
Seorang wanita cantik yang tengah asyik dalam buaian mimpinya menggeliat pelan takkala sinar mentari menerpa wajahnya.
Tanggannya yang lemah mencoba menghalaunya. Bulu mata lentiknya bergerak pelan, mencoba menyesuaikan keadaan sekitar.
Matanya mengedar, menelisik setiap sudut ruangan itu. Kosong.
Ia tak mendapati pria yang semalam terlah menggempurnya habis-habisan.
Hah.. bahkan aku dicampakkan setelah dinikmati. gumamnya dalam hati.
Perlahan, ia mencoba turun dari ranjang, menahan rasa sakit disekujur tubuhnya, terutama bagian intinya.
Ia menyeret langkah kakinya menuju kamar mandi. Jarak yang tak seberapa itu tiba-tiba saja menjadi sangat jauh terasa.
Setelah cukup lama ia berendam dengan air hangat, ia keluar dengan hanya menggenakan jubah mandi saja. Baju yang ia kenakan kemaren sudah tak ada ditempatnya.
"aku pakai baju apa dong." perlahan ia mendaratkan bokongnya pada sofa.
Ia melirik pada meja, ada sebuah senwich, dan juga segelas susu.
"aku lapar." gumamnya.
Ia melihat ada sebuah memo yang terselip diantar gelas dan juga piring. Diambilnya memo itu dan membacanya.
Terimakasih untuk malam panasnya. Saya sangat menikmatinya.
Ini bayaran untukmu. Saya memberimu dua kali lipat karena saya sangat puas.
Jangan lupa sarapan dan pakailah baju itu.
Next, saya ingin mencobanya lagi, tubuhmu bagaikan candu bagiku.
"hah, tidak ada lain kali, sudah cukup sekali saja. Tubuhku serasa degebukin sama orang satu kompleks."
Ia mengambil paperbag yang ada disebelah sarapannya.
"untung bajunya tertutup, jadi gigitan serigala itu tak kan terlihat." sambil merapikan rambutnya.
Ia mengambil senwich dan mulai memakannya. Tangan kirinya mencoba mengambil henfon yang sejak kemaren terabaikan.
Ada beberapa panggil tak terjawab dari Clara, dan juga beberapa pesan dari teman kerjanya.
Rasa khawatir tiba-tiba saja menjalar dihatinya.
Perlahan ia membuka pean dari Clara.
📩 Dir, kamu dimana?. pukul 05.30
📩 Dir, cepat datang kerumah sakit sekarang. pukul 05.45.
Ia meletakkan senwich yang ada ditangannya, meminum susunya sampai habis dan menyambar selembar cek bertuliskan 200 juta, memasukkannya kedalam tas.
Ia menaiki taxi yang akan membawa dirinya ketempat sang mama.
Dengan tergesa ia turun dari taxi setelah membayarnya tadi.
Secepat mungkin ia berjalan menuju ruang mamanya dirawat.
Ia memperlambat langkahnya ketika semakin dekat dengan ruang rawat sang mama.
Rasa takut dan bersalah tiba-tiba saja menjalar dihatinya.
Dengan mengumpulkan keberanian, akhirnya ia mendorong pintu didepannya.
"Cla.." serunya ketika mendapati sahabatnya tengah duduk menunduk disamping brangker sang mama.
"Dir.." Clara beranjak dari duduknya, berjalan menghampiri Dira yang masih mematung didepan pintu.
Grep..
Pelukan erat ia berikan pada sang sahabat.
"kamu yang sabar ya.." lirihnya.
"Cla.." rasa khawatir itu semakin menjadi. Menyelimuti setiap relung hati Dira.
Enggan menjawab, Clara semakin mengeratkan pelukannya. Satu buliran kristal lolos dari pelupuk matanya dan membasahi baju Dira.
"Cla, a ada apa?." suara Dira bergetar, ia mencoba menepis segala pikiran buruk yang berputar dipikirannya.
"Dir.." Clara tak sanggup melanjutkan kata-katanya. Yang tadinya hanya menangis dalam diam, kini terdengar isakan-isakkan kecil.
Dira mencoba mengurai pelukannya. Dijauhkannya tubuh Clara sejauh jangkauan.
Dipandanginya lekat wajah sahabatnya yang hanya menunduk dihadapannya.
"Cla, angkat wajahmu, katakan ada apa sebenarnya?." kedua tangan Dira menyentuh kedua bahu Clara.
Clara mendongak dengan lelehan air mata yang membanjiri kedua pipinya. Ia menatap lekat sang sahabat.
Ia menarik nafasnya dalam dan mengeluarkannya perlahan. Mencoba mengumpulkan keberanian untuk menyampaikan kabar yang tidak baik, bahkan sangat tidak baik pada sang sahabat.
"Dir.. mamah kamu.."
"meninggal."