
Satu Minggu telah berlalu sejak insiden kecelakaan Dean dan Semmy.
Dira kembali pada aktifitasnya seperti biasa, fokus pada kompetisi dan juga El butik. Selama itu pula Dira tidak pernah pergi berkunjung ke rumah sakit lagi, toh sudah ada keluarganya yang menjaga mereka.
Dean sendiri, ia sudah mulai kembali pada aktifitasnya seperti biasa setelah dua hari yang lalu ia diperbolehkan pulang oleh dokter.
Sedangkan Semmy, ia harus dirawat beberapa hari lagi, mengingat kondisinya yang cukup memprihatinkan.
ceklek,
Pintu terbuka, Dean melangkah masuk lebih dalam, berdiri disamping brangker Semmy.
"bagaimana keadaanmu Sem?."
"sudah jauh lebih baik tuan." saat ini Semmy sedang duduk bersandar pada tumpukan bantal sambil memeriksa beberapa email masuk.
"istirahatlah, jangan memaksakan diri, aku masih bisa menghendel semuanya." Dean duduk disamping brangker Semmy dan melipat kedua tangannya didepan dada.
Semmy menutup laptopnya dan meletakkannya dimeja.
"jika sampai besok kondisiku stabil, aku sudah diperbolehkan pulang Dean, jangan khawatir." Semmy tersenyum tipis pada Dean.
"aku tau, tapi jangan memaksakan dirimu."
"bagaimana kondisi kantor tadi?." mengabaikan pernyataan Dean.
"ck, kau ini." Dean berdecak kesal, bukannya menjawab pertanyaannya malah Semmy balik bertanya.
Semmy terkekeh pelan. "jadi?, ada yang ingin kau sampaikan?, sepertinya wajahmu terlihat gelisah beberapa hari ini, apakah ada masalah yang serius dikantor?."
"huh.." menghela nafasnya. "ternyata kau sangat mengenalku ya.." tersenyum simpul.
"jadi?." menaikkan sebelah alisnya.
"bukan masalah kantor." tukas Dean. Semmy menaikkan sebelah alisnya
"jadi.. beberapa hari yang lalu, tepatnya pada saat kita kecelakaan, aku seperti melihat Dira, dan dia yang menolong kita."
Semmy menautkan kedua alisnya. Pikirannya memutar kembali kejadian lalu sebelum mereka mengalami kecelakaan.
Seorang anak kecil yang datang menghampirinya dan membuat gaduh dengan menumpahkan minumnya pada baju Dean, dan.....
"Dira.." bergumam pelan, tapi masih bisa didengar oleh Dean dengan jelas.
"iya Sem, aku seperti melihat Dira pada kecelakaan waktu itu, dan aku merasa dia yang menyelamatkan kita."
"Dean apa kau ingat dengan anak kecil yang menumpahkan minumnya dibajumu waktu itu?, sebelum kecelakaan."
"hemm.. aku tidak ingat. Aku tidak memperhatikannya."
"dia anak yang sama yang kita temui di Bandung waktu itu, dan kurasa dia anak Dira, anak mu Dean."
"apa?!." berteriak keras, Dean membulatkan matanya. "kau jangan bercanda Sem!."
"Dean, waktu direstoran anak kecil itu memperingati ku agar aku mengecek mobilnya terlebih dahulu, tapi aku mengabaikannya. dan kau tau?, saat kau pergi ke toilet, orang tuanya datang menghampiriku, dia Dira, aku yakin itu, walaupun sudah lima tahun lebih tidak bertemu dengannya." menjelaskan dengan menggebu pada Dean.
'si*l!!, kenapa aku tidak meminta foto Dira yang sekarang pada dokter Clara. bodoh bodoh.' Semmy mengumpat kesal dalam hati.
Dean hanya diam tertegun mendengar penjelasan Semmy. Mencerna setiap kata yang dilontarkan oleh sahabatnya.
"Sem, apa kau yakin dengan ucapanmu itu?." tanya Dean memastikan.
"aku yakin Dean, sangat yakin."
"Sem, aku harus kembali, mama pasti tau sesuatu."
"ya, kau harus memastikan agar semuanya jelas Dean, pulanglah."
Mobil Dean membelah padatnya jalan raya, keadaan jalan yang cukup ramai membuat Dean harus ekstra sabar, ia terjebak macet dimalam Minggu. "si*l."
🖤