
Senja kala itu, mengantarkan seorang lelaki tampan kembali ke kontrakan kecilnya. Rasa lelah bercampur gerah, benar-benar membuatnya ingin segera mandi dan beristirahat. Baru saja memarkirkan motornya dan hendak masuk kedalam, langkah ringan lelaki tampan itu berhenti sejenak. Ketika mendengar bunyi motor yang berhenti tepat dibelakangnya, disertai suara berat seseorang yang tak asing lagi.
"Wah wah, mimpi apa gue didatengin orang songong ini?" Kenn menyindir sambil tersenyum miring.
"Lo tuh yang songong, gak pernah main kerumah" sahut teman baik Kenn sejak SMA.
"Gue kerja man, ngojek. Nggak kayak Lo. Kerja nggak kerja tetap bisa makan, dan tidur enak"
"Makanya, jangan sok mandiri. Balik gih kerja dibengkel. Atau mau di sirkuit om gue nggak ? ntar gue ngomong sama beliau. Gajinya lumayan man" Tawar temannya yang bernama Farel. Farel adalah teman baik Kenn, yang dulu pernah memberinya pekerjaan dibengkel keluarganya. Ya, Farel memiliki latar belakang keluarga yang berada. Dia kerap membantu Kenn ketika ada masalah.
"Nanti aja lah. Masih enakan ngojek. Santai, nggak ribet, nggak ada yang ngatur-ngatur, bebas" sahut Kenn sambil mempersilahkan Farel masuk.
"Terserah Lo dah"
Kedua lelaki itu masuk, dengan Farel yang langsung berbaring ditempat tidur. Sedangkan Kenn bergegas mandi karena kegerahan.
"Jadi, Lo datang kesini cuman buat numpang tidur ? gitu ?" tanya Kenn. Begitu keluar dari kamar mandi sudah dengan gaya khasnya. Celana jeans sobek, dengan kaos putih oblong sedikit longgar. Mendapati Farel yang berbaring.
"Makanya, kurang-kurangin waktu ngapelin pacar" lelaki itu tidak membalas. Masih tenang dengan posisinya.
"Kemarin-kemarin gue nganterin adik Lo ke kampus. Katanya Lo nggak pulang rumah. Nggak takut Lo, nginep terus dirumah pacar ?"
"Apanya yang mesti ditakutin Kenn, orang tidurnya ada yang nemenin" jawab Farel sambil terkekeh. Baru menanggapi ucapan Kenn yang sejak tadi.
"Nggak bener Lo. Nikahin anak gadis orang woi, jangan ditidurin terus"
"Orang dianya suka" katanya masih terkekeh, dan mendapat lemparan bantal dari Kenn. "Gue belum kepikiran kesitu bro. Tapi, nggak berniat buat ninggalin juga" sambungnya lagi dengan serius kali ini.
"Pesan gue, jangan jadi lelaki pecundang" Kenn menasehati.
"Ck, gimana dengan Lo ? betah banget sendiri. Emang bisa nahan ?"
"Bisalah, emang Lo ?" Kenn tersenyum mengejek.
"Nggak percaya juga sih. Tapi sekarang gue butuh ngopi, buat ntar bisa lembur sampai pagi" Farel tersenyum nakal, sambil mengedipkan sebelah matanya.
"Ngeres Lo" Kenn mendorong kepala temannya yang mesum itu. Lalu mengambil jaket yang tercantel digantungan belakang pintu.
"Ayo"
Hari pun semakin gelap. Dan kedua lelaki tampan itu bergegas keluar dari kontrakan Kenn. Mengendarai motor masing-masing, dan melaju dikegelapan malam.
๐ธ๐ธ๐ธ๐ธ๐ธ
Waktu menunjukkan pukul 08:00 malam. Disebuah cafe, tampak disana komplotan para gadis-gadis cantik sedang mengobrol, bercanda, tertawa ditemani beberapa sajian makanan dan minuman khas cafe tersebut. Merayakan kemenangan Putri. Sesekali pengunjung disana dibuat risi, dengan tingkah Jenn dan teman-temannya yang super berisik tak kenal tempat.
"Girls, kayaknya kita terlalu berisik. Liat deh, pada liatin kita gitu amat ya" Putri sadar dengan tatapan orang-orang pada mereka.
"Nggak usah peduli. Kita kan cantik jadi diliatin" ucap Maureen percaya diri.
"Nggak ah, malu. Pulang yuk" kagi kata Putri.
"Iya, pulang yuk. Alvino ijinin gue nggak lama" Jenn bersuara.
"Ck, Alvino lagi. Ya udah, kita cabut. Dari pada si mini ribut lagi sama pacar posesifnya" kesal Alena.
"Ok girls, let's go home"
Dan gadis-gadis cantik itu beranjak dari tempat duduk masing-masing. Berjalan menuju parkiran. Ketika sampai di parkiran, mereka dihadang tiga pemuda yang tidak asing lagi. Mereka adalah teman-teman sekampus, dan salah satu dari mereka adalah pacar pajangan Jenn. Yang tidak pernah dianggap gadis cantik itu.
"Hai girls, cantik-cantik banget sih"
"Santai cantik" ucap seorang dari mereka, yang adalah pacar cadangan Jenn. Lelaki itu berjalan mendekati Jenn, lalu dengan lancangnya menarik tangan gadis itu dari sana.
"Lo apa-apaan sih Will, lepasin" Jenn meringis dan menghempaskan tangan lelaki itu.
"Kenapa hah ? selama ini gue udah cukup sabar dicuekin Lo terus. Kali ini, nggak lagi sweetie. Lo harus ikut gue" katanya, dan kembali menarik tangan Jenn. Memaksanya masuk ke dalam mobil.
Alena dan yang lainnya tak tinggal diam. Mereka ikut menarik tangan Jenn yang lain. Sedangkan Putri menghadang lelaki itu.
"Lepasin sahabat gue nggak" ucap Putri garang.
"Gue pinjem sahabat Lo malam ini. Malam ini doang" ucapnya. Lalu memanggil kedua temannya yang lain, membereskan Putri dan yang lain. Dan semakin menarik Jenn dengan paksa. Jenn memberontak, dengan sesekali menoleh melihat teman-temannya yang dihalangi dua pria disana. Jenn memberontak memaksa melepaskan tangannya. Dan saat tangganya berhasil terlepas ...
Plaaakkk ...
Bunyi tamparan keras, yang tercipta dari sentuhan tangan mungil Jenn di pipi lelaki tadi.
"Lo jangan kurang ajar Willy, gue pikir Lo baik, ternyata Lo nggak lebih dari breng**k" ucap Jenn dengan kasar.
Lelaki itu terkekeh, sambil memegang pipinya yang ditandai tangan mungil Jenn. "Lo pikir, Lo udah bener ? Lo pikir, gue nggak tau kalo Lo punya lebih dari dua pacar ? jangan sok suci Lo. Apa bedanya Lo sama gue hah ? kalo gue breng**k, berarti Lo j***ng"
Jenn emosi, dan kembali ingin melayangkan satu tamparan lagi. Namun gerakannya terbaca oleh lelaki itu. Dia menangkap tangan kecil Jenn, dan meremasnya kuat. Jenn meringis.
"Sakit Willy, kamu gilak" teriak Jenn.
"Lebih sakit diabaikan Lo sweetie" kata Willy tersenyum jahat. Tangannya yang lain mencengkeram pipi Jenn, dan dengan gerak cepat ingin mencium gadis itu. Namun Jenn berusaha sekuat tenaga untuk menghindar. Dalam hatinya, mengingat kata-kata Alvino tadi sore ditelepon. Yang takut dia keluar malam. Jenn hampir saja menangisi keras kepalanya. Tak habis akal. Jenn menginjak dengan menekan kuat kaki Willy. Lelaki itu kesakitan dan langsung melepaskan Jenn. Namun kembali menangkapnya. Setelah sadar, gadis itu ingin melarikan diri dan ...
Plaaak ...
Tangan besar itu pun menampar pipi putih nan mulus Jenn. Seketika saja Jenn merasa pusing. Kepalanya terasa berat. Willy menyeret Jenn dengan kasar, masuk ke mobil dan menghempaskan gadis kecil itu dengan kuat dikursi samping kemudi. Namun belum sempat menutup pintu mobilnya, ada yang menarik kerah belakangnya dan membalikkan tubuhnya ...
Bugh ...
Bugh ...
"Brengsek, Bugh ... "
Berani-beraninya Lo nyakitin dia.
.
.
.
.
.
to be continued .....
.
.
.
Happy reading buddies ๐โค๏ธ