Single Parents

Single Parents
DIA SUDAH DEWASA.



"Bukan umur yang mendewasakan kita tapi sebuah proses dan perjalanan hiduplah yang membentuk sebuah kedewasaan seseorang"


* * * * * * * * * * * * * * * *


Alia terus menghadang langkah Hisyam, ia tak ingin pria itu menghindar lagi saat dirinya protes tentang waktunya yang sering di habiskan untuk bekerja di banding untuk putranya sendiri.


"Apa tuan tidak merasa bersalah sedikitpun pada orang-orang yang begitu mendambakan kasih sayang dari tuan?"


Alia akhirnya memberanikan diri untuk memulai pembicaraannya, hingga Hisyam yang baru saja ingin beranjak ke arah walk in closet kini berhenti, kemudian mendekati Alia, penasaran akan kemana sebenarnya arah pembicaraan istrinya.


"Apa maksudmu?"


"Ma-maksudku adalah.... ti-tidakkah tuan merasa bersalah setelah mengecewakan Ozan dan nyonya Farida" Jawab Alia gugup.


"Hm.... jadi karna itu?"


Hisyam mendengus kecewa, jawaban Alia tak sesuai dengan harapannya.


"Iya, karna tuan memiliki Ozan dan seorang ibu yang masih sehat! Tapi, tuan sama sekali tak menghargai apa yang di berikan oleh tuhan....


"Eh.... apa yang tuan lakukan!"


Alia mundur saat tubuh kekar Hisyam yang hanya berbalut handuk kini semakin mendekat padanya, hingga Alia terjebak antara nakas dan dada bidang suaminya yang beraroma maskulin menusuk penciumannya.


"Untuk hal itu, kamu jangan khawatir, karna mulai hari ini aku akan mengurus keluargaku...."


Ucap Hisyam tegas, sembari meraih sebuah amplop di atas nakas tepat di belakang Alia.


"A-apa ini....?" Tanya Alia.


"Bukalah, kamu pasti akan lega setelah membacanya, karna mulai hari ini aku tak akan menunda waktuku lagi bersama Ozan"


"Deggg....!"


Degupan jantung Alia seakan berhenti untuk beberapa detik.


"Inikah akhir dari kesepakatan itu? Apa itu artinya dia akan mengurus Ozan seorang diri dan aku.....


Apa aku akan menjadi janda untuk yang kedua kalinya? Di usiaku ini?"


Alia menbatin, sambil menggigit bibirnya, ia membuka pemberian Hisyam dengan tangan yang bergetar.


"SURAT PEMBEKUAN ASET...?"


Ucap Alia dalam hati, setelah membaca keseluruhan isi dari kertas itu Alia beraloh menatap Hisyam sejenak.


Tak menyangka Hisyam akan mengorbankan semua asetnya untuk membongkar bisnis ilegal milik Mike dan Mr. Lee.


Dan untuk melancarkan rencanananya itu, ia harus berpura-pura membantu Mr. Lee menyelundupkan barang ilegal milik pria bermata sipit itu.


"Jadi, selama ini Mr. Lee masih menuntut kerja sama bisnis dengan tuan? Bagaimana kalau tuan benar-benar terbukti terlibat...." Suara Alia terdengar bergetar.


"Jangan kawatir soal itu, Mike dan Mr. Lee sekarang sedang menjalani penyelidikan polisi, aku akan pastikan mereka tak akan keluar dengan mudah"


Alia beralih menatap pria di hadapannya, menatap nanar suami yang telah berkorban untuknya.


"Jangan mengasihaniku seperti itu, itu bahkan belum seberapa dengan pengorbananmu untuk Ozan dan trauma yang kamu alami karna kecerobohanku selama ini...." Ungkap Hisyam penuh penyesalan.


"Tapi semua aset itu, bukankah tuan mendapatkannya dengan titik peluh tuan sendiri?"


"Itu hanya sementara, setelah penyelidikan selesai semuanya akan kembali seperti semula....


Oya! Um.... karna rumah ini juga termasuk aset yang akan di bekukan, jadi, mulai besok kita semua akan pindah ke rumah mama, kamu tidak keberatan, kan, jika kita tinggal di sana untuk sementara waktu?"


Alia mengangguk menyetujui usul dari suaminya, mana mungkin ia menolak saran dari pria yang telah membalaskan sakit hatinya pada Mike, orang telah melecehkan dan memanfaatkan kepolosannya demi sebuah kesepakatan bisnis.


"Kalau tak ada hal lagi yang ingin kamu sampaikan, sebaiknya kamu tidur dan istirahat, besok pagi-pagi sekali kita akan pergi ke rumah mama"


Titah Hisyam sebelum meninggalkan Alia yang masih mematung, menatap punggung pria yang telah sukses membuat degupan jantungnya selalu berdetak tak menentu.


-


Alia bersandar di depan walk in closet, masih menunggu Hisyam keluar dari ruangan itu.


Meski malam semakin larut dan telah mencoba memejamkan matanya berkli-kali, namun tetap saja rasa kantuk masih belum menyerangnya, hingga ia memutuskan untuk kembali ke kamar besar itu dan mengungkapkan rasa terima kasih nya pada pria yang perlahan telah meluluhkan hatinya.


"Kenapa masih di sini?" Suara datar Hisyam sukses membawa Alia kembali ke alam nyata.


"Um.... aku lupa mengatakan sesuatu!"


Seperti maling yang tertangkap basah, Alia begitu gugup saat melihat wajah tegas suaminya, padahal ia hanya berniat ingin berterima kasih bukannya ingin mengungkapkan perasaannya.


Melihat reaksi Alia yang salah tingkah membuat Hisyam membungkuk, menelisik wajah istrinya yang memerah.


"Bukankah kamu ingin mengatakan sesuatu?"


Tanya Hisyam, masih membungkuk, mensejajarkan wajahnya dengan wajah istrinya.


"Uh... i-iya aku datang kesini untuk berterima kasih" Masih terbata-bata.


"Hanya itu?" Pertanyaan Hisyam membuat Alia mengangguk seperti patung pada dashboard mobil.


"Tapi kenapa wajahmu memerah?"


Alia meraba wajahnya, "Hehe... itu karna.... disini sangat panas, ya, karna itu wajahku seakan terbakar"


Alia mengibas-ibaskan tangan pada wajahnya, berusaha mengelabui suaminya agar tak menyadari gemuruh di hatinya.


"Argh.... gadis indo itu, dia bertingkah aneh lagi, sekuat apapun aku berusaha, aku tak akan pernah bisa memahami tingkah lakunya yang kekanak-kanakan itu"


Gumam Hisyam sembari menatap punggung istri kecilnya yang kini semakin menjauh dari pandangannya.


Setelah sampai ke kamar anak-anaknya, Alia bergegas merebahkan tubuhnya di antara Ozan dan Assyifa, menarik selimut hingga menutupi kepalanya.


"Ayolah Alia.... kendalikan dirimu, jangan salah paham dengan kebaikannya, meski sikap tuan Hisyam sekarang sangat baik padamu, bukan berarti dia sudah menerima kehadiranmu dalam hidupnya" Gumamnya dalam balutan selimut.


Meski degupan jantungnya masih memburu ia harus bisa meredamnya, apalagi jika mengingat kisah cintanya yang telah menyisahkan trauma, membuatnya berpikir dua kali tentang kemungkinan terburuk yang akan terjadi jika perasaannya semakin berlarut terhadap mantan majikannya itu.


-


Pagi ini Alia bagun sedikit terlambat, padahal Hisyam sudah memberi tahunya untuk bersiap lebih awal.


Setelah menunaikan sholat subuh Alia bergegas kembali ke kamar Hisyam yang sudah tak berpenghuni lagi.


Seperti biasa, pria bertubuh atletis itu mungkin sedang melakukan aktifitas rutinnya di ruang gym.


Alia mulai memasukkan pakaiannya kedalam tas yang berukuran sederhana, sesuai dengan pakaian miliknya yang tak seberapa banyak.


Setelah selesai dengan barang pribadinya, Alia bangkit sambil berkacak pinggang, menatap bingung isi ruangan yang hampir keseluruhannya berisi perlengkapan suaminya, mulai dari pakaian, sepatu, serta aksesoris dengan berbagai macam brand ternama.


"Ehm....! butuh bantuan?"


Suara bariton Hisyam serta merta menyadarkan Alia dari lamunannya.


Alia menoleh ke belakang mencari asal suara Hisyam, dan benar saja pria itu baru saja kembali dari ruang gym, itu jelas terlihat dari pakaiannya yang basah akibat keringat.


"Ada apa, apa aku mengagetkanmu?" Tanya Hisyam saat Alia hanya terpaku, masih menatap bingung padanya.


"Bukan begitu, aku hanya bingung harus...." Alia terdiam saat menyadari Hisyam sedang memperhatikannya.


"Um. maksudku semua pakaian ini...."


Hisyam tersenyum lagi, mengerti apa yang ingin di katakan istrinya, "Kita akan membawa sebagian saja, selebihnya, kita bisa membelinya...."


Alia bangkit serta merta, "Tidak! Bagaimana tuan bisa berpikir untuk berbelanja di saat seperti ini!"


Melihat reaksi Alia membuat Hisyam mendongak dengan kedua alis yang di tautkan.


"Apa tuan pikir hidup tanpa pekerjaan adalah hal yang mudah! Bagaimana tuan bisa mencukupi segala kebutuhan Ozan dan nyonya Farida jika tuan sudah tak bekerja dan bahkan sekarang tuan ingin membawa kami ke rumah mama, apa tuan tidak merasa malu jika harus....!" Alia menghentikan ocehannya saat Hisyam ikut bangkit menghadapnya.


"A-apa yang ku maksud adalah, tuan seharusnya berhemat di situasi seperti ini, bukannya malah bergantung pada nyonya Farida yang seharusnya menjadi tanggung jawab kita sebagai seorang an...."


Sekali lagi Alia tak dapat melanjutkan kata-katanya, ia menyadari sikapnya sudah melampaui batas dan dirinya tak punya hak untuk mengatakan semua itu, apalagi dia hanyalah orang luar yang akan kembali ke kehidupan lamanya sesuai perjanjian yang telah mereka sepakati.


"Baiklah, kali ini, aku akan mengikuti saranmu, so, apa lagi yang kamu tunggu, ayo kita masukkan semuanya!"


Seru Hisyam sembari mengeluarkan semua isi lemarinya, sedangkan Alia yang tadi hanya memerhatikan, kini mulai memasukkan baju-baju itu ke dalam koper yang berjejer dan berukuran jumbo.


"Biar ku bantu..."


Ucap Hisyam, kemudian ikut melantai bersama Alia yang sedang sibuk dengan pekerjaannya.


"Um.... maaf, seharusnya aku tidak berkata seperti itu pada tuan, aku tidak bermaksud untuk...."


"Jangan pikirkan soal itu, aku sama sekali tidak tersinggung dan....


Aku pikir, aku bisa menerimanya sebagai masukan, jadi, bisakah kita kembali pokus dengan semua tumpukan ini"


Potong Hisyam lalu menunjukkan pada Alia beberapa tumbukan pakaian yang belum masuk ke dalam tas.


Alia kembali pokus pada pekerjaannya, hinggalah beberapa menit Alia kembali terusik dengan satu hal.


"Kenapa tuan begitu baik padaku?"


Kata-kata itu terlontar begitu saja, hingga Hisyam yang mendengarnya pun seketika menghentikan aktivitasnya dan menatap wajah sendu istrinya dengan saksama.


"Apa aku salah jika ingin memperbaiki kesalahanku dan memberimu kenangan yang baik sebelum kita...."


Hisyam tak melanjutkan kata-katanya dan kembali pokus pada tumpukan di hadapannya.


"Apa maksud tuan dan, kenangan apa yang tuan maksud? Apa setelah ini, tuan akan pergi ke suatu tampat, atau.... "


"Um.... bukan apa-apa dan tidak perlu di pikirkan"


Mendapat pertanyaan dari Alia, membuat Hisyam segera bangkit.


"Pergilah ke kamar anak-anak, mereka pasti sudah bangun dan mencarimu" Usul Hisyam.


"Tapi, tuan belum menjawab pertanyaanku, dan apa sebenarnya maksud dari kata-kata...."


"Sudah ku bilang bukan apa-apa, pergilah dan bersiaplah, kita akan berangkat sebentar lagi!"


Titah Hisyam dengan suara tegas, hingga Alia pun tak berani bertanya lagi.


Hisyam menghela napas, menatap punggung istrinya yang kini berjalan meninggalkannya.


Hisyam tak menyangka jika wanita muda seperti Alia memiliki insting yang begitu peka.


"Hm.... bagaimana dia bisa berpikir sejauh itu di umurnya yang masih sangat muda"


Gumam Hisyam, ia baru saja menyadari satu hal, bahwa bukan umur yang mendewasakan kita tapi sebuah proses dan perjalanan hiduplah yang membentuk sebuah kedewasaan seseorang.


Melihat kedewasaan sikap Alia membuatnya menarik semua kata-katanya mengenai Alia yang begitu muda dan tak akan mampu menjadi ibu yang baik untuk putranya.