
...Hola epribadeeeh ποΈ jumpa lagi π€...
...Jangan lupa like, dan komen yah π...
...Salam sehat π...
...~ Happy Reading ~...
...__________________...
Mobil yang mereka tumpangi memasuki area sebuah restoran mewah, membuat ketiga wanita di dalam mobil itu kaget dan bertambah bingung, terlebih lagi Jenn.
"Loh, kok ... ngapain kita di sini, Za?" tanya Jenn.
Reza diam saja dengan senyum kecil yang samar sebagai respon. Lelaki itu tidak berniat sama sekali untuk menjawab rasa penasaran dan kebingungan wanita cantik di sebelahnya. Setelah memarkirkan mobilnya dengan benar, ia mengajak ketiga kaum hawa itu untuk segera turun.
"Ayo! Turun," kata Reza lalu menoleh sebentar ke samping melihat Jenn. Wanita itu tidak mau bergerak dari tempatnya.
"Lo belum jawab pertanyaan gue. Ngapain kita di sini? Bukannya seharusnya kita ke rumah kak Farel?" Sekali lagi Jenn bertanya.
"Tujuan kita emang di sini. Gak ada apa-apa di rumah kak Farel. Udah yah, sekarang turun!" Reza langsung membuka pintu mobil dan dia turun lebih dulu. Ia lalu membuka pintu bagian penumpang untuk Putri yang duduk di belakang kursi kemudi, setelah itu ia berjalan mengitari mobil dan membuka pintu untuk Rossa, kemudian Jenn yang paling terakhir.
"Silahkan! Tuan Putri." Reza mempersilahkan Jenn untuk turun.
Meski bingung dan juga ragu, tetapi melihat kedua sahabatnya yang sudah turun, Jenn pun tidak ada pilihan dan terpaksa ikut turun.
"Sebenarnya ada acara apa sih? Kenapa harus di restoran segala? Kenapa juga Fio gak jujur aja tadi pas kita jalan?" cerocos Jenn.
"Huh," Reza mendengus kesal. "Bisa tenang dan ikut aja gak sih, Tuan Putri? Intinya, gue gak bakal nyulik kalian bertiga. Dan soal pergantian tempatnya, gue gak tau. Nanti Lo bisa complain sama Fio di dalam. Okhay? Sekarang kita masuk dulu," tutur Reza menjelaskan.
Mau tak mau Jenn pun mengiyakan, sedangkan Putri dan Rossa sebagai tim pengikut, ya ikut-ikut saja. Reza lalu membimbing ketiganya masuk ke dalam melewati beberapa meja pengunjung, menyusuri lorong kecil sampai tiba pada sebuah private room yang masih berada di lantai satu.
"Za, kita ... gak salah tempat kan?" tanya Jenn ragu untuk masuk ke dalam. Ketiganya lantas berhenti sejenak di ambang pintu yang dihiasi mawar putih dari atas hingga ke bawah membuat tiga makhluk cantik itu terkagum.
"Enggak! Ini sudah benar kok, ayo!" Reza langsung menarik tangan Jenn dengan lembut, menuntunnya memasuki ruang tersebut. Dan layaknya dayang-dayang, Rossa dan Putri dengan setia mengikuti setiap langkah sang Tuan Putri.
Jenn melangkah perlahan sambil pandangannya menyapu seluruh ruangan dengan takjub. Ruangan berukuran minimalis dengan kapasitas minim orang, yang mana di sana terdapat lima meja bundar dan kursi-kursi yang tersusun rapi dengan berhiaskan bunga dan pita putih. Ada pun sebuah stage kecil di sana, sudah tersedia sound sistem dan mic. Ruangan itu dipenuhi alunan musik klasik yang memanjakan indera pendengaran.
Setiap sudut ruangan itu dipenuhi mawar putih segar, cocok dengan interior ruangan yang simple full nuansa putih pada dinding-dinding kaca dan langit-langit. Saking terpesonanya hingga ia tak menyadari bahwa tidak ada orang lain dalam ruangan itu selain mereka berempat. Bahkan saat Reza melepas tangannya pun ia tak sadar.
Melihat semua yang ada di depan matanya, tak urung decak kagum terlafal dari bibir mungilnya. Jenn melangkahkan kakinya dengan antusias melewati segala keindahan itu hingga ia berhenti pada pembatas ruangan yang dilapisi kaca. Dan kekagumannya semakin bertambah begitu melihat pemandangan taman yang begitu indah dengan pencahayaan spotlight yang menyoroti keindahan taman.
Keanggunan nuansa saat itu membuai Jenn dalam buana fantasi. Sampai ia tak menyadari beberapa orang selain Reza, Rossa, dan Putri, telah berdiri di belakangnya.
"Asik banget kayaknya," ucap seseorang yang mengagetkannya.
Jenn tersentak dan langsung berbalik.
"Bebs!" pekiknya senang begitu melihat dua temannya, Retha dan Yuni ada di sana. Ketiganya pun berpelukan sambil berteriak dan melompat penuh ria.
"Jenn! Stop!" seru Fio dengan geram melihat Jenn yang lompat-lompat. Entah dari mana wanita itu muncul.
"Oh! He-he-he, maaf! Lupa." Jenn cengengesan.
"Lupa apa, Jenn?" tanya Rossa yang ikutan nimbrung.
"Eh, itu ... lupa ... ya lupa kalo lagi di tempat ini. Mesti jaga sikap kan," kata Jenn berdalih.
Fio menanggapi perkataan Jenn dengan senyum samar. Wanita itu terlihat bahagia melihat penampilan Jenn malam itu.
"Lo beda banget malam ini, bebs! Lo cantik banget." Fio tersenyum makin lebar.
"Cih, apaan sih. Baru dari mana Lo? Kok gue gak liat?" tanya Jenn.
"Dari tadi di sini. Lo aja yang terlalu ngelamun sampe gak nyadar," sahut Fio.
"Iyah, soalnya ini keren banget, bebs!" Jenn tertawa kecil. "Oh iya, kak Farel sama yang lain mana?" sambungnya lagi.
"Ada. Sini ikut, gue kenalin sama calon mertua gue." seru Fio.
"Bukannya gue udah kenal yah?" kata Jenn.
"Itu nyokapnya aja, bokapnya belom. Ada seseorang juga. Udah ikut aja!"
Fio langsung menarik tangan Jenn, sedangkan yang lainnya memilih duduk dan bercengkrama melepas rindu setelah sebulan lebih tak bersua.
Tiba di depan orang tua Farel, Jenn nampak malu dan tersenyum kikuk. Mereka pun menyambutnya dengan hangat.
"Jadi ini yang namanya Jenn?" tanya pria paruh bayah yang tak lain adalah papanya Farel.
"Iya, Om!" jawab Jenn dengan sopan.
"Eemm, maksudnya apa yah, Om?" tanya Jenn.
"Bukan apa-apa. Hanya saja ... yang om tau, bidadari gak pernah tahan tinggal di bumi. Tempatnya kan di kayangan," tutur pria paruh baya itu mengundang tawa hangat dari semua yang ada di sana.
Jenn tersipu malu dengan candaan lelaki tua itu. Tanpa ia sadari seseorang yang berdiri di sebelah mamanya Farel tengah memandangnya penuh haru dan kagum.
"Papah bisa aja deh. Tuh kan, kak Jenn jadi malu, Pah!" Fanya menegur papanya.
"Lah, papa kan ngomong apa adanya. Jangan-jangan bener, dia sebenarnya bidadari yang turun dari kayangan, mandi di kali dan ketinggalan, lalu ditemukan Kenn karena tersesat. Bisa saja kan?" kelakar papanya Farel.
"Ah, Papa! Sudah, sudah. Liat mukanya sampai merah gitu, masih aja dicandain. Udah!" Mamanya Farel menghentikan candaan suaminya. "Sayang, Tante mau ngenalin seseorang buat kamu." Wanita itu beralih pada Jenn, lalu ia nampak tersenyum ke arah seorang wanita yang masih saja cantik di usia senjanya, yang berdiri dengan raut bahagia disampingnya. Mamanya Farel merangkul wanita itu dengan lembut dan memperkenalkannya dengan Jenn. "Ini, orangnya sayang. Ayo kenalan," sambungnya lagi.
Saat menoleh pada wanita paruh baya yang terlihat sederhana dalam keanggunannya, Jenn terpaku. Jantungnya berdetak sekali saja namun sangat kuat. Pandangannya terkunci pada wajah ayu yang sudah keriput di depannya.
Wajah ini ... rasanya tidak asing. Pernah liat di mana yah? Tapi siapa? Familiar banget.
Jenn ingin menyapa dan bertanya, tetapi bibirnya terasa kelu. Dia merasa seperti mengenal wanita paruh baya itu, tapi ia belum juga mampu untuk mengingatnya. Bukan lupa, lebih kepada tidak menyadari satu hal.
Wanita itu pun diam seribu bahasa dengan raut wajah haru yang tak tertahan, seolah tak mampu untuk berucap sepatah pun. Matanya pun memandang lekat wajah cantik bak bidadari di depannya.
Kedua wanita cantik berbeda generasi itu saling menatap dalam diam dengan rasa masing-masing.
"Sayang! Apa kamu baik-baik saja?" tanya mamanya Farel mengagetkan keduanya.
"Ah, iya Tan. Maaf, Jenn ngelamun tadi," katanya dengan canggung. Ia kemudian mengulurkan tangannya pada wanita paruh baya di depannya. "Jenn! Salam kenal, Tante." ucap Jenn dengan senyum indahnya.
Mata cantik itu nampak tergenang, menyamarkan pandangannya ke arah Jenn, tapi masih saja begitu lekat serta dalam dan penuh arti. Ia menyambut uluran tangan Jenn dan menggenggamnya lembut. Saat tangan keriput itu menyentuhnya, seketika Jenn tersentak.
Deg!
Jenn merasa dejavu. Sekelebat kenangan terlintas dibenaknya. Rasa hangat yang dulu pernah menjalarinya, seolah terulang kembali untuk ke dua kali, dan sama persis seperti waktu itu. Jenn merasa nyaman dan enggan untuk melepaskannya.
Rasa ini ... kenapa sama? Nyaman banget kayak ... ah, gue gak mungkin salah. Wajahnya, sentuhannya, benar-benar sama persis seperti ...
"Panggil ibu, sayang!" ucap wanita itu dengan senyuman yang meneduhkan, diiringi setitik basah yang rebas dari matanya. Ucapannya membuyarkan nostalgia Jenn.
"Ibu?"
Bukan panggilan, tetapi itu pertanyaan. Ya, satu fakta lagi yang ia dapatkan. Suara. Suara itu yang pernah ia dengar beberapa waktu lalu meski hanya via telepon. Tetapi Jenn mengenalnya dan masih mengingatnya dengan baik. Tangannya refleks terangkat dan menghapus jejak basah di pipi wanita itu.
"Kenapa menangis, Bu?"
Wanita tua itu tersenyum dan menggeleng. "Bolehkah ibu memelukmu?" tanya wanita itu dan tanpa menjawab, Jenn langsung lebih dulu memeluk wanita itu. Keharuan itu tak luput dari pandangan bahagia seseorang yang menatap dari balik dinding kaca yang ditutupi hiasan bunga.
Semua yang ada di ruangan itu pun terharu. Kecuali Putri, Rossa, Reta, dan Yuni yang bingung dan tidak mengerti apapun.
"Kamu sudah terlalu lama berdiri, Nak! Ayo duduklah! Ibu tidak mau jika kamu kelelahan." Wanita itu melepaskan pelukan mereka, meski keduanya masih sama-sama merasa nyaman. "Sini duduk sama ibu, Nak." ia menarik tangan Jenn dengan lembut dan menuntun Jenn untuk duduk di sampingnya.
Meski ingin bertanya sekali lagi, tapi Jenn mengurungkan niatnya dan ikut saja. Diikuti yang lainnya, semuanya kini duduk dan entah siapa yang memesannya, tiba-tiba saja beberapa pelayan masuk dan menyajikan makanan dan minuman.
Jenn terkesima begitu melihat semua yang tertata di mejanya adalah makanan kesukaannya selama seminggu lebih ini. Lebih tepatnya, makanan yang memenuhi ngidamnya. Ia menoleh ke meja yang lain, dan semuanya berbeda dari miliknya. Jenn antara bingung dan senang.
"Ini ... ini buat ... ah, siapa sih yang pesen ini?" tanya Jenn dengan wajah berseri-seri. "Sebenarnya ini acara apa sih, bebs? Kok, dari tadi gak ada kak Farel, gak ada acara apapun, tiba-tiba aja udah ada makanan, mana gak ada tamu lain, perasaan cuman kita-kita aja." Tidak dapat menahan lagi rasa penasarannya.
"Iyah, ini semua buat kamu, sayang! Kamu suka kan?" Mamanya Farel yang bertanya. "Jadi, ini hanya acara kecil-kecilan, anggap aja kita kumpul-kumpul keluarga di sini."
"Oh ... makasih, Tante! Suka, suka banget." Tampak ia begitu senang. "Eemm ... Jenn boleh makan sekarang gak, Tan?" Sepertinya selera ngidamnya jadi meningkat mendadak.
"Eits, sabar bebs!" Suara Fio menghentikan aksi Jenn dan mengundang atensi yang lainnya juga. "Sebelumnya, ada kejutan buat Lo, bebs! Setelah itu, baru boleh makan. Okhay?" lanjut Fio.
"Kej ...."
"Surprise!!!!!"
Belum sempat untuk bertanya, teriakan semua yang ada di ruangan itu membuat Jenn terperanjat, dan ia semakin kaget melihat dua orang yang tengah berjalan ke arahnya. Jenn spontan berdiri dengan raut yang tidak bisa ditebak antara takut dan bahagia, sampai-sampai pijakannya terasa goyah.
..._____βοΈβοΈβοΈβοΈβοΈ_____...
...To be continued ......
...__________________...
Jangan lupa like dan komen yah gaes π€
Sampai jumpa lagi di next chapter ποΈ
Terima kasih πππ
Follow Ig : @ag_sweetie0425