
"Udah nggak nganggap gue sahabat lagi ? iya ?"
"Bukan gitu, mami sayangggg ! nggak mau buat khawatir aja, ya kan, Put ?"
"Kalian berdua sama aja. Awas, gue mau masak"
Rossa mencoba melepaskan pelukan dua sahabatnya. Saat ini, Jenn dan Putri sedang membujuk dan merayu gadis kalem itu. Rossa marah karena tidak diberitahu dua orang itu, soal kejadian semalam. Dia sendiri dirumah malam itu, dilanda kecemasan akan dua sahabatnya yang tak kunjung pulang. Saat kembali pagi ini, mereka baru menceritakan semuanya.
Tak sampai disitu saja, Rossa dibuat kaget dengan kehadiran seorang lelaki tampan, yang datang bersama dua sahabatnya. Dan dia pun sudah tahu, siapa orang itu.
"Maaf kalau gue gangguin waktu kalian. Tapi, gue boleh ngajak Jenn keluar sebentar nggak ? gue jamin, Jenn akan kembali dengan selamat kali ini" ucap Alvino, menjeda perdebatan kecil diantara ketiga gadis cantik itu.
Rossa lantas berpaling dan menatap lelaki tampan disana. Tak ada sepatah kata pun yang keluar dari mulut gadis kalem itu. Hanya diam dan terus menatap dalam diam. Sampai beberapa detik, gadis itu memutuskan tatapannya dan langsung berlalu begitu saja kedapur. Meninggalkan ketiga orang disana dengan kebingungan.
"Kenapa dia ?" tanya Alvino, pada dua gadis didepannya.
Keduanya kompak mengedikan bahu, dengan bibir bawah yang dimajukan. Hal itu malah membuat Alvino menahan gemas.
"Don't do it, honey ! you tease me"
Keduanya sontak melipat bibir, menahan malu. Putri pun berlalu menyusul Rossa kedapur. Jenn yang hendak mengikuti Putri, ditahan cepat oleh Alvino.
"Jangan pernah lakukan hal itu didepan orang lain. Cukup aku saja" ucap Alvino, menatap gadisnya dengan serius. Jenn yang malu, hanya mengangguk.
Setelah itu, Jenn mandi dan pergi bersama Alvino. Pastinya dengan persetujuan si mami Rossa.
"Sejak kapan dia datang ?" Rossa bertanya pada Putri.
"Barusan pagi tadi"
"Jadi dia tau kejadian semalam ?"
"Emang pernah ada yah, sesuatu tentang Jenn, yang bisa disembunyiin dari dia ?" Putri balik bertanya.
"Ternyata lebih penting dia, dari pada gue"
"Jangan mulai lagi deh, Sa" Putri memutar bola matanya malas.
"Kemana mereka ?" bertanya lagi.
"Kenapa nggak nanya sendiri tadi ? pikir, gue ajudan mereka ?" Putri dibuat kesal dengan pertanyaan Rossa. "Jalan-jalan berdualah. Quality time pasca LDR-an. Makanya, sana pacaran biar tahu" sambung Putri, dan mendapat lemparan bawang dari Rossa. Karena saat itu mereka masih di dapur, berkutat dengan bumbu-bumbu masak.
๐ธ๐ธ๐ธ๐ธ๐ธ
"Kita mau kemana, bi ?"
"Jalan-jalan dong, hon. Abis itu, aku mau ngenalin kamu ke seseorang" berbicara sambil terus fokus menyetir. Dengan sebelah tangan yang tidak lepas menggenggam tangan kecil kekasihnya.
"Siapa ?"
"Ade deh. Nanti kalau udah kenalan baru tau"
"Sok teka-teki segala" Alvino terkekeh.
"Hon "
"Hmm ?"
"Kalau aku ajak kemana aja mau ? kamu percaya ?" Alvino bertanya dengan serius.
Jenn menyandarkan kepalanya di bahu sang kekasih. "Asal sama kamu, kemanapun aku mau. Aku percaya sama kamu, bi" Alvino mengangkat tangan Jenn yang digenggamnya, dan mengecup mesra jemari itu.
"Ikut sama aku ke kota xxx yah. Biar aku bisa jagain kamu, dan kita bisa sama-sama terus" memalingkan wajah kearah Jenn sekilas, lalu kembali fokus dengan kemudi.
Jenn langsung mengubah posisi duduknya menjadi tegak, lalu menatap Alvino. "Kalo yang itu nggak, bi. Itu soal lain. Yang kita bahas itu sekarang. Kita mau kemana sekarang. Bukan yang lain" tegas Jenn. Dia tidak ingin dipaksa kali ini.
"Nggak bisa gitu dong. Tadi kan udah bilang kemanapun, asal sama aku. Kok, sekarang lain lagi ?" Alvino masih berusaha membujuk.
"Enggak. Pembahasannya nggak menjurus kesitu. Stop it. Aku nggak mau kita ribut karena ini, bi" Jenn tetap dengan pendiriannya.
"Berarti, kamu nggak percaya sama aku dong"
"Bukan gitu, bi. Aku percaya sama kamu. Tapi, ini juga sudah ada dalam pembasahan kita, jauh sebelumnya kan ? kamu juga kan udah mau selesai kuliah, setelah itu bisa stay disini nungguin aku" Jenn berusaha memberi pengertian.
Alvino menghela nafas dengan berat. "Udah nggak sanggup lagi harus jauh terus dari kamu, hon" Alvino memelas.
Seandainya dapat kumelukiskan
Isi hatiku untukmu
Seandainya kau pun harus tahu
Lelah hatiku bila kau jauh
[Percayalah - Ecoutez]
"Ok baiklah. Tapi kasih aku satu jaminan" Alvino menyunggingkan senyum nakal.
"Jaminan apa ?" Jenn bertanya dengan wajah polosnya.
Alvino langsung menepikan mobilnya ditepi jalan. Lalu memandang gadisnya dengan senyum tipis. Jenn tidak mengerti dengan situasi ini.
"Loh, kok berhenti disini ?? ada apa, bi ?" Alvino tak menjawab. Masih saja memandang Jenn sambil tersenyum. "Issh, ditanyain nggak jawab, malah senyam-senyum. Kenapa sih ?" lanjut Jenn dengan jengkel.
"Give me your first kiss, honey ! itu akan menjadi jaminan awal bagiku. Biar nanti, aku bisa kembali dengan sesuatu dari kamu, hon" Alvino berucap pelan hampir berbisik. Membuat Jenn merinding.
Seperti ini
Kucoba tuk pahami
Cinta apa dihati ini
Agar kumencintaimu
Untuk selamanya.
Berikan aku
Ciuman pertamamu
Agar kuyakin
Kau memanglah milikku
[ Ciuman Pertama - Ungu ]
Hubungan LDR yang dijalani pasangan itu, memanglah terbilang sudah cukup lama. Tiga tahun lebih bukanlah waktu yang sebentar. Selama itu pula, Alvino selalu menyempatkan waktu untuk menemui pujaan hatinya.
Tapi sepanjang pertemuan mereka dalam waktu tiga tahun lebih ini, Jenn maupun Alvino tidak pernah berlebihan dalam bersentuhan. Mereka cukup berpelukan layaknya pasangan lain, dan Alvino hanya memberikan kecupan-kecupan kecil pada dahi, kening, dan kepala saja. Begitu sederhana cara keduanya melepas rindu.
Dia tidak mau merusak gadisnya, meskipun predikat playboy menempel pada lelaki tampan itu. Dia tahu, Jenn gadis yang baik dan polos. Ya, walaupun gadis cantik itu juga seorang playgirl. Namun dia selalu tahu batasannya. Untuk itu, Alvino ingin menjaga gadisnya, sampai dia memang pantas dan sudah berhak untuk menyentuh seluruh bagian gadis itu. Dan karena alasan inilah, Alvino sering menghabiskan malam bersama wanita-wanita cantik yang menginginkannya.
"A-apa maksud kamu, bi ? Jangan ngaco deh" ucap Jenn dengan gugup, sambil memalingkan wajahnya kearah lain. Dia tidak kuat dengan tatapan Alvino kali ini.
"Aku belum pernah minta hal ini dari kamu sebelumnya. Tapi kali ini ijinkan aku, honey" pinta Alvino lembut, dengan wajah penuh cinta. Sambil menggenggam tangan Jenn.
Jenn lantas menoleh, menatap lekat-lekat wajah tampan didepannya. Mencoba menyelami isi pikiran lelaki itu.
Sebenarnya apa yang ada dipikirkannya saat ini ? Batin Jenn.
Lama menatap dalam diam, Jenn akhirnya bersuara dengan masih terus menatap Alvino.
"Tadi kamu bilang, aku sudah tidak percaya lagi sama kamu" Jenn menjeda dan tersenyum. "Kamu keliru, bi. Bukan aku, tapi kamu. Kamu yang sudah tidak percaya lagi sama aku" sambung Jenn. Kali ini dengan serius.
"Aku percaya sama kamu, Jenn"
"Lalu kenapa kamu meminta hal yang tidak pernah kita bahas ? apa kamu takut, aku akan macam-macam disini ? kamu mulai nganggap aku nggak bener kan ? sama aja kamu meragukan aku, bi?" tutur lembut Jenn, mampu menyurutkan segala hasrat dalam diri Alvino. Lelaki tampan itu selalu ditaklukkan dengan suara lembut sang kekasih.
Alvino mengusap wajahnya perlahan, sedikit menunduk. Sesudah itu, dia mengangkat wajahnya kembali dan menatap Jenn. Satu menit ...
"I'm sorry, honey. Aku akan menunggu, menunggu sampai hari itu tiba. Hari dimana aku bisa memilikimu seutuhnya. I promise, honey" lirih Alvino dan bersungguh-sungguh.
"I trust you, bi. Maaf karena belum bisa memberinya untukmu. Tapi aku akan menjaga semuanya untukmu" Jenn tersenyum dan Alvino memberikan kecupan singkat dikepalanya.
"Lanjut ?"
"Lanjuuuuuuttttt"
Keduanya tertawa dan melanjutkan perjalanan mereka yang sempat terhenti tadi.
.
.
.
.
.
to be continued .....
.
.
.
Happy reading buddies ๐โค๏ธ