Simple But Perfect

Simple But Perfect
Guardian Angel



Mengawali hari baru, pekan yang baru namun tidak dengan semangat yang baru.


Jenn begitu tak bersemangat pagi ini. Mengingat sore ini kekasih hatinya akan kembali ke kota xxx. Gadis cantik itu bangun dengan lesu.


"Semangat dong, bebs" ucap Putri menyemangati Jenn.


"Iya mini. Lama-lama nanti bakal kayak biasanya juga kan ? ayolah, si mini yang ceria itu kemana sih ?" goda Rossa yang sukses menerbitkan senyum manis Jenn.


"Iyah deh" Jenn berusaha tersenyum meski sedih itu belum sepenuhnya hilang. "Mini's back !" ucap Jenn dengan cerianya, sambil mengacungkan kedua tangannya ke atas.


"Nah, gitu kan bagus. Ini baru Jennifer. Ayo ! siap-siap dan ke kampus, jangan sampai telat" perintah Rossa.


"Siaaaaapppp mamiiii" teriak Jenn dan Putri kompak.


__________


"Tumben, makan Lo banyak banget Jenn" tanya Putri heran dengan porsi makan Jenn yang banyak. Tidak seperti biasanya.


"Dari kemarin gue sedih, mewek, nggak nafsu makan. Sekarang kan gue harus semangat, itu juga butuh tenaga, jadi ... yang masuk juga harus banyak dong" ucap Jenn di sela-sela makannya.


"Nah bagus kalo gitu. Ini nih, makan punya gue juga. Gue ikhlas, asal Lo bahagia, nggak sedih-sedih lagi" Rossa menyodorkan piring makannya yang berisi nasi goreng pada Jenn.


"Enggak ah, ini aja nggak tahu abis apa nggak. Lo pikir perut gue gentong ? nggak muat ini" tolak Jenn.


"Loh, katanya butuh tenaga ... nggak jelas" Rossa jadi kesal dibuatnya.


"Iya, tapi nggak sebanyak itu juga kali" Jenn memutar bola matanya.


"Serah Lo dah. Cepetan makannya. Telat baru tau rasa"


Dan ketiganya pun mempercepat acara sarapan mereka. Setelah itu Putri yang duluan ke kampus, karena jadwalnya lebih awal dari dua sahabatnya.


"Bye, sayang-sayangku. Duluan yah !" Putri membunyikan klakson motornya lalu berlalu dari sana.


Jenn dan Rossa masih membersihkan piring bekas sarapan mereka. Setelah itu keduanya mengambil tas dan bergegas keluar rumah hendak menaiki motor. Namun bunyi klakson dari luar pagar membuat keduanya menoleh. Tampak sebuah mobil sedang terparkir disana, dengan pengemudi tampan yang sedang tersenyum manis di balik kemudi.


"Bi" Jenn tersenyum pada Kekasihnya.


"Kalo gitu, gue dulan ya, bebs. Udah ada bodyguard Lo tuh. Ingat cepetan ! jangan sampai telat" Rossa berucap sedikit galak. Entahlah, dia tidak begitu menyukai adanya Alvino disana.


"Iya iya. Bye mami, be careful" Jenn melambaikan tangannya pada Rossa.


Gadis manis dengan motor scoopy itu keluar dari sana. Saat melewati mobil Alvino, dia melirik sekilas ke arah lelaki tampan itu dengan tatapannya yang datar. Kebiasaan si Rossa. Dia Baik, dewasa, keibuan, tapi pelit senyum dan sedikit tertutup. Sangat jarang melihat gadis itu tersenyum. Berbanding terbalik dengan Jenn dan Putri yang murah senyum juga friendly.


Setelah kepergian Rossa, Jenn melangkah menghampiri kekasihnya. Sebelum masuk ke mobil, Jenn terlebih dulu menutup pagar rumah mereka.


"Aku kira lagi sibuk" ucap Jenn begitu masuk ke mobil.


"Ya, emang lagi sibuk" seru Alvino sambil menghidupkan kembali mesin mobil dan melaju dengan kecepatan sedang menuju kampus.


"Lah, kalau sibuk ngapain maksa buat nganterin aku ?" gadis itu mengernyit.


"Nah, Justru ini kesibukannya, hon. Ditambah sibuk mikirin kamu terus" Alvino cengengesan.


"Idih, pagi-pagi udah gombal. Udah kenyang aku, bi. Jangan dibuat kenyang lagi sama gombalan kamu" Jenn tersenyum malu.


"Di simpan dong, buat stok besok" canda Alvino.


"Gak ah, keburu basi. Kan sayang" Jenn tersenyum.


"Simpennya di tempat yang aman lah, biar awet"


"Kalo gitu tambahin dulu dong. Jangan satu-satu. Banyakin lagi stoknya biar di simpen sekaligus"


Dan candaan-candaan itu membuat keduanya tertawa bahagia mengiringi perjalanan mereka pagi itu.


Sesampainya di kampus. Jenn yang hendak turun, namun tertahan oleh Alvino yang menarik ujung bajunya.


"Jangan main turun gitu aja dong, hon" Jenn lantas menoleh.


"Kenapa emang ?" tanya Jenn bingung.


"Pamit dulu kek, cium dulu kek, apa kek" canda Alvino mengedipkan matanya.


Jenn tersenyum menempelkan tangan mungilnya ke wajah Alvino, lalu menyapu pelan dengan jemari lentiknya. Lelaki tampan berlesung pipi itu lantas memejamkan matanya. Menikmati sentuhan lembut sang kekasih.


"Aku tahu, bi. Tapi emang sengaja kali ini. Aku harus ngebiasain diri lagi tanpa kamu. Takut gak relain kamu pergi" ucap Jenn membuat atmosfer dalam mobil itu menjadi mellow.


Saat Jenn ingin menurunkan tangannya, Alvino menahannya dengan cepat. Menggenggam dan mengecup lembut tangan mungil itu.


"Cuman sementara, hon ! aku akan kembali lagi. Aku pergi juga buat kamu, demi kamu. Harus kamu tahu, aku juga gak rela ninggalin kamu, tapi ... aku harus lakuin ini, Jenn !" menempelkan telapak tangan Jenn di pipinya.


Gadis cantik berambut kecoklatan itu mengangguk dan tersenyum kecil. "I know , pergilah. Aku akan tetap disini dan menunggumu" menatap Alvino dengan sendu.


Alvino membawa gadisnya itu ke dalam pelukannya. "Masuklah, nanti aku jemput lagi" memberikan kecupan singkat di dahi gadis cantik bertubuh mungil itu.


"Ntar aku ikut ke bandara tapi" Jenn memelas dan melepaskan diri dari pelukan kekasihnya.


"Iyah, sana masuk. Nanti telat loh" Jenn mengangguk dan keluar dari mobil. Melambaikan tangannya pada sang kekasih dan berlari kecil menuju kelasnya.


Alvino tidak bergerak dari tempatnya. Lelaki tampan itu masih disana. Mengawasi serta mengantarkan gadisnya dengan pandangannya hingga tubuh mungil itu tak terlihat lagi.


"Dimana dia ?" Alvino menyapukan pandangannya ke sekeliling kampus itu. Mencari sosok lain.


Dia bertahan selama beberapa menit disana, hingga tatapan elangnya mendapatkan target. Dilihatnya seseorang yang ditungguinya baru saja turun dari mobil. Dengan cepat Alvino mengenakan kacamata hitam yang menambah pesonanya, lalu keluar dari mobil dan langsung menuju target.


Seseorang yang baru berjalan beberapa langkah dari mobilnya, langkahnya tiba-tiba terhenti. Dia terperanjat begitu melihat seseorang yang menarik ranselnya. Seketika ketakutan melingkupinya.


"Ikut gue, jangan ada bantahan" ancam Alvino. Dan orang itu hanya mengangguk patuh.


Alvino menarik lelaki itu menjauh dari parkiran yang saat itu tidak terlalu ramai. Sampai melawati bangunan-bangunan sepi di kampus tersebut. Alvino menyeretnya hingga bagian belakang kampus besar itu.


Lelaki itu begitu pucat saat Alvino mendorongnya dengan kasar dan menyandarkan tubuhnya ke dinding. Dia tahu betul siapa laki-laki tampan yang ada di hadapannya.


"Lo tau siapa gue kan ?" tanya Alvino sambil mencengkram kerah baju lelaki itu.


Dia mengangguk sambil meringis menahan sakit. "Maaf kak, gue ... "


Bugh ...


Belum sempat meneruskan kalimatnya, satu pukulan lagi diberikan oleh Alvino.


"Maaf untuk apa hah ?"


"Lo tau apa kesalahan Lo ?"


Lelaki itu mengangguk.


Bugh ...


Satu pukulan lagi di bagian perutnya.


"Lo tau sebanyak apa kesalahan Lo ?"


Mengangguk lagi dan ...


Bugh ... "Itu karena berani menyakitinya"


Bugh ... "Itu karena membuatnya masuk rumah sakit"


Bugh ... "Itu karena berani memacarinya"


Bugh ... "Dan itu karena berani mendekatinya dengan niat buruk"


Pukulan bertubi-tubi dari Alvino membuat lelaki itu lemas dan tak berdaya. Bahkan, terbatuk-batuk.


"Gue peringatkan sekali lagi. Lo dan kakak Lo yang ular itu, jangan pernah lagi berniat buruk atau sampai berani nyakitin dia lagi. Ingat ! ini belum seberapa. Lo akan dapat yang lebih mengerikan dari ini, kalo sampai terulang lagi. Ngerti ?" ucap Alvino dengan sangar.


Alvino menepuk-nepuk pipi lelaki yang bernama Willy, dengan kedua tangannya. "Jadilah lelaki yang baik. Jangan sesat seperti kakak Lo yang ular itu. Dan ya, satu lagi, ingat ! Jenn itu hanya milik gue. Bilang juga buat siapa saja yang mendekatinya" ucap Alvino dan langsung berjalan meninggalkan Willy dalam kesakitannya.


"Shit ! apes banget sih. Gara-gara kakak sih" sungut Willy dalam rintihannya.


"Udah di hajar habis-habisan malam itu, eh masih juga dipukulin kekasihnya. Rupanya dia punya banyak guardian angel. Ngeri gue, kapok dah" lelaki itu bermonolog.


🌸🌸🌸🌸🌸


"Mini" panggil Fio dengan suara setengah berbisik. Kebetulan gadis itu duduk berdekatan dengan Jenn.


Jenn menoleh. "Apa" bertanya tanpa suara. Hanya dengan gerakan mulut.


"Ada yang nitip salam" bisik Fio lagi.


Jenn menaikkan sebelah alisnya. "Who is he ?" tanya Jenn penasaran.


Fio menggulung bukunya membentuk bulatan panjang dan menempelkannya di kuping Jenn, sebagai sarana bisik-berbisik mereka.


"Orang yang pernah nolongin Lo"


Deg ... ! seketika jantung Jenn berdebar, mengingat satu nama yang melintasi benaknya saat itu juga.


Tentu Jenn tahu siapa orang yang dimaksud Fio. Karena hanya dia yang selalu ada saat Jenn dalam bahaya.


Jenn lantas menoleh menatap Fio begitu lekat. Tatapannya seolah meminta penjelasan. Fio kembali menggunakan gulungan buku tadi.


"Nanti abis kelas ini gue kasi tau. Tapi ini rahasia kita berdua. Jangan sampai yang lain tau"


Jenn makin penasaran dibuat Fio. Gadis itu paham betul tatapan Jenn.


"Intinya dia suka sama Lo" Fio mengedipkan sebelah matanya. Sedangkan Jenn melotot.


Deg ! Deg !


Hei jantung, diamlah ditempat. Jangan berisik !


Ini hati juga, kenapa mendadak gelisah kek gini ?


Aaarrrrggghh ,,, rasa apa ini ?


Jenn membatin dan berteriak dalam hati.


.


.


.


.


.


to be continued ...


_________________


Hai semuanya πŸ‘‹


jangan lupa tinggalkan jejaknya yah πŸ™πŸ₯°


plisss ! give your like, rate, n' comment πŸ€—πŸ€—


Thinkyuuuw for come by πŸ™πŸ€—πŸ₯°πŸ₯°


Happy reading buddies 😊❀️