
"Are you ok, kakak ipar ?" tanya Reza ketika keduanya berada dalam mobil.
Seperti permintaan Alvino. Reza mulai menjalankan tugasnya sore itu. Menjaga dan memastikan gadis cantik itu baik-baik saja.
"Ish, stop ! dengan panggilan Lo itu, Za" ucap Jenn dengan malas.
"Lah, kenapa ? Lo sekarang kan kakak ipar gue, Jenn" berucap sambil mengandarai mobil dengan kecepatan sedang.
"Masih pacar, belum juga jadi calon" Jenn memutar bola matanya.
"Tetep aja. Mulai sekarang itu akan menjadi panggilan gue buat Lo" Reza tersenyum melirik wajah kesal Jenn.
"Ck, serah Lo dah" malas berdebat.
Reza terkekeh. "Gak suka emang ?"
Jenn mengangguk. Menoleh pada Reza lalu menggeleng lagi "Gak suka, gelllaayyyy" menjawab dengan gaya alay yang manja.
Dan keduanya tertawa renyah mewarnai sore dalam perjalanan pulang ke rumah Jenn. Tak ada lagi kecanggungan di antara mereka. Semua rasa dan status di antara mereka sudah berubah sejak adanya Alvino.
Setelah mengantarkan Jenn sampai di depan rumah, Reza langsung berlalu pergi dari sana.
πΈπΈπΈπΈπΈ
Rumah Farel
Tok tok tok ...
"Kak, gue masuk yah" teriak Fanya dari balik pintu kamar kakaknya, Farel.
Tidak ada sahutan. Gadis itu tahu bahwa kakaknya pura-pura tertidur. Tanpa menunggu izin dari kakaknya, gadis itu langsung membuka pintu kamar yang memang tidak dikunci. Masuk, lalu menutupnya kembali.
Berjalan ke arah tempat tidur. Tampak seorang lelaki sedang bertelungkup disana.
"Gak usah pura-pura, kak" mengambil bantal dan menimpuk belakang kepala Farel.
"Fanyaaaaa !" geram Farel, lantas membalikan tubuhnya. "Mau apa Lo kesini ? ganggu aje deh" sungut Farel.
"Makanya, kalo jam tidur, ya tidur. Jangan begadang" ucap Fanya memarahi kakaknya.
"Gak ada urusannya sama Lo. Ada apa kesini ? kalo gak ada, sana keluar. Gue masih mau tidur" Farel kesal dengan adiknya. Kemudian dia menarik guling yang dipakainya untuk menutupi matanya.
Fanya naik duduk di atas tempat tidur, di sebelah kakaknya.
"Ck, mau ngobrol bentar aja, kak !" memposisikan duduknya berhadapan dengan sang kakak yang masih betah memejamkan matanya "Tadi ... kak' Kenn main dibengkel ya ?" tanya Fanya.
"Hmm" menjawab malas.
"Banyak costumers tadi ?" tanya Fanya lagi.
"Hmm"
"Tapi, kak Kenn beneran udah balik kerja lagi di bengkel kan ?"
"Gak'
"Lah, iseng-iseng aja gitu ?"
Tidak menjawab. Memindahkan guling lalu membuka mata dan menatap adiknya dengan penuh selidik.
"Kenapa emang ? ngapain nanyain Kenn dari tadi ?" sekarang giliran Farel yang bertanya.
"Enggak, nanya doang kok" menjawab santai. Farel tak lantas percaya. Masih menatap Fanya menyelidik.
"Ntar kak Kenn dateng kesini kan, kak ?"
"Ada urusan apa sih, Lo sama Kenn ?" tidak menjawab. Malah balik bertanya. Mulai penasaran.
"Belum ada urusan. Kalo ntar kak Kenn sudah disini, nah baru mulai urusannya" menjawab dengan cekikikan.
"Kasih tau gak ? kalo gak, gue teleponin Kenn bilang gak usah dateng" saking penasarannya sampai mengancam.
"Idih, kepo banget deh. Gak ! ini urusan gue ma kak Kenn" tak mau kalah. Tetap kekeuh.
"Ok" bangun meraih ponsel yang tergeletak diatas nakas. Hendak menelepon Kenn. Melihat itu Fanya ingin meraih ponsel kakaknya. Namun Farel dengan cepat menangkap tangannya.
"Ish, jangan dong kak. Nyebelin banget sih" cemberut.
"Makanya ngomong aja. Ayo cepetan !" paksa Farel.
"Cuman mau minta di anterin kak Kenn besok ke kampus. Udah, itu doang" menjawab dengan malas.
Farel sangsi. "Gak percaya" menaikkan sebelah alisnya.
"Hadew, punya kakak gini amat yah. Lepasin tangan gue gak ?" Fanya jadi kesal dengan kakaknya.
"Emang mau kemana hah ? udah gangguin tidur orang, trus main tinggal gitu aja ? gak bisa !" semakin kencang memegang tangan Fanya.
"Mau minta bantuan mama" menjawab ketus.
"Yaelah, udah segede ini dikit-dikit minta bantuan mama. Kalah Lo sama bocah SD" tersenyum mengejek adiknya. " Udah, bilang aja dulu. Setelah itu, gue langsung ngubungin Kenn minta ke sini" rayu Farel.
"Ck, nyebelin. Awas aja kalo gak telepon" balik mengancam kakaknya. "Ada pesan buat kak Kenn" lanjutnya dengan ketus.
Farel mengernyit. "Pesan ? dari siapa ?" tanya Farel ssemakin penasaran dibuat adiknya.
"Dari salah satu costumers" menjawab singkat.
"Emang tu costumers kenal sama Lo ? ketemu dimana ? pesan apaan emang ?" Farel memberondong Fanya dengan pertanyaan.
"Haisss, kaum Adam juga kepo yah, kirain itu berlaku cuman untuk kaum hawa" ejek Fanya.
"Bukan kepo, tapi tingkah Lo mencurigakan, Fanyaa " geram Farel. "Apa susahnya ngomong hah," Farel yang tak tahan langsung menggelitik, mengerjai Fanya untuk mau memberitahukan padanya.
"Terus ?"
"Ya, gue nanya lah ciri-cirinya. Dari yang dia jelasin, gue tau aja itu pasti kak Kenn. Siapa lagi di bengkel yang ganteng kalo bukan kak Kenn ?" ucap Fanya.
"Terus teman Lo mau apa ? jangan bilang suka lagi sama Kenn"
"Lah, kalo benar emang kenapa ? gak boleh ?"
Farel tersenyum smirk. "Selamat mencoba. Good luck buat Lo dan teman Lo ?" Farel terkekeh dan bergerak turun dari tempat tidur menuju kamar mandi.
"Mau kemana kak ?" teriak Fanya.
"Ngapel lah" menjawab dengan terus berjalan.
"Bilang dulu kak Kenn buat kesini" masih teriak.
Farel yang sudah masuk di dalam kamar mandi dan menutup pintu, namun kembali dibuka dan menyahut adiknya. "Santai aja, ntar juga dia kesini. Tengah malam tapi. Tunggu gue selesai ngapel" mengedipkan matanya lalu terbahak dan kembali menutup pintu kamar mandi.
"Aaaaaa, dasar resek, nyebelin" berteriak mengacak-acak tempat tidur kakaknya.
πΈπΈπΈπΈπΈ
Setelah seharian iseng-iseng di bengkel milik papanya Farel, Kenn kembali dengan aktivitasnya seperti biasa. Memenuhi panggilan dan pesan-pesan para pelanggan yang senang menggunakan jasanya. Setelah sebelumnya dia kembali ke kontrakannya lalu membersikan diri dan berganti pakaian.
Meski hari sudah malam, namun lelaki tampan dan ramah itu seperti tak mengenal lelah. Yah, Kenn memang sosok pekerja keras. Kehidupan sederhana yang di jalaninya tanpa sosok seorang ayah, menjadikannya pribadi yang kuat serta tangguh. Sosok ramah dan murah senyum itu, menjadi kesukaan para pelanggannya. Serta hal itu merupakan daya tarik tersendiri bagi seorang Kennand Wiratmaja.
Namun bukan hanya karena alasan diatas. Akan tetapi lelaki tampan itu sengaja menyibukkan diri agar tidak larut dalam rasa cintanya yang kian hari semakin dalam.
Kenn tidak lagi menyangkali hal itu. Dia mengaku telah begitu jauh dengan rasanya. Bahkan tak ada lagi niat ingin menghindar. Dengan besar hati, Kenn membiarkan rasa itu tumbuh begitu saja seiring waktu. Namun dia pun tidak ingin menyiksa diri untuk terus berharap dan memikirkan hal itu. Oleh karena itu, Kenn sengaja memadati aktivitasnya.
Mesin waktu sudah menunjukkan pukul 20.30. Kenn telah selesai dengan pekerjaannya. Sebelum kembali ke kontrakan kecilnya, Kenn menyempatkan waktu singgah diwarung makan tempat favoritnya.
"Malam Pak, aku pesen yang seperti biasa yah" ucap Kenn begitu masuk dan langsung duduk di tempat duduk yang tersedia dalam warung itu.
"Eh, ada mas ganteng" ucap Bu Wati, istri Pak uday, pemilik warung. Sedikit kaget dengan kehadiran lelaki tampan itu.
"Masnya kemana aja beberapa hari ini gak mampir-mampi ?" tanya Bu Wati lagi sambil membawakan pesanan Kenn seperti biasanya.
"Makasih Bu,,, gak kemana-mana. Biasalah Bu anak muda, nongkrong ma temen jadi lupa yang lainnya" Kenn tertawa renyah dan memulai makan malamnya.
"Makan pun jadi lupa ya mas ganteng ?" Pak Uday ikutan nimbrung dari belakang.
"Eh, pak. Ya enggak lah Pak, cuman suka lupa waktu" ucap Kenn si sela-sela makannya.
"Sudah Pak, mas gantengnya lagi makan jangan di ganggu dulu" tegur Bu Wati.
"Oh ya sudah, Bapak ke belakang dulu kalo gitu, jangan marah yah mas ganteng, ditinggal dulu" ucap pak Uday dengan sungkan.
"Gak papa pak, udah biasa sendiri kok" jawab Kenn tersenyum kecil.
Pemilik warung sederhana itu lalu meninggalkan Kenn sendiri menikmati makan malamnya. Namun perkataannya tadi membuatnya kembali teringat pada sosok Jenn. Ya, kesendirian akan selalu mengingatkan Kenn pada gadis cantik itu.
Lelaki tampan itu tersenyum di sela-sela makannya. Tersenyum mengingat seraut wajah cantik nan indah. Tetapi juga tersenyum mengejek kegilaannya karena mencintai kekasih orang. Kadang lelaki tampan itu tak habis pikir dengan dirinya sendiri yang tidak bisa tersentuh dengan pesona dari wanita lain. Malah terpaut pada sosok gadis mungil yang telah dimiliki orang lain.
Sempat terpikir untuk menghubungi gadis cantik itu, namun Kenn tidak mau dianggap lelaki perusak hubungan orang. Dia menyadari sangat tidak pantas untuk melakukan hal itu. Kenn tahu batasannya. Dia hanya bisa mencintai dalam diam.
Dalam lamunannya ponselnya berdering. Dia melihat nama Farel tertera disana.
"Apa ?"
"Ya elah, yang manis dong jawab teleponnya"
"Ck, gak usah lebay Lo. Udah, ada apa ?"
"Lagi dimana ?"
"Di jalan, kenapa emang ?"
"Gak ada, gue tunggu di rumah sekarang"
"Ok, sebentar lagi gue kesana"
"Gak pake lamaaa"
Kenn tidak lagi menjawab dan langsung memutuskan sambungan teleponnya. Bersamaan dengan itu dia menyelesaikan makannya dan berpamitan pada sepasang suami istri pemilik warung lalu berlalu dari sana.
_____________________
.
.
.
.
.
to be continued ...
______________
Hai readers zeyeng ππ₯°
Terimakasih buat yang selalu setia nungguin STP πππ
Thinkyuuuw banget π jangan lupa like dan komennya yah gessss π₯°π₯°π₯°
ai lapppp yuuuw πππ€π€
Happy reading buddies β€οΈπ