Simple But Perfect

Simple But Perfect
Melamarmu



...Hola epribadeeeh πŸ–οΈ Jumpa lagi nih πŸ€—...


...Jangan lupa like dan komen yah 😍...


...Jangan lupa bersyukur,...


...Salam sehat, dan ......


...~ Happy Reading ~...


"Surprise!!!!!"


Belum sempat untuk bertanya, teriakan semua yang ada di ruangan itu membuat Jenn terperanjat, dan ia semakin kaget melihat dua orang yang tengah berjalan ke arahnya. Jenn spontan berdiri dengan raut yang tidak bisa ditebak antara takut dan bahagia, sampai-sampai pijakannya terasa goyah.


Hatinya ingin segera berlari meraih dua sosok luar biasa dalam hidupnya, tetapi logika menahan gerak langkahnya. Jenn masih berdiam di tempatnya, hingga dua orang itu pun mendekat dan berdiri tepat di hadapannya.


Jenn semakin gugup. Ia meremas dress-nya dengan tangan yang mulai berembun serta gemetar.


Tuhan! Apa ini? Kok ... aarrgghh! Aku harus apa?


Dua orang di depannya tersenyum dan membuka tangan hendak menyambutnya dengan pelukan hangat. Tetapi ketakutan yang sudah lebih dulu merasukinya saat itu, membuat Jenn mematung dalam kebungkaman, sampai tangan keriput dari wanita tua yang duduk di sebelahnya menyentuh dan mengusap lembut kulitnya, barulah ia bersuara, seolah sentuhan itu mengembalikan kekuatannya yang sempat menguap.


"A-ayah, i-ibu!" ucap Jenn dengan terbata.


"Ada apa sayang? Gak rindu sama Ayah dan Ibu?" tanya wanita cantik yang sudah berumur di depannya.


Pertanyaan itu memecahkan segala ketakutannya dan gugupnya pun seolah hilang diterbangkan angin. Jenn langsung menghambur ke pelukan dua orang di depannya. Lebih tepatnya, dalam pelukan seseorang lelaki yang menjadi cinta pertama dalam hidupnya.


"Jenn rindu Ayah sama Ibu. Sangat rindu," ucapnya masih dalam pelukan sang ayah.


"Tapi begitu liat ayah, diam saja. Gak kayak biasanya, ya kan, Bu?" kata ayahnya sambil terus mendekap putri kesayangannya.


"Dia sudah dewasa, Yah! Malulah sama teman-temannya kalau dibilang manja," kelakar sang ibu sambil mengusap kepala putrinya.


Semua yang ada di sana tertawa mendengar ucapan ibunya.


"Enggak, Bu. Tadi ... Jenn cuman kaget aja, kok ... ayah sama ibu bisa ada di sini? Ngapain malu sama mereka? Gak penting!" cibir Jenn yang semakin bermanja dalam pelukan ayahnya, mengundang tawa serta candaan dari sahabat dan teman-temannya.


Tadi ia sempat takut jika kedua orangtuanya mengetahui keadaannya sekarang. Hal itu membuat Jenn gugup dan tak mampu tuk menggerakkan seluruh raganya. Tapi melihat reaksi kedua orangtuanya, Jenn merasa baik-baik saja.


Ibunya menghentikan acara peluk-pelukan ayah dan anak itu, dan menyuruh keduanya untuk duduk. Meja yang tadi hanya untuk Jenn dan wanita paruh baya yang dipanggilnya ibu beberapa saat tadi, kini bertambah dengan kehadiran kedua orangtuanya. Sempurna. Itu yang Jenn rasakan. Ia lalu memilih duduk bersama sang ayah, karena memang ia sangat dekat dengan ayahnya dibanding dengan ibunya.


"Karena kejutannya sudah selesai, Lo boleh makan sekarang. Silahkan! Nona. Makan yang banyak yah," Suara Fio menghentikan candaan mereka saat itu.


"Ah, iya. Jenn udah laper banget. Tapi ayah yang suapin yah, yah." kata Jenn sambil menaik turunkan alisnya pada sang ayah. Ayahnya tertawa dan mengangguk.


"Padahal tadi ibu yang mau suapin loh," protes wanita paruh baya yang duduk di samping ibunya.


"Eh, emm ... maaf, Bu! Jenn maunya sama ayah, Jenn masih rindu sama ayah soalnya. Maaf ya, Bu ya." Jenn merasa tak enak hati dengan wanita tua itu. "Oh, iya. Ayah, ibu! Kenalin, ini ...."


"Dia Ibumu juga, Sayang! Ayah sama ibu udah kenal kok." ucap mamanya dengan senyuman tulus, menyambungkan kalimat Jenn yang menggantung.


Ya dia memang bingung mau mengenalkan wanita tua itu seperti apa dan bagaimana. Sedangkan dia pun belum tau siapa sebenarnya wanita yang dipanggilnya ibu tadi.


"Hah?" Jenn terperanjat. "Serius, Bu? Kenal di mana?" tanya Jenn dengan penasaran.


"Pokoknya Ibu sama Ayah udah kenal duluan kok. Bahkan sudah lebih tau dari kamu, sayang!" ibunya terkekeh. "Ya udah, sekarang makan dulu. Nanti baru kita lanjutkan." kata sang ibu.


"Bentar, Bu. Jenn masih penasaran, kenapa Ayah sama Ibu bisa ada di sini?" Sungguh Jenn masih penasaran.


Ibunya tersenyum kecil dan mengusap kepalanya. "Ibu sama Ayah juga diundang temanmu ke sini, loh." Ibunya terus saja tersenyum.


"Tapi kenapa gak bilang-bilang dulu kalau mo datang, Bu?" tanyanya sekali lagi.


"Kan surprise," ibunya terkekeh. "Udah makan dulu!"


Meskipun masih bingung dan penasaran dengan banyak tanya yang bersusun di kepalanya, Jenn memilih menurut dan memulai acara makannya yang disuapi sang ayah. Semuanya pun memulai acara makan malam itu dengan penuh nikmat dan bahagia.


Kenapa aku merasa sepertinya ada yang aneh yah? Ibu ... dia menyuruhku memanggilnya ibu! Karena apa coba? Ayah dan ibu juga tiba-tiba ada di sini. Dan ... semua ini kayak gak wajar. Sebenarnya ada apa ini, Tuhan?


Si cantik itu makan dalam lamunannya kembali. Masih saja ada hal yang mengganjal di hatinya. Ia menoleh dan memandang sekitarnya, semua yang ada di sana pun nampak sedang menikmati acara makan malam itu dengan suka cita.


Oh iya ... kak Farel di mana yah? Dari tadi kok gak ada. Si Reza juga udah ngilang ke mana dia?


"Ada apa lagi? Kamu keliatan gak tenang banget, Jenn." Ibunya menyadari kegelisahan anaknya. "Habiskan dulu makanannya. Gak baik makan sambil ngelamun," sambung ibunya.


"Jenn udah kenyang, Bu! Udah, Yah! Jenn mau gabung sama teman-teman dulu." ucapnya langsung berdiri hendak melangkah ke arah meja Fio dan orang tua Farel yang duduk bersebelahan dengannya.


Baru saja ia melangkah, tiba-tiba lampu ruangan itu padam, dan gelap menguasai seluruh ruangan. Musik klasik yang sedari tadi memenuhi tempat itu pun mendadak sanyap. Jenn lantas diam di tempat, berdiri di tengah-tengah antara meja yang ia gunakan bersama orangtuanya dangan meja yang digunakan Fio dan keluarga mertuanya. Semuanya mendadak diam menghadirkan keheningan.


"Hati-hati, Jenn! Diam di tempatmu." Suara sang ayah memperingatinya.


"Kenap ... akh!"


Tiba-tiba dari arah depan tepat di atas stage kecil, terdengar tuts-tuts hitam putih dari piano berbunyi, mengalunkan senandung indah dan harmoni.


Perlahan Jenn menurunkan tangannya, dan mencoba memandang di tengah kegelapan. Tiba-tiba saja sebuah suara mengagetkannya lagi.


"Selamat malam semuanya!"


Suara itu ...


Jantung Jenn bagai genderang yang bertalu-talu begitu mendengar suara berat yang ia rindukan seminggu lebih ini, suara yang selalu mampu menggetarkan seluruh raganya, dan suara yang selalu mampu mendamaikan dunianya.


"Di sini ... aku ingin mempersembahkan sebuah lagu untuk seseorang yang sangat aku cintai!!! Ehem, dialah wanita cantik yang sedang berdiri dengan gaun putih di tengah sana."


Jantung Jenn semakin memompa dengan cepat, mengoptimalkan kinerjanya dua kali lipat dari yang seharusnya.


"Kak Kenn!" gumam Jenn begitu lirih meski belum dapat melihat orangnya.


"Lagu ini adalah bagian dari suara hati serta permintaanku. Dan ... dengarkanlah ini, sayang! Aku mencintaimu dengan seluruh nafasku, Jenn!"


Bersamaan dengan pernyataan itu, seluruh lampu dalam ruangan itu menyala serempak dan menampakkan sesosok lelaki tampan menggunakan kemeja berwarna hitam polos, dengan bagian lengan yang digulung sampai siku, sedang duduk dengan gagahnya di atas stage, di depan sana dengan mic di tangannya. Lelaki itu tersenyum hangat menatap seraut wajah cantik yang ia rindukan setengah mati seminggu lebih ini.


"Kak ...." Jenn yang tak tahan mendengar ungkapan cinta dari lelakinya, seketika air matanya luruh tanpa berkompromi.


Prok, prok, prok!


Riuh tepuk tangan dari wajah-wajah bahagia semua yang hadir saat itu, mengawali nyanyian yang disenandungkan oleh lelaki tampan di depan sana.


Di ujung cerita ini


Di ujung kegelisahanmu


Kupandang tajam bola matamu


Cantik dengarkanlah aku


Aku tak setampan Don Juan


Tak ada yang lebih dari cintaku


Tapi saat ini ku tak ragu


Ku sungguh memintamu


Jadilah pasangan hidupku


Jadilah ibu dari anak-anakku


membuka mata dan tertidur di sampingku


Aku tak main-main


Seperti lelaki yang lain


Satu yang ku tahu ku ingin melamarmu


[Melamarmu - Badai Romantic Project]


Suara merdunya serta pesan yang tersirat dari lirik lagu yang tersampaikan lewat tatapannya yang tegas, mengalihkan seluruh dunia Jenn. Wanita cantik itu tersenyum bahagia dibalik tangisnya.


Bukan saja Jenn yang dibuat berderai air mata karena suasana yang diciptakan oleh lelaki tampan itu, tapi kedua orang tua Jenn pun menitikkan air mata, melihat besarnya cinta tulus lelaki itu untuk putri semata wayang yang sangat mereka sayangi. Suasana haru melingkupi ruangan itu, menyusup pelan menyentuh hati setip mereka yang ada di sana.


Kenn turun dari stage kecil dengan senyum yang tak pernah pudar dari wajah tampannya. Ia berjalan pelan menghampiri wanita cantik yang terlihat sesegukan tapi bahagia terpancar jelas dari matanya meski tergenang.


Begitu ia sampai di depan wanitanya, Kenn merogoh sesuatu dari saku celananya. Lelaki itu kemudian berjongkok dengan sebelah kaki ditekuk, mendongak menatap wajah cantik yang telah menjadi ratu memenuhi seluruh istana hatinya.


"Jennifer Greecia ...."


..._____πŸ’•πŸ’•πŸ’•πŸ’•πŸ’•_____...


...To be continued ......


...__________________...


...Segini dulu yah 🀭 Semoga suka πŸ™ˆ...


...Jangan lupa tinggalkan like dan komen 😘...


...Terima kasih buat semua yang udah mampir πŸ™...


...Sampai jumpa di episode selanjutnya πŸ€—...


...Follow Ig : @ag_sweetie0425...