Simple But Perfect

Simple But Perfect
Tangisan Jenn



πŸ’• When love feels like magic, you call it destiny. When destiny has a sense of humor, you call it serendipity πŸ’•


Belum hilang rasa rindunya terhadap sang kekasih, Alvino. Jenn kembali diselimuti rasa kesal. Anehnya, rasa ini tak semestinya ia rasakan. Why ? ini rasa yang tidak berasas bukan ? dia bukanlah siapa-siapa. Jenn benci rasa ini. Karena sejujurnya, dia pernah dibuat ragu akan hatinya sendiri. Dan semua itu terjadi ketika dia selalu dipertemukan dengan Kenn.


"Mau langsung pulang atau kemana dulu ?" tanya Yuni.


"Nongky di cafe lagi, yuk !" seru Maureen.


"Kuuyyy lah" seru semaunya kompak.


"Kalo gitu gue balik duluan yah, bebs. Hati-hati, dan cepet pulang. Jangan terlalu sorean juga" pesan Rossa pada si Mini kesayangannya.


"Siap, mami" sahut Jenn, memperagakan gaya hormat bak seorang anggota TNI.


Rossa yang lebih dulu meninggalkan gadis-gadis itu. Dan setelah itu baru mereka meneruskan tujuan mereka ke cafe.


Di cafe.


Baru saja melangkahkan kakinya masuk ke dalam cafe, alunan musik yang terdengar memenuhi seisi cafe di siang menjelang sore itu, mengingatkan kembali rindunya pada sang kekasih. Ini lagu kenangan antara mereka. Jenn sendirilah yang menyanyikannya untuk Alvino. 'Tanpa batas waktu' dari Ade Govinda dan Andi Fadli.


"Huh, kangen sama Alvino, gengs" baru saja duduk dan menopang dagunya dengan kedua tangan yang bertumpu pada meja.


"Jangan diingat lagi orang kek gitu, Jenn. Gedeg tau gak" ketus Fio yang begitu kontra dengan hubungan mereka.


"Iya bebs. Orang dia gak ada niat sama sekali buat nelpon Lo gitu kok. Lupain bebs, lupain" seru Maureen.


"Lo cantik, banyak yang ngejer-ngejer Lo. Apa lagi coba ? Pilihannya ada sama Lo" Alena ikut mendukung.


"Hati gak bisa dipaksain gengs" tutur Jenn dengan lembut. "Walau sebenarnya hati gue sedikit diusik oleh kehadiran orang lain" dan itu hanya terucap dalam hati.


"Serah Lo dah, tapi jangan terlalu dipikirin yah. Masih ada kita-kita yang nemenin Lo" kali ini Reta yang angkat bicara.


"Yoii, dan Lo gak akan pernah sendiri. We will always together" Yuni merangkul temannya itu.


Gadis cantik itu tersenyum. "Thanks gangs"


Setengah Jam sudah mereka di cafe itu. Tanpa teman-temannya menyadari, Jenn diam-diam menghubungi nomor kekasihnya. Biasanya dia tak pernah menelepon. Alvino yang selalu melakukan hal itu. Mengirim pesan maupun chat juga kadang. Yang diminta kekasihnya, dia cukup selalu siap menerima telepon setiap waktu, sesuai keinginan sang kekasih. Tanpa adanya penolakan. Dan itu yang terjadi sepanjang perjalanan cinta mereka.


Namun tidak untuk kali ini. Seminggu lalu dia hanya mengirim pesan. Kali ini dia ingin langsung menelepon. Rasa rindunya terus mendesaknya, meminta agar dituntaskan. Dia memasang earphone ditelinganya, lalu perlahan menelepon nomor sang kekasih.


Sambungan pertama, tidak di jawab. Dia mulai gelisah. Dicobanya sekali lagi. Masih tetap sama tak ada yang mengangkat.


Angkat dong, bi. Kamu kenapa tega gini si sama aku ? jahat banget !


Dia melirik teman-temannya sebentar, kemudian kembali mendial nomor kekasihnya sekali lagi.


"Halo"


Deg ... ! Jenn terpaku. Siapa dia ?


"Gak usah pura-pura budek Lo. Gue tau Lo siapa. Dan gue tau Lo lagi kangen kan sama Alvino ? Heh, denger ini baik-baik. Gue cuman mau bilang sama Lo buat berhenti mengharapkan Alvino. Dia sekarang udah berubah. Bukan Alvino milik Lo lagi. Dia sekarang milik gue. Ngerti ? Jadi mulai sekarang, stop menghubungi nomor ini lagi"


Duarrrr !!!


Praangg !!!


Tut ... !


Seseorang diseberang sana menutup telepon. Setelah puas menggulirkan batu besar yang menghantam rongga dada Jenn dan mengguncang seluruh dunia gadis cantik itu.


Gadis bertubuh mungil itu spontan berdiri, bersamaan dengan ponsel yang terlepas dari tangannya dan buliran bening yang lolos dari netra indah miliknya.


Teman-temannya pun kaget dengan keadaan Jenn yang tiba-tiba berdiri secara kasar dan menangis begitu kacau. Tanpa sepatah kata pun, gadis itu berlari keluar begitu saja. Dia tidak lagi memikirkan ponsel dan tasnya yang tertinggal.


"Jenn, tunggu !" Alena mengejarnya.


Jenn tak menghiraukan teriakan dari yang lain. Gadis itu seakan tuli, karena begitu shok dengan kata-kata seorang wanita di telepon tadi. Menangis dan hanya menangis. Kamar ! tempat tujuannya untuk mengurung diri dan menangis sepuasnya.


Dia terus berlari dan menghentikan sebuah taksi. Dalam keadaan yang kacau, dia memberikan alamat rumahnya pada sang sopir setelah ditanyai berulang kali oleh sopir tersebut.


Alena mengikuti taksi yang ditumpanginya dengan kecepatan sedang. Dia bersyukur karena melihat jalan yang mengarah ke alamat rumah gadis itu.


Well. Kembali ke cafe.


"Wait, ambilin dulu tas sama ponselnya" teriak Fio. Teman-temannya yang lain memungut ponsel dan memasukkannya ke dalam tas miliknya. Semua bergegas lari keluar dari cafe mengikuti Jenn dan Alena.


Pasukan gadis-gadis cantik itu sedikit membuat keributan di dalam cafe, menyita perhatian pengunjung yang lain. Tanpa mereka sadari, Reza yang selalu memantau aktivitas Jenn. Perlahan masuk dalam cafe dan meminta maaf atas kekacauan yang dibuat teman-temannya. Serta hendak membayar pesanan mereka, namun gadis-gadis cantik itu sudah membayar lebih dulu saat memesannya.


Reza pun segera berlalu dari sana dan mengikuti jejak Jenn and the geng-nya.


Shit ! kemana si mereka ???


Kesal karena terlambat dan kehilangan jejak gadis-gadis itu.


Tapi tadi kenapa dia menangis dan kacau begitu ? apa ada hubungannya sama bang Vino ?


Diluar itu, gue sungguh penasaran dengan lelaki di parkiran tadi. Sudah dua kali gue liat pemandangan yang sama. Siapa si dia ?


Terus saja berspekulasi tentang apa yang dilihatnya. Dan dengan keyakinan sendiri bahwa Jenn pasti kembali ke rumahnya. Jadi dia pun melajukan mobilnya menuju rumah gadis itu.


Rumah 3 gadis cantik.


Rossa yang sore itu sedang bersantai menikmati secangkir teh dan cemilan diruang nonton. Sedangkan Putri yang baru pulang dari kampus, dan baru saja berjalan meninggalkan motornya dua langkah. Dia kembali menengok kebelakang begitu mendengar deru mobil yang berhenti didepan pagar. Dia terpaku ditempat melihat sahabatnya yang turun dari taxi dengan berderai air mata.


Komplotan gadis-gadis cantik itu masuk dan mengikuti Jenn kedalam.


"Hei, tunggu ! ini ada apa ? kenapa Jenn bisa nangis kaya gitu ? kalian apakan dia, hah ?" bentak Putri pada teman-teman Jenn. Gadis tomboi dibuat kesal dengan melihat sahabatnya seperti tadi.


"Kita juga gak tau. Makanya kita susul dan pengen nanya ke dia" ucap Alena dengan nada meninggi. Ikut terbawa emosi.


"Tapi kalian yang pergi sama dia, harusnya kalian tau. Teman macam apa kalian ?" Putri semakin marah.


"Stop ! kalian apa-apaan ?" Reta menghentikan perdebatan keduanya. "Dengan kalian bertengkar kayak gini. Kita gak bakal tau Jenn kenapa. Itu sana masuk dan kita tanya langsung ke dia. Jangan malah berantem" sambungnya lagi.


Putri dan Alena saling menatap. "Sorry, gue kebawa emosi. Kalian tau kan, seperti apa Jenn buat gue sama Rossa ?" sesalnya karena emosi sesaat.


"Gue juga minta maaf. Kita juga sama kok, sayang sama Jenn. Sama kek kalian berdua" Alena pun mulai mereda. Semuanya lalu masuk dan hendak melihat keadaan Jenn didalam sana.


Mereka kaget melihat Rossa yang bersandar didepan pintu kamar dengan wajah sendu.


"Kenapa, Sa ?" tanya Putri. "Jenn-nya baik-baik aja kan ?" mendekat dan mengguncang bahu Rossa.


"Seharusnya kamu tanya sama mereka. Kenapa si Mini nangis kek gitu ?" seru Rossa dengan suara bergetar hampir menangis. Dia selalu begitu. Ikut merasakan kesedihan sahabatnya.


"Mereka juga gak tau, Sa. Udah yah" Putri menenangkan si Mami.


"Awas gue mau liat Jenn" Alena menerobos teman-teman yang sedang berkumpul didepan kamar itu.


"Pintunya dikunci dari dalam. Dia gak mau bukain" ujar Rossa dengan pelan.


"Hah ???" semuanya kaget.


Alena langsung mengetuk pintu itu dengan tidak sabaran.


"Jenn, please ! bukain. Lo bisa cerita ke kita, Jenn" teriak Alena sambil terus mengetuk pintu.


"Bebs, jangan kek gini dong. Kita ikut sedih" kembali lagi Rossa berucap dengan sendunya.


Putri bersandar pada dinding di sebelah pintu sambil bersedekap. "Sebenarnya ada apa ? bisa cerita dari awal gak ?" menatap satu per satu orang-orang yang ada disana.


Fio yang menceritakan semuanya. Dari awal masuk cafe sampai keluar.


"Mana ponselnya ?" Putri menengadahkan tangannya meminta ponsel milik Jenn. Dan Fio pun memberikannya. Dengan kata sandi tanggal jadian Jenn dan Alvino, yang sudah tak asing lagi bagi mereka. Ponsel itu dapat dibuka. Mereka mengecek pesan maupun chat, namun tak ada apapun disana. Hanya chat terakhir dari Jenn seminggu lalu.


"Gak ada apa-apa kok" ucap Putri pada yang lainnya.


"Coba chek panggilan" usul Maureen. Dan Putri pun melakukannya.


"Girls, disini ada panggilan keluar baru beberapa menit lalu ke nomernya Alvino" ungkap Putri yang membuat mereka kaget.


"Hah ? panggilan keluar ?" pekik gadis-gadis itu bersamaan.


"Kayaknya dia nelpon Alvino, terus terjadi sesuatu deh" tebak Yuni.


Detik itu juga Putri menelepon kembali nomer Alvino. Namun satu kenyataan lagi yang mereka dapatkan. Nomor itu sudah tidak bisa dihubungi.


"Fix ! ini permasalahannya. Pasti ada yang gak bener. Kalo cuman gak aktif, gak mungkin dia sampai nangis. Pasti ada sesuatu sebelumnya. Ya kan ?" seru Putri yang mendapat anggukan dari yang lain. Dengan tidak tahu apa yang harus mereka lakukan. Memilih menunggu seseorang yang sedang menangis didalam sana, tenang sendirinya.


Sejam lebih sudah terlewati, dengan kebisuan ditengah-tengah mereka semua. Hari pun sudah mulai gelap. Masing-masing larut dalam spekulasi mereka. Tiba-tiba suara pintu yang terbuka membuyarkan kesunyian dan lamunan gadis-gadis itu.


Kreek !


"Jenn" semuanya refleks berdiri dengan kompak.


Dengan wajah sembab dan tatapan datar, gadis cantik itu berdiri di depan pintu kamar. Lalu melirik teman-temannya satu per satu.


"Guys, gue mau clubing malam ini"


🌸🌸🌸🌸🌸🌸


.


.


.


.


.


to be continued ...


____________________


Selamat membaca sayangΒ²ku 😘πŸ₯°πŸ₯°πŸ₯°


jangan lupa tinggalkan jejak manisnya yah πŸ₯°πŸ€—


pliiiissss πŸ™ like, koment, and rate πŸ™ tambahkan juga ke favorit yah ❀️😘😘


Thinkyuuuw banget buat semuanya πŸ€—πŸ€—πŸ€—


ai lappp yuuuw oll πŸ˜˜πŸ˜πŸ’•