Single Parents

Single Parents
Usaha Deva



Satu Minggu telah berlalu sejak pertemuan Semmy dan Clara. Ternyata Semmy masih memberikan kesempatan pada Clara dan juga papanya bekerja.


Seminggu ini pula Clara disibukkan dengan pekerjaannya yang menumpuk karena ia tinggal cuti, atau lebih tepatnya kabur dari Semmy.


Begitupula dengan Dira, ia juga sibuk mempersiapkan diri untuk kompetisi yang akan di laksanakan satu Minggu lagi.


Dira melirik jam yang melingkar ditangannya.


"sudah waktunya menjemput El." gumamnya pelan sambil membereskan pekerjaannya.


tok tok tok


"mbk ada yang nyariin." ketukan dan seruan Maya dari balik pintu.


"iya."


"siapa May?." Dira keluar dari ruangan, menuruni anak tangga satu persatu dengan Maya yang mengekor dibelakangnya.


"biasa mbak, tuan Deva."


Sejak pertemuan Dira dan Deva Minggu lalu, Deva hampir setiap hari datang ke butik Dira. Entah sekedar berkunjung atau terkadang membeli pakaian untuk orang tuanya.


Ia terlihat mengakrabkan diri dengan Dira, pernah ia mengajak Dira makan siang bersama, tapi dengan halus Dira menolaknya.


"tuan Deva?." sapa Dira sopan.


"jangan panggil tuan, panggil Deva saja, sudah berapa kali saya bilang?." senyum jenaka tersemat dibibir manisnya.


"aaa maafkan saya tu.. eh Deva, saya tidak terbiasa."


"kalau begitu biasakanlah." Deva mengeringkan salah satu matanya dan membuat Dira tergelak.


"mau makan siang bersama?." tawar Deva.


"ma.."


Tahu Dira akan menolaknya lagi, Deva memotongnya dengan cepat.


"jangan menolakku lagi, ayolah kali ini saja."


"tapi saya harus menjemput El sekarang." melirik jam ditangannya lagi.


"kalau begitu kita jemput El bersama, setelah itu kita makan siang, bagaimana?."


"ta.."


"jangan membuat El menunggu, Ayo." menarik tangan Dira keluar.


'ini orang kenapa maksa banget sih. Oke, hanya makan siang, kali ini aja.' menarik nafasnya dalam dan mengeluarkannya perlahan.


"tuan bisa tolong lepaskan tangan saya?." melirik pergelangan tangannya dengan wajah masam.


"oh maaf." refleks melepaskan. "maafkan saya. Emm, bawa mobilku saja bagaimana?."


'wanita ini akan susah ditaklukkan, berbeda dengan wanita-wanita lainnya yang sering aku jumpai. Tapi aku suka, dan setelah aku mendapatkannya nanti tidak akan pernah aku lepaskan.' senyum tipis.


"saya pakai mobil sendiri saja tuan." setengah berlari menghampiri mobilnya.


"dia lucu sekali, baiklah." masuk dalam mobil dan mengikuti mobil Dira.


🏫


🏫


🏫


"mommy kenapa lama sekali?!. El sudah bosan disini menunggu mommy." memberengut sebal, mengaplikasikan rasa kesalnya pada sang mommy.


"hallo boy.." tangan Deva terulur ingin mengusap rambut El.


"stop!!, don't touch me!." El mundur selangkah kebelakang, membuat tangan Deva berhenti diudara. Peringatan keras untuk Deva agar ia tidak menyentuh dirinya.


"El.."


"mommy!!." semakin kesal akan sikap mommynya karena ia terlihat membela laki-laki yang kini berdiri disampingnya.


Dira hanya bisa menghela nafasnya pasrah, dari dulu El memang tidak suka disentuh oleh sembarang orang.


"maafkan putra saya Deva."


"tak apa, mungkin dia belum terbiasa." senyum manis tersemat dibibir Deva.


"oke, kalau begitu ayo kita cari makan siang dulu, mau kan sayang?." Dira menatap El lembut.


"oke." berjalan mengitari mobil mommynya dan masuk di ikuti oleh Dira. Sedangkan Deva ia masuk kemobilnya sendiri.


🚗


🚗


🚗


Restoran sederhana dengan interior klasik menjadi pilihan Dira dan El, Deva hanya bisa mengikuti saja.


"kenapa tidak kerestoran yang diujung sana saja?, disana makannannya enak-enak." Deva bersuara setelah pelayan yang mencatat pesanan mereka berlalu.


"kami lebih suka restoran sederhana, jika anda tidak suka anda bisa pergi dari sini." aura dingin dan tatapan tajam El membuat Deva bungkam, ia menelan salivanya dengan susah payah.


'bocah ini kenapa menakutkan sekali. Bukan hanya mamanya saja yang susah ditaklukkan, tapi sepertinya anaknya akan lebih susah.' batin Deva menjerit pilu.


"El, tidak boleh seperti itu sayang, tidak sopan namanya." Dira menggenggam tangan El lembut.


"mom, paman ini punya maksud terselubung dengan mommy, dan El tidak suka!." melirik sinis Deva.


'****!!. Bahkan maksud terselubung ku sudah bisa dibaca oleh bocah berusia empat tahun!.' Deva mengumpat kesal dalam hati.


🖤