Simple But Perfect

Simple But Perfect
Mama!



"Hah??!!,"


Kedua wanita cantik itu kompak keheranan mendapati siapa gadis cantik yang menyambut kembalinya mereka sepulang dari sekolah siang itu.


Sejujurnya yang mereka tahu bahwa gadis itu adalah junior mereka di kampus, tanpa mengetahui lebih jauh lagi bahwa gadis itu adalah adiknya Farel.


Sebelumnya Jenn tahu, gadis itu pernah dekat dengan sang kekasih, dan dia juga ingat bahwa Kenn pernah mengatakan jika itu adalah adik dari temannya. Namun sampai saat ini dia tidak tahu sama sekali bahwa gadis itu adalah adiknya Farel, teman yang dimaksud sang kekasih.


Berbeda lagi dengan Fio yang memang tidak tahu apa-apa sama sekali, yang dia tahu hanya sebatas junior saja. Dia memang belum pernah mengenal satu pun dari anggota keluarga kekasihnya.


Alhasil, keduanya dibuat bingung dengan keberadaan gadis itu di sana.


Ngapain sampai bisa ada di sini?


Ada urusan apa yang membuatnya ada di sini?


Batin Jenn dan Fio bertanya-tanya, ada apa gerangan?


Gadis cantik itu seolah memahami kebingungan dua orang di depannya. Baru saja mulutnya hendak terbuka mengatakan sesuatu, namun kembali tertahan ketika seseorang keluar melewatinya, dan menghampiri kedua wanita cantik yang masih larut dalam dugaan-dugaan mereka.


"By!!!,"


Pekik Fio begitu melihat sang kekasih sembari sedikit terlonjak senang. Ia tersenyum lebar menampilkan deretan gigi putihnya, dan segara melangkah cepat ingin mendekat dan memeluk sang kekasih, namun kemudian ia teringat bahwa ia harus lebih bisa menahan diri. Sebelum yang lain tahu tentangnya, Fio pun spontan menghentikan aksinya. Ia terdiam dan mendadak mematung di tempatnya.


"Eh. Ka' Farel?," panggil Jenn sambil pandangannya menyapu sekeliling situ. Ia celingak-celinguk berharap melihat seseorang yang ia rindukan juga ada di sana, namun nihil. Gurat kecewa terlukis jelas di wajah cantiknya.


Farel tersenyum pada Jenn dan tangannya terulur mengacak rambut wanita cantik bertubuh mungil itu.


"Nyari siapa?," kekeh Farel. "Dia gak ada yg di sini, tadinya mau ikut, cuman gak ada yang ngurusin bengkel. Maaf yah," tutur Farel dan Jenn hanya mengangguk paham sembari tersenyum kecil, meski sebenarnya ia kecewa.


Farel lalu mendekat ke arah kekasihnya, Fio. "Kenapa berhenti? Emang gak kangen?," tanyanya membuat Fio melotot tajam ke arahnya.


Farel tertawa kecil dan langsung menarik wanitannya, membawanya masuk ke dalam pelukannya. Fio yang kaget pun hanya terdiam menerima perlakuan kekasihnya.


"Gue di kacangin!," seru gadis cantik yang sedari tadi seperti tak dihiraukan keberadaannya di sana.


"Eh," Fio tersentak dan langsung mendorong tubuh Farel.


Ketiganya lalu menoleh ke arah si gadis yang sedang melambaikan tangan pada Jenn dan Fio, dengan gaya khasnya yang selalu ceria. Sudah sangat penasaran Jenn dan Fio dibuatnya. Sekali lagi mulut gadis itu terbuka ingin mengeluarkan kata-kata, namun lagi dan lagi terhenti oleh drama berikutnya.


"Yang mana menantu, mama?,"


Seorang wanita yang masih saja cantik diusianya yang tak lagi muda, muncul dari dalam rumah dan bergabung bersama keempat orang muda yang masih saja berdiri dengan ekspresi yang berbeda-beda di serambi rumah itu, dan disusul sang tuan rumah dari belakang. Jadilah mereka semua berkumpul di sana.


Jenn dan Fio yang masih bingung dengan keberadaan seorang gadis di sana, makin bertambah bingung dengan sosok asing yang datang-datang dengan pertanyaan yang lebih membingungkan pula. Keduanya saling melempar tatapan penuh tanya.


Ada apa dengan orang-orang ini? Menantu? _Fio_


Siapa lagi ini? Sungguh hari yang aneh! _Jenn_


Tiba-tiba suara Ibu tuan rumah memecahkan keheningan yang tercipta diantara mereka semua.


"Neng Fio, dijawab atuh pertanyaan calon mertuanya," ucap wanita paruh baya itu membuat dunia Fio sedikit terguncang.


"Hah??!!??," seru Fio dan Jenn bersamaan.


Sementara itu semua yang ada di sana tertawa melihat respon keduanya.


"Jadi ... ?," tanya Fio yang seolah tidak mampu meneruskan kata-katanya. Perlahan ia mulai paham dengan drama yang terjadi siang itu, dan ia pun mendadak was-was.


"Iya! Itu mama, by," jawan Farel tanpa menunggu Fio melanjutkan lagi pertanyaannya.


Seketika itu juga jantung Fio bagai genderang yang bertabuh, menghasilkan dentuman keras yang menghantam dadanya. Wajahnya mendadak pasi, pikiran-pikiran buruk tentang keluarga sang kekasih yang tidak mau menerimanya, apalagi dengan keadaannya yang tengah berbadan dua, mulai mengusik ketenangan jiwanya. Ia takut dan belum siap mendengar hal-hal buruk. Untuk menghadapi kenyataan semacam itu, sungguh ia tak mampu. Membayangkan saja tak sanggup ia lakukan, ini malah sekarang benar-benar harus ia hadapi.


Pikiran yang mendadak kacau, hati yang tidak tenang, jiwa yang mulai terguncang, hal yang pantang bagi seorang wanita yang tengah berbadan dua apalagi yang masih di awal, hal itu tidak disadari semua orang yang berada di sana. Bahkan Fio sendiri tak dapat mengendalikan kondisi jiwanya sendiri.


Kekhawatiran, kecemasan, serta ketakutan yang mendadak, membuatnya mulai pusing dan kesulitan bernapas. Tubuhnya mendadak lemas dan limbung.


"By," Farel yang menyadari itu pun dengan cepat menahan tubuh sang kekasih dan menopangnya dengan tubuh besarnya.


"Fio!!!," pekik Jenn dengan panik.


"Eh, kamu kenapa, nak?" mamanya Farel pun ikutan panik dan mendekat melihat kondisi Fio.


"Di bawah masuk ke dalam dulu, neng Fio-nya," ujar Ibu tuan rumah.


Semuanya mendadak panik melihat kondisi Fio. Hanya saja mamanya Farel mencoba untuk bersikap tenang, karena beliau pun sudah pernah mengalami hal seperti ini.


"Di sini aja, Rel," ucap sang mama sambil menunjuk sebuah sofa sederhana dengan ukiran kayu yang indah, yang berada di ruang tamu. "Duduk yang tegak aja, tarik nafasnya dan hembuskan perlahan yah. Rileks aja, sayang!," ucap mamanya Farel memberi instruksi.


Farel dan Jenn pun membantu Fio untuk mengikuti arahan dari mamanya. Wanita hamil itu pun mencoba melakukan apa yang diperintahkan padanya, dan hal itu diulanginya beberapa kali sampai pernafasannya kembali normal.


Semuanya menjadi lega.


"Ambilkan air untuknya, Rel," mamanya memberi perintah lagi padanya.


Begitu ia ingin berdiri dan melepas rangkulannya dari tubuh Fio, wanita itu malah menahannya, tidak mau membiarkannya pergi. Ia merasa aman di dekat Farel, apalagi dengan situasi seperti saat ini. Laki-laki itu mengalah dan tetep di tempatnya.


Melihat itu, mamanya Farel menyunggingkan senyuman kecil. Wanita paruh baya itu mengerti dengan apa yang dirasakan calon menantunya itu.


"Em, udah kak, biar gue aja." Jenn langsung bergegas ke dapur dan mengambil segelas air untuk temannya.


Mamanya Farel berjalan mendekat dan duduk di sebelah kiri Jenn. Wanita itu tersenyum lalu tangannya terulur menyentuh kepala Fio dan mengusapnya dengan lembut, mencoba memberi ketenangan dan memperbaiki suasana hati Fio agar menjadi stabil dan lebih baik.


"Gimana perasaan kamu sekarang?," tanya sang mama.


Benar saja, sentuhan lembut serta tutur halus yang dia rasakan, telah berhasil memperbaiki emosinya. Berbagai rasa cemas tadi perlahan menguap. Hatinya mulai tenang, namun dia masih sedikit ragu untuk berucap. Dilihatnya sang kekasih yang duduk di sebelah kanannya, begitu mendapat anggukan serta senyum manis yang seolah mendukungnya, dengan pasti dia pun menoleh pada ibu dari kekasihnya itu.


"Hmm, berasa sudah lebih baik, Tan!," jawab Fio dengan sedikit lemah dan canggung.


"Kok, Tan sih?," wanita paruh baya itu lalu menggenggam lembut tangan Fio, dan menatap penuh sayang layaknya seorang ibu. "Mulai sekarang panggil, mama. Kamu sekarang juga anak mama, sama seperti Farel. Mama ke sini untuk menemui kamu dan calon cucu Mama," ucap wanita yang sudah berumur itu dengan lembut.


Fio terpaku. Hatinya yang tadi kacau, berganti tenang, dan kini kembali terasa seperti dialiri tetesan air pegunungan yang memberinya rasa sejuk serta damai.


Ragu ia menatap ibu dari kekasihnya dengan sayu, dan sekali lagi wanita itu meyakinkannya. "Aku ibumu sekarang. Ayo! Panggil mama, seperti yang Farel lakukan," pintanya sekali lagi.


"I-iya, ma!," aku Fio dengan kaku disertai suara serak sedikit tercekat.


Mamanya Farel tersenyum simpul. "Sekali lagi! Mama ingin mendengarnya sekali lagi, sayang,"


Dengan bibir yang sedikit bergetar, Fio mengulangi sapaannya kembali. "Ma, mama!."


Sontak sebutir kristal bening luruh dari sudut matanya. Wanita tua yang masih saja cantik itu merasa senang, ia membawa Fio ke dalam pelukannya. Farel dan yang lain yang menyaksikan itu, pun turut bahagia.


Jenn yang kembali dari dapur dan mendapati pemandangan itu ikut terharu dan merasa lega. Setidaknya temannya itu akan menjalani masa-masa kehamilannya ke depan dengan rasa bahagia, tanpa adanya beban lagi.


Fio masih larut dalam euforianya. Tanpa malu lagi ia sesegukan dalam pelukan calon mertuanya. Wanita paruh baya itu pun mengelus punggungnya dengan penuh sayang.


Sungguh ini di luar dari apa yang Fio bayangkan selama ini.


"Ehem!." Jenn berdehem seperti menyadari sesuatu. "Ini airnya, bebs. Diminum dulu," memberikan segelas air putih untuk Fio, yang langsung diteguk oleh bumil itu. Jenn lalu melirik kikuk ke arah sang tuan rumah.


"Ada apa, Jenn?," tanya Farel yang melihat gelagat aneh dari wanita itu.


"Eh, gak! Gak ada apa-apa kok, kak!," jawab Jenn sedikit kaku.


Farel yang tidak percaya, menatap Jenn dengan tatapan penuh tanya. "Tapi tingkah Lo aneh, Jenn!," sahut Farel curiga.


"Ah, itu ... Itu ... ."


..._____🍀🍀🍀🍀🍀_____...


...To be continued ......


...________________...


Hah, segini aja dulu yah 🤭🤭 Tenang, n'tar lanjut lagi kok 😅


Makasih semuanya yang selalu nungguin STP 🙏


Jangan lupa kasih like, komen, rate, dan tambahkan ke favorit juga yah ❤️ Dukungan dari kalian sangat penting untuk karya ini. Selain itu juga untuk menambah semangat author 🤭 biar rajin update 😉


Jangan bosan² dan Jangan pelit² yah tayang²ku 😘🥰🥰


Ok baiklah, Selamat membaca 🤗 dan sampai jumpa di episode berikutnya 🤗🤗🥰


Jangan lupa follow 👇:


Ig : @ag_sweetie0425