Single Parents

Single Parents
PILIHAN UNTUK ALIA.



Sepanjang perjalanan tak ada siapa pun yang bersuara, hanya kikikan Assyifa yang sesekali terdengar menceriakan suasana yang kikuk itu.


Sambil mengemudi, sesekali Doni tersenyum sambil menatap Alia lewat pantulan kaca, namun hal itu tak berlangsung lama, setelah kepergok oleh Hisyam yang diam-diam memperhatikan dirinya dengan ekor matanya.


"Al, sejauh mana perkembangan Assyifa, dia sudah bisa melakukan apa saja sekarang?" Tanya Doni dengan suara yang ramah.


"Alhamdulillah, kak, perkembangan Assyifa lebih cepat dari yang kukira, bahkan Assyifa sudah bisa berlari, meski kadang langkahnya masih sering oleng"


Jawaban Alia di sambut tawa oleh Doni, hingga Hisyam semakin kesal di buatnya.


"What, Al....? Cih! Dari mana ia mendapatkan panggilan kuno itu"


Cibir Hisyam yang sudah kebakaran jenggot dengan keakraban dua anak muda itu.


Melihat keangkuhan pria di sampingnya, membuat Doni tertantang ingin memanas-manasi Hisyam yang sedang pura-pura sibuk dengan ponselnya.


-


Setelah berapa jam berada dalam posisi yang melelahkan akhirnya mobil Avanza milik Doni memasuki Apron bandara.


Kini Alia bisa meregangkan ototnya yang lelah memangku Assyifa selama berjam-jam lamanya.


"Ehm.... anggap saja ini tanda terima kasihku" Hisyam mengulurkan beberapa lembar uang kertas seratus ribuan pada Doni, "Dan kamu bisa pulang sekarang"


Lanjut Hisyam tak senang melihat Doni ikut turun dari mobilnya.


"Oh, tidak perlu, saya ikhlas mengantar Alia dan Assyifa kesini"


Tolak Doni tulus, karna memang niatnya ingin mengantarkan Alia ke bandara sekaligus ingin melepas rindu pada Alia yang selalu membuatnya kagum dengan kegigihan dan ketegaran wanita muda itu.


"Um... Alia, aku akan mengantarmu ke dalam, boleh, kan?"


Hisyam berpikir Doni akan menerima uang itu, tapi dugaannya salah, bukannya menerima pemberian Hisyam, Doni malah menumpuk kunci mobilnya di atas lembaran uang kertas yang masih dalam genggaman Hisyam.


"Aku belum mengeluarkan barang-barang kalian, kamu bisa, kan, melakukannya sendiri, tanpa bantuan asistenmu? Dan, jika kamu tidak keberatan, biarkan aku mengantar Alia hingga ke dalam"


Doni lagi-lagi membuat Hisyam kesal.


Sementara Alia yang mendengar keinginan Doni untuk mengantarkan dirinya dan Assyifa, membuatnya seketika sadar akan statusnya, sebagai istri tentu saja ia harus meminta izin terlebih dahulu pada suaminya sebelum memutuskan sesuatu.


"Um.... tidak apa-apa, kan, jika kak Doni mengantar kita masuk?"


"Terserah!" Jawab Hisyam singkat sembari membuang wajahnya ke arah lain.


"Baiklah kita masuk sekarang...."


Ajak Doni dengan menuntun Alia ke arah pintu kaca.


"Tapi....."


Alia menoleh ke arah Hisyam namun Hisyam seakan tak peduli, sementara Doni terus membawanya jauh dari tempat itu.


"Hei! Bagaimana dengan...."


Hisyam baru tersadar semua barang bawaannya masih di dalam mobil, dan dirinya lah yang harus membawanya seorang diri tanpa bantuan siapa pun.


-


Setelah menyelesaikan masalah kopernya, Hisyam langsung membeli tiket kelas bisnis dan mencari keberadaan Alia di ruang tunggu bandara.


"Cih! Orang akan mengira mereka adalah pasangan suami istri sesungguhnya!" Cibir Hisyam.


Melihat Assyifa sedang berceloteh ria di pangkuan Doni, membuat Hisyam buru-buru menderapkan langkahnya ke pojokan kaca di mana Alia sedang menunjukkan pesawat pada putrinya.


Hisyam menghela napas berat sebelum mendekati dua sahabat yang terlihat begitu akrab pada pandangannya.


"Ehm....!" Hisyam berdehem memberitahukan kehadirannya, "Terima kasih sudah menemani Alia dan Assyifa, kamu boleh pergi sekarang"


Ucap Hisyam pada Doni sembari meraih Assyifa dari pangkuan pria itu.


"Aku akan pulang setelah kalian masuk" Doni bersikeras.


"Alright, so,what are we waiting for.... let's go" (Baiklah, jadi, tunggu apa lagi.... ayo kita pergi)"


"Sekarang? Tapi tiketnya...."


Tanya Alia bingung, karna menurutnya itu terlalu cepat, dan bahkan mereka belum memesan tiket.


Hisyam segera mengeluarkan tiket dan mengembalikan kunci dengan cara yang sama seperti yang di lakukan Doni sebelumnya.


Hisyam kembali mengulurkan tangannya, hingga Alia menyambut uluran tangan suaminya dengan ragu.


"Um, kak Doni, Alia...."


Setelah mendapatkan boarding pass, Alia sempat menoleh ke belakang, terlihat pria itu masih menatapnya.


Bahkan saat melalui pintu kaca yang tembus pandang pun, Doni masih bergeming tak ingin beranjak dari tempat di mana Alia meninggalkannya.


"Still miss him?


(Masih merindukannya?)"


Pertanyaan Hisyam membuat Alia seketika mendongak menatap pria jangkung di sampingnya.


"Alia dengar, aku tahu pernikahan kita hanya untuk kebaikan anak-anak dan kita telah sepakat untuk tidak mencampuri urusan pribadi masing-masing tapi...." Hisyam menjeda kata-katanya.


"Tapi apa?"


"Aku merasa kamu mulai menyesali semua keputusan yang telah kamu ambil"


"Tuan, bukan seperti itu, aku hanya...."


"Tidak apa-apa Alia, kamu masih muda, jika merasa ini begitu berat bagimu, kamu bisa mundur mulai dari sekarang" Ucap Hisyam sembari mengembalikan Assyifa padanya.


Mendengar kata-kata Hisyam tadi, membuat Alia bungkam, lidahnya terasa kelu, tak tahu harus menjawab apa kata-kata suaminya.


hingga Hisyam berlalu Alia hanya bisa menatap punggung Hisyam yang lebih dulu berjalan di depannya.


Alia tersadar setelah tertinggal jauh di belakang Hisyam, dengan cepat Alia menggendong Assyifa dan berlari mendapati pria yang selalu serius dengan kata-katanya itu.


Lelah mencari keberadaan kursinya, akhirnya Alia meminta bantuan pramugari untuk mencari tempat duduknya yang ternyata berada di kelas bisnis dan memiliki fasilitas yang cukup lengkap.


Malu, tentu Alia merasa malu karna tak mengetahui hal seumum itu dan begitulah kenyataannya, meskipun ini bukan pertama kalinya tapi untuk melakukan penerbangan seorang diri tanpa seseorang menemaninya adalah hal yang baru untuknya.


Alia mendengus kesal sekaligus laga setelah mendapati Hisyam sudah bersantai di kursinya tanpa rasa bersalah .


Sambil menggendong Assyifa yang sudah terlelap di bahunya, Alia berusaha meredakan amarahnya pada pria yang seenak jidat meninggalkannya, meski ia sangat sadar Hisyam bersikap demikian karna kesalahannya sendiri.


Seharusnya ia bisa menahan diri, dan tak menunjukkan ketertarikannya pada pria lain di depan suaminya.


Apa lagi pria itu adalah Doni, pria yang selalu ia kagumi dan telah menjadi teman baiknya sejak mereka berada di bangku SMP.


"Makasih bantuannya, mbak"


Ucap Alia pada pramugari yang membantunya mendapatkan kursi dan menemukan Hisyam untuknya.


Setelah pramugari tadi meninggalkan mereka, barulah Alia mengambil tempat di samping Hisyam yang masih betah dengan posisinya, padahal pria itu hanya berpura-pura tidur tak ingin berdebat dengan istrinya.


Tak ingin mengganggu istirahat Hisyam Alia pun ikut merebahkan punggungnya perlahan.


"Ah.... nyaman sekali, coba dari tadi aku menemukan tempat ini"


Alia bergumam, berpikir pria di sampingnya tak mendengar semua keluhannya.


Baru saja Alia meresapi kenyamanan fasilitas kelas bisnis yang di dapatnya, Assyifa pun sudah mulai gelisah, mungkin balita itu sedang menginginkan susu.


"Kemana tuan Hisyam menyimpan semua perlengkapan susu Assyifa?"


Alia bangkit sambil mengamati sekeliling kursinya dan lagi-lagi bergumam seakan bertanya pada diri sendiri.


"Hm....!" Hisyam mendengus kasar melihat Alia tak bisa diam dan lagi-lagi mengganggu istirahatnya.


"Bisakah kamu diam dan membiarkanku beristirahat...."


Suara tegas Hisyam membuat Alia seketika menoleh hingga hilang keseimbangan dan.


Bruukkk......!


Kini Alia terjatuh tepat di pangkuan Hisyam yang setengah berbaring, hingga keduanya bersitatap sepersekian detik.


Degupan jantung pasangan pengantin baru itu seakan beradu kecepatan, apa lagi saat napas mereka bertemu membuat Hisyam lupa dan semakin mendekatkan wajahnya.


Hisyam memindai wajah istri kecilnya dengan seksama, dan itu pertama kalinya ia menyadari kecantikan alami milik istrinya berbeda dari wanita-wanita glamour yang sering di temuinya.


"Maamm.... mam...."


Suara Assyifa membuat Alia dan Hisyam tersadar dan dengan segera Alia menjauhkan wajahnya yang hanya berjarak beberapa centi dari wajah Hisyam


"Sekarang kamu tahu, kan, betapa pentingnya menggunakan seat belt saat berada dalam pesawat!"


Kata-kata Hisyam membuat Alia seketika beranjak dari pangkuan Hisyam dengan semburat merah muda di pipinya.


"Istirahatlah, biar aku yang menjaga Assyifa"


Titah Hisyam sembari bangkit dan membiarkan Alia duduk menggantikan dirinya.