
...~ Happy Reading ~...
...___________________...
...*...
...*...
...*...
"Maaf!"
"Bukan sama gue, tapi sama abang gue."
Putri mendengus sembari memutar bola matanya malas.
Amit-amit minta maaf sama dia. Dia pikir siapa dirinya? Ogah.
"Minta maaf gak?" tanya Reza dengan sedikit memaksa.
"Ck, iya iya." Gadis tomboi itu tampak uring-uringan tapi tetap mau melakukannya. Ia memutar tubuhnya menghadap Alvino. "Maaf!" ucapnya terpaksa.
Alvino tidak menggubris ucapannya. Lelaki itu hanya berdiam diri sambil bersandar pada dinding dengan tangan yang dimasukkan ke dalam saku hoodie miliknya.
Waktu hampir pagi, tapi orang-orang itu masih setia di sana menunggu Jenn yang belum juga sadar. Namun, mereka tak lagi di depan ruang IGD. Kini Jenn sudah dipindahkan ke kamar rawat inap.
"Yang bener dong, Put." Lagi Reza menegur cara bicara gadis tomboi itu.
Alvino diam tetapi memasang telinganya dengan baik serta ekor matanya yang melirik sinis kedua makhluk di sampingnya.
"Gak perlu, gak butuh," cela Alvino dengan cepat ketika Putri baru saja hendak membuka mulutnya.
Idih belagu banget, gue juga gak sudi.
"Tuh denger, dia aja gak ...."
"Cepetaaannn!" Memotong kalimat yang belum diselesaikan oleh Putri.
Sambil mendengus kesal, lagi-lagi gadis tomboi itu mengikuti kemauan Reza. Dengan menarik nafasnya dalam-dalam sembari menyunggingkan sedikit senyuman, senyum terpaksa pastinya. Putri pun meminta maaf pada Alvino.
"Maafin gue udah nuduh sembarangan nuduh tanpa bukti. Maafin kata-kata gue yang kasar. Habis ... Lo sih, nyebelin banget jadi orang. Kan gue emosi," ucapnya yang mengundang senyum di wajah Reza dan seorang gadis di sana.
Namun, tidak dengan Alvino. Laki-laki itu acuh tak acuh. Ia bersikap biasa saja seolah tidak mendengar apapun.
"Lo minta maaf apa ngajak gelud lagi sih?" Fio menanggapinya. Bagaimana tidak, permintaan maaf yang awalnya tulus meski terdengar berat, di akhir kalimatnya malah makin memanas.
"Gue cabut duluan, Za. Sampaikan turut berdukacita gue yah buat mereka. Dan gue minta maaf juga sama suaminya soal yang tadi. Gue pamit." Alvino tidak ingin berlama-lama mendengar ocehan gadis-gadis menyebalkan di sana.
Dengan cueknya, ia hendak berlalu pergi dari sana, tapi suara Fio menahan langkahnya.
"Kak!" Alvino berhenti sejenak. "Maafin Fio yah. Fio juga udah salah nuduh dan marah-marah sama kakak. Juga ... makasih udah peduli sama Jenn walaupun ...."
Alvino tersenyum samar mendengar itu. "It's ok! Gue yakin Lo tau pasti alasannya. Maaf untuk rasa ini yang mungkin tidak akan pernah bisa hilang." Lelaki itu menunduk sekilas. "Titip dia yah. Percayalah, bahagianya adalah bahagiaku, begitupun juga lukanya!"
Setelah mengucapkan itu, Alvino pun berlalu pergi dari sana tanpa berpaling lagi.
Fio menatap kepergian lelaki itu dengan senyum kecil. Ia memahami makna di setiap kalimat yang diucapkan Alvino. Meskipun ia tahu pasti sebesar apa cinta lelaki itu untuk Jenn, tapi kalimatnya sudah cukup menjelaskan bahwa cintanya adalah selalu memastikan kebahagiaan Jenn. Sebab itulah Fio merasa lega karena ia yakin bahwa Alvino tidak akan pernah lagi mengganggu hubungan Jenn dan Kenn.
Sementara seorang gadis menatap kepergian Alvino dengan perasaan kacau tak menentu.
"Udah lega kan? Kamu juga harus istirahat." Sebuah sentuhan kecil di bahu Fio, menariknya dari perhatian akan Alvino.
"Mau nungguin Jenn bangun," tolak Fio.
"Gak bisa. Udah hampir pagi loh ini. Ingat kondisi kamu juga dong, By. Jenn pun bakalan marah kalo tau kamu nungguin dia sampe jam segini. Gak baik loh wanita hamil begadang." Bujuk Farel.
"Hmm, iya deh. Tapi ... aku mau sama mami aja," ucap Fio sembari menatap maminya, dan wanita paruh itu mengangguk mengiyakan. "Kamu harus tetap di sini nemenin kak Kenn dan kabarin kalo Jenn udah bangun," sambungnya lagi.
"Ok! As you wish, Baby." Farel mengelus kepala istrinya dengan senyuman kecil.
"Ayo, sayang!" ajak orangtuanya setelah berpamitan pada besannya.
Farel mengecup kening Fio sebelum istrinya itu pergi. "Istirahat yang banyak yah, mimpi indah."
Dan setelah kepergian mereka, kini tinggal Farel dan kedua orangtuanya bersama Reza, Putri, Rossa, Yuni, dan Reta. Mereka yang masih betah di sana menunggu Jenn.
Tiba-tiba dokter yang menolong Jenn, datang bersama dengan dua orang perawat yang terlihat sedang mendorong sebuah troli besi. Di atasnya terdapat sebuah baju pasien lengkap, sebuah mangkuk besar berisi air hangat, dan dua buah handuk berwarna putih.
Sang dokter meminta kedua perawat itu untuk masuk, sedangkan ia memilih menunggu di luar karena Reza pun menahannya.
Tok, tok, tok!
Ceklek.
Laki-laki itu tampak termenung dan tidak mendengarkan suara pintu yang diketuk.
"Permisi Tuan, apa kami boleh masuk?"
Kenn baru tersadar. "Ah iya, silahkan masuk!" Tanpa berbalik atau mengalihkan pandangannya sedikitpun dari istrinya.
"Kami diminta untuk mengantarkan ini, Tuan."
Kenn terpaksa berbalik dan melihat kedua perawat di belakangnya serta apa yang mereka bawakan.
"Oh, taruh saja di situ." Menunjuk meja sofa yang di ruang perawatan Jenn.
Ia kembali fokus memandangi wajah pucat istrinya. Di rasanya lima menit sudah terlewati tapi dua perawat itu tidak juga bergerak keluar dari sana.
Kembali lagi ia berbalik melihat keduanya.
"Ada lagi?" tanya Kenn dengan datar.
Keduanya salah tingkah dengan tatapan Kenn. Apalagi melihat wajah tampan itu. Hawa mana yang tak tergoda.
"Ka-kami harus membersihkan tubuh pasien dan mengganti pakaiannya, Tuan." ucap salah satu dari mereka dengan terbata. Ia tidak mampu dengan tatapan lelaki di depannya.
Kenn mengerutkan keningnya beberapa detik dalam diam.
"Bolehkah saya melakukannya sendiri?"
Kedua perawat itu saling tatap. Belum lagi sempat menjawab, Kenn sudah lebih dulu mempersilahkan keduanya untuk keluar.
"Pergilah! Biar saya saja."
Tidak menunggu lama, keduanya lalu segera keluar dari sana. Begitu sudah di luar, dokter dan yang lainnya melihat itu, mereka sudah memahami apa yang terjadi di dalam sana. Siapa yang tidak mengenal sosok Kenn yang selalu posesif dan over protektif terhadap istrinya?
"Maaf, Dok ...."
"Tidak apa-apa, saya sudah mengerti." Dokter itu tersenyum ramah. "Kalian boleh pergi."
Dan sesudah itu, sang dokter pun pamit ingin kembali ke tempat tugasnya. Namun, yang lain menahannya untuk menunggu paling tidak sampai Jenn sadar nanti.
Sementara itu di dalam sana, Kenn meraih mangkuk berisi air hangat dan juga handuk bersih yang dibawakan perawat tadi. Ia lalu membuka dan melepas pakaian Jenn satu persatu.
Ia mulai membersihkan tubuh istrinya dengan telaten. Tangannya sempat terhenti di perut rata Jenn, dan menatapnya nanar.
"Maafkan aku yang tidak becus menjagamu sampai kamu harus ngalamin semua ini. Aku bodoh dan tidak berguna."
Lagi-lagi penyesalan, kepedihan, kesakitan dan kehilangan datang menyerangnya.
Dengan bulir-bulir bening yang luruh dari netranya, Kenn melanjutkan kembali aktifitas membersihkan tubuh Jenn sampai benar-benar bersih.
Setelah selesai, Kenn memakaikan pakaian pada istrinya dengan hati-hati. Ia lalu merapikan kembali barang-barang yang sudah ia gunakan tadi.
Begitu semuanya selesai, Kenn ikut berbaring di samping istrinya. Memeluk dan mendekap tubuh kecil sang istri dengan erat. Membayangkan ia masih memeluk makhluk mungil yang sudah pergi dari hidupnya dan Jenn. Berharap sedikit saja hal itu bisa menyembuhkan luka yang sedang menganga dan menertawakan kerapuhannya.
..._____ππ₯ππ₯π_____...
...*...
...*...
...*...
...*...
...*...
...To be continued ......
...__________________...
...###...
Hay semuanya π Baru nongol lagi nih π
Makasih buat yang selalu setia nungguin π€
Jangan lupa like dan komen yah π
Sampai jumpa di episode berikutnya π€π₯°
Ig author : @ag_sweetie0425