
Alia mengerjapkan matanya saat mentari terasa hangat menyapa wajahnya.
Lama termenung menikmati cerahnya mentari pagi, barulah ia tersadar bahwa ia telah melewatkan waktu subuhnya.
"Akh...." Alia mendengus, "Aku kesiangan lagi, pasti karna harus berjaga semalaman...."
"Hmp....!" Alia membelalakkan matanya sembari membekap mulutnya sendiri, di waktu yang sama ia teringat kejadian semalam yang membuatnya harus menghindari suaminya sendiri.
Menyadari sebuah tangan melingkar di pinggangnya yang masih terbalut selimut tebal membuatnya kaku tak tahu harus berbuat apa, meski begitu ia bersyukur tak ada yang terjadi di antara mereka.
"Huft.... untnglah tuan Hisyam tidak menggunakan selimut ini semalam....
Karna kalau sampai hal itu terjadi, aku bisa mati perlahan menanggung rasa malu ini...."
Alia lega melihat Hisyam tak ikut masuk ke dalam selimut, karna ia tahu pria itu tak akan diam saat tahu situasi seperti apa yang ia alami sepanjang malam tadi.
"Akh...! Bisa-bisanya aku tertidur pulas di situasi seperti ini, seharusnya aku lebih berhati-hati agar tak terjadi kesalahan yang bisa merugikan diriku sendiri?"
Alia tak henti-hentinya mewanti-wanti dirinya agar tak melakukan kesalahan yang sama, sudah cukup dirinya menjadi pelampiasan pria hidung belang, hingga harus menjadi seorang single parent di usianya yang masih sangat belia.
Dan Assyifa, seorang bayi kecil yang tak di inginkan oleh ayah kandung-nya itulah yang menjadi korban dari perbuatan seorang pria yang tak bertanggung jawab seperti Adam.
Alia menatap sendu wajah Hisyam, teringat semua kenangan buruk di masa lalunya membuatnya kembali merasa trauma dan sakit dalam hatinya.
"Setelah mendapatkan semua yang tuan inginkan dariku, apakah tuan juga akan meninggalkanku sama seperti yang di lakukan Adam padaku?"
Lirihnya dalam hati, dengan resah ia seakan mencari jawaban dari pertanyaannya lewat wajah tenang pria yang sedang mendekapnya saat ini.
Alia masih menatap sendu pria yang mendekapnya dengan kehangatan, matanya yang berkaca-kaca seakan tak ingin beralih dari wajah tegas namun tampan jika di tatapnya semakin lama.
"Ya tuhan.... apa aku salah jika mengnginkan kebahagiaan ini terus berlanjut..."
Jerit Alia dalam hati, namun ia tahu, semakin ingin ia merasakan kebahagiaan itu, rasa takut dan trauma semakin mudah pula menguasai pikirannya.
Alia larut dalam pikirannya, bahkan ia tak sadar jika pria di sampingnya sedang menatapnya sejak tadi.
Pria itu perlahan meregangkan pelukannya dari pinggang kecil istrinya, membuat Alia seketika tersadar.
Karna tak tahu harus bersikap seperti apa, Alia pun kembali memejamkan matanya dan berpura-pura tidur.
"Tokk....! Tokk....!"
Suara ketukan dari balik pintu membuat Hisyam bangkit mendekati pintu.
Terlihat Davis sedang berdiri di depan pintu dengan menenteng beberapa paper bag dari brand terkenal dunia.
"Apa kamu mendapatkan apa yang ku minta?" Tanya Hisyam dengan suara khas bangun tidurnya.
Davis mengangguk. "Sudah, semuanya lengkap seperti yang kamu inginkan...." Jawab Davis.
"Hey! Mau apa kamu?" Hisyam panik lalu menghadang Asistenya yang akan masuk menyimpan barang bawaannya ke dalam kamar.
"Apa maksudmu, tentu saja aku harus menyimpan semua barang ini"
Jawab Davis heran dan kembali melanjutkan langkahnya.
"Stop!" Hadang Hisyam lagi, "Look, nona Alia masih di dalam dan, ku pikir dia tak akan senang melihatmu menerobos...."
"Wait! Maksudmu, kalian tidur sekamar dan, nona Alia masih di dalam? Jangan bilang kalian...."
Davis makin penasaran, tanpa permisi pria itu menerobos masuk ke kamar sahabatnya.
Meski tak menemukan siapapun di sana tapi ia bisa tahu sepasang pengantin baru itu menggunakan tampat tidur yang sama.
Untunglah saat dua sahabat itu lengah Alia dengan sigap berlari ke dalam kamar mandi dan bersembunyi di sana.
"Apa....!" Gertak Hisyam saat sahabatnya melirik nakal ke arahnya.
"Sepertinya tuan Hisyam yang terhormat sudah mulai takluk dengan pesona istri polosnya"
Goda Davis sambil berjalan menghampiri balkon, di susul Hisyam dari belakang.
"Hm..." Hisyam menghela nafas, wajahnya seketika berubah serius mendengar candaan sahabatnya.
"Itu akan sedikit sulit, dia masih sangat muda dan....
Menurutmu apa tanggapan orang-orang tentang dirinya setelah tahu kami telah menikah? Mereka akan mencacinya, bagaimana bisa wanita muda seperti Alia tertarik pada duda beranak satu kalau bukan karna harta" Jelasnya dengan rasa bersalah.
"Yang terpenting dia tidak seperti itu, lagi pula kalian sudah menikah, kan? lalu apa masalahnya"
"Justru itu yang membuatku merasa bersalah, karna sepertinya ada pria lain di hatinya" Ungkap Hisyam lagi.
Menurutnya sikap Alia yang seakan ingin menghindar darinya adalah bukti bahwa wanita yang sudah di nikahinya itu memiliki perasaan pada pria lain.
"Don't tell me you're jealous?" (jangan bilang kamu sedang cemburu?" Ledek Davis.
Davis menatap Hisyam penuh selidik, menurutnya ungkapan sahabatnya tadi bukan karna rasa bersalahnya pada Alia melainkan karna cemburu, mengetahui istrinya memiliki perasaan pada pria lain.
"Berhenti meledekku, aku benar-benar hanya bersalah padanya, kamu memang tak bisa di andalkan, sebaiknya kamu keluar sana! dan kerjakan pekerjaanmu" Usirnya lagi.
"Oke.... oke... tunggu! Kamu bilang, ada pria lain di hatinya, apa.... pria itu adalah Hamish"
Tebakan Davis seketika membuat Hisyam mengangkat kedua alisnya.
"itu tak mustahil bukan? Lagipula mereka begitu akrab dan hanya Hamish-lah satu-satunya teman yang dia miliki"
Davis menambahkan lagi, dan pengamatannya kali ini sukses namun membuat Hisyam semakin mempertimbangkan kata-kata sahabat sekaligus Asistennya itu.
-
Hisyam masih memikirkan kata-kata Davis barusan, menurutnya hal wajar jika Alia memiliki perasaan untuk pria lain.
Mengingat umurnya yang bisa di katakan dewasa, bukan mustahil jika wanita itu memiliki hasrat untuk menjalin hubungan layaknya wanita pada umumnya, hanya saja keadaannya-lah yang tak memungkinkan dirinya untuk menikmati semua itu.
Tapi, jika Alia memiliki perasaan terhadap Hamish, akankah ia akan melepaskan wanita yang sudah di nikahinya itu untuk adiknya sendiri?.
"Apa tanggapan masyarakat jika sampai apa yang di katakan Davis benar-benar terjadi....
Hm.... sepertinya aku harus mengumpulkan seluruh staf untuk memastikan berita pernikahanku tak sampai di ketahui publik"
Gumam Hisyam dengan semua strateginya.
"Maaf tuan, nyonya Farida menunggu anda dan nona Alia untuk sarapan bersama" Ujar seorang maid yang baru saja menghampirinya.
"Baiklah kami akan turun sebentar lagi, kamu boleh keluar sekarang"
"Tok... tok....!" Hisyam mengetuk pintu kamar mandi, namun tak ada jawaban dari dalam.
"Aku membawakan baju ganti untukmu! Kamu bisa keluar sekarang! Aku akan menunggu di luar!"
Teriak Hisyam lagi saat mendengar suara air mulai di nyalakan, namun sebenarnya Alia hanya pura-pura mandi untuk menghindar dari suaminya.
"Cekleek....!"
Alia akhirnya membuka pintu setelah mendengar Hisyam keluar, dan dengan segera ia menyambar beberapa paper bag yang terletak di atas tempat tidur, dan membawanya ke dalam walk in closet.
-
Alia melangkahkan kakinya menuju meja makan di mana nyonya Farida dan tante Rima sedang menungguu kedatangannya.
Sebagai menantu baru di keluarga Osmand, tentu saja ia merasa sungkan jika harus bangun kasiangan di hari pertama ia berada di kediaman suaminya.
Tapi apa boleh buat, karna ber-alih profesi sebagai satpam dadakan semalaman, membuatnya harus bangun kesiangan, bahkan waktu subuh pun ia lewatkan gara-gara hadiah lingerie petaka dari mertuanya itu.
"Honey!"
"Ya....!" Alia kelabakan.
"Kenapa berdiri di sana, sayang, kemarilah kita sarapan bersama!"
Seruan nyonya Farida menyadarkan Alia dari lamunannya dan menyadari semua mata kini sedang tertuju padanya, termasuk para pelayan yang ikut membantu bik Ina menyiapkan sarapan.
"Um.... Farah ke mana? Kenapa tidak ikut sarapan bersama kita"
Sekadar basa-basi Alia tiba-tiba mencari sepupunya sambil memijit tengkuknya yang terasa kaku karna salah tidur.
"Farah sedang bermain bersama Ozan dan Assyifa.....
tak perlu mengganggu mereka, duduklah di sini bersama kami" Kerling nyonya Farida pada besannya.
"Oh...."
Alia menanggapinya dengan ber-oh ria saja, meski merasa canggung Alia tetep menghampiri mertuanya dan memilih kursi yang lebih jauh dari tempat duduk yang selalu di gunakan Hisyam.
"Alia...."
Protes nyonya Farida, hingga dengan senyum yang sengaja di buat-buat Alia dengan terpaksa bangkit dan menarik kursi tepat di samping kursi kebesaran suaminya.
"Oya, Alia, tuan Hisyam kemana, nak? kenapa tidak ikut sarapan bersama kita?"
Tanya tante Rima yang penasaran ingin bertatap langsung dengan menantu sekaligus bos dari suaminya itu.
"Saya di sini!" Hisyam tiba-tiba menyela, "Maaf saya terlambat dan membuat kalian menunggu lama"
Ucap Hisyam yang sudah siap dengan rompi navy senada dengan setelan jas yang di kenakannya.
"Hisyam, perkenalkan buk Rima, dia tantenya Alia, yang juga istri dari...."
"Pak Farhan, kan!" Potong Hisyam, "Aku sudah tahu, selamat datang di kediaman kami, dan maafkan saya karna tak bisa menemui anda semalam"
Ujar Hisyam dengan sopan namun parasnya tetap saja datar.
"Baiklah ayo kita sarapan, terlalu lama menunggu kalian, membuat mama lapar"
Goda Farida sambil melirik putranya lalu beralih pada menantunya yang terlihat salah tingkah menahan malu.
"Um.... Alia cari Ozan dan Assyifa dulu sekalian memanggil Farah untuk sarapan" Pamit Alia sembari menggeser kursinya.
"Tidak perlu, biar bik Ina yang membawa anak-anak sekaligus memanggil pak Farhan untuk sarapan bersama kita...." Usul Farida.
"Tapi nyonya.... saya harus menyiapkan kopi untuk tuan Hisyam" Protes bik Ina yang tak mengerti rencana nyonya Farida.
"Hm.... tidak perlu bik, apa bibik lupa, sudah ada Alia yang menjaga makan minum dan segala keperluan Hisyam mulai sekarang"
Farida dengan kesal menjelaskan pada bik Ina yang kurang peka dengan rencananya.
"Ah.... benar juga, maaf bibik lupa, maklum bibik sudah tidak muda lagi" Ujar bik Ina.
Dengan terkekeh wanita yang berumur lebih dari setengah abad itu berlalu meninggalkan ruang makan.
Untunglah bik Ina sudah mengajarkan teknik pembuatan kopi turky kesukaan Hisyam padanya, hingga dengan cekatan dirinya bisa mempraktekkannya tanpa kendala.
Alia meletakkan kopi buatannya di hadapan Hisyam, mengolesi roti dengan slay kacang kesukaan suaminya itu.
Lebih dari setahun bekerja di keluarga Osmand, membuat Alia tak hanya terampil merawat bayi, tapi juga banyak pengalaman yang ia pelajari termasuk makanan dan minuman seperti apa yang di sukai dan tidak di sukai oleh suaminya itu.
Suasana di meja makan pagi itu terasa berbeda dari biasanya, kalau dulu hanya terdengar ocehan nyonya Farida dan celotehan Ozan, kini suasana lebih ceria dengan kehadiran Assyifa yang juga tak kalah aktif dan menggemaskan.
Melihat ke-akraban Ozan dan Assyifa membuat Farida dan tante Rima terlihat sangat bahagia, kecuali Alia yang sedari tadi tampak murung dan hanya mengaduk-aduk sarapannya tanpa mencicipinya sedikitpun.
Pikirannya sedang kalut memikirkan nasehat tante Rima tadi.
pagi ini saat ia mengurung diri di kamar mandi ia sempat berbalas pesan dengan tante Rima, menanyakan perihal hubungannya dengan Hisyam.
Sekaligus mengingatkan keponakannya untuk berhati-hati dengan perasaannya, jangan sampai ia merasakan sakit yang kedua kalinya.
"Aku berangkat sekarang!" Ucap Hisyam sembari menggeser kursinya di ikuti pak Farhan yang juga bergegas bangkit dari duduknya.
"Pak Farhan tidak perlu mengantarku, aku akan berangkat bersama Davis hari ini, sebaiknya bapak mengajak keluarga bapak liburan hari ini"
Saran Hisyam sembari menghampiri putranya dan mencium pucuk kepala balita itu dengan penuh kasih.
Menyadari Assyifa juga duduk bersama Ozan membuat Hisyam tak tega melihat Assyifa yang sedang menatapnya manja.
"Cup...."
Satu kecupan ikut mendarat di pucuk kepala Assyifa, sehingga membuat semua orang di ruangan itu terenyuh terutama Alia yang sudah hampir menitikkan air matanya, menyaksikan pemandangan yang sangat haru dan menyentuh itu.
Menyadari semua mata tertuju padanya, membuat Hisyam bergegas menderapkan langkahnya menuju pintu utama dan bersikap seolah-olah tak terjadi apa-apa.
Alia menyambar tas laptop milik Hisyam yang tertinggal di meja makan dan berlari mengejar suaminya yang hampir hilang dari pandangannya.
"Ada apa!" Ucap Hisyam heran saat Alia tiba-tiba menghadangnya.
"Um..... itu.... Tuan meninggalkan ini"
Lanjut Alia sambil menunjukkan tas laptop di tangannya, namun pada saat Hisyam mengulurkan tangannya Alia tiba-tiba menyambutnya dan menciumnya takzim.