Simple But Perfect

Simple But Perfect
Coming Home



...Halo! Budies jumpa lagi πŸ€—πŸ€—...


...Jangan lupa like dan komen yah 😘...


...Happy Reading...


..._______________...


Gelap kini membalut bumi, riuh hembusan angin malam terdengar menelisik telinga, menerpa, dan membelai seluruh insan. Seorang wanita cantik tengah terlelap damai pada kursi bus yang ia tumpangi bersama rekan-rekannya. Sudah berjam-jam dalam perjalanan sejak siang tadi, dan baru saja tiba di kota saat malam.


Di depan halte kampus, semua penumpang diturunkan di sana, dan masing-masing dari mereka akan kembali ke rumah dengan jemputan atau angkutan sendiri. Bus itu pun kembali melaju dan meninggalkan gerombolan mahasiswa di sana.


"Gimana sekarang? Pesen taksi aja yuk! Gue dah ngantuk banget," ucap Jenn sambil menguap beberapakali.


Sebenarnya si cantik itu sudah cukup tidur selama perjalanan tadi, kini bukan lagi kantuk yang ia rasakan tetapi, sekali lagi kekecewaan menyentil hatinya. Kecewa karena seseorang yang ia harapkan datang menjemputnya pun tak ada. Rasa menyesakkan itu membuatnya ingin segera pulang dan bercerita pada bantal.


"Bentar Jenn, gue udah hubungi sopir keluarga gue ke sini, bentar lagi nyampe kok. Tunggu yah, nanti gue yang nganter kalian," kata Reza pada dua teman wanitanya.


Jenn dan Fio pun mengangguk.


Tidak lama setelah itu, sebuah mobil yang dikendarai sopir keluarga Reza, tiba di sana dan berhenti tepat di hadapan mereka. Reza lalu membukakan pintu bagian penumpang untuk dua wanita cantik itu, dan ia sendiri duduk di samping kursi pengemudi.


Dalam perjalanan, mereka memutuskan untuk mengantar Jenn lebih dulu, setelah itu baru mengantar Fio. Sepanjang jalan menyusuri kota itu, Jenn tak sekalipun mengucapkan sepatah kata. Wanita cantik itu nampak tenang dalam kebisuan, memandang keluar seolah menikmati suasana kota yang sebulan lebih ini tidak ia rasakan.


Kedua temannya sudah memahami betul, perasaan apa yang tengah melanda jiwa si cantik itu. Sampai tiba di depan rumahnya pun, Jenn tak menyadarinya.


"Bebs, udah sampai." ucap Fio yang bahkan tidak didengar olehnya. "Bebs, bebs!" Kali ini Fio menaikan suaranya satu oktaf sembari menepuk pelan pundak wanita cantik itu.


"Hah, ada apa?" Jenn tersentak dari lamunannya. "Kena ... Eh, udah sampai yah? Kenapa gak bilang dari tadi sih? Ck," ucap si cantik itu mencebik kesal.


"Astaga! Hei ... Ck, sudahlah turun sana. Masuk dan istirahat, jangan banyak ngelamun." sahut Fio yang tidak sanggup untuk ikutan kesal.


Reza pun turun dan membuka pintu untuk wanita cantik itu dan tidak lupa ia membawa barang-barang wanita itu.


"Bawa sampai ke dalam tapi," ucap Jenn dengan sedikit rengekan pada Reza. Ia pun lalu membuka gembok pagar rumahnya.


Masih di depan pagar rumah itu, Reza menatap Jenn dengan datar.


Kalau gak ingat udah jadi milik orang, pengen gue cium aja deh.


Reza membatin. Lelaki itu tidak tahan melihat raut wajah cantik dan manja Jenn. Segera ia memalingkan wajahnya dan membawa barang-barang wanita itu.


"Iya, iya, Tuan Putri yang cantik. Mana mungkin gue biarin Lo yang bawain ini sendiri. Gak banget gue jadi lelaki," sahut Reza sambil melangkah masuk dengan bawaan ditangannya.


Jenn pun segera ingin menyusul langkah Reza, tapi Fio menahannya.


"Hei, pamit dulu kek apa kek, jangan main pergi gitu aja," gerutu Fio.


"Eh, iya lupa. He-he-he," sahut Jenn yang terkekeh.


Fio turun dari mobil dan menghampiri Jenn di depan pagar.


"Jangan mikirin hal yang enggak-gak, dan jangan dulu cerita ke Rossa dan Putri. Lo harus tetap tenang, banyak makan dan istirahat. Ingat! Jaga calon ponakan gue dengan baik." bisik Fio di telinga Jenn.


Jenn tersenyum dan mengangguk. "Iya, gue inget kok. Udah sana pulang, gue capek mau bobo." seru Jenn sambil mendorong pelan tubuh Fio.


"Cih, ngusir. Ya udah sana masuk!"


Jenn pun melangkah masuk dengan pasti. Begitu sampai di depan teras rumahnya, wanita cantik bertubuh mungil itu merentangkan kedua tangannya dengan mata terpejam, sambil menghirup udara di sekitar situ dengan penuh rindu.


I'm coming home!"


"Udah, ini rumah gak lari kemana-kemana. Yang kemana-mana itu, dua penghuni lainnya yang belom pada pulang kayaknya." ucap Reza yang serta-merta menyadarkan Jenn.


"Ah, iya juga yah. Kok gue baru inget yah," sahut Jenn kaget.


Ia lantas membuka mata dan menurunkan tangannya lalu menatap Reza bergantian dengan Fio yang masih saja menatapnya dari depan pagar.


"Berarti ... Hiks, gue sendirian dong, huaaaaa."


Oh my ... Kenapa juga manusia-manusia itu belum pada pulang sih? Haduh, repot lagi. Masa gue yang nemenin? Gak mungkinlah, bisa-bisa ....


"Heh!" Jenn menimpuk kepala Reza dengan tas selempang kecil yang ada di tangannya.


Reza yang kala itu tengah membatin sambil menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal, pun terperanjat.


"Mikir apa Lo, hah? Mulai ngehalu? Iya?" cecar Jenn sambil berkacak pinggang.


"Eh buset! Ini masih Jenn apa bukan sih?" tanya Reza sambil mengusap-usap kepalanya yang terkena timpuk.


"Emang Lo pikir gue siapa, hah? Gue power ranger yang bisa berubah-ubah kapan aja gitu? Jahat banget sih, hiks," lagi-lagi Jenn merengek.


"Ya Tuhan! Gue ... Arrrrgghh!" Reza mendadak mengacak rambutnya frustasi, sedangkan Fio terbahak di depan sana.


Gue nyerah! Dan kayaknya gue yang paling kangen sama si Kenn brengsek itu. Iya, kangen untuk menghajarnya.


"Udah ya, Jenn. Gue minta maaf. Sekarang Lo mau masuk, apa mau ikut Fio dulu?" tanya Reza dengan lembut dan sabar.


Meski hatinya ingin sekali menangis menahan geram yang tidak mungkin terlampiaskan, tetapi pikiran sehatnya masih saja bertahan untuk meladeni wanita hamil yang satu ini, dengan segala tingkahnya yang menyebalkan.


"Gak! Pulang sana." ucap Jenn dengan nada galak.


"Ya udah, gue sama Fio balik dulu yah. Hati-hati, Jenn. Kalo ada apa-apa, cepat hubungi gue, yah," kata Reza yang ragu untuk meninggalkan wanita itu sendirian.


"Hmm," sahut Jenn dengan cueknya, dan langsung masuk begitu saja.


Braakkk!


Benturan pintu yang ditutup dengan keras oleh Jenn, membuat Reza menutup matanya kuat dengan tangan yang memegang dadanya. Lelaki itu menggelengkan kepalanya dan kembali menghampiri Fio.


Ia membuka pintu mobil dan langsung masuk menghempaskan tubuhnya di kursi samping kemudi.


"Jalan, Pak!" ucap Reza dengan nada malas pada sang sopir. Pria paruh baya itu lalu menjalankan mobilnya kembali.


"Ha-ha-ha, gimana-gimana? Kena mental gak Lo, Za? Ha-ha-ha." Fio tak henti-hentinya menertawakan lelaki itu.


"Ck, ketawa aja terus, gue cuman bisa ngelus dada. Huft, lelah juga. Beruntung kalo yang jadi laki, lelah tapi gak rugi, malah menang banyak. Lah gue? Dapet apa coba? Miris banget kan nasib gue. Dosa apa yah, sampe disiksa ngurusin mantan yang lagi hamidun gini?" gerutu Reza tanpa hentinya.


"Ha-ha-ha, dapet ponakan baru lah," Fio masih saja mengakak.


"Cih, seneng banget liat gue tersiksa. Lagian itu anak beda banget sama dia yang sebelumnya. Ngidamnya aneh-aneh tau gak, ribet banget gak kayak Lo. Untung gue cinta, kalo gak ...."


"Kalo gak apa? Hati-hati dengan omongan Lo. Kalo sampai kak Kenn denger, habis Lo. Buang jauh-jauh perasaan Lo tuh." pesan Fio.


"Iya, gue cuman berani bilang sama Lo aja," ucap Reza dengan lesu.


"Lagian, wanita hamil itu beda-beda, Za. Tapi menurut gue sih, ngidamnya dia itu lucu tau gak, ha-ha-ha. Gemes gue liatnya," seru Fio lagi.


Reza terkekeh mengingat wajah menyebalkan gadis cantik yang masih saja menempati ruang dalam hatinya. "Iya sih, kadang gue gak tahan liatnya. Pengen ... Ha-ha-ha." Reza terbahak.


"Jangan mimpi Lo. Ingat! Ngehaluin dia aja gak dibolehin sama kak Kenn loh," pesan Fio sekali lagi. Ia mengerti maksud ucapan Reza yang sedikit menggantung itu.


"Iya, iya!"


Mobil itu terus melaju mengantarkan Fio sampai ke rumahnya.


**********


Di rumah Jenn


Si cantik itu tengah berbaring sendirian di tempat tidur dengan posisi memeluk guling dan selimut karakter kesayangannya.


"Hmm, kangen banget sama kalian."


Setelah cukup puas melepas rindu dengan kasur dan teman-temannya, Jenn lalu beranjak menuju ke kamar mandi. Ia membasuh wajahnya agar lebih segar dan mengganti pakaiannya. Hari sudah semakin larut, karena itu ia tak berniat untuk mandi lagi. Sesudah itu, Jenn membongkar koper dan barang-barang lain yang ia bawa. Di sana ia menemukan sekotak tempat makan berwarna pink.


"Apa ini? Perasaan gue gak bawa barang ini deh," tanya Jenn pada diri sendiri.


Dengan penasaran ia pun membuka kotak makan itu dan seketika netra indahnya mengembun, begitu melihat isi dari tempat itu.


"Ibu," lirih Jenn. "Jenn udah rindu aja, hiks."


Ia terisak haru mengingat wanita paruh bayah yang baru saja ia tinggalkan beberapa jam lalu. Kotak makan itu berisi cemilan kesukan Jenn selama di desa.


Dalam suasana sepi serta mellow saat itu, tiba-tiba saja terdengar bunyi-bunyian aneh yang membuyarkan keheningan itu. Jenn berhenti dari isak tangisnya dan memasang pendengarannya lebih tajam.


Tok, tok, tok!


Blam!


Dengan berani, Jenn membuka pintu kamar dan cepat-cepat menuju ruang tamu. Ia berharap dua temannya sudah ada di sana, tetapi nihil. Tidak ada apapun di sana. Jenn menghembuskan nafasnya dengan berat.


Tak, tak, tak!


Kembali terdengar suara derap langkah berlalu lalang di area dapur. Jenn yang tadinya kecewa, kini mulai sedikit cemas. Secepat kilat ia ingin melangkah ke dapur, tetapi suara benda yang jatuh begitu keras menahan langkahnya.


Pranggg!


Wanita cantik itu seketika takut dan langsung berlari dengan sekuat tenaga menuju kamar dan mengunci pintu dengan rapat.


Braakkk!


..._____πŸ’¦πŸ’¦πŸ’¦πŸ’¦πŸ’¦_____...


...To be continued ......


..._________________...


Halo semuanya πŸ‘‹ maaf yah, akhir2 ini terlambat up terus πŸ™πŸ™


Terima kasih sudah meluangkan waktu mampir ke karya receh ini πŸ€—


Jangan lupa jejak manisnya yah, gaes 😘


Sampai jumpa di episode berikutnya πŸ€—


Jangan lupa follow πŸ‘‡


Ig : @ag_sweetie0425