
...Hay'yoo guys π...
...Jumpa lagi π€...
...Jangan lupa tinggalkan jejak yah π...
...~ Happy Reading ~...
...___________________...
...###...
"Lo? Apa yang Lo lakuin, hah? Ngapain Lo di sini?"
Hardik Putri dengan keras. Perasaan marah yang sudah terkubur berbulan-bulan lalu, kembali muncul ke permukaan hatinya. Darah gadis tomboi itu terasa mendidih melihat sosok Alvino.
Sama seperti Jenn, Putri pun masih mengingat dengan jelas, hari dimana sahabatnya terlihat hancur dan kacau karena lelaki di hadapannya itu.
Alvino tak bergeming. Ia melepaskan tangannya dari pundak Rossa lalu berbalik menatap Putri. Tak tanggung-tanggung ia pun melangkahkan kakinya dan berdiri tegak di hadapan gadis tomboi itu.
"Katakan! Bilang sama gue kalo apa yang dia tunjukkan tadi itu gak bener!" Berucap dengan nada pelan, tapi penuh penekanan.
Putri melipat kedua tangan di dadanya. Gadis itu menatap wajah tampan yang menyebalkan dari Alvino dengan tajam.
"Apa? Apa yang mau Lo denger?" Berbicara dengan wajah yang terangkat angkuh. Tampak jelas bahwa gadis itu seolah menantang Alvino.
"Semuanya!"
Gadis tomboi itu memindai Alvino dari atas hingga ke bawah dan begitu sebaliknya, dari bawah sampai ke atas. Ia pun terkekeh. "Sayangnya Lo bukan siapa-siapa lagi yang perlu tau tentang kehidupan sahabat gue," ujar Putri membuat emosi Alvino bergejolak.
"Lo jangan sembarangan kalo ngomong. Gue kekasihnya Jenn. Gue masih kekasihnya dia!" bentaknya dengan kesal.
"Enggak! Itu dulu dan sekarang gak lagi!" Menampik perkataan Alvino tak kalah tajam. Emosinya pun memuncak dengan suara yang seketika naik beberapa oktaf. "Sekarang keluar dari sini. Keluar!" teriaknya dengan penuh amarah.
"Lo ... lo jangan buat gue marah yah, kenapa kalian pada berubah hah?" Mencoba meredam emosinya.
Tidak ingin menanggapi ucapan laki-laki itu, Putri berjalan ke arah pintu. Ia berdiri di sana dengan tangan yang terulur mempersilahkan Alvino untuk keluar dari rumah mereka.
"Silahkan keluar, kita gak punya kepentingan sama Lo. Orang asing bukan tempatnya di sini." ucap Putri sarkastik.
Alvino tak menggubris. Ia kembali menghadap Rossa. "Heh Lo, ngomong dong sama gue. Kasih tau ke gue. Apa bener itu cincin pernikahan yang dia pakai?" Sekali lagi mengguncang bahu Rossa.
"Lo jangan kurang ajar sama sahabat gue. Gak usah maksa, Lo bukan siapa-siapa yang harus kita turutin ...."
"Lo yang kurang ajar dari tadi, apa susahnya ngomong? Gue berhak tau segala sesuatu tentang dia!" hardik Alvino.
"Oh yah? Kalo Lo berhak tau, ke mana Lo empat bulan lalu? Di mana Lo selama ini hah?" balas Putri berapi-api.
Alvino terdiam. Pertanyaan sederhana dari gadis itu berhasil membungkamnya. Ia seolah kehabisan kata untuk menjawab tanya yang dilontarkan Putri.
"Kenapa Lo diam? Jawab!" Masih berteriak marah. "Kenapa Lo gak menghilang aja sekalian di telan bumi? Kenapa gak tenggelam aja Lo di pasifik?" Terus mencecar tak henti-hentinya.
Dulu dia sangat menghargai lelaki itu, tapi dulu. Dimana lelaki itu masih memiliki hubungan yang spesial dengan sahabatnya. Meski tak jarang dulu ia sering sekali dibuat kesal dengan sifat posesif dan bosy lelaki itu terhadap sahabatnya, tapi demi bahagia si mini kesayangannya, ia tetap berperilaku baik terhadap lelaki itu.
"Gak bisa jawab kan? Atau gak punya alibi yang tepat?" Kata-katanya menusuk di hati Alvino.
"Gue punya alasan untuk semua itu!" Hardik Alvino.
"Apa? Apa alasannya? Alasan kalo Lo punya wanita lain? Iya?" Tembak Putri to the point.
Alvino tersentak. Begitu juga dengan Rossa yang diam sedari tadi.
"Put, udah. Gak usah diterusin!" Menenangkan sahabatnya yang begitu menggebu-gebu meneriaki Alvino.
"Gak, Sa! Sekalian aja gue kasih tau ke dia, biar tau diri." Menepis tangan Rossa dari pundaknya. Gadis kalem itu kembali terdiam. "Gue udah nyimpen rasa marah gue sejak hari itu. Hari dimana Lo jadi pecundang yang ngilang gitu aja." Maki Putri tanpa takut dengan raut Alvino yang berubah merah padam.
"Apapun tentan Jenn, gue tetap ikut campur. Dan gue gak butuh persetujuan dari Lo." Berteriak dengan telunjuk yang mengarah ke wajah Alvino. "Lo siapa hah? Lo cuman laki-laki egois, pecundang, gak tau diri!" Memaki sepuasnya.
Tangan Alvino refleks terangkat hampir saja mendarat di pipi gadis bar-bar itu, tapi kemudian ia tersadar dan mengepalkan tangannya. Rossa memejamkan matanya ketika melihat gerakan Alvino, sedangkan Putri tetap bergeming.
"Apa? Mau tampar? Ayo tampar? Gue bukan pecundang!" Sindiran tajam. "Lo tau, gue bersyukur karena Jenn putus sama Lo, dan dia mendapatkan laki-laki yang jauh lebih baik dari Lo, tujuh kali lipat."
Alvino menurunkan tangannya yang terkepal. "Apa Lo bilang? Putus? Mendapatkan laki-laki lain? Jangan mimpi!" Berucap dengan tegas.
"Ha-ha-ha!" Gadis tomboi itu terbahak. "Lo yang jangan bermimpi! Karena apa yang gue bilang itu fakta. Fakta bahwa Lo dan Jenn sudah gak ada hubungan apa-apa lagi, dan dia sudah menemukan laki-laki lain. Laki-laki yang sudah sah menjadi suaminya!" Beber Putri sudah tak sabar.
Deg!
Bagai kekuatan gempa yang menggulirkan sebongkah batu besar dari ketinggian menghantam dadanya, begitu mendengar perkataan Putri. Tubuhnya seketika menegang.
"A-apa Lo bilang? Suaminya?" Sedikit menunduk melihat Putri dengan memicingkan matanya. "Gak mungkin! Gak, itu gak mungkin." Ia menegakkan wajahnya kembali sembari menggelengkan kepalanya kuat, menolak untuk percaya. "Bilang sama gue kalo semua itu omong kosong!" Teriak Alvino frustasi.
"Gak ada yang gak mungkin. Kenyataannya dia sudah memiliki suami. Mereka telah menikah, bahkan sekarang Jenn sedang mengandung!"
Deg! Deg! Deg!
Satu lagi kenyataan yang dibeberkan Putri membenturkan kekejutan yang mengecewakan, bagai tamparan keras di wajah tampannya. Alvino mundur beberapa langkah dengan lutut yang goyah dan merapuh.
"Dan dia hidup dengan bahagia. Jadi, percuma saja Lo kembali setelah sekian purnama yang terlewati. You not lucky!" Tandas putri begitu puas melemparkan bom dahsyat bagi Alvino.
...#####...
Di sebuah kamar yang gelap tanpa adanya pencahayaan, tepat di atas ranjang sederhana, di sana tampak sesosok tubuh mungil sedang meringkuk. Hari memang masih siang, tapi seluruh pintu jendela tertutup rapat dengan tirai yang menghalangi sinar agar tak dapat mengintip.
Sepi melingkupi ruangan kecil itu. Sayup-sayup terdengar isak kecil yang berdengung di sudut ranjang.
"Panggilan itu terdengar kembali setelah sekian purnama," lirih sebuah suara ayu yang terdengar serak.
"Sayangnya semua itu tak lagi memiliki arti apa-apa. Sekian purnama yang terlewati telah merubah segalanya." Menangis lagi.
"Jika harus memilih antara waktu itu dan sekarang ini, aku memilih hidupku yang sekarang, Tuhan! Aku bahagia tanpa dia, aku hidup dengan sangat baik tanpa hadirnya. Jangan pertemukan kami lagi, Tuhan!" Memohon pada Yang Maha Kuasa dalam tangisnya.
..._____πππππ_____...
...*...
...*...
...*...
...*...
...*...
...To be continued ......
...__________________...
...###...
Segini dulu yah gaes π€
Jangan lupa tinggalkan jejaknya. Like dan komen yah π
Terima kasih buat yang selalu setia nungguin Jenn dan Kenn π
Sampai jumpa di episode berikutnya π€
Ig author : @ag_sweetie0425