Single Parents

Single Parents
BERSABARLAH SEBENTAR LAGI.



Malam semakin sepi, hanya suara televisi yang terdengar mengisi heningannya ruang keluarga saat itu.


Tak terdengar celoteh Assyifa dan Ozan lagi, kedua bocah itu sudah terlelap di kiri dan kanan pangkuan mamanya sambil menghisap ibu jari, juga dengan gaya yang sama pula.


Begitupun dengan Alia yang sudah terlelap lebih dulu, menopang kepalanya dengan sebelah tangan yang bertengger di atas sofa.


Sementara Hisyam, pria itu masih sibuk meng-handle bisnis-bisnisnya.


Meski hanya memantaunya dari informasi yang di kirimkan Asisten Davis setiap waktu, tapi setidaknya cara itu yang paling aman, tak ada yang curiga kalau dirinya masih berperan penting di perusahaan mendiang papanya, dan Hamish hanyalah kedok, karna sebenarnya adiknya itu memang tidak pernah tertarik dalam dunia bisnis.


Untung saja sebagian bisnis yang di miliknya tidak bernaung di bawah satu induk perusahaan yang sama.


Jadi bisa di katakan bisnis yang di bekukan hanya sebagian kecil dari sekian banyak bisnis yang di tanganinya, sehingga bisnis yang di rintis oleh tuan Osmand dahulu bisa di katakan aman, karna bisnis itu sudah beralih nama menjadi milik Hamish.


Jam menunjuk ke arah sebelas malam, Hisyam menutup laptop dan mengumpulkan semua fail yang selesai ia tanda tangani karna asisten Davis akan mengambilnya besok pagi.


Setelah membereskan semua barang-barangnya ia baru sadar keberadaan istri dan anak-anaknya di sana, dan mereka telah pun terlelap tanpa ia sadari.


Melihat pemandangan yang begitu menyejukkan hati, Hisyam perlahan mendekati istri dan anak-anaknya, memandangi satu persatu wajah ketiganya, namun, ada satu wajah yang sering ia rindukan dalam diamnya selama ini.


Ya, dia adalah Alia, seorang ibu tunggal yang di nikahinya setahun yang lalu, meski telah sah, tapi ia memilih untuk tak menunjukkannya di khalayak ramai dan semua itu ia lakukan untuk melindungi wanitanya dari musuhnya, salah satunya adalah Mr.Lee dan Renata.


Hisyam menatap seksama wajah lugu istrinya, menyelipkan rambut hitam yang menutupi sebagian wajah naturalnya.


Menurut Hisyam, Alia tak secantik wanita kota di luaran sana dan tak sesexy Renata—mantan istrinya, tapi sikap polos dan ketulusan hati wanita itu mampu memporak porandakan pertahanan Hisyam yang sempat berpikir untuk menutup hatinya pada wanita manapun.


"Hm, tunggulah sebentar lagi, aku akan segera meresmikan hubungan kita setelah bisnis kotor Mr.Lee terungkap dan membersihkan namamu yang telah dirusak olehnya!"


Hisyam kembali menelusuri wajah lugu di depan matanya, perlahan jemarinya terangkat mengusap pipi polos tanpa riasan dengan punggung jemarinya.


Alia sedikit terusik dengan sentuhan itu, matanya perlahan terbuka namun tak menangkap dengan jelas pergerakan cepat tangan Hisyam.


"Naiklah keatas dan tidurlah, anak-anak biar aku yang mengurusnya!"


Baru saja Alia mengumpulkan kesadarannya, suara tegas Hisyam sudah lebih dulu membuatnya membelalak.


Hisyam membawa Assyifa naik lebih dulu, tak ingin merepotkan Hisyam yang harus bolak balik untuk membawa Ozan, ia pun mengikuti langkah suaminya, menggendong Ozan ke lantai dua.


Mereka menidurkan dua balita itu ke masing masing tempat tidur, dan drama canggung yang hampir terjadi setiap malam pun di mulai.


Untung lah drama tak berlangsung lama karna anak-anaknya kini terjaga, menatap dua orang dewasa yang saling berdiam canggung


"Mom, can you sleep here tonight? I really miss you..."


Permintaan Ozan membuat Alia berjingkrak dalam hati, "Yess! Akhirnya aku bisa menjadikan permintaan Ozan sebagai alasan"


Alia berseru dalam hati, tapi sayangnya itu hanya sementara karna, Assyifa juga ikut meminta hal yang sama.


"Daddy, can we sleep together, please...." Assyifa pun, ikut menimpali.


Assyifa tak ingin kalah bahkan gadis kecilnya itu bisa menirukan gaya bicara Ozan yang fasih, hingga Alia di buat tak percaya dengan apa yang didengarnya.


"Assyifa, sayang, tuan His...."


"Sure, why not...."


Hisyam memotong perkataan Alia, padahal wanita itu hanya tak ingin membuat Assyifa terbiasa dengan kasih sayang yang di berikan Hisyam, seperti dirinya yang sudah terbiasa dengan perhatian yang di berikan suami sekaligus mantan bosnya itu.


"Alright! So, what we waiting for, let's sleep" Hisyam terlihat begitu antusias lalu membaringkan tubuhnya di samping Assyifa tanpa memperdulikan keberadaan istrinya di sana.


"Sebenarnya apa yang tuan inginkan, kenapa tuan terus membuatku bingung?"


Alia masih bertanya-tanya dalam hati, namun masih tidak mengerti apa yang membuat sikap pria tegas itu tiba-tiba berubah dalam sekelip mata.


"Ingin bergabung?" Suara Hisyam membuyarkan lamunan.


Mendengar ajakan Hisyam membuat mata Alia seketika membola.


Hisyam mengangkat kening, masih menunggu jawaban dari Alia, "Um, Ozan, Assyifa, cuci tangan dan kaki dulu sebelum tidur, sayang, ya"


Bukannya menjawab, Alia malah mengalihkan pembicaraan, hingga anak-anaknya berlalu ke kamar mandi.


"Biar ku bantu..."


Hisyam bangun dari tempat tidur, menawarkan diri untuk membantu anak-anaknya di kamar mandi.


"Seharusnya, tuan tidak melakukan semua hal itu" perkataan Alia yang tiba-tiba itu membuat Hisyam menghentikan langkah.


Hisyam kembali berbalik mendekati Alia yang sedang mengumpulkan keberanian untuk mengungkapkan apa yang bersarang di benaknya.


"Apa maksudmu!"


Alia mundur, takut, "Ma-maksudku, mungkin akan lebih baik jika tuan tidak memanjakan Assyifa dan tidak harus mengikuti semua keinginannya"


"Kenapa? Apa kamu berpikir aku tidak mampu melakukannya?"


"Bu-bukan seperti itu, hanya saja...."


"Atau kamu takut aku akan meninggalkan Assyifa sama seperti Adam meninggalkan kalian dulu?


Hah! Sorry, but, jangan samakan aku dengan si pengecut mantan suamimu itu" Cecar Hisyam dengan nada sinis.


"Dan, perlu kamu tahu, meskipun nanti pernikahan kita sudah berakhir, aku tidak akan mengingkari apa yang telah menjadi kesepakatan kita sebelumnya, ingat, aku bukanlah pria pengecut pilihan hatimu itu!"


Lagi-lagi kata-kata Hisyam membuat raut wajah Alia berubah sendu, bukan karena pria itu mengungkit masa lalunya, tapi karna...


"Berakhir, benarkah? Dia bahkan sudah berpikir tentang hal itu, kenapa aku begitu naif dan masih berharap sesuatu yang mustahil akan terjadi"


Bisik Alia sembari menatap punggung tegap Hisyam yang hampir hilang dari jangkauan matanya.


-


Anak-anak sudah keluar dari kamar mandi, tanpa di suruh Ozan sudah bersiap untuk mendengarkan sebuah dongeng.


Namun beda dengan Assyifa, bukannya kembali ke ranjangnya, gadis kecilnya itu malah berdiri di ambang pintu, mencari keberadaan papanya yang sudah tak terlihat di sana.


Alia menghela napas, melihat gelagat Assyifa begitu menyayat hatinya, dengan menahan sesak ia perlahan menghampiri putrinya.


"Syifa, kita tidur sayang, ya..." Alia mengusap pucuk kepala Assyifa, namun gadis kecilnya itu tetap bergeming.


"Syifa, tidur sama mama, ya, sama abang Ozan juga" Alia lagi-lagi membujuk putrinya, tapi kali ini sambil merangkul gadis kecilnya.


Bukannya tenang Assyifa malah semakin menangis bahkan memukul mukul mamanya dengan tangan mungilnya.


"Maafkan mama, sayang, hiks... lagi-lagi mama mengambil keputusan yang salah, bukannya memberimu ke bahagiaan, mama justru membuatmu ikut merasakan semua kesedihan ini, maafkan mama, hiks... hiks..."


Alia terisak sambil memeluk Assyifa, bukan sakit karna mendapat pukulan dari putri kecilnya melainkan sakit melihat buah hatinya menjadi korban dari kesalahannya.


"Sini! Biar aku saja"


Tiba-tiba saja tangan besar Hisyam terulur melerai pelukan Alia dari putrinya.


Hisyam mengambil alih Assyifa, membawa ke ranjang dan ikut berbaring di samping gadis kecil itu.


Diam-diam Alia menghapus bekas basah di sudut netra, menghampiri ranjang di mana Hisyam mencoba menenangkan putrinya.


Ingin rasanya ia melerai pelukan Hisyam dari Assyifa, tapi itu terlalu kasar dan pastinya tangis Assyifa akan semakin menjadi dan akan semakin sulit untuk menenangkannya.


"Dia demam!"


Ucapan Hisyam seketika membuat Alia terkesiap, menghampiri putrinya lalu menempelkan punggung tangan ke dahi Assyifa.


Keduanya bersitatap untuk sepersekian detik, "Hm...." Alia mendengus, khawatir melihat kondisi putrinya.


"Tunggu di sini!" Hisyam bergegas keluar dan kembali setelah beberapa menit dengan membawa sebuah wadah berisikan air hangat beserta handuk kecil di dalamnya.


"Pakailah ini dulu, kita ke rumah sakit kalau demamnya tidak juga turun"


Saran Hisyam sambil menyodorkan wadah di tangannya.


"Mommy...."


Panggil Ozan pelan dari ranjangnya, bocah itu terlihat cemberut entah khawatir atau cemburu karna merasa di abaikan.


Hisyam mengerti situasinya, bergegas ia menghampiri putranya, menidurkan bocah itu sementara Alia sibuk mengurus Assyifa yang tampak gelisa dalam dekapan mamanya.


Malam semakin larut, tak ada lagi suara gelisa dari mulut mungil Assyifa, Alia pun sudah terlelap sambil mendekap putrinya.


Hisyam mendekati ibu dan anak itu, mengganti handuk yang sudah dingin lalu meletakkan kembali ke dahi Assyifa.


"Kita akan melalui semua ini bersama, bersabarlah sebentar lagi" Bisik Hisyam.


Selama beberapa menit Hisyam memperhatikan pemandangan indah di depan matanya, namun ia harus berhenti, karna ada sesuatu yang lebih penting yang harus ia bereskan.


Hisyam berjalan keluar dari kamar anak-anaknya, sangat perlahan sehingga tak seorang pun yang menyadarinya.


Merasakan apa yang di rasakan Alia, membuatnya tak bisa tinggal diam, ia harus melakukan sesuatu untuk kebaikan orang-orang yang ia sayangi.


Hisyam merogoh kocek. mengeluarkan ponsel dan mencari kontak seseorang di sana.


Fajar sebentar lagi menyingsing, ia harus bergerak cepat, tak perduli lagi dengan nasehat Davis yang terus menyurhnya untuk bersabar.