sofa keatas pahanya, kedua tangannya menopang kepalanya dibawah dagu.


"jangan!." pekik Clara.


Dira memandang aneh pada Clara "emangnya kenapa?."


'duh, iya papa, gawat ini!, jika tuan Semmy sampai nemuin papa... aaa tidak tidak.' Clara menggeleng pelan, menepis semua pikiran buruknya.


"kamu kenapa sih Cla?, cerita deh sama aku kalo lagi ada masalah." Dira memegang tangan Clara lembut.


"gak papa kok Dir, kamu tenang saja, gak usah khawatir gitu." Clara memamerkan senyum manisnya pada Dira.


"oh ayolah, kalo kamu gak mau cerita gak papa, kita jalan-jalan aja. Ayo." Dira menarik tangan Clara paksa, menyeretnya keluar dari rumah.


"aduh Dir, tangan aku bisa lepas ini nanti." keluh Clara, kini keduanya sudah ada didalam mobil.


"emang kamu gak kebutik?."


"nanti aja, setelah kita jalan-jalan, sekarang kita jemput El kesekolah dulu."


🍃


🍃


🍃


Mau tidak mau, dengan berat hati Clara mengikuti langkah Dira setelah ia memakai kaca mata hitam yang tadi ia temukan didalam mobil Dira.


Puas berjalan-jalan akhirnya mereka memutuskan beristirahat sejenak sambil menikmati es crem di food court mall tersebut.


"aku ke toilet dulu ya, kalian duluan aja, jangan lupa pesenin juga buat aku."


Setelah berkata demikian, merekapun berpisah. Clara memisahkan diri dari Dira dan juga El. Sedangkan ibu dan anak itu memutuskan untuk memesan es crem terlebih dahulu.


"sayang, tolong kamu pegang ini, kamu bawa kesana, mommy mau bayar dulu." Dira memberikan satu gelas es crem pada El dan menyuruhnya duduk terlebih dahulu.


"yes mom."


Brukkk


Baru beberapa langkah El berjalan, seseorang yang entah siapa menabrak tubuh mungilnya, sehingga membuat es crem yang berada ditangannya jatuh berantakan, bahkan sebagian besar jatuh mengenai bajunya.


"oh astaga. maaf nak, maaf." seru wanita paruh baya yang tadi menabrak El. Tangannya terulur ingin membantu El yang kini terduduk diatas lantai.


"jangan sentuh aku!." El melayangkan tatapan tajamnya pada wanita paruh baya didepannya.


'oh astaga, anak ini benar-benar mirip anakku waktu kecil, imut sekali..'


"El?."


"mommy."


"ada apa ini?." tiba-tiba saja Clara muncul di antara El, Dira dan juga wanita paruh baya itu.


Tentu saja keadaan mereka menjadi sorotan publik dimall tersebut.


"dokter Clara?."


"ta Tante Wina?." susah payah Clara menelan salivanya.


🖤