
Kenn berjalan menghampiri ketiganya dan hendak duduk di samping Jenn. Namun laki-laki itu terperanjat melihat sang kekasih yang duduk santai dengan paha putih mulus yang terekspose.
Lelaki tampan itu langsung membalikan tubuhnya menghadap Farel dan Fio. Ia menghampiri Farel dan menarik tangannya.
"Hei, ada apa? Kenapa Gue ditarik?" Farel yang tak mengerti mencoba menepis tangan Kenn yang memeganginya dengan erat.
"Ikut aja. Gak usah banyak nanya. Mau Gue congkel mata Lo hah?" menatap Farel dengan tajam. Ia beralih menatap Fio. "Tolong berikan Dia celana yang lebih pantas. Training aja kalo perlu." bisiknya pada Fio.
Kenn lalu menarik temannya keluar dari sana. Tanpa memandang sang kekasih yang sedang kesal melihatnya. Farel yang sudah mengerti pun mengikuti langkah Kenn tanpa membantah. Setelah keduanya keluar, Fio terbahak melihat wajah sahabatnya.
"Ngapain dia bisik-bisik ke Lo? Ngomong apa sih? Pakai bisik-bisik segala." mencebik kesal.
"Hahaha, cemburu yah? Iya yah? Hahaha. Kalian berdua lucu banget tau gak. Gemush Gue liatnya. Ayo kita ke kamar." Beranjak dari duduknya, dan mengajak Jenn.
"Ngapain ke kamar? Terus dua manusia tadi kemana?" Bingung dengan orang yang baru saja datang dan langsung pergi kembali.
"Udah ikut aja dulu. Palingan mereka lagi di teras. Gak usah khawatir, pacar Lo setia nungguin Tuan Putrinya ini kok." Fio tertawa kecil. Keduanya kini berjalan menaiki tangga menuju kamar Fio yang terletak di lantai dua.
"Pasti Lo yang bilang buat mereka ke sini kan?" Jenn melotot dan Fio hanya tertawa sebagai jawaban.
"Nih, pakai ini!" Fio melemparkan sesuatu tepat mengenai wajah Jenn yang sedang rebahan di ranjangnya.
Jenn mengambilnya sambil berdecak kesal. Kemudian ia mengernyit heran melihat apa yang diberikan temannya.
"Buat apa dengan ini? Lo mau joging malem-malem begini?" tanya Jenn bingung.
"Ya elah, bukan buat Gue yang pake, tapi buat Lo." ucap Fio.
"Hah? Gue? Hahaha yang benar aja, Lo. Sejak kapan Gue suka pake yang beginian?" Jenn tertawa dan melemparkan kembali benda itu pada Fio. "Sarap Lo yah."
"Sejak saat ini. Lo harus ngebiasain diri Lo buat pake yang beginian mulai sekarang deh." Menyerahkan apa yang tadi dikembalikan Jenn.
"Enggak! Kenapa juga Gue harus ngebiasain diri? Gue gak suka di paksa yah." Jenn tetap pada pendiriannya.
"Karena ini kak Kenn yang maksa. Dia yang nyuruh Gue buat ngasih ini ke Lo, dan Lo harus pake, harus terbiasa mulai sekarang. Dia gak suka liat Lo pake pakaian yang kurang bahan begini. Ngerti gak?" jelas Fio.
"Benarkah?" tanya Jenn dengan menganga lalu menunduk melihat penampilannya sendiri. "Emang kenapa dengan pakaian seperti ini? Biasa aja kok." berucap santai.
"Bagi Lo biasa. Tapi gak bagi dia. Apalagi dia lelaki normal, bisa khilaf." Jenn mulai mencerna setiap kata-kata temannya. "Lagian nih, dia gak mau lah tubuh kekasihnya jadi bahan konsumsi pria lain. Farel aja sampai dipaksa keluar." lanjut Fio. "Makanya itu, pake sekarang lalu turun dan temui dia."
Jenn yang mulai memahami pun langsung bergegas mengganti celananya. Tampilannya sudah berubah. Yang tadinya dengan hotpants jeans, sekarang dengan celana joger wanita.
"Rasanya aneh. Berasa kek mau joging aja deh." Jenn bergerak memutar tubuhnya di depan cermin.
"Tetep cantik kok, bebs. Orang kalo dasarnya good looking, mo pake apa aja pasti cantik. Udah ah, ayok turun." Fio menarik tangan Jenn dan keluar. Keduanya berjalan menuruni tangga disoroti tatapan memuja dari Kenn pada gadisnya.
"Nah, gini kan jadi enak diliatin." Kenn berucap sambil tersenyum manis.
"Dia ngerasa tersiksa banget loh, kak. Gak biasa katanya." sahut Fio lalu duduk di samping Farel.
Jenn melirik Fio dengan kesal sambil berjalan kikuk dan duduk di samping Kenn.
"Harus biasa mulai sekarang yah," Kenn menatapnya dan meminta, yang dibalas anggukan oleh Jenn.
"Masih ada urusan sama Fio?" lagi Kenn bertanya.
Jenn menggeleng. "Gak ada lagi." ucapnya singkat.
"Kalo gitu pulang sekarang yah. Aku anterin." Jenn melirik sebentar ke arah Fio lalu mengangguk lagi. Dia sangat merasa kikuk saat ini, karena ketahuan ke luar malam, dan juga masalah pakaiannya.
"Buru-buru amat, Kenn." sergah Farel cepat.
"Ini udah malem," seru Kenn singkat dan langsung berdiri. Farel dan Fio pun ikut berdiri.
"Udah ketemu beberapa kali, Gue juga udah tau banyak tentang Lo lewat Fio. Tapi belum pernah kenalan langsung." Farel menghampiri pasangan yang baru jadian itu dan langsung mengulurkan tangannya pada Jenn.
Baru saja hendak menyambut tangan Farel, tangan Kenn sudah lebih dulu menarik tangan kekasihnya.
"Gak usah salaman segala. Udah tau namanya kan? Gak usah lebay Lo." ucap Kenn dengan cueknya.
Farel menggeleng kepalanya dan tersenyum. Lelaki itu menurunkan tangannya perlahan. "Hadeh, baru juga mau salaman, belum yang lainnya. Ckckck." Farel tersenyum meledek temannya. "Oh iya Jenn, Gue Farel." lanjutnya memperkenalkan diri tanpa bersalaman.
"Hai kak!" Jenn tersenyum dan melirik Fio penuh tanya. Jadi ini dia orangnya? Seperti itu yang tersirat lewat tatapan Jenn. Temannya itu memahami dan mengangguk.
"Udah kan? Ayo pulang!" ucap Kenn kembali dengan tujuan awalnya.
"Jengan lupa jaket Lo, bebs!" ucap Fio.
"Oh iya. Hampir lupa!" Jenn menunduk dan mengambil benda hangat itu.
Kenn tersenyum senang melihat barang miliknya dipakai sang kekasih.
"Kayaknya Gue kenal jaketnya deh." ucap Farel yang memang sudah tahu namun hanya ingin menggoda Jenn.
Gadis itu hanya tersenyum menanggapi ucapan teman kekasihnya.
"Gue balik yah, bebs. See you tomorrow." ucap Jenn pada Fio. Kemudian berbalik pada Farel. "Jagain temen Gue yah, kak!" lagi-lagi Jenn tersenyum.
"Siap!" Farel memperagakan gaya hormat.
"Kak, nganterin Jenn pake mobil Gue aja. Dingin loh ini!" ucap Fio yang disetujui kekasihnya. "Iya Kenn. Nanti setelah nganterin Jenn, Lo ke sini lagi biar kita balik sama-sama." ucap Farel memberi alasan pada Kenn. Dia tahu, temannya itu pasti akan menolak.
"Pilih yang mana, hmm?" tanya Kenn pada gadisnya.
Jenn menengadahkan wajahnya menatap sang kekasih. "Milih kamu aja, deh." seketika Kenn membuang mukanya ke tempat lain, menyembunyikan raut bahagia digoda gadisnya yang cantik. Kenn mengulum bibir sambil menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal. Sedangkan pasangan double'F' cekikikan mendengar gombalan receh gadis cantik itu.
"Bisa aja Lo. Udah, pakai mobil Gue aja, bebs." ucap Fio.
"Ya udah. Ayo, kak!" Jenn mengguncang pelan lengan kekasihnya. Kenn menoleh dan tersenyum mengangguk, setelah berhasil menguasai diri. Setelah Fio memberikan kunci mobilnya, pasangan itu pun segera berlalu dari sana.
"Kak!" panggil Jenn pelan memecahkan keheningan yang tercipta di dalam mobil.
"Hmm," fokus menyetir.
"Maaf yah." menoleh ke arah Kenn.
"Untuk?"
"Ish, jangan cuek-cuek gitu dong. Marah yah?" kesal karena merasa diabaikan.
Kenn menoleh sekilas lalu sebelah tangannya terulur mengacak rambut gadisnya. "Suka banget mikir yang nggak-nggak." Dia tersenyum. "Mau ngomong apa hm?" kembali fokus dengan setir.
"Lupain! Yang penting kamu baik-baik aja." lagi Kenn tersenyum. "Dan satu lagi yang aku minta dari kamu, Lain kali kalau mau keluar rumah atau bepergian kemana pun, berpakaianlah yang sopan. Jangan seperti tadi. Kamu boleh seperti itu, tapi di rumah aja, yah!" pinta Kenn dengan serius.
Jenn begitu merasa kikuk. Ia mengangguk dengan malu. "Iya, kak!"
Kenn mengelus kepala gadis itu sekilas. "Gadis pintar."
"Ngomong-ngomong, bisa gombal juga yah," tersenyum smirk.
Jenn mengalihkan tatapannya ke tempat lain. Mengingat perkataannya tadi, gadis cantik itu merasa malu sendiri.
"Siapa yang ngajarin?" tanya Kenn lagi, setelah merasa tak ada sahutan dari gadis yang sedang duduk di sampingnya.
Jenn menoleh sebentar. "Gak ada kok." menjawab dengan singkat.
"Sering gombalin pacar-pacar sebelumnya juga? Aku yang ke berapa?" sengaja ingin menggoda Jenn.
"Eh, enggak! Gak pernah gombalin siapa-siapa kok. Baru juga di Kamu doang." berucap apa adanya.
Memang benar, Jenn tidak seperti itu. Dialah yang sering kenyang dengan gombalan-gombalan receh dari banyak lelaki. Terlebih lagi Alvino. Tetapi kali ini terbalik.
Kenn tersenyum kecil. "Benerrrrrrr? Gak percaya," semakin ingin menggoda kekasihnya.
"Bener, sayang!"
Ciiiiiitttttt!
"Kaaaakkk! Mau bikin Aku jantungan hah?" pekik Jenn sambil memegangi dadanya ketika Kenn mengerem mendadak.
Lelaki itu menoleh cepat dan menatap Jenn. "Bilang apa tadi?" kedua tangannya masih memegang setir.
"Apa?" bingung. "Aku bilang kakak mau bikin Aku jantungan? Gitu?" mengulang perkataannya dengan ketus.
Kenn menggeleng. "Bukan. Yang sebelumnya."
"Yang mana?" mengerutkan keningnya. Sedetik kemudian gadis itu tersenyum. "Oh itu. Ya ... ya gitu," tersipu malu.
"Bilang sekali lagi!" sedikit memajukan badannya.
"Sayan!" ucap Jenn sembari berusaha tenang, disertai senyum manisnya. Karena sesungguhnya ia pun tak dapat menahan debaran di jantungnya.
Mendengar itu, Kenn langsung menunduk menyembunyikan wajahnya di antara kedua tangannya yang masih memegang setir. Lelaki itu tersenyum dengan kepala yang bertumpu pada kemudi. Kenn merasa hatinya seperti ditumbuhi ribuan bunga.
Sedangkan Jenn mengernyit melihat reaksi kekasihnya. "Kak, are you okay?" tanyanya sedikit ikut menunduk.
Kenn memutar kepalanya menoleh pada sang kekasih hati, dengan posisi masih menyandarkan kepalanya pada setir mobil. Ia tak bisa menyembunyikan raut bahagianya.
"Sepertinya Aku gak baik-baik aja." mengulum senyum. "Aku butuh penanganan khusus kayaknya nih."
"Eh, benarkah? Kenapa, kak?" mengerutkan keningnya.
"Kamu membuat jantungku bermasalah, Jenn. Dan sepertinya Aku akan kesulitan untuk tidur malam ini." ucap Kenn yang kini telah mengangkat kepalanya dan mulai duduk dengan tegak.
"Aku?" menunjuk dirinya sendiri.
"Ya kamu! Panggilanmu tadi membuatku hampir tak bernafas." terkekeh dengan kegilaannya.
"Ish, Aku kira apaan lagi. Bikin khawatir aja." tangan kecilnya meninju bahu Kenn. "Lain kali Aku gak manggil gitu lagi." dengan cepat Kenn menahan kedua tangannya.
"Panggil Aku seperti itu. Seterusnya, dan jangan pernah berhenti!" menggenggam lembut tangan gadisnya.
Jenn lalu menatap kedalam manik mata lelaki itu. "Kamu senang?" mendapat anggukan dari Kenn. "Kalau begitu, aku juga senang. Panggil aku dengan panggilan yang sama!"
Kenn melebarkan senyumnya lalu mengacak rambut sang kekasih. "Baiklah, sayangku!" menyalakan kembali mesin mobil dan melaju menembus pekatnya malam itu.
Setelah sampai dirumah dan sudah bersiap untuk tidur, ponsel Jenn berbunyi dengan sebuah notifikasi chat.
081386xxxxxx
Selamat tidur, sayangku πβ£οΈ
"Astaga, pacar durhaka emang. Bisa-bisanya belum nyimpen nomer pacarnya juga." Jenn menepuk jidatnya.
Gadis itu kemudian tersenyum dan membalas chat dari kekasihnya, setelah menyimpan kontak sang kekasih terlebih dahulu.
My Kenn β£οΈ
Selamat tidur juga, sayang π Mimpikan aku yah π€π
____________πππ_____________
.
.
.
.
.
to be continued ...
_________________
Hay semuanya π maaf kemarin kagak up π€
Terimakasih banget buat yang selalu setia nungguin STP. Dan sudah menyediakan waktu untuk mempir di karya receh ini π€π€ππ
Jangan pernah bosenΒ² yah sayangΒ²ku ππ
Jangan lupa kasih like, komen, rate, dan tambahkan ke favorit yah β€οΈπ
Makasih sekali lagi ππ Dan ....
Selamat membaca ππ€β€οΈ
π
Ig author : @ag_sweetie0425