
...Hai Budies ποΈ Jumpa lagi π€...
...Jangan lupa like dan komen yah βΊοΈ...
...Salam sehat, Jangan lupa bersyukur π...
...~Happy Reading~...
..._________________...
βMemiliki segalanya tidak membuatmu istimewa. Tetapi memiliki seseorang yang menilaimu lebih dari segalanya, itu yang membuatmu istimewa.β
Jenn kembali ke rumah siang itu dengan tubuh yang lumayan lelah. Si cantik itu bingung saat hendak membuka pintu rumah tetapi terkunci. Ia menoleh ke arah garasi, dan di sana hanya terdapat motor scoopy milik Rossa. Tidak ingin membuang waktu, Jenn menggunakan kunci cadangan yang ada padanya dan membuka pintu rumah itu lalu segera masuk ke dalam.
Tanpa berniat memanggil bahkan mencari kedua sahabatnya, Jenn langsung menuju kamar. Di dalam sana, ia meletakan sling bag dan belanjaannya begitu saja di atas meja belajar. Si cantik itu kemudian menuju ranjang dan menghempaskan tubuhnya dengan lembut ke atas kasur. Tidak membutuhkan waktu lama, ia pun menyelam ke lautan mimpi. Sepertinya ia sangat lelah setelah seharian berpetualang bersama Fio sampai-sampai ia tidak sanggup untuk mengganti pakaiannya lagi.
Bukan saja lelah pada tubuhnya, tapi hatinya pun begitu lelah. Ya, si cantik itu lelah menanti, lelah menduga-duga, bahkan ia sudah sangat lelah disiksa rindu.
Sepuluh menit hampir berlalu dan Jenn semakin jauh dalam lelap, hingga ia tidak menyadari suara berisik dari motor trail yang masuk di halaman rumah mereka.
Tampak Rossa dan Putri baru saja kembali dari misi pencarian mereka siang itu yang tidak membuahkan hasil apapun.
"Kita mau cari kemana lagi, Put?" tanya Rossa begitu turun dari motor. Ia benar-benar sangat khawatir.
"Gue juga gak tau! Gak ada tempat lain lagi yang biasa dia datangi selama dengan ka Kenn," jawab Putri mencoba mengingat-ingat. Gadis itu lalu memasukan trail-nya ke garasi.
Benar! Selama hubungannya dengan lelaki tampan yang sederhana itu, Jenn sudah sangat jarang berkeluyuran dengan teman-teman. Rutenya semenjak saat itu hanya sebatas kampus, bengkel, kontrakan Kenn, dan kembali lagi ke rumahnya. Itu saja! Kedua sahabatnya, Rossa dan Putri pun tadi sudah mendatangi tempat tinggal kekasih dari si cantik itu, namun sepi tanpa jawaban yang mereka temui.
"Eh, tapi Lo penasaran gak sih? Kok, orang bengkel pada gak tau kak Kenn kemana? Aneh gak sih?" sambung Putri dengan pertanyaan.
Keduanya melangkah masuk dan memilih duduk sebentar di depan teras.
"Maksud Lo aneh gimana?" Kening Rossa berkerut.
"Gini yah, kalo emang dia lagi sibuk karena kerjaan, pasti karyawan lain pada tau kan? Trus paling gak, dia ngasih kabar buat si mini bilang yang sejujurnya aja. Jadi ... gue pikir ... ah sudahlah. Masuk yuk!" ajak Putri yang tidak ingin melanjutkan kalimatnya. Ia pun berdiri dan hendak masuk tapi Rossa menahan tangannya.
"Maksud Lo, dia ninggalin Jenn gitu aja? Jenn ditinggal lagi? Really?" cecar Rossa.
"Gue juga gak yakin. Mudah-mudahan gue salah." ucap Putri yang langsung beranjak dari duduknya dan hendak masuk ke dalam.
Sementara Rossa mematung di tempatnya dengan pikiran yang sudah terbang kemana-mana. Ia membayangkan bagaimana kekecewaan yang sama yang pernah terjadi dengan sahabatnya terulang lagi.
"Loh, pintunya kebuka ini, Sa. Gak dikunci!" seru Putri kaget. Dan suara itu menarik Rossa dari lamunannya.
"Hah? Iya kah?" Rossa pun ikutan kaget. "Bukannya tadi dikunci yah? Gue sendiri yang kunci kok," sambungnya lagi.
Kedua gadis itu saling menatap bingung. Sejurus kemudian, keduanya saling dorong untuk bertaruh siapa yang lebih dulu masuk. Secepat kilat keduanya sama-sama berlari menuju kamar.
Braakk!
"Huh, hah, huh!"
"Mini!"
Gadis-gadis itu berlari membuka pintu secara kasar dan keduanya terengah-engah di ambang pintu, sembari meneriaki sahabat yang mereka cari sejak pagi.
Namun hal mengesalkan yang dirasakan keduanya ialah kenyataan bahwa keributan yang mereka ciptakan saat itu, tidaklah mempan untuk membangunkan si cantik yang sedang terlelap di sana. Jenn begitu terlelap hingga tak terusik sedikitpun oleh suara-suara berisik yang dibuat dua sahabatnya.
Keduanya berjalan mendekat ke arah tempat tidur dan memastikan keadaan Jenn saat itu.
"Astaga! Benar-benar nyebelin ini anak. Asik banget tidurnya lagi," ucap Putri sambil menepuk jidatnya.
"Emang nyebelin sih, tapi biarin aja. Mungkin dia lelah," kata Rossa lalu kembali berlalu menuju dapur dan disusul Putri.
Sedari pagi dua orang itu belum juga makan karena lebih mementingkan sahabat mereka. Keduanya lalu bekerja sama untuk memasak sesuatu yang lebih mudah dan cepat untuk dimakan saat itu juga. Dan tak lama setelah itu, mereka pun makan bersama lalu beristirahat sejenak di ruang tengah.
Sore harinya Jenn terbangun dan mendapati kedua sahabatnya tengah tertidur di ruang tengah, dengan tv yang terus menyala. Jenn lalu membangunkan keduanya dan mereka pun mengobrol ringan sore itu. Obrolan yang lebih menjurus pada perjalanan Jenn sedari pagi. Wanita bertubuh mungil itu lalu menceritakan semuanya pada dua sahabatnya.
"Tapi Lo gak kenapa-kenapa kan?" tanya Rossa memastikan.
"Gak kok, bebs. Tenang aja, gue gak bakal aneh-aneh lagi kek waktu itu," jelas Jenn dibarengi senyuman manis. Senyuman yang memastikan pada dua orang di depannya saat itu bahwa dia kuat dan baik-baik saja.
Respon diam tak percaya dari kedua sahabatnya membuat Jenn tertawa kecil. "Kalian pada kenapa sih? Gak percaya? Gue happy aja, gue fine aja. Kan ada kalian yang setia nemenin gue. Udah lah, mending kita siap-siap buat ke acara Fio sama kak Farel n'tar malam." Jenn bangkit dari duduknya dan diikuti oleh dua orang itu.
Ketiganya lalu mulai bersiap-siap dengan Jenn yang mandi terlebih dahulu. Rossa dan Putri masih mengantri.
"Ada apa dengannya? Biasanya juga mandi bareng, aneh deh itu orang." Putri terlihat kesal dengan Jenn yang menolak untuk mandi bersama.
"Kali aja dia lagi dateng bulan, atau mungkin dia butuh waktu sendiri. Mungkin saja dia gak mau nunjukin kesedihannya," ucap Rossa mencoba memahami.
Rossa pun tampak berpikir dengan sesekali mangangguk. Tak lama setelah itu, Jenn keluar dari kamar mandi.
"Apa?" tanyanya heran mendapat tatapan yang seolah mengintimidasi dari Putri. "Ck, sana buruan mandi!" sambungnya begitu tak ada jawaban dari dua gadis itu.
Tidak ingin berdebat dan membuang waktu, Rossa menarik Putri untuk segara masuk ke dalam kamar mandi, sementara Jenn mulai berganti pakaian.
Sekitar 15 menit Rossa dan Putri menyelesaikan ritual mandi mereka. Begitu keluar dari kamar mandi, keduanya melongo melihat Jenn yang menjelma bak seorang putri cantik dari negeri dongeng.
"Jenn!" panggil Rossa.
Jenn yang dipanggil pun lantas berbalik, karena posisinya saat itu sedang memunggungi kedua sahabatnya. Rossa dan Putri semakin melongo tak percaya. Bukan apa-apa, hanya saja Jenn yang mereka kenal selama ini hampir tidak pernah menggenakan gaun ataupun dress.
Si cantik itu selalu terlihat seksi dengan tampilan-tampilannya yang cukup glamor tetapi cuek. Ia kerap menggunakan pakaian mini size yang mempertontonkan kemolekan tubuhnya, baik untuk atasan maupun bawahan, baik di rumah maupun di luar rumah, wanita itu selalu tampil seksi. Tetapi belum pernah mereka melihatnya menggunakan dress seperti kali ini.
Jenn selalu terlihat cantik di setiap penampilannya. Tapi kali ini berbeda, dan kecantikannya kali ini seolah berlipat ganda.
Padahal yang ia gunakan saat itu hanyalah sebuah midi dress white dengan model sabrina berenda pada bagian dadanya. Dress simple yang begitu pas membalut tubuh mungilnya.
"Kalian kenapa?" tanya Jenn memicingkan matanya.
"Lo ... ah apa sih. Lo masih tetap Jenn yang sama, meski gue liatin seharian, gak bakalan berubah wujud." tutur Putri yang langsung berjalan menuju lemari pakaian.
"Memangnya ada apa sama gue sampe harus berubah wujud segala?" tanya Jenn sekali lagi tak mengerti.
"Maksudnya ... Lo beda kali ini, Jenn. Beda banget, tumben aja Lo pake dress begini," jelas Rossa.
"Oh ... ini tuh tadi Fio yang beliin. Dia sama kak Farel maksa banget gue pake buat acara mereka malam ini. Jadi ... ya udah, gue ikut aja dari pada si Fio nantinya kecewa." tutur Jenn menjelaskan.
Sesudah itu ketiga melanjutkan kegiatan berdandan mereka. Jenn yang selalu tidak mau pusing dengan hal-hal berdandan, hanya menggunakan make up flawless. Awalnya dia tidak mau memoleskan kuas dan sebagainya pada wajahnya. Tetapi ia berpikir lagi untuk menghadiri acara temannya, dengan terpaksa ia mau saja untuk dipoles.
Tidak lupa tatanan rambutnya. Ia kepang kecil pada dua sisi, kemudian ia membuat sebagian gulungan besar dari dua sisi yang disatukan pada bagian belakang, selanjutnya ia sisipkan kepangan rambut tadi dari sisi kiri dan kanan. Lalu sebagian lagi dibiarkan tergerai dengan sedikit curly. Tidak lupa ia menggunakan sneakers dan hand bag mini berwarna hitam. Tanpa aksesoris yang berlebihan, Jenn begitu terlihat cantik dalam style yang cocok dengan usianya yang baru sembilan belas tahun.
Tok, tok, tok!
Ditengah kesibukan mereka yang sudah memakan waktu dua jam untuk bersiap-siap, tiba-tiba terdengar pintu rumah itu diketuk. Jenn melirik jam dinding dan waktu sudah menunjukkan pukul 19:20.
"Cepat girls, itu pasti Reza." Jenn hendak keluar lebih dulu.
"Iyah, ini juga dah selesai kok. Ayo!" seru Rossa dan langsung bergerak cepat menyusul Jenn dan disusul Putri.
Begitu sampai di ruang tamu dan membuka pintu, Reza terperanjat kala pintu itu dibukan dan ia melihat sosok wanita cantik yang begitu indah dalam balutan putih. Lelaki itu terpaku dengan pesona seorang Jennifer.
"Jadi jalan gak nih?" cerocos Putri yang muncul paling belakang.
"Eh, ah ... iya jadi kok. Yuk!" kata Reza dengan kikuk.
"Lah, kalo gitu jalan sana, jangan bengong aja dong. Kek gak pernah liat cewek cantik aja," cibir Putri.
Mereka kemudian bergegas pergi dari sana dengan mengendarai mobil Reza. Begitu melewati jalan yang berbeda, Jenn mendadak bingung.
"Loh, kok beda arah? Bukannya rumah ka Farel searah sama kontrakan kak Kenn yah?" tanya Jenn penasaran.
Ia memang belum tahu rumah Farel yang pasti, tapi yang ia tahu, rumah Farel searah dengan kontrakan Kenn.
Tidak berniat menjawab, Reza hanya menanggapi kebingungan si cantik yang duduk di sebelahnya dengan senyum kecil.
"Sebenarnya kita mau kemana, Za?" Jenn menoleh pada Reza dengan tatapan menyelidik.
Reza cengengesan. "Apaan sih, curigaan aja, Lo." ucap Reza yang tetap fokus dengan kemudi.
Tidak lama setelah itu, mobil yang mereka tumpangi memasuki area sebuah restoran mewah, membuat ketiga wanita dalam mobil itu kaget dan bertambah bingung, terlebih lagi Jenn.
"Loh, kok ...."
..._____βοΈβοΈβοΈβοΈβοΈ_____...
...To be continued ......
..._________________...
Segini dulu yah gaes π€
Jangan lupa like dan komen π
Sampai jumpa di next episode lagi yah ππ
Jangan lupa follow ig : @ag_sweetie0425