Simple But Perfect

Simple But Perfect
Love is Gone



...~ Happy Reading ~...


...___________________...


...*...


...*...


...*...


"Aku masih ingin kamu di sini, temani aku. Please, don't go!"


Itu gak mungkin! Situasi macam apa ini, Tuhan? Ada yang menungguku di luar, dan tidak seharusnya aku di sini.


"Sekali ini saja." Alvino menatap Jenn dengan sorot mata memohon. Lelaki tampan yang selalu memesona itu, kini terbaring lemah dan tak bisa banyak bergerak. Meskipun begitu, ia masih sempat-sempatnya ingin meraih tangan Jenn, tapi wanita cantik yang telah bersuami itu menolaknya dengan halus.


Ingin marah? Kedengarannya lucu bukan? Siapa diri ini? Seperti itulah yang terbesit di pikiran Alvino.


Ia menyadari betul, bahwa wanita cantik yang berdiri di samping ranjangnya saat ini, tidaklah mungkin bisa menemuinya tanpa izin seorang suami. Ia tahu betul bahwa dirinya tidak lagi memiliki hak apapun untuk memaksa ataupun membatasi Jenn. Namun, tetap saja hatinya ingin egois.


Sekali lagi Alvino berusaha meraih tangan Jenn, dan kali ini ia berhasil. Meskipun ia tahu bahwa Jenn begitu risih dengan situasinya. "Seberapa banyak pun kamu menolak, aku akan tetap mengejarmu seperti dulu. Aku pun ingin egois, Jenn. Dan aku masih seegois dulu. Aku masih Alvino yang mencintaimu secara berlebihan dengan keegoisanku."


I'm selfish, i know


I can't let you go


So find someone great


But don't find no one better


I hope you're happy


But don't be happier.


[ Happier - Olivia Rodrigo ]


Kata-katanya menyeret Jenn ke masa lalu. Masa dimana lelaki itu masih menjadi pemilik hatinya. Masa dimana Alvino masih memiliki hak untuk mengaturnya dengan segala keinginan lelaki itu. Masa dimana Jenn selalu mengalah dan bersabar untuknya. Masa dimana ia selalu dibuat marah tapi tak bisa melampiaskan.


Melihat wanita itu yang terus saja berdiam diri sedari tadi, Alvino lalu mencoba mengeratkan genggamannya. Hal itu membuat Jenn tersentak dan langsung hendak melepaskan tangannya, tapi semakin ditahan oleh Alvino.


"Apa sedikit saja rasa itu sudah tak lagi ada?" Menatap Jenn dengan tatapan intimidasi. "Kenapa diam saja? Ngomong, Jenn!" Suaranya pelan tapi terkesan memaksa.


"Kamu perlu banyak istirahat, Al." Akhirnya Jenn pun bersuara. Namun, percayalah! Wanita cantik itu tengah menahan gemuruh di dadanya. Antara ingin menangis dan membenci. Ia tak sanggup untuk berkata-kata. Bibirnya begitu kelu.


Berbeda dengan Alvino. Lelaki itu menyunggingkan senyum manisnya kala mendengarkan panggilan Jenn. Ya, semua yang dekat dan mengenalnya, memanggil dia Vino. Hanya Jenn yang memanggilnya seperti tadi, Al. Itu panggilan spesial. Dan ini untuk pertama kalinya setelah sekian purnama ia tak mendengar panggilan itu lagi. Perasaan bahagia membalut hatinya.


"Temani aku, honey!" ucap Alvino begitu lirih sembari meremas lembut jemari Jenn.


Wanita itu sekali lagi tersentak dengan sebuah rasa yang mengganjal. "Jangan seperti ini, aku mohon." Mencoba melepaskan genggaman Alvino dengan perlahan. Perasaan tak nyaman menjalari hati Jenn. "A-ak-aku ...."


"Kamu merasa menghianatinya?" tanya Alvino tepat sasaran. Ia bisa membaca itu dari ekspresi wajah Jenn. "Lalu bagaimana denganku? Saat kamu berduaan dengannya, bermesraan bersamanya, bahkan melakukan hal yang tidak pernah aku lakukan padamu, apakah kamu tidak merasa sedang menghianatiku?" Pertanyaan telak yang memukul dada Jenn dengan keras.


Bumil cantik itu lantas membuang pandangannya ke tempat lain sambil menggigit bibirnya kuat menahan perih di matanya. Gejolak di hatinya mulai mengamuk, meronta ingin lari saja dari sana.


Dia tak tahu apa yang harus dia katakan. Situasi ini sungguh menyiksanya. Perasaan bersalah itu sedikit menyentil hatinya. Namun, ia tak menyesalinya. Tidak sama sekali. Justru rasanya ia ingin sekali berteriak memaki, dan menghujani Alvino dengan ribuan tanya yang berbulan-bulan lalu bersarang di benaknya.


Namun, kembali lagi Jenn menganggap bahwa semua itu tak lagi penting untuk dibahas. Jauh sebelum lelaki itu kembali, Jenn sudah memantapkan hatinya untuk satu cinta yang baru. Ia telah melabuhkan hatinya di dermaga yang menyajikan kenyamanan dan ketenangan.


"Aku tidak percaya dengan semua ini, Jenn." Alvino memalingkan wajahnya. Perlahan ia pun melepaskan tangan Jenn. "Ramalanku ternyata salah." Tertawa hambar. Sedangkan Jenn sudah tak mampu lagi, dan air mata itu lolos begitu saja. "Aku pikir hanya aku yang bisa membahagiakanmu ... aku pikir, hanya aku yang bisa membuatmu jatuh cinta." Tertawa lagi. "Rupanya aku terlalu banyak bermimpi selama ini. Aku salah. Ekspektasi tak seindah angan memang."


"A-ak-aku ... maafkan aku!" Pada akhirnya hanya kata maaf yang terucap. Sejujurnya, Jenn sedih melihat Alvino seperti saat ini. Lelaki yang dulu sangat dicintainya, disanjungnya, lelaki pertama yang mengenalkannya pada cinta, kini semua rasa itu telah lenyap.


"Aku gak butuh kata itu ... aku butuh cintamu, aku mau kamu." Berbicara tapi tak mau lagi berbalik dan melihat wajah Jenn.


"I-it-itu gak mungkin," ucap Jenn begitu pelan hampir berbisik. Ia tengah menahan isak setengah mati. Bulir-bulir bening itu bercucuran tiada henti. Ini momen memilukan bagi keduanya.


Alvino memejamkan matanya. "Kenapa gak mungkin? Tidur bersamanya saja kamu memungkinkan itu terjadi, kenapa kembali padaku tidak mungkin?" Mulai terbawa emosi. Jenn kaget dan semakin menangis tetapi dengan suara yang tertahan. "Jawab aku, Jennifer!" Marah, tapi tak bisa terlampiaskan. Dengan kondisi yang lemah, Alvino bergerak ingin melepaskan infus di tangannya.


Melihat itu, Jenn refleks menepis tangan Alvino. Ia pun langsung terduduk pada kursi di samping ranjang, dengan berani ia meraih tangan Alvino dan menggenggamnya. "Marahlah padaku sepuasmu, bencilah padaku, tapi aku mohon, jangan sakiti dirimu seperti ini." Berucap dengan sesegukan. "Aku gak mau kamu sakit dan terluka."


"Tapi kamu sudah menyakiti dan melukaiku," Kembali memalingkan wajahnya menatap Jenn.


"Maafkan aku." Jenn semakin tertunduk. Sebelah tangannya terangkat dan menghapus basah di pipinya. "Ini sudah larut, aku harus pulang." Mengangkat wajahnya menatap Alvino. Bersamaan dengan itu dia pun bangkit dan melepaskan tangan dari Alvino. Dia teringat suaminya yang masih menunggu di luar.


"Tak bisakah malam ini saja temani aku?" Sangat tidak rela jika wanita itu pergi. Dan setiap ucapannya menghadirkan sayatan di hati Jenn.


"Jika benar aku telah berkhianat, maka izinkanlah itu terjadi hanya sekali. Jangan memaksaku mengulanginya pada hati yang lain." ucap Jenn dan langsung berbalik. Dia tidak mau semakin lama di tempat itu. Sementara itu, hati Alvino semakin terluka mendengar perkataannya. Sakit di tubuhnya tidak sebanding dengan rasa sakit di hatinya. Alvino menyadari bahwa cinta wanita itu telah sepenuhnya berpaling. Cinta wanita yang berdiri membelakanginya saat ini, sesungguhnya telah hilang dan pergi. Perih menyerang hati serta netranya. Tidak! Ia tidak ingin air mata keparat itu menurunkan harga dirinya.


"Istirahatlah dan cepatlah sembuh. Aku telah meminta pada Tuhan, untuk mengirimkanmu seorang wanita yang jauh lebih baik dari padaku. Lupakanlah aku, dan jalani hidupmu dengan bahagia." Setelah mengucapkan itu, kakinya pun melangkah pergi.


"Jangan menyuruhku mencari wanita yang lebih baik. Karena wanita baik itu baru saja memaksaku untuk melupakannya. Bagaimana itu mungkin? Tidak ada yang sepertimu Jennifer! Kamulah bahagiaku," ucap Alvino dengan setetes air mata yang turun tanpa izin darinya, tapi Jenn tak lagi berpaling. Ia terus berjalan sampai mencapai pintu. Sebelum benar-benar keluar, ia berdiri sejenak sambil memegangi gagang pintu dan ingin berbalik melihat Alvino, tapi hatinya tak mau membiarkan itu. Pada akhirnya wanita itu pun berlalu pergi.


Alvino pun kembali memalingkan wajahnya tidak ingin melihat kepergian wanita itu. "Aku membencimu ... sangat membencimu." Lain di bibir, lain di hati. Lelaki tampan itu menangis dalam diam dengan sebuah melodi yang berdengung di telinganya. Seolah mewakilkan segenap rasa di jiwanya.


(Jangan pergi malam ini ...)


Stay here one more time ...


(Tetaplah di sini sekali lagi ...)


Remind me what is like,


(Mengingatkanku akan bagaimana rasanya?


And let's fall in love one more time


(Dan mari kita jatuh cinta sekali lagi)


I need you now by my side


(Aku membutuhkanmu sekarang di sisiku?


It tears me up when you turn me down


(Ini membuatku menangis di kala kau membuatku terpuruk)


I'm begging please, just stick around


(Kumohon, tetaplah di sini)


I'm sorry, don't leave me, i want you here with me


(Maafkan aku, jangan tinggalkan aku, kuingin kau di sini denganku)


I know that your love is gone


(Kutahu bahwa cintamu telah hilang)


I can't breathe, i'm so weak, i know this isn't easy


(Sesak dada ini, aku lemah, kutahu ini tidaklah mudah)


Don't tell me that your love is gone


(Jangan bilang padaku bahwa cintamu telah hilang)


That your love is gone


(Bahwa cintamu telah hilang)


[Love is gone - Slander]


..._____πŸ’”πŸ’”πŸ’”πŸ’”πŸ’”_____...


...*...


...*...


...*...


...*...


...*...


...To be continued ......


...__________________...


...###...


Hai sayangΒ²ku πŸ‘‹πŸ‘‹ Maafkan aku yang baru bisa up hari ini πŸ™πŸ™ˆπŸ™ˆ


Terima kasih buat yang masih selalu setia di kapal ini πŸ€— Terima kasih banyak man-teman πŸ™πŸ™


Jangan lupa like dan komen yah 😍


Sampai jumpa di episode berikutnya πŸ€—


Semoga tidak ada kendala lagi 😌


I love you all, guys 😘πŸ₯°


Ig author : @ag_sweetie0425