
Setelah melakukan sholat subuh Alia bergegas menghampiri kamar bik Ina, lalu beralih ke kamar Ozan, namun semua kamar masih terlihat rapi dan kosong.
Lelah mencari keberadaan bik Ina yang tak terlihat sejak semalam, Alia pun turun ke lantai bawah dan mendekati ruang dapur setelah mendengar suara berisik dari tempat itu.
Tapi bukannya menemukan apa yang dia cari, Alia malah mendapati sosok yang tak ingin di temuinya saat ini.
Tanpa suara, Alia seketika berbalik berniat untuk meninggalkan tempat itu.
"Milk or tea...? (Susu atau teh....)"
Tanya Hisyam setelah menyadari kehadiran Alia di tempat itu.
"Tidak terimakasih, aku kesini hanya ingin menanyakan keberadaan Ozan, apa mungkin Ozan masih di kamarnya, ya?"
Alia pura-pura bingung, mencari alasan agar bisa segera meninggalkan tempat itu.
"Mereka belum pulang, Davis baru saja menelpon, dan mengatakan bahwa mereka akan berkeliling sebelum pulang" Jelas Hisyam yang terlihat sibuk membacuh kopi untuk dirinya sendiri.
"Duduklah dulu selagi aku menyiapkan toasted bread, oya, aku sudah menyiapkan hot milk and tea, aku tak tahu kesukaanmu, jadi ku membuat dua duanya"
Hisyam mencoba bersikap santai agar suasananya tak terasa canggung.
Karna tak bisa mengelak lagi Alia pun ikut duduk namun memilih kursi yang paling ujung sehingga mereka terlihat seperti sedang berselisih pendapat.
"Ini hari terakhir kita di sini, apa kamu ingin pergi ke suatu tempat sebelum meninggalkan pulau ini?"
Hisyam bangkit menuju pantry, ia berusaha mencari topik pembicaraan yang cocok untuk karakter muda Alia yang energik.
"Tidak, tuan pergi saja, aku akan menunggu Ozan di sini, tak perlu mengkhawatirkanku"
"Tapi mereka tak akan kesini lagi, mereka akan langsung ke airport...." Hisyam kembali menghampiri meja sambil mengaduk kopinya yang masih panas.
"Owh, benarkah"
Respon Alia hampa, namun Hisyam tak kehabisan ide, segera ia merubah topik pembicaraan.
"Katakan saja kamu ingin kemana sebelum penerbangan, aku akan mengantarmu kemanapun yang kamu mau"
Kali ini Hisyam benar-benar ingin membuat Alia merasa nyaman dengan kehadirannya.
"Kemanapun? Kalau aku bilang aku sangat merindukan putriku, akankah dia mengizinkanku untuk kembali ke kampung halamanku ....
Tapi... tentu saja aku akan meminjam uang lagi, karna aku sudah mengirim semua gajiku bulan ini..."
Alia membatin hingga tak sadar Hisyam sedang memanggilnya berkali-kali.
"Alia...!"
"Ya....?" Kaget.
"Apa kamu sudah memutuskan destinasi wisata mana yang ingin kamu kunjungi hari ini?"
Tanya Hisyam, namun Alia hanya tersenyum sambil menggelengkan kekepalanya.
"Oh come on, Alia, bagaimana kalau dengan ini"
Hisyam mendekat, ingin menunjukkan destinasi wisata yang di temukannya di pencarian g**gl*.
"Di sini....?" Alia mendongak setelah melihat destinasi wisata yang di tunjukan oleh Hisyam, hingga ia bingung dan menatap Hisyam yang sedang bersandar di sisi kiri meja.
"How is it?"
Hisyam masih menunggu tanggapan dari wanita yang sedang duduk di hadapannya.
"Terserah tuan saja, a-aku benar-benar tidak tahu tempat wisata mana yang bagus di sini"
Jawab Alia dengan mata yang masih teguh menatap segelas susu di hadapannya.
"Huft.... Alia! Apa aku benar-benar semenakutkan itu bagimu? Aku tahu selama ini aku melakukan hal buruk padamu dan aku minta maaf soal itu, tapi....
Bisakah kamu melupakannya dan fokus pada anak-anak, aku hanya berusaha membuatmu nyaman....
Jadi ku mohon izinkan aku untuk membantumu dan meringankan semua beban yang ada di pundakmu, karna jujur, aku hanya ingin menebus semua kesalahanku selama ini"
Hisyam memohon, hingga Alia tergerak untuk mengungkapkan apa yang ada di pikirannya.
"Aku tidak menyimpan dendam apapun pada tuan, apapun keputusanku saat ini, tak ada kaitannya dengan perlakuan tuan padaku selama ini...
Seperti yang tuan tau, aku pernah memulai hubungan atas permintaan orang tuaku dan itu sangat menyakitkan buatku, jadi saranku, tuan tidak perlu melakukannya karna kebahagiaan orang lain"
Alia menghentikan kata-katanya, dadanya semakin sesak mengingat masa-masa sulitnya di mana ia harus mengandung dan melahirkan putrinya tanpa seorang suami di sisinya.
"Aku seorang ibu yang buruk, aku seorang wanita yang tak bisa menjaga suatu hubungan dengan baik...
Huft... karna ke-naifan ku, aku mengemis cinta dari suamiku sendiri, sehingga bayi sekecil Assyifa harus lahir tanpa kasih sayang dari ayah kandungnya "
Alia mengungkapkan isi hatinya, ia menyalahkan diri sendiri atas apa yang menimpa keluarga kecilnya.
Namun bukannya menyerah, Hisyam malah semakin yakin bahwa pilihan mamanya adalah yang terbaik untuk Ozan.
"Alia, aku tahu kamu trauma dengan pernikahanmu dahulu, begitupun denganku, tapi....
Menikah karna cinta bukan satu-satunya jaminan untuk sebuah keluarga yang bahagia, banyak pasangan di luar sana yang bahagia meski hubungan mereka di awali dengan alasan lain....
So please, pikirkan baik-baik tentang hal ini, setidaknya belum terlambat untuk kita untuk mengambil keputusan yang baik untuk Ozan dan Assyifa"
Hisyam terlihat bersungguh-sungguh meyakinkan wanita rapuh itu, hingga Alia yang melihatnya mulai terenyuh, namun masih belum berani untuk memutuskan pilihannya.
"Aku akan bersiap, kamu juga naiklah dan bersiap, oke"
Hingga Hisyam yang sangat mengerti situasinya, kini memutuskan untuk memberikan waktu pada wanita itu untuk mengambil keputusan.
"Kita akan berangkat sebentar lagi dan tentang permintaanku tadi, aku akan menunggu jawabanmu sampai kamu merasa siap untuk memutuskannya"
Hisyam sekali lagi menyesap kopi hitam favoritnya sebelum akhirnya meninggalkan Alia yang masih mematung di tempatnya.
Berapa menit terdiam Alia pun ikut bangkit untuk bersiap.
.....
Tak seperti biasanya, Alia yang senantiasa energik, kini terlihat lemah dan tak bersemangat.
Berat rasanya ia melangkah setelah tahu hari ini adalah hari terakhirnya berada di pulau itu.
Kalau saja Hisyam bisa mengantarnya pulang sekaligus ingin mengenal keluarganya lebih dekat, mungkin saja ia bisa mempertimbangkan keinginan nyonya Farida, walau sebenarnya trauma di hatinya masih belum sembuh sepenuhnya.
Dengan lesu Alia keluar dari kamarnya setelah memoles wajahnya dengan sedikit bedak, dan lip gloss di bibirnya.
Karna Hisyam belum memperlihatkan batang hidungnya, ia pun menggunakan sedikit waktunya untuk membereskan bekas sarapan mereka pagi tadi.
"Apa yang di lakukan Assyifa hari ini ya? Apa dia menyambut ulang tahunnya dengan bahagia?"
Segala pertanyaan terlintas di pikirannya, namun tangannya masih sibuk membersihkan tumpukan piring kotor di dalam wastafel.
Karna kurang fokus, piring yang baru saja selesai ia bersihkan tiba-tiba terlepas dari tangannya, dan...
"PRAKK....!"
Suara pecahan membuat Alia kaget dan tersadar dari lamunanya.
Sedang Hisyam yang berniat menghampiri wanita itu di kamarnya, segera berlari ke arah dapur dengan khawatir.
"Alia! Are you okay?"
Hisyam menghampiri Alia yang terlihat shock, hingga mematung memandangi kekacauan yang di buatnya.
Hisyam yang tak kalah panik, segera menarik Alia menjauh dari tempat itu.
"Apa yang sedang kamu lakukan, Alia? Hah! Kita akan pulang hari ini, dan kamu! kamu masih sempat mengkhawatirkan semua itu...."
Hisyam menghentikan kata-katanya saat melihat Alia hanya termenung tanpa reaksi.
"Ayo kita berangkat, kasihan mama dan bik Ina, mereka pasti sudah lelah menjaga Ozan"
Hisyam kesal, namun berusaha menurunkan nada bicaranya, kini tangannya menggenggam tangan Alia dan menarik pengasuh itu ke dalam mobil.
Setelah selesai memasukkan semua tasnya ke dalam bagasi, Hisyam pun ikut masuk ke dalam mobil dan melaju meninggalkan villa yang menjadi tempat peristirahatan selama mereka tinggal di pulau itu.
Berapa menit berlalu, namun keduanya masih belum mengucapkan sepatah kata pun.
Hingga Akhirnya Hisyam berinisiatif untuk memutar music dari playdisk.
Lagu, Rockabye yang di populerkan oleh Anne *Mar*ie terdengar mengalun, seakan membawa keduanya mendalami makna dari lagu tersebut.
"For all the single mom out there....(Untuk semua ibu tunggal di luar sana....)"
"Going through frustration..."
(Yang berjuang melewati masa frustasi....)
"She tells him, oh love, no one's ever gonna hurt you love"
(Padanya ia berkata, oh, nak,tak ada yang akan menyakitimu)
"I'm gonna give you all of my love, nobody metters like you"
(Akan ku berikan semua kasih dan sayangku, tak ada yang berharga selain dirimu)
"She tells him, your life, ain't gon't be nothing like my life"
(Pada si anak ia berkata, hidupmu tak akan seperti hidupku)
"You're gonna grow and have a good life, i'm gonna do what i've got to do"
(Kau akan tumbuh dewasa dan hidup bahagia, akan ku lakukan apa yang harus ku lakukan)
"So rockabye baby rockabye, i'm gonna rock you, rockabye baby don't you cry, somebody's got you"
(Jadi tidurlah, nak, aku akan mengayunmu, tidurlah sayang jangan menangis, ibu akan menjagamu)
Hisyam melirik Alia yang sedang melempar padangannya ke luar jendela.
Dari lagu itu dia tahu, Alia terdiam bukan karna merasa lebih tenang, tapi lebih menghayati makna dari lirik itu.
Hingga sangat terlihat jelas wanita itu berkali kali menghelah napas dalam, sambil mengelus dadanya yang terasa sesak.
"Aku tahu apa yang kamu rasakan"
Hisyam menghentikan mobilnya, dan memberanikan diri menggapai tangan Alia yang sedari tadi meremas dadanya yang terasa perih.
"Aku merindukannya, sangat merindukannya...."
Alia akhirnya berbalik menatap sedih ke arah Hisyam yang sudah siap meminjamkan dada bidangnya pada pengasuh dari putranya itu.
"Aku tahu, dan sangat mengerti apa yang kamu rasakan saat ini"
Mendengar ungkapan Hisyam, membuat Alia meluruh ke dalam pelukan bosnya dan mulai menangis sejadi jadinya hingga hanya terdengar isakan di sertai dengkuran halus yang menandakan wanita itu sudah tertidur dalam dada bidang Hisyam.