Simple But Perfect

Simple But Perfect
Mencintai Tapi Juga Membenci



...~ Happy Reading ~...


...___________________...


...*...


...*...


...*...


"Pergilah!" Suara Alvino terdengar pelan dan datar. "Jangan meruntuhkan niatku untuk melepasmu." Memalingkan wajahnya ke tempat lain.


Jenn tersenyum kecil menanggapinya. "Melupakan seseorang butuh tenaga. Kamu perlu makan yang banyak, dan istirahat yang cukup agar cepat sembuh. Karena dengan tidur saja tidak akan bisa menghapus ingatan tiga tahun lebih," ucap Jenn dengan masih berdiri di tempatnya.


Alvino memejamkan matanya menahan perih di hati. Semalam setelah kepergian Jenn, lelaki tampan itu telah bertekad untuk melupakan wanita yang masih sangat ia cintai itu, dengan memupuk rasa benci di hati.


Ia menyadari sungguh bahwa ini tidaklah mudah, bahkan mungkin saja hal yang mustahil untuk ia lakukan.


Namun, keras kepalanya memaksa ia melakukan itu. Dan apalagi yang bisa dijadikan alasan untuk merebut wanita cantik itu kembali? Memaksakan kehendaknya bisa saja, tapi ia masih memikirkan kondisi bumil cantik itu. Bagaimanapun, mamastikan Jenn tetap aman adalah penting baginya.


Pengorbanan yang ku sembunyikan, adalah untuk kebahagianmu. Karena itu, tetaplah aman agar apa yang ku korbankan tidaklah gagal. Walau sebenarnya rela tidak ku ikhlaskan, dan benci tetap ku pelihara.


"Keluarlah, aku tidak ingin menyakitimu dengan kata-kataku," ucapnya dengan suara berat menahan sesak di dada.


Lagi-lagi Jenn tersenyum. "Bukan hal baru bagiku. Tidak terhitung banyaknya yang sudah pernah kamu lakukan." Ia melangkah maju mendekati ranjang pasien. "Lakukan saja, aku di sini, di hadapanmu. Telingaku sudah terbiasa dengan teriakan amarahmu." Bumil cantik itu memandang Alvino dengan masih tersenyum kecil. "Jika dengan menyakitiku bisa menyembuhkanmu, lakukanlah!" Dan aku tahu kamu tidak akan melakukan itu.


Alvino terkekeh tanpa memalingkan wajahnya. Masih membelakangi Jenn. "Kamu yakin? Apakah suamimu siap terluka jika istrinya disakiti? Bahkan dengan membunuhmu tidak akan bisa menyembuhkan sakitku." Alvino semakin tertawa hambar. Dan hal itu terdengar mengerikan ditelinga Jenn.


Seketika jantung Jenn berdebar tak beraturan. Rasa takut merayap di sekujur tubuhnya. Senyum tulus yang sedari tadi menghiasi bibirnya, hilang dalam sekejap.


"Karena bukan sakit pada tubuh yang aku hiraukan, tapi sakit di hati yang sudah pasti tak kunjung ada penawarnya." Alvino memalingkan wajahnya menoleh pada Jenn.


Ia bisa melihat dengan jelas, raut ketakutan di mata wanita cantik yang masih bertakhta di hatinya saat itu. Rasa tidak tega melihat ekspresi itu, membuat Alvino semakin tidak tahan melihat wajah Jenn berlama-lama. Ingin sekali meraih tubuh kecil itu dan mendekapnya penuh cinta. Tidak! Alvino menyadarkan dirinya sendiri sebelum ia hilang kendali.


"Tidak usah berdramatis peduli dan iba. Aku tidak semenyedihkan yang kamu kira. Pergilah sebelum kesabaranku habis," ucap Alvino dengan geram, tapi percayalah ada sesuatu yang ditahannya setengah mati. Ia kembali memalingkan wajahnya ke tempat lain. "Keluar!!!"


Jenn terlonjak kaget dengan teriakan Alvino.


Apa yang aku harapkan? Tidak! Kamu memang pantas melakukan itu. Bencilah aku dengan dengan besar.


Tes ...


Sebutir air mata menetes dari netranya. Jenn menunduk lalu tangannya terangkat menghapus jejak basah di pipi mulusnya. Sedetik kemudian, ia memutar tubuhnya dan melangkah tanpa sepatah kata lagi.


"Dan jangan pernah temui aku lagi atas permintaan siapapun. Karena di lain waktu, mungkin saja aku tidak akan sesabar ini." ucap Alvino tepat di saat tangan Jenn memutar gagang pintu. Wanita itu berhenti sebentar, dan sedetik kemudian ia benar-benar keluar.


Sesuatu yang ditahan Alvino, seketika luruh bersamaan dengan tubuh Jenn yang menghilang. Ia menangis. Hal yang tidak pernah ada dalam kamus hidupnya, tapi sejak kehilangan Jenn, hal itu seolah lumrah baginya.


Beritahu aku cara melupakanmu ... aku terlalu mencintaimu, Jennifer. Tapi aku juga membencimu.


Lelaki tampan dengan sejuta pesona itu terus menangis di dalam diam. Ia lalu meraih ponselnya dan menghubungi Reza.


*****


Di depan ruangan VIP.


Jenn keluar dengan raut sedih yang tampak jelas. Melihat istrinya seperti itu, Kenn langsung bangkit dan menghampirinya. Ia selalu setia mendampingi calon ibu dari anaknya itu kemanapun, dan dimanapun. Ia selalu siaga di setiap momen. Apalagi untuk menemui Alvino, tentu saja Kenn tidak akan membiarkan istrinya sendirian.


Tanpa bertanya, Kenn langsung membawa sang istri dalam pelukannya. Ia selalu memahami tanpa kata.


"Kita pulang?" tanya Kenn sambil mengusap lembut punggung kecil istrinya.


Reza dan yang lainnya pun berdiri dan mendekati Jenn. Mereka ingin memastikan kondisi si cantik itu, dan juga seseorang di dalam sana.


"Lo gak papah, Jenn?" tanya Reza cemas. "Dia nyakitin Lo?" Dan pertanyaannya hanya mendapat gelengan kecil dari Jenn.


Begitu juga dengan orangtua Alvino. Mereka pun menanyakan hal sama.


"Jangan mengharapkan apapun lagi dari Jenn, Tante. Maaf, Jenn gak bisa maksain Al. Jenn harus pulang sekarang," ucap Jenn sambil memaksakan senyum kecilnya.


Wanita tua yang masih saja cantik di usia senjanya itu mendekat dan mengelus lembut lengan Jenn.


"Setidaknya kamu sudah berusaha." Ia tersenyum tulus. "Tante yang mestinya minta maaf." Ada sebuah rasa tak rela melihat tangan wanita yang dicintai putranya, digenggam oleh lelaki lain. Penyesalan dan kenyataan seolah bergabung lalu menamparnya dengan keras.


"Sudahlah, Tan! Lupain aja, Jenn gak marah sama sekali. Jenn tahu, setiap orang tua pasti menginginkan yang terbaik untuk anaknya. Dan Jenn memang bukan yang terbaik untuk anak Tante." Si cantik itu tersenyum tak kalah tulus dari maminya Alvino. "Jenn yakin, akan ada seseorang yang jauh lebih baik dari Jenn, yang akan mendampingi anak Tante nanti. Satu hal yang Jenn minta, jika orang itu telah datang, terima dan sayangi dia apa adanya yah, Tan. Jenn tahu, Tante adalah orang baik. Jenn sama Kenn pamit yah, Tan, Om, Za." Ia pun menepuk pelan tangan wanita yang dulu sangat menolaknya.


"Hati-hati, Nak. Semoga kamu dan bayinya tetap sehat," ucap papinya Alvino yang hanya diam dari tadi. Ia beralih menatap Kenn. "Jagalah dia dengan baik. Sebab kamu adalah salah satu dari banyaknya pria yang beruntung di dunia." Menepuk pelan pundak Kenn.


"Pasti, Om!" Kenn sedikit membungkuk memberi hormat pada orangtua dari mantan kekasih istrinya.


Tiba-tiba ponsel Reza berdering membuyarkan suasana melow di depan ruang VIP. Jenn dan Kenn lalu berpamitan dan segera berlalu dari sana. Setelah kepergian mereka, Reza memeriksa ponselnya untuk melihat siapa yang tengah menghubunginya.


Melihat nama penelpon di layar ponselnya, lelaki itu menjadi was-was, tapi juga penasaran.


Apa lagi sih ini?


"Bang Vino," ucapannya membuat dua orang tua di hadapannya begitu antusias. Sangat berbanding terbalik dengannya.


Keduanya lalu mendorong Reza untuk segera masuk, berharap ada hal baik yang mereka dengar setelah ini.


..._____πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€_____...


...Mencintai dan merindukanmu itu, seperti hujan yang datang tiba-tiba, dan bertahan lama. Bahkan setelah hujan itu redah, cinta dan rinduku masih tetap terasa....


..._Alvino Dharma_...


...*...


...*...


...*...


...To be continued ......


...__________________...


...###...


Hai tayangΒ²ku πŸ‘‹ Ketemu lagi πŸ€—


Makasih banyak buat semuanya yang selalu setia menunggu up-nya πŸ™πŸ€—


Jangan lupa like dan komen yah 😍


Sampai jumpa di episode berikutnya πŸ€—


Karena ada yang menunggu dan memberikan semangat, jadinya aku double up 🀭


Makanya, rajin kasih semangat dong guys 😁 Biar otornya semangat up 😍


Follow Ig author :@ag_sweetie0425