
...Holaaa, Budies π...
...Jumpa lagi π€...
...Jangan lupa like dan komen yah π...
...~ Happy Reading ~...
...___________________...
...###...
Setelah kejadian di parkiran pagi tadi, Alana dan Maureen semakin membenci Jenn. Kedua gadis itu menyebar luaskan kabar pernikahan Jenn, dengan judul the most wanted menikahi seorang mekanik.
Sepanjang perjalanan ke kantin siang itu, banyak pasang mata yang menatap aneh ke arahnya. Terdengar bisik-bisik julid tentang pernikahannya sana-sini.
Dua sahabatnya, Rossa dan Putri, juga teman-teman genk-nya, Fio, Yuni, dan Reta begitu murka dengan ulah dua gadis angkuh yang telah menjadikan Jenn buah bibir se-universitas.
Bagi Jenn sendiri, semua itu tidak berpengaruh bagi hubungannya bersama Kenn. Wanita cantik yang tengah hamil muda itu tak mempedulikan omongan orang-orang sama sekali. Ia menutup mata dan telinga dari semua perkataan tak berfaedah menurutnya.
"Jangan ditanggapin, guys! Tenang aja, gue santai kok." Jenn tertawa kecil. Ia menarik kursi lalu duduk, setelah itu mereka memesan makan.
"Tapi mereka keterlaluan, Jenn. Gak bisa dibiarin, n'tar makin berulah lagi." Teman-temannya tidak terima.
"Gak ngaruh juga buat gue, genkz! Udah biarin aja, ntar juga capek sendiri gibahin gue. Gak usah diladenin."
Tidak lama pesanan mereka tiba.
"Btw ... Gimana sama Lo, Bebs? Kapan nikahnya? Sorry, belom sempet main ke rumah Lo, belom ngunjungin Fanya sama mertua Lo juga," ucap Jenn pada Fio.
"Tunggu nyokap sama bokap gue aja. Sibuk banget mereka." Bumil yang satu ini sangat menikmati pesanannya, tidak seperti Jenn yang hanya mengaduk-aduk. "Ntar kita ke rumah mama yuk! Dia mertua Lo juga, Bebs. Suami Lo kan udah dianggap anak sama mereka." Jenn mengangguk.
"Kalo diizinin." Masih terus mengaduk makanannya yang belum tersentuh sama sekali.
"Hais, bilang sama kak Kenn, jangan ngurung Lo terus dong. Kita juga kangen tau, pengen lama-lama sama Lo." sungut Putri.
"Iya, Bebs! Gue hampa tanpa Lo, hiks!" Rossa berdramatis.
"Lebay banget sih kalian. Ya udah, nanti gue izin sama suami gue dulu. Kita hangout ke rumah mertua angkat gue, ha-ha-ha." Tawa Jenn membuat semua temannya merasa lega mendapati dirinya baik-baik saja, di tengah gunjingan netizen kampus.
Semua temannya hampir menghabiskan makanan mereka, hanya dirinya saja yang masih setia menatap makanannya.
"Kenapa gak dimakan, Jenn?" Yuni penasaran.
"Gak selera aja. Enaknya diliatin kek gini." Berucap sambil tersenyum.
Wanita hamil selalu aneh!
...*...
...*...
...*...
...*...
...*...
π± "Sayang! Aku izin ke rumah kak Farel yah,"
π± "Sama siapa?"
π± "Fio ... ada Rossa sama Putri juga."
π± "Boleh, tapi aku yang anterin. Tunggu aku!"
π± "Tapi kamu kerja, Sayang! Aku sama Fio aja,"
π± "Ya udah, gak ada izin juga!"
π± "Sayaaaaaanggg!!!"
π± "Ha-ha-ha. Tunggu aku ke sana sekarang."
Kenn selalu seperti itu. Mengizinkan Jenn melakukan apapun yang ia mau, kemanapun yang ia inginkan, tapi harus selalu bersama dirinya. Lelaki itu seolah tidak pernah percaya dengan orang lain. Siapapun orang itu.
Namun, Jenn sudah terbiasa dengan semua itu. Ia tahu seberapa sayangnya lelaki itu padanya. Ia pun mengerti bahwa sekarang dirinya merupakan hal berharga yang ingin selalu dilindungi dan dijaga lelaki tampan itu.
Hal yang sangat ia syukuri, Kenn berbeda dari seseorang yang dulu hanya bisa mengekangnya, seseorang yang dulunya mencintai dia dengan tidak wajar.
Berlebihan dalam hal mencintai boleh saja, tapi jika hal itu sampai mengekang seseorang, ibarat udara yang tidak menyehatkan bagi paru-paru, perlu untuk diganti dengan yang segar. Masa transisi inilah yang dialami Jenn.
"Hai, Girls!" Tiba-tiba Reza datang bergabung bersama mereka. Lelaki itu memilih duduk di samping Putri. "Apa kabar keponakan gue, Jenn?" Bertanya pada orang laini, tapi matanya menatap ke arah lain.
"Baik, Za! Lo mau ikut ke rumah kak Farel gak?"
"Hmm, siapa aja yang ikut?" Pandangannya beralih ke arah Jenn.
"Semua!" Menggeser semangkuk soto ayam yang warnanya sudah berubah merah kehitaman karena tercampur sambal dan kecap kepada Reza. "Ayo makan! Cepetan, kita mau ke parkiran." Puas menatap pesanannya, Jenn memberikannya untuk Reza.
Reza terbelalak dan langsung mengatupkan mulutnya rapat-rapat. Rautnya berubah masam melihat tampilan makan yang ditawarkan Jenn.
Mampus dah gue! Salah alamat gue ke sini. Aarrgghh!!!
"Eh, gue masih kekenyangan, Jenn. Sorry, he-he-he. Lain kali aja yah." Tolak Reza dengan halus.
"Gak mo tau, pokoknya Lo harus makan." Mulai aneh.
Yang lain ingin sekali menertawakan Reza yang datang-datang langsung dikasih tantangan.
"Ayo! Cepetaaaannn!!!" Sepertinya, ngidamnya wanita satu ini hanya ingin melihat wajah tersiksa Reza.
Brakkk!!!
Jenn menggebrak meja kantin.
"Kalo Lo gak mau ...."
"Iyah, iyah! Nih gue makan!" Dengan sangat terpaksa Reza memasukan sesendok makan penuh kuah ke dalam mulutnya. Laki-laki itu menutup matanya kuat-kuat dan, "uhuk, uhuk! hah, huh, hah, huh!" Ia meraih sebotol air mineral yang ada di depannya dan meneguknya setengah.
Gluk, gluk, gluk!
"Haaahh!" Mengibaskan tangan di depan mulutnya yang terbuka lebar. "Cukup, Jenn. Gue gak sanggup!"
"Baru juga sat ... wait! Suami gue nelpon." Mengangkat tangan menyuruh semuanya diam begitu ponselnya berdering.
π± "Di mana? Ini aku udah di parkiran."
π± "Hiks, hiks, di kantin, Yang! Aku gak mau ke situ sebelum makananku habis. Ikut aku ke sini aja, hiks!"
Hah, syukurlah! Biar dia yang bertanggung jawab pada istrinya. Dia yang enak hamilin, gue yang selalu disiksa. Ke sini Lo dan rasain racikan istri Lo!
Sungut Reza dalam hati. Ia merasa lega dengan kehadiran Kenn.
π± "Kenapa nangis, Sayang? Ya udah, aku ke sana."
"Gue gak jadi lanjutin ini kan? Sorry, Jenn!" Tanya Reza tapi Jenn diam saja dan melempar tatapan kesal pada laki-laki itu.
Tak lama setelah itu, seisi kantin menjadi ribut. Terdengar teriakan-teriakan histeris dari gadis-gadis pecicilan. Bisik-bisik kagum di sana-sini tertangkap pendengaran Jenn. Kantin itu menjadi heboh.
Jenn tampak masa bodoh dengan keributan yang terjadi.
Sedangkan Reta dan Yuni yang duduk berhadapan dengan Jenn saat itu, melihat di depan sana seorang lelaki tampan dengan gaya khasnya yang memesona berjalan memasuki area kantin. Repped jeans, kemeja flanel berwarna navy gray yang lengannya digulung sesiku dengan kancing yang terbuka memperlihatkan kaos putih polos di dalamnya, tak lupa topi basseball hitam berlogo endiko, di pakainya agar sedikit menyembunyikan wajah tampannya. Penampilan sederhana itu saja sudah mampu menyita perhatian penghuni kantin, terutama kaum hawa.
Tampak lelaki itu berdiri dan mengedarkan pandangannya mencari-cari seseorang yang ingin ia temui.
"Aaaaaaaakkkkkhhhh!" Reta dan Yuni ikutan histeris melihat ketampanan lelaki di depan sana.
"Kalian kenapa sih?" Fio yang duduk bersebelahan dengan Jenn terlonjak kaget dengan teriakan dua temannya.
Belum sempat menjelaskan pada yang lain, suara seorang gadis memanggil nama lelaki tampan yang membuat kehebohan di kantin saat itu, mengurungkan niat Yuni.
"Kak Kenn!" Itu suara Fanya. Jenn refleks memalingkan wajahnya ke belakang. Benar saja, suaminya tengah berdiri di sana dan menjadi pusat perhatian. Ia ingin memanggil, tapi melihat Fanya di sana, Jenn membiarkan saja.
Eh, ngapain dia liatin suami gue segitunya.
Tidak suka dengan juniornya yang tak lain adalah teman Fanya. Dia Nayla yang sangat tergila-gila pada Kenn. Gadis itu seolah mencari muka di depan suaminya. Tidak tahan melihat itu, Jenn bangun dari duduknya dan menghampiri sang suami.
"Don't touch him. He's mine!" Ia tiba tepat saat Nayla ingin menyentuh lengan suaminya. Tangan mungilnya dengan cepat menepis tangan Nayla. "Jaga batasan Lo," ucap Jenn pelan tapi tajam menegaskan kepemilikannya.
"Elo sih, ngapain mau pegang-pegang? Udah gue bilang kan, Kak Kenn itu udah nikah sama Kak Jenn! Gak percaya banget sih Lo." Omel Fanya pada sahabatnya. "Maaf, Kak Jenn. Dia nanti Fanya yang ngatasin, he-he-he." Jenn tersenyum pada Fanya.
"Udah, Sayang! Jalan sekarang yuk!" Merangkul pundak istrinya, menenangkan wanita hamil yang mood-nya suka berubah-ubah.
"Makananku belom habis. Bantuin yah!" Kenn mengangguk ragu. Ragu dengan menu apa yang ditawarkan sang istri. "Ok Fan, sampai ketemu di rumah yah."
"Hah? Kak Jenn mau main ke rumah?" Jenn mengangguk. "Assiiiikkkk!!" Berlonjak kegirangan. "Ayok, balik! Gue mau pulang sekarang, mau bilang sama mama." Menarik tangan Nayla dan berlalu dari sana.
Wah, ternyata dia suaminya primadona kampus. Pantes aja!
Jadi dia orangnya yang dicibir sejak pagi? Gustiiii, tampan banget!
Kalo mekaniknya ganteng model begini, gue juga mau dinikahin.
Yo'oloh, ketampanan paripurna kek gini, gua rela diajak hidup susah!
Wajahnya aja udah nutupin kekurangan yang lain, gimana gak klepek-klepek tu ratu play girl.
Jenn menatap orang-orang di sekitar sana dengan tajam. Tampak ketidaksukaan jelas di wajah cantiknya.
Kenn menarik lembut tangan istrinya, menghampiri teman-teman mereka. Dia tidak ingin mood istrinya berubah dengan pembicaraan orang-orang di sana.
"Kak Kenn, bikin ngiri aja deh. Gue sampai pangling tadi, gak tahan liat yang model begini, ha-ha-ha!" ucap Yuni ceplas-ceplos tanpa malu.
"Jangan ganjen, Lo!" Jenn langsung duduk kembali di tempatnya dan Fio bergeser ke samping Rossa, membiarkan Kenn duduk berdekatan dengan Jenn. "Ini lagi, pake acara tebar pesona segala!" Mulai kesal. Kenn terkekeh dan mencium kepala wanitanya.
"Aaau, jangan tebar keuwuan di sini, woeee!" sungut Reta membuat yang lain tertawa.
"Gue aja sebagai cowok merasa tersaingi, Bro!" Reza ikut nimbrung.
"Gak usah merasa tersaingi segala, kalo soal tampang, udah pasti Lo kalah banyak. Udah deh, gak usah sirik sama orang ganteng!" cibir Putri.
"Iyah, iyah! Gue sumpahin, Lo jatuh cinta sama gue." Putri menjadi kesal sedangkan yang lain lagi-lagi menertawakan mereka.
"Tadi katanya mau aku bantuin ngabisin makanannya, mana?" tanya Kenn yang tidak nyaman berlama-lama di sana. Ia ingin cepat-cepat keluar dari tempat itu.
Nah, rasain Lo! Reza tampak senang sekali menantikan wajah tersiksa Kenn.
"Ini nih, selamat menikmati yah!" Reza menggeser mangkuk di depannya pada Kenn penuh semangat.
"Gak mauuu, bukan!" rengek Jenn. Ia mendorong kembali mangkuk itu pada Reza, lalu bergelayut manja di lengan suaminya. Terlihat Reza mulai khawatir dan was-was. "Sayang! Aku mau Reza yang yang ngabisin ini, tapi dia gak mauuuu ... jahat kali dia, Yang! Hiks."
Reza terbelalak dan langsung bangkit dari duduknya hendak melarikan diri. Secepat kilat pula Kenn menahan kerah bajunya. "Mau kemana hah? Duduk dan turutin kemauan dia. Ayo duduk!" Reza ingin sekali mengumpat tapi ditahannya.
"Sumpah gue gak sanggup, Kenn. Pedasnya level dewa, Bro! Gue gak bisa. Please!!!" mohon Reza tapi Jenn tak mau tahu. Kenn pun tidak bisa menolak keinginan istrinya, meski ia juga kasihan pada Reza.
"Habisin gak? Sekarang!" Ancam Kenn dengan wajah garang. Dengan menahan kekesalan dan pedas yang begitu gila, laki-laki itu nekat menghabiskan semangkuk soto gila. Itu menurut Reza. Dalam hatinya tak putus-putus mengumpat Kenn.
Yang lain nampak iba melihat wajah Reza yang memerah hampir menangis, tapi Jenn malah terlihat senang dan puas.
Setelah itu mereka semua lalu bergegas keluar dari area kantin. Jenn menatap tajam wajah-wajah ganjen yang melirik suaminya dengan tatapan memuja.
Reza yang kesal saat itu mendekati Kenn hanya ingin mengumpat lelaki tampan itu. "Brengsek! Lo dapet yang enak, gue yang tersiksa." bisik Reza. Kenn tersenyum padanya.
"Sorry, bukan mau gue. Btw, thanks yah, udah bantuin gue nyenengin istri gue!"
"****** Lo. Anak Lo belom lahir aja udah nyiksa gue, apalagi kalo lahir?"
"Anak gue gitu loh." Kenn terkekeh pelan. "Dia gak mau ayahnya yang tampan ini tersiksa."
"Cih, anak sama bapak nyebelin emang!"
Kenn melirik horor pada Reza. "Berani Lo ngatain anak gue?" Reza menggeleng lalu menjauh. Bisik-bisik dua lelaki itu berakhir dengan senyuman kemenangan Kenn.
Tiba di parkiran, ponsel Kenn berdering. Ia melihat ada sebuah notifikasi pesan dari Farel yang memintanya agar segera kembali ke bengkel. Kenn mengerutkan keningnya.
Bukannya tadi dia udah ngizinin gue jemput Jenn dan nganterin ke rumahnya? Tadi juga bilangnya gak usah balik, nanti juga dia mau nyusul. Kok ... aneh yah!
Kenn merasa ada yang aneh dari chat Farel. Ia memilih mengantarkan istrinya terlebih dulu. Setelah itu baru ia kembali ke bengkel memastikan isi chat itu benar apa tidak.
..._____βοΈβοΈβοΈβοΈβοΈ_____...
...*...
...*...
...*...
...*...
...*...
...To be continued ......
...__________________...
...###...
Hah, Bab ini sampe 2000 kata loh gaes π
Plissssss, like dan komen biar otornya seneng π π€ ngitung-ngitung, ngilangin lelah π
Thank buat yang slalu mampir π
Sampai jumpa di bab selanjutnya π€
follow Ig author : @ag_sweetie0425