Single Parents

Single Parents
PERMINTAAN ALIA.



Sudah hampir seminggu sejak kepergian pak Rahman, namun Alia masih sering terlihat termenung berselancar ke masa lalu, di mana ia masih menjadi gadis kecil bagi papanya.


Bahkan waktu itu, sama sekali tak terpikirkan olehnya, bahwa dia bukanlah anak kandung dari mama dan papanya.


Mungkin ia bisa sedikit ikhlas jika buk Retno bukanlah ibu kandungnya melainkan saudara dari wanita yang telah melahirkannya ke dunia.


Tapi pak Rahman, Alia sama sekali belum bisa percaya kalau darah yang mengalir dalam tubuhnya bukannlah dari papanya melainkan dari pria bejat yang telah menyimpan benih dengan paksa di rahim mamanya.


"Alia....."


Tangan buk Retno mendarat di bahu Alia, lalu wanita paruh baya itu ikut duduk di bangku taman di mana Alia sedang menatap lurus memerhatikan tingkah Assyifa yang menggemaskan.


"Alia, sudah saatnya kamu meng-iklasnkan kepergian papa, mama yakin papa juga tak ingin melihatmu terus terusan seperti ini"


Ucap buk Retno sambil menggenggam erat tangan putri sekaligus keponakanya itu.


"Ini semua gara-gara Alia, kalau saja, papa tidak melihat video itu, papa pasti masih di sini bersama kita sekarang....


Bahkan Alia belum sempat menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi...." Ucap Alia lirih.


Ia terus menyalakan diri sendiri atas apa yang menimpa papanya, karna kenaifannya ia harus kehilangan orang yang sangat berperan penting dalam hidupnya.


Di tengah masalah yang ia hadapi, rindu pada sosok ayah semakin ia rasakan.


Hangatnya belaian tangan papanya dan tulusnya nasehat dari sosok pria yang di panggilnya papa itu, selalu dapat membuatnya kuat untuk menghadapi setiap masalah yang di hadapinya.


"Mama minta maaf karna sempat berpikir buruk tentangmu, seharusnya mama mendengarkan penjelasanmu terlebih dahulu, bukannya menyalahkanmu atas apa yang terjadi pada papa....


Maafkan mama Alia, mama memang selalu membuatmu menderita" Tambah buk Retno dengan segala penyesalannya.


Buk Retno menengadahkan wajahnya, ia berusaha menahan air matannya agar tak terjatuh, itu semua di lakukannya karna tak ingin Alia semakin merasa bersalah.


"Mama jangan bicara seperti itu, mama mau merawat Alia saja, Alia sudah sangat bersyukur, hingga apapun yang Alia lakukan untuk mama, itu tak akan sebanding dengan pengorbanan mama selama ini"


"Kamu tak perlu melakukan apapun Alia, melihatmu bahagia saja mama sudah sangat senang....


Maka dari itu mama minta padamu, berhenti mengkhawatirkan mama dan Amel, kejarlah kebahagiaanmu sendiri, Alia"


Pertahanan buk Retno kini runtuh, air mata yang sejak tadi di tahannya kini mengalir tanpa henti, ia sudah memutuskan untuk melepas Alia yang telah di rawatnya sejak bayi seperti anak kandungnya sendiri.


Ia tidak boleh egois, kesalahnnya dahulu telah mengajarkan dirinya, bahwa tidak semua keputusan seorang ibu adalah yang terbaik untuk anaknya.


"Jadi maksud mama, mama menyuruhku pergi, meninggalkan mama, Amel dan semua kenangan tentang papa?"


"Maafkan mama, Alia, tapi kebahagiaanmu terbentang di depan mata, bawalah Assyifa pergi dari kesengsaraan ini"


Kata-kata buk Retno membuatnya terdiam dan berpikir sejenak.


"Sebenarnya, Alia belum membicarakan soal Assyifa pada tuan Hisyam, Alia sudah kehilangan papa dan belum siap jika harus hidup jauh dari Assyifa juga"


Alia akhirnya menyuarakan kekhawatirannya selama ini, meski nyonya Farida tak menentang rencananya untuk membawa Assyifa tapi.


Saat ini Hisyamlah yang bertanggung jawab atas dirinya, dan sekarang ia tak bisa menjamin kalau pria itu akan menyetujui jika Assyifa ikut bersamanya.


"Apa maksudmu, Alia, jika dia mencintaimu, tentu dia akan mengijinkanmu membawa Assyifa, kalian menikah karna saling mencintai bukan? Lalu apa masalahnya?


Atau mungkin...."


Buk Retno menggantung kata katanya, ia sedikit bisa menebak bagaimana bisa sepasang pengantin baru bisa sedingin dan sekaku itu, dan yang membuatnya tak habis pikir, kenapa sampai sekarang Alia masih memanggil suaminya dengan sebutan tuan.


"Alia, tatap mama! Katakan apa yang sebenarnya terjadi! Apa mereka mengancammu!"


Buk Retno mengarahkan Alia untuk menatapnya, ia semakin takut melihat putrinya semakin menunduk dan tak berani menatap matanya.


"Apa dia telah menyentuhmu, sehingga kamu tak punya pilihan lain selain menikah"


Mendengar kata-kata mamanya, Alia mengangkat wajah dan cepat mengelengkan kepalanya.


"Ma, bukan seperti itu, nyonya Farida orang yang baik, beliau berjanji akan menjamin kehidupan yang baik untuk Assyifa jika aku setuju untuk jadi menantunya"


"Lalu, pria itu mau saja di jodohkan denganmu, itu mustahil, Alia, kamu pasti menyembunyikan sesuatu dari mama!"


Suara buk Retno terdengar bergetar dan mau tidak mau Alia harus berkata jujur pada mamanya.


"Sebenarnya bukan hanya sebagai pengasuh tapi, Alia juga setuju menjadi ibu susu sejak awal bekerja di sana....


Dan, pernikahan ini semacam kesepakatan, tuan Hisyam menyetujuinya asal aku berjanji akan merawat Ozan dengan baik, setidaknya sampai Ozan tak bergantung lagi padaku" Ucap Alia dengan nada pelan.


Ucap buk Retno sambil menatap lekat wajah putrinya, sebenarnya ia tak mesalah jika Alia menikah dengan siapapun asalkan mereka saling mencintai.


"Mama tak perlu khawatir, Assyifa adalah tanggung jawab Alia, Alia sudah membicarakan hal ini dengan nyonya Farida dan beliau tak mempermasalahkan jika Assyifa ikut denganku, hanya saja....


Aku belum membicarakannya pada tuan Hisyam, tapi mama harus tahu tuan Hisyam sebenarnya orangnya baik, hanya saja dia sedikit kaku untuk mengekspresikannya"


Melihat raut kegelisahan di wajah mamanya, tahu bahwa wanita paruh baya itu sedang mengkhawatirkan dirinya.


"Ma, jangan berpikir yang macam-macam, kalau aku menjalaninya dengan ikhlas, Insya Allah mereka tak akan ingkar dengan janjinya...."


"Lantas, bagaimna denganmu, apa kamu akan menjadi tahanan mereka seumur hidupmu? Alia, kamu masih muda, nak, carilah pria yang benar-benar mencintaimu, kamu berhak untuk bahagia, sayang"


Suara buk Retno terdengar berat, sekali lagi wanita itu menyuarakan kekhawatirannya, membuat Alia terdiam mencerna kata-kata mamanya.


"Maaf, ma, tapi kali ini Alia tak bisa mengabulkan keinginan mama, mungkin lebih baik aku mengabdikan hidupku untuk Assyifa....


Dari pada aku harus merasakan luka yang lebih sakit lagi"


Batin Alia lagi-lagi menegaskan dalam hatinya bahwa dirinya tak akan terbuai oleh janji manis seorang pria meski pria itu telah resmi menjadi suaminya sekalipun.


-


Assyifa berlari ke arah Alia setelah bosan bermain seorang diri, dengan manja boca gembul itu bergelayut di leher mamanya.


Setelah berapa hari bersikap malu-malu pada Alia, akhirnya balita itu mulai nyaman dan terbiasa dengan kehadirannya.


Dan hal yang paling membuat Alia terharu hingga menitikkan air mata, saat pertama kalinya Assyifa memanggil dirinya dangan sebutan mama.


"Ma, Alia titip Assyifa sebentar, ya" Alia seketika mengakhiri perbincangan dengan mamanya.


"Apa? Memangnya kamu mau kemana, kita kan belum selesai bicara, Alia"


Buk Retno tak puas hati, ia masih ingin mewanti wanti putrinya, agar tak salah mengambil keputusan.


Alia hanya tersenyum lalu mendudukkan putrinya di pangkuan mamanya.


"Sebentar aja, ma..."


Ucapnya singkat, Tanpa membuang waktu lagi, Alia bergegas mencari keberadaan Hisyam setelah buk Retno berhasil mengalihkan perhatian Assyifa darinya.


Alia bermondar mandir di depan pintu namun masih tak berani mengganggu Hisyam yang terdengar kesal mungkin sedang berbicara dengan seseorang lewat panggilan telepon.


Setelah tak terdengar lagi umpatan suaminya dari dalam, Alia pun memantapkan tekadnya .


Pintu tiba-tiba saja terbuka, pria jangkung itu keluar dengan wajah kesal sambil menempelkan benda pipih di telinganya.


"*B*ring that women here, whatever! (Apapun yang terjadi bawa wanita itu padaku..."


Suara Hisyam yang tadi nyaring, seketika berubah rendah, mendapati Alia sedang berdiri tepat di depan pintu.


"Kamu di sini, kebetulan aku sedang menunggumu dari tadi"


Ucap Hisyam sesaat setelah mengakhiri pembincaraannya dengan seseorang lewat panggilan telpon.


"Um... ada apa?"


Jawab Alia ragu, apa lagi setelah Hisyam membuka pintu lebar, dan mengarahkannya untuk masuk kedalam kamar.


"Ada masalah di kantor! Aku harap, kamu tidak keberatan jika kita pulang besok" Hisyam memulai kata-katanya.


"Besok! Tapi.... bagaimana dengan.... um... Assyifa bisa ikut dengan kita, kan?"


Ucapan Alia begitu pelan hingga Hisyam pun hampir tak bisa mendengarnya.


"Aku tak akan meminta yang lain lagi asalkan Assyifa bisa selalu bersamaku"


Tambahnya lagi saat Hisyam tak merespon permintaannya, bahkan pria itu hanya menatapnya heran.


"*J*adi mama belum memberitahunya, hm....setelah semua yang ku lakukan, apa kamu masih berpikir aku sejahat itu, tidak bisakah kamu melupakan semua kesalahanku"


"Jadi tuan tidak mengijinkannya" Alia mulai berkaca-kaca.


"Baiklah, aku mengerti sekarang, seharusnya aku lebih tau posisiku" Lanjut Alia lagi.


Dengan perasaan kecewa Alia membalikkan tubuhnya, ia seharusnya tak terlalu meyakinkan dirinya kalau Hisyam akan menyetujui permintaannya, seperti yang di lakukan nyonya Farida untuknya.