Single Parents

Single Parents
BERDUA DI VILLA.



Alia terus berguling kesana kemari mencari posisi yang nyaman di atas tempat tidurnya, meski sudah berkali-kali mengerjapkan matannya, namun ia masih belum bisa mengusir bayangan wajah Mike yang selalu menghantui pikirannya akhir-akhir ini.


Lelah menunggu, tapi kantuknya masih belum melanda, hingga ia memutuskan untuk turun ke lantai bawah dan mencari sesuatu untuk ia makan.


Baru saja ia mulai mencari bahan masakan untuk di olahnya menjadi makanan, lampu di ruang dapur pun tiba-tiba padam dan seketika membuat Alia berteriak sambil berjingkrak kaget.


Alia melihat ke kiri dan kanannya, namun tak ada cahaya sedikitpun yang terlihat, entah karna malam semakin larut atau memang listrik di pulau itu sedang mengalami pemadaman secara serentak.


Alia terus meraba kesana kemari namun sialnya wanita itu lupa membawa ponselnya dan belum sepenuhnya hapal tata letak keseluruhan villa yang baru di huninya selama semalam itu.


Tak bisa berpikir karna panik, akhirnya Alia memilih untuk duduk di lantai, menunggu sampai listrik kembali berpungsi.


Sementara Hisyam yang sedari tadi bermondar mandir memikirkan cara untuk mengajak Alia berbicara, kini di kagetkan oleh suara teriakan yang berasal dari lantai bawah, tepatnya di ruang dapur.


Karna tak bisa melihat apapun, Hisyam menyalakan ponselnya dan mulai mengendap-endap dengan sebelah tangannya memegang erat tongkat baseboll.


"Hah...! Siapa dia? Bukannya tadi aku melihat dari jendela semua orang sedang keluar, termasuk bik Ina dan teman-teman tuan Hisyam....


Lalu suara langkah itu.... apa jangan-jangan ada seseorang yang sengaja masuk, karna mengira villa ini kosong?"


Alia bermunolog sendiri, berbagai kemungkinan hal buruk sudah terlintas di pikirannya, hingga ia berlutut memohon belas kasih dari sosok misterius yang sedang nenghampirinya.


"Ampun...! Ampun...! Tolong jangan sakiti saya, saya hanyalah seorang pengasuh dan tak punya apa-apa yang berharga untuk di berikan"


Sergah Alia yang sedang menutup matanya, sedang tangannya sebisa mungkin ia angkat ke udara, seakan sedang menyembah sosok di hadapannya.


"Hey! Turunkan tanganmu dan bangunlah..."


Jawab Hisyam tegas, namun sejujurnya ia berusaha keras menahan diri agar tak tertawa melihat tingkah konyol ibu muda itu


"Tidak! Aku tak akan bangun sebelum anda berjanji akan melepaskanku, aku punya anak dan keluarga yang harus ku urus.... tolong jangan sakiti saya" Ungkap Alia dengan nada panik.


"Hm... bangunlah, tidak ada yang bisa menyakitimu, karna aku akan memastikan hal itu tak akan terjadi lagi" Jelas Hisyam.


Dengan perlahan Alia yang mendengarnya pun mendongak menatap Hisyam yang sudah mengulurkan tangan padanya.


"Tu-tuan...! Bukannkah tuan sedang keluar"


Segera Alia menghambur ke dalam pelukan Hisyam, meski matanya berkaca-kaca, namun terlihat kelegaan terpancar di wajahnya.


Di dada bidang Hisyam Alia merasa mendapat perlindungan setelah berapa lama dirinya dalam ketakutan dan bayang-bayang Mike.


Hisyam yang mengerti tindakan Alia, hanya bisa tersenyum dan menunggu wanita itu tersadar dari perlakuannya.


"Apa kamu masih takut, sampai harus memeluk tubuhku seerat ini?"


"Apa!" Alia mendongak.


"Oh, maaf, listriknya tiba-tiba mati dan aku pikir hanya ada aku di villa ini" Jelas Alia sambil melerai pelukannya.


"Benar juga, aneh, kenapa listrik tiba-tiba padam, padahal cuacanya baik-baik saja..." Pikir Hisyam.


"Tunggu! Kenapa kamu ada di sini, bukankah aku sudah menyuruhmu untuk istirahat, kan?"


"Itu.... sebenarnya aku sedikit sulit memejamkan mata dengan perut kosong, jadi ku pikir mungkin setelah memakan sesuatu aku bisa tidur" Alia menjawab asal.


"Kita baru saja tiba kemarin, jadi tidak ada bahan makanan yang bisa di olah, dan sepertinya tidak ada lilin juga di sini, kalau ingin memesan makanan, katakan saja, biar aku belikan, sekalian membeli lilin"


Tawar Hisyam, setelah puas membuka setiap laci, namun tak menemukan satupun persediaan lilin di sana.


"Apa aku bisa ikut! Um.... tuan tentu tidak tahu kan, apa yang ku inginkan?" Bujuk Alia, ia sebenarnya tak berani jika harus di tinggal sendiri di villa luas dan gelap itu.


"Apa kamu takut?" Hisyam memicingkan mata.


"Mm... bukan begitu, hanya saja aku bingung harus melakukan apa di villa sebesar ini seorang diri" Alia berusaha meyakinkan bosnya.


"Benarkah aku boleh ikut? kalau begitu aku ambil tas dulu! Alia berjingkrak girang.


"Um... bisakah tuan menemaniku ke kamar? aku harus mengambil tas dan ponselku di atas" Pinta Alia lagi, dan hanya di tanggapi anggukan oleh Hisyam.


"Ini aneh, sikapnya mencurigakan, bukankah hari ini dia begitu baik padaku...." Batin Alia.


Namun segera ia buang jauh kecurigaannya itu, karna ia tahu apapun alasan Hisyam membeci dirinya selama ini, itu karna rasa cintanya pada Ozan yang begitu besar, hingga ia harus bersikap dingin dan tak percaya pada siapapun yang masuk kedalam kehidupannya.


"Mm.... apa kamu tak punya teman seorang pun di sini" Hisyam memulai pembicaraan saat mobil mereka mulai meninggalkan villa .


"Maksud tuan kenalan?" Alia kembali bertanya dan sama sekali tak tahu ke mana sebenarnya arah pembicaraan itu.


"Yup! Seperti, seseorang yang kamu kenal lewat media social atau seorang teman yang sengaja datang berlibur hanya untuk menemuimu?" Pancing Hisyam lagi.


"Hm... aku hanya punya beberapa teman di social media, itupun kebanyakan teman sekampungku....


Dan, aku pikir mengeluarkan uang hanya untuk menemui seorang teman yang jauh di luar pulau, itu mustahil" Jelas Alia.


"Jadi kamu tak punya rencana apapun selain menjaga Ozan? Oke... bagaimana kalau kita makan sambil membicarakan Ozan dan rencana tentang per...."


"Tuan! Di depan ada warung yang masih buka, mungkin sebaiknya kita memesan makanan di sana saja"


Potong Alia yang begitu antusias, hingga Hisyam harus memberhentikan mobil beserta kata-kata yang telah di susunnya sedari tadi.


"Apa kamu benar-benar akan memakan makanan yang ada di sini?"


Hisyam memerhatikan warung makan yang di tunjuk oleh Alia, warung yang terletak di pinggir jalan itu tentu saja bukanlah tempat yang ada dalam daftar pikirannya.


"Tuan Ayo turun!" Teriak Alia bersemangat....


Hm... tidakkah tuan mencium aromanya, ah, aku sangat rindu dengan aroma rempah ini" Tambahnya lagi.


"Kamu pergilah, gunakan ini, aku akan menunggu di mobil saja"


Tolak Hisyam dengan sopan, hingga Alia pun terpaksa menerima beberapa lembar uang, tanpa bertanya lagi alasan dari penolakan bosnya itu.


Sedikit kecewa Alia hanya mengangguk sebelum meninggalkan mobil, meski Hisyam tak memberitahukan alasannya, tapi sebenarnya ia tahu bosnya tak akan sembarangan menyantap makanan yang tak cocok dengan seleranya.


"Argh.... padahal aku sudah menyusun kata-kata itu seharian!"


Hisyam bergumam kesal saat melihat Alia mulai hilang di balik baliho yang di gunakan sebagai dinding warung, guna memberi kenyamanan bagi para pengunjung yang sedang menikmati makanannya.


Beberapa menit kemudian, terlihat Alia keluar dari warung dengan menenteng beberapa kantongan plastik di tangannya.


"Secepat itu! Apa kamu sudah makan?"


Tanya Hisyam heran, melihat Alia kembali secepat itu, dia bisa menebak kalau wanita itu belum mencicipi makanannya.


"Aku akan menyantapnya, saat tiba di villa nanti" Jawab Alia sambil menunjukkan kantongan itu pada Hisyam.


"Oya! Tadi, sepertinya tuan ingin mengatakan sesuatu, tentang apa?" Alia menatap Hisyam penuh tanda tanya.


"What! Me? Uh, itu... bukan apa-apa, lupakan saja" Jawab Hisyam gugup, sambil menghela napas beratnya.


"Owh.... baiklah!"


Alia ber owh-ria saja, namun ia masih penasaran, pasalnya sudah beberapa kali Hisyam mengajaknya berbicara, namun pembicaraan mereka tak pernah tuntas, hingga ia merasa pria itu akan membahas sesuatu yang penting padanya.


Alia terus memindai wajah bosnya, namun Hisyam hanya menatap ke depan, sengaja menyembunyikan kegugupannya agar tak terlihat oleh gadis indo di sampingnya itu.


Sedang Alia dengan ekspresi curiga wanita itu terlihat berpikir keras hingga tak sadar mulutnya terlihat seberti bebek manyun.