
Deg !!!
Jantung Kenn berdebar hebat tak menentu. Nafasnya seolah terhenti. Tubuhnya yang sempat menegang dibuat melemah seketika. Dan itu hanya karena sebuah pelukan yang tiba-tiba. Tangannya yang tadi mencengkeram kerah kemeja milik Bastian, saat itu juga terlepas.
Lama, Kenn mematung di tempatnya. Antara mati sebentar, atau menjadi manusia bodoh sebentar, atau kah menikmati sebentar? Entahlah.
Kenn baru tersadar ketika Farel dan yang lainnya menghampiri mereka. Kenn lalu menundukkan pandangannya dan menatap tangan kecil yang sedang melilit pinggangnya. Saat hendak melepaskan pelukan itu, seseorang yang sedang tersembunyi di balik punggungnya semakin mengeratkan pelukannya. Menyandarkan kepalanya di punggung lebar itu dengan manja.
Kenn memutar kepalanya ke belakang mencari wajah cantik itu. "Lepas!" suaranya pelan. Hanya satu kata itu yang terucap.
Bukannya tak suka. Namun pelukan itu sungguh memberikan dampak tidak baik bagi kesehatan jantungnya. Dan ini interaksi pertama antara Kenn dengan wanita lain selain ibu dan adiknya. Tentunya ada gelenyar aneh yang ia rasakan di sekujur tubuhnya.
Gadis cantik itu memiringkan kepalanya ke samping, lalu mendongak menatap wajah tampan yang juga sedang berusaha menatapnya di belakang.
Jenn menggeleng pelan. "Gak mau!" semakin mengencangkan pelukannya. Pengaruh alkohol membuat gadis itu sedikit kehilangan kewarasannya.
"Mau kamu apa? Tolong lepasin!" sebenarnya Kenn bisa saja melepaskan diri. Tapi dia takut dan tidak ingin menyakiti Jenn.
"Jangan mukulin dia lagi. Jangan buat ribut, yah!" pinta Jenn. Dan dengan suara lembut itu saja, sudah memadamkan seluruh emosi dalam diri Kenn.
Kenn memejamkan matanya sejenak. "Baiklah! Sekarang lepasin aku!" membuang nafasnya dengan sedikit kasar. Kesal! karena pikirnya Jenn membela Bastian.
Perlahan Jenn pun melepaskan tangannya. Ia hendak berjalan menghampiri Bastian yang sedang meringis. Namun baru saja dua langkah melewati Kenn, gadis itu justru sudah berada dalam pelukan lelaki tampan itu.
Grap!
Kenn menarik tangan Jenn sedikit kasar karena refleks, kemudian membalikan tubuh mungil itu, dan membawanya ke dalam pelukannya. Why?
Kenn melupakan fakta bahwa gadis itu tengah menggunakan pakaian yang tidak senonoh. Ia baru tersadar ketika gadis itu melewatinya. Karena tidak ingin dan tidak sudi tubuh indah nan mungil itu menjadi konsumsi mata para pria di sana, secepat kilat Kenn memeluknya dan menutupi tubuh bagian depan gadis itu.
Farel dan teman-temannya melongo melihat interaksi kedua manusia itu sejak tadi. Sedekat itu kah mereka? begitu yang ada di pikiran mereka.
"Jangan bergerak sedikit pun!" menunduk dan berucap tepat di telinga Jenn.
Gadis itu mendongak menatap bingung wajah tegas yang sedang memeluknya posesif. "Diam di tempat!" katanya lagi. Dan Jenn pun menurut saja.
"Lo," menunjuk Bastian. "Lepas kemeja Lo sekarang!" suaranya sedikit meninggi. Bastian dibuat bingung. Bukan saja Bastian, semua yang di sana pun ikut bingung.
"Gue bilang lepas baju Lo sekarang!" bentak Kenn.
"Ah Kenn, pake punya Gue aja," tawar Farel yang langsung melepas jaketnya. Dia sudah paham maksud Kenn. "Nih," memberikannya pada Kenn.
Kenn menerimanya. Tetapi tidak diberikan untuk Jenn. Lelaki tampan itu malah melepaskan baju kaos miliknya dan langsung memakaikannya pada gadis cantik di hadapannya. Jenn diam saja dan menerimanya tanpa bantahan. Seketika tubuh kecilnya tertelan baju besar itu.
Sedangkan mata para hawa seakan terpuaskan melihat pahatan indah maha karya Sang Pencipta dalam diri seorang Kennand. Tubuhnya yang kekar dengan dada bidang dambaan para wanita, serta perut kotak-kotak yang membuat ileran. Perfect!
"Cih, sengaja nunjukin buat cewek-cewek ganjen. Ih sok tebar pesona segala." gumam Jenn pelan yang tidak dapat didengar oleh Kenn. Kesal rupanya.
Kenn memakai kembali jaket milik Farel. Karena tadi buru-buru, ia tak sempat mengambil jaketnya. Ia kembali menghampiri Bastian. Refleks Jenn menarik ujung jaket yang dikenakan Kenn, mengikutinya dari belakang.
"Itu belum apa-apa. Jangan pernah deketin Jenn lagi. Dan Inget ini, urusan kita belum selesai." Jelas saja dia masih marah, belum puas menghajar laki-laki itu. Mengingat bayangan saat dia mendekati Jenn dalam kondisi sebagian tubuh yang terekspose, Kenn sungguh terbakar amarah.
Berbalik dan menarik tangan Jenn. "Ayo pulang!"
"Gak mau!" Jenn yang setengah mabuk menarik tangannya. Tapi Kenn tidak menggubris kata-katanya. Kembali menarik tangan Jenn dan membawanya keluar, diikuti Farel dan teman-temannya yang lain.
Sepanjang perjalanan keluar, mulut kecil Jenn tak henti-hentinya meracau. Tiba di parkiran gadis kecil itu menghempaskan tangannya. Kenn berbalik dan menatapnya tajam.
Keras kepala banget si, ckckck.
"Ayo pulang!" sekali lagi mengajak gadis itu untuk pulang.
"Aku bilang gak mau!" ngambek.
"Emm, Kak Kenn, biar Jenn-nya pulang sama kita aja." tawar Yuni.
Kenn menggeleng. "Gue yang akan nganterin dia." Kembali meraih tangan Jenn. Lagi-lagi gadis cantik itu menepisnya. "Udah bilang gak mau, ya gak mau!" pengaruh alkohol membuatnya tidak sadar dengan yang dia lakukan. Nada Jenn mulai meninggi.
"Mau kamu apa hm?" dengan nada lembut. Seperti yang sebelum-sebelumnya. Sekalipun diliputi kemarahan, Kenn tidak pernah bisa kasar dan membentak gadis pencuri hatinya itu.
"Aku masih mau di sini. Ngapain pulang?" hendak berbalik, namun Kenn menahannya.
"Aku gak ngizinin." suaranya tetap lembut, namun tatapannya tegas dan tajam.
"Apa hak Kamu ngelarang Aku hah?" masih dengan nada meninggi.
"Apa peduli Kamu? Ini urusan Aku, hidup Aku. Sana urusi saja pacarmu." Jenn semakin menjadi-jadi. Sepertinya efek mabuk perlahan membuatnya mulai mengeluarkan unek-uneknya selama ini.
Ngomong apa si? Pacar? ck, orang gak bisa ke lain hati gegara dia juga.
"Kamu mabuk. Sekarang pulang yah," merayu gadis cantik itu dengan sabar.
"Jangan sok pedulikan Aku. Mau Aku mabuk atau gak, bukan urusan Kamu. Ngerti?" bentak Jenn. Ingat! ini bukan Jenn. Dia sedang dipengaruhi alkohol yang diberikan Bastian tadi.
"Aku peduli, Jenn. Kalo Kamu seperti ini, jelas ada urusannya sama Aku. Aku gak akan biarin kamu di sini." sekuat tenaga Kenn menekan emosi yang ingin meledak dalam dirinya.
"Kenapa kamu harus peduli? Kenapa?" pertanyaan ini membungkam Kenn.
Kenn hanya terpaku mendengar itu. Matanya menatap lekat netra pekat milik Jenn. Menghujaninya dengan seluruh rasa cinta yang ia pendam selama ini. Berharap Jenn bisa melihat dan merasakannya.
"Gak punya alasannya kan?" tidak mengerti dengan tatapan Kenn. Sekali lagi hendak berbalik. Namun kali ini Kenn menariknya dan mendekapnya erat.
"Aku punya alasannya. Dan kamu gak perlu tau itu." menunduk dan menatap Jenn dengan lembut.
"Aku benci sama kamu." tangan kecilnya memukul-mukul dada Kenn. Yang tadinya marah-marah, sekarang gadis itu malah menangis di pelukan Kenn. The power of alkohol. Kenn mengernyit heran.
Teman-temannya juga keheranan melihatnya. Tidak dengan dua orang di sana yang tersenyum senang melihat itu. Siapa lagi kalau bukan pasangan double 'F'.
"Aku benci sama kamu." ulang Jenn terus memukul dada Kenn. Lelaki itu diam dengan tetap memeluknya dan membiarkan saja gadis itu melakukan apa yang dia inginkan. "Kamu jahat, Kamu selalu datang dan buat Aku nyaman."
Deg!
Jantung Kenn kembali berdebar hebat. Nyaman?Sepersekian detik, nampak senyum kecil terbit di wajah tampan Kenn. Ada rasa hangat yang menjalarinya.
"Kamu jahat! Bilang suka sama Aku, nyatanya kamu udah punya pacar. Aku benci sama Kamu." terus saja meracau mengeluarkan isi hatinya.
"Nyimpen nomer Aku, tapi gak pernah ngubungin. Aku benci saat Kamu buat nyaman kek gini, Aku benci dengan perasaan Aku."
"Puas Kamu hah? Udah berhasil buat Aku nyaman, dan pergi gitu aja. Puas?" Jenn mulai lelah dan berhenti dengan kegiatan memukul. Namun gadis itu masih saja menangis, dengan kali ini bersandar membenamkan wajah cantiknya di dada bidang Kenn. Tangan kecilnya mencengkeram erat jaket yang dipakai lelaki itu.
Komplotan para gadis cantik di sana dibuat geger dengan pernyataan Jenn sedari tadi. Fakta baru yang didengar mereka saat itu, sungguh membuat kaget dan tak percaya. Bahkan yang tertangkap ditelinga mereka sedari di dalam club tadi, keduanya berbicara dengan aku-kamu. Romantis sekali, pikir mereka.
"Udah? Udah selesai ngomongnya?" Kenn menunduk dan mengusap kepala gadis itu dengan sayang.
Jenn menggeleng pelan masih bersandar manja di dada Kenn. Sekali lagi dia menemukan kenyamanan dari lelaki tampan itu. "Kamu belum jawab pertanyaan Aku." lirihnya suara serak.
"Apa? Kamu bener mau tau alasannya?" tanya Kenn lembut. Jenn mendongak menatap wajah tampannya.
"Jika Aku katakan, bisakah Kamu menerima dan membalasnya?" menyoroti mata Jenn dengan binar cinta yang terpancar dari dalam jiwanya.
"Say it ... !"
...____ππππ____...
.
.
.
.
.
to be continued ...
____________________
segitu aja dulu yah ππ
Jangan lupa like, komen, rate dan tambahkan ke favorit juga yah ππππ₯°π₯°
terimakasih buat yang selalu mampir πππ€
Jangan pada bosen yah. love you guys ππ₯°ππ
Ig author : @ag_sweetie0425