Simple But Perfect

Simple But Perfect
First Kiss Ever



"Ini udah sore, sayang. Aku anterin pulang yah," Kenn sedang membujuk kekasihnya untuk pulang. Sedari tadi gadisnya itu memaksa untuk ikut ke kontrakannya.


"Gak mau!" mulai cemberut. "Aku mau ikut pokonya!" tetap ngotot.


Kenn menggaruk pelipisnya menggunakan telunjuk. "Nanti kemalaman, Sayang! Mana Aku lagi kotor, ini juga bau." ia selalu sabar menghadapi gadis keras kepala yang sangat dicintainya itu.


Jenn langsung memeluk tubuh kekasihnya yang kotor dan masih berbalut seragam kerja yang agak basah oleh keringat. "Biarin. Aku suka! Aku nyaman kok!" mengeratkan pelukannya.


Kenn tertawa dan mengacak surai indah sang kekasih. "Bisa aja yah. Kalo udah begini, Aku bisa apa lagi coba?" tersenyum dan menggeleng melihat tingkah sang kekasih. "Ya udah, ayo!" mencium puncak kepala gadisnya sekilas.


"Haish, kenapa jadi manja gini sih? Perasaan gak pernah begini sama yang sebelumnya deh." ucap Fio sambil menggeleng. Pasangan itu tertawa melihat Kenn yang selalu saja tak berdaya menghadapi Jenn.


Dua pasangan itu pun berlalu dari sana. Dengan tujuan masing-masing. Tanpa mereka sadari, seseorang tengah memantau dari kejauhan.


"Cih, tunggu saja pembalasanku" orang itu pun berlalu dari sana setelah dua pasangan itu tidak terlihat lagi.


"Bentar yah. Aku mandi dulu" ucap Kenn begitu keduanya tiba di kontarkannya.


Jenn mengangguk. Setelah meletakkan tasnya, gadis cantik itu beranjak menuju dapur. Di sana ia mencari sesuatu yang bisa untuk dimakan. Dibukanya kulkas tetapi ia tak menemukan apapun di sana. Yang ada hanya telur dan mie instan. Kembali ia memeriksa rice cooker. Kosong.


"Ckck, seneng banget makan di luar. Dasar!" Jenn berdecak kesal. Ia mengambil beras lalu segera mencuci dan dimasak. Karena sudah sering ketempat itu, Jenn sudah tahu segala isi tempat itu, maka mudah baginya untuk mencari apa yang dia butuhkan.


Tujuannya ingin membuat nasi goreng. Hanya itu yang mudah dan praktis. Dan memang hanya bahan-bahan itu yang tersedia di kontrakan kekasihnya. Sambil menunggu nasinya masak, Jenn sibuk meracik bumbu dan membuat telur dadar. Namun sebelumnya, ia melepas kemeja putihnya dan menyisahkan tank top dan rok hitam panjang dibawah lutut. Tak lupa rambutnya dicepol sembarangan keatas, agar ia leluasa untuk memasak.


Kegaduhan di dapur saat itu mengundang perhatian Kenn yang baru saja keluar dari kamar mandi. Cepat-cepat ia berganti pakaian dan keluar dengan rambut yang masih basah dan handuk kecil di lehernya. Dilihatnya gadis itu tidak ada diruang tamu. Dia lalu menuju dapur. Di sana Kenn disuguhi pemandangan indah. Gadis cantik itu sedang berkutat dengan bumbu dan alat masak. Ia tampak lebih cantik dan seksi jika seperti ini. Pikir Kenn. Ia membayangkan akan hidup bahagia bersama gadis cantik itu suatu hari nanti.


Senang, Kau ada disini.


Kenn yang sedang bersandar di ambang pintu, tak tahan dan segara menghampiri gadis cantik yang sedang serius dengan aktivitasnya. Ia meletakkan handuk pada sandaran kursi di meja makan. Dari arah belakang, tangan besarnya melingkar di perut Jenn disertai satu kecupan di pipi gadisnya. Si cantik itu terperanjat kaget.


"Ih, ngagetin aja deh." memukul tangan kekasihnya. "Lepasin! sesak ini," ucapnya galak.


"Gak mau. Kamu sering loh giniin Aku pas lagi kerja, atau buru-buru. Nah sekarang giliran Kamu" mengeratkan pelukannya.


"Konteksnya beda, sayang. Ini masakannya gosong nanti. Mau makan nasi goreng gosong? iya?" berucap dengan sebelah tangan yang sibuk memegang spatula, dan sebelahnya lagi memegang tangan Kenn yang melilitnya.


"Berikan aku satu ciuman dulu, kalo gitu," menopang dagunya di bahu Jenn. Si cantik itu mengalah dan menoleh kesamping hendak mencium pipi kekasihnya. Tetapi Kenn dengan cepat memalingkan wajahnya menghadap Jenn.


Cup!


Ciuman yang di alamatkan pada pipi, berbelok arah dan malah berlabuh di bibir. Tetapi bukan Jenn yang mencium. Si cantik itu terpaku dengan mata membulat. Disertai debaran jantung yang tak lagi beraturan. Spatula di tangannya terlepas. Kenn yang telah memberikan ciuman itu padanya.


Lelaki itu tersenyum puas lalu perlahan mengurai pelukannya dan kembali berdiri tegak. Namun gadis cantik itu masih saja mematung di tempatnya dengan posisi yang masih sama. Melihat itu, Kenn mengernyit. Ia kembali menunduk untuk melihat wajah kekasihnya lebih dekat.


"Marah yah?" tanya Kenn. Ia berpikir diamnya gadis itu karena marah.


"First!" ucap Jenn begitu pelan hampir berbisik.


Kenn tersentak. "Sungguh?" Jenn mengangguk. Percaya tak percaya. Tetapi satu hal yang ia rasakan saat itu bahwa, dia bahagia menjadi yang pertama.


Kenn membalikan tubuh gadis cantik itu untuk berhadapan dengannya. Menatapnya begitu dalam. Jenn yang baru tersadar pun langsung memukul dada lelaki yang telah mencuri ciuman pertamanya.


"Aaakh! itu first kiss, Ak ... " ucapannya terhenti ketika Kenn kembali mengecup singkat bibir mungilnya.


"Ish, enak aj ... " sekali lagi Kenn mengulang hal yang sama.


"Ih, nyeb ... " lagi dan lagi. Kali ini Kenn menahan kedua tangan kecilnya. Ia kembali mengecup bibir kekasihnya dengan tenang, lembut, pelan dan lebih sopan. Ia melakukannya sedikit lama. Kelembutan itu membuat Jenn perlahan terbuai. Gadis itu mulai memejamkan matanya tak lagi berontak. Kenn berhenti sejenak dan menyentuhkan kening ke kening, membuat hidung mereka beradu.


"Terimakasih sudah menjadikanku yang pertama." bisik Kenn. Terpaan nafas hangat dan segar itu membuat Jenn terhanyut.


Dengan posisi yang masih tetap sama, perlahan tangan Kenn beralih mematikan kompor yang masih menyala. Kemudian ia kembali melingkarkan kedua tangannya pada pinggang Jenn dan menariknya agar lebih merapat.


"Biarkan aku menjadi yang pertama dan terakhir." bisiknya lalu kembali menyatukan bibir mereka dalam hasrat dan sensasi rasa baru, yang pertama kali dirasakan oleh keduanya.


Kenn semakin memperdalam ciumannya. Dengan gerakan lembut, ia mencecap dan menggigit pelan bibir ranum Jenn. Hingga tanpa sadar gadis cantik itu membuka mulutnya, membiarkan Kenn masuk lebih dalam lagi. Dan lebih leluasa untuk mengeksplor setiap inci bibirnya.


"Aku mencintaimu, Jenn. Selalu mencintaimu, sangat mencintaimu." bisiknya dan menjeda sejenak, memberi kesempatan bagi Jenn untuk menghirup oksigen yang mulai berkurang.


Tiga detik setelah itu, Kenn memulainya kembali. Sungguh ia tak dapat menyangkali bahwa, sentuhan ajaib ini telah membuatnya ketagihan. Bibir mungil yang sudah sangat lama didambakannya itu sungguh menggodanya untuk terus merasakan manis bak madu itu.


Keduanya kembali melebur dalam rasa cinta, dan dipenuhi bahagia yang hampir meledak. Rasa itu bagaikan kekuatan tegangan arus listrik yang mengaliri aliran darah dalam tubuh keduanya.


Semakin lama, semakin dalam. Tubuh Jenn yang sejak tadi tegang, canggung, dan kaku, perlahan mulai rileks. Tangan-tangan mungilnya yang sedari tadi meremas pinggiran kaos yang dipakai Kenn, mulai melemah. Dengan cepat Kenn menuntun kedua tangan itu untuk melingkar dilehernya. Dalam aktivitas bibirnya, Kenn masih sempat untuk tersenyum.


Ini memang pertama untuk kita. Tetapi aku akan menunjukkan dan mengajari cara terbaik versi diriku.


Kenn semakin lihai dalam permainannya. Merasakan remasan-remasan lembut pada rambut di bagian belakang kepalanya, membuat Kenn semakin terbakar dan kehilangan akal. Sapuan rasa hangat dan bahagia yang meluap-luap memenuhi rongga dada Kenn, ketika dirasai gadis cantik itu mulai membalas ciumannya.


Setelah cukup lama dan dirasakannya Jenn mulai kesusahan benafas, perlahan Kenn melepaskan ciumannya. Ia menatap kekasihnya yang sedang tersengal-sengal.


Kenn terkekeh. "Maaf, Sayang! bibirmu terlalu manis. Aku seperti tidak bisa berhenti untuk menikmatinya." ucap Kenn tersenyum lebar.


Jenn memukul dada lelaki itu dengan keras. "Omongan kamu itu difilter dikit napa?" ia mencebik kesal.


"Jangan digituin bibirnya. Minta dicium lagi nih? yang tadi masih kurang? Ayo! Aku mau-mau aja tuh." senang sekali menggoda sang kekasih.


Jenn lalu teringat masakannya. Ia menoleh kesamping dan melihat masakannya. Keningnya berkerut. "Kok mati? Nasinya gak gosong yah? syukurlah kalo gitu." Saat Kenn dengan cekatan mematikan kompornya tadi, ia tak menyadari hal itu. Karena sudah terbuai dengan sentuhan lembut lelaki yang telah menempati sebagian besar ruang dalam hatinya.


"Hebat kan? kompornya otomatis dengan hati pemiliknya. Dia tau kalo pemiliknya lagi on air jadi dia pun gak mau gangguin. Baik kan kompornya?" ucap Kenn mengarang indah.


"Hah? mana ada begitu? ngarang aja Kamu" mengambil wadah untuk mengisi masakannya dan menyajikannya di atas meja. Setelah itu ia duduk dan mengisi piring Kenn dengan Nasi goreng dan telur dadar.


Kenn lalu ikut duduk di sampingnya. Saat Jenn ingin mengambil piring yang lain untuk mengisi makanannya, Kenn menahan tangannya.


"Gak usah. Kita makan sepiring aja." menaruh kembali piring yang dipegang kekasihnya.


"Sekarang buka mulutnya, aku suapin" menyodorkan sendok yang berisi makanan dimulut Jenn.


"Kamu yang makan duluan. Aku masakin buat kamu." tolak Jenn. Ia ingin Kenn yang duluan mencicipi masakannya.


"Baiklah!" memasukkan kembali sendok ke mulutnya. Setelah itu ia menyuapi kekasihnya.


"Enak. Paket komplit ini." satu suapan lagi untuk Jenn. "Udah cantik, baik, pinter masak lagi. Pacar siapa sih ini?" terus menyuapi kekasihnya. Tanpa berniat untuk makan. Jenn mengangkat tangannya memberi kode agar Kenn berhenti menyuapinya.


"Pacar kamu lah. Sekarang aku yang suapin kamu. Sini" mengambil sendok dari tangan Kenn dan mulai menyuapi lelaki kesayangannya. Begitu seterusnya sampai selesai.


"Aku yang nanti mencuci piringnya." ucap Kenn sambil berdiri.


"Okay!" sahut Jenn. Gadis itu lalu menemani sang kekasih hingga selesai dengan kegiatan mencuci piringnya.


Keduanya kini bersantai di ruang tamu dengan diselingi obrolan ringan.


"Kapan mulai KKN-nya?" tanya Kenn.


"Seminggu lagi." menyandarkan kepalanya di bahu sang kekasih.


"Kok gak semangat?" mengernyit.


"Abisnya males kalo jauhan sama Kamu. Lokasinya di desa." memelas.


"Loh, gak boleh gitu, sayang." mengelus kepala gadisnya. "Jangan jadikan Aku alasan Kamu untuk malas. Semangat dong," mencubit hidung bangir gadis cantik itu. "Aku janji kalo ada waktu, aku akan mengunjungi Kamu di sana. Lagian kan cuman sebulan." memberikan semangat untuk gadis kesayangannya.


"Janji yah," memelas lagi.


"Iya. Aku janji, sayang!" mencium kening gadis itu sekilas.


Drrrttt, drrrrttt, drrrrttt !


Dering ponsel Kenn berbunyi. Dilihatnya Farel yang menelpon.


"Siapa?" tanya Jenn.


"Farel. Kayaknya ada yang mau diomongin. Sekarang Aku anterin pulang yah," ucap Kenn dan Jenn pun mengangguk.


Ia membereskan barang-barangnya dan segera diantar oleh Kenn pulang ke rumahnya, karena hari pun sudah sangat malam.


Dalam perjalanannya kembali setelah mengantarkan kekasihnya, Kenn langsung menuju rumah Farel. Namun ada sesuatu yang mengusik perhatiannya. Lelaki tampan itu merasakan seperti ada yang mengikutinya sejak tadi dari rumah Jenn. Perasaannya mendadak tak enak. Bukan dirinya yang ia khawatirkan. Tetapi, Jenn.


Siapa sih?!


_______________πŸ’•πŸ’•πŸ’•πŸ’•______________


.


.


.


.


.


to be continued ...


__________________


Hai sayang-sayangku πŸ‘‹πŸ˜š


Jangan lupa like, komen, rate, dan tambahkan ke favorit yah ❀️


Terimakasih buat yang selalu setia mampir di cerita receh ini πŸ™πŸ€—πŸ€—


Jangan pada bosen yah πŸ₯°πŸ€—


Selamat membaca πŸ€—πŸ˜˜β€οΈ


Plissss follow πŸ‘‡


Ig : @ag_sweetie0425