
...~ Happy Reading ~...
...___________________...
...*...
...*...
...*...
"Jenn!!!"
Seiring dengan teriakan Farel, Jenn pun terjatuh. Bumil cantik itu histeris dengan mata terpejam. Goody bag di tangannya terlepas karena dengan refleks ia memegangi perutnya, melindungi janin yang ada di dalam sana. Naluri keibuannya mulai tergerak.
"Sayang!"
Hening ....
Kenn masih dalam posisi membungkuk, sementara Farel segera berlari kecil menghampiri sepasang suami istri di sana. Ia melewati seorang wanita yang juga sedang berdiri menyaksikan insiden yang terjadi.
Syukurlah gak terjadi apa-apa! Batin Farel. Lelaki itu mengusap dadanya merasa lega.
"Sayang!" panggil Kenn sekali lagi. Namun, Jenn tak mau bergerak sedikitpun dengan mata yang terus terpejam. Kenn langsung menegakkan tubuh kecil sang istri dan memeluknya dengan posesif. "Tidak terjadi apa-apa, Sayang. Aku di sini." Kenn mengusap kepala sang istri dan menepuk-nepuk pelan punggungnya, memberikan ketenangan.
Wanita itu nyaris terjatuh ke tanah, untung saja tangan Kenn dengan cepat menangkapnya. Ia pun jatuh pada tangan pemiliknya. Jenn yang ketakutan saat itu, berpikir bahwa hal buruk telah terjadi padanya dan janin dalam perutnya.
"Eh." Sedikit kaget dan ia membuka matanya dengan perlahan. Begitu tersadar, seketika Jenn pun menangis sambil memeluk Kenn dengan eratnya. "Aku takut banget tadi, maafkan aku! Aku gak hati-hati," ucap Jenn di sela-sela tangisnya.
"Gak, Sayang. Gak papah, bukan salah kamu," ucap Kenn menenangkan Jenn. Ia melepaskan pelukan mereka lalu menghapus air mata istrinya. Sesudah itu, ia berjalan menghampiri Farel dan seorang wanita di sana. "Lo sengaja kan?" Menuding wanita yang berdiri tidak jauh dari Farel.
"Kok gue sih? Istri Lo tuh yang gak berhati-hati. Sembarangan aja main nuduh." elak wanita itu. Ia pun cepat-cepat ingin beranjak dari sana, tapi Farel menahannya.
"Gak usah ngeles, gue juga liat tadi. Lo emang sengaja," bentak Farel membuat wanita itu ketakutan.
"Gu ...."
"Bersyukurlah! Karena istri gue gak kenapa-kenapa. Kalo gak, gue gak peduli lagi mau Lo pria atau wanita sekalipun, balasannya sama-sama mengerikan dari yang Lo bayangkan." Ancaman Kenn membuat nyali si wanita menciut. "Gue udah tau kalo Lo emang punya niat buruk sama gue. Banyak yang sudah Lo rencanakan selama ini kan? Dan kenyataannya selalu gagal, bukan begitu?" Kenn tersenyum sinis.
Bukan tanpa alasan ia menuduh, tetapi Kenn berkaca dari kejadian-kejadian yang pernah terjadi sebelumnya. Salah satunya pesan aneh dari nomor ponsel Farel. Saat itu Kenn yakin sekali bahwa itu adalah ulah wanita yang sedang berdiri di hadapannya.
"Lo punya masalah sama gue? Ayo! Selesaikan sama gue, dengan senang hati gue terima tantangan Lo. Bahkan mungkin setelah itu, gue gak dendam sama sekali. Tapi, jangan pernah nyakitin istri gue. Lo gak akan pernah melihat sisi baik diri gue lagi." Tatapan Kenn seolah menguliti wanita itu.
"Udah, Yang. Aku gak kenapa-kenapa juga kok. Lagian ini emang salah aku yang gak berhati-hati." ucap Jenn sembari meraih tangan Kenn dan menggenggamnya.
Wanita di depannya melirik sinis ke arah Jenn dengan ekor matanya.
"Maaf yah Jenn, atas ketidak nyamanan ini. Kalian berdua tunggu bentar yah," ucap Farel. Setelah itu, ia beralih pada wanita tadi. "Lo ikut gue." Ia pun berlalu dari sana dan disusul si wanita yang tidak lain adalah karyawan di bagian kasir.
Jenn menatap wanita itu dengan iba. "Ka Farel mau apain dia sih? Kasian, dia gak tau apa-apa," ucapnya dengan wajah mengiba.
Kenn menatap istrinya lama. "Jangan menilai seseorang dari wajahnya. Topeng dipakai untuk mengelabui lawan." Kalimatnya membuat Jenn bertanya-tanya dalam benak tentang siapa wanita itu. Apa dia pernah membuat masalah di sini? Salah satu pertanyaan yang terbesit di pikiran Jenn.
Ia masih larut dalam pemikirannya, Kenn sudah menarik lembut tangannya hendak menuju ke tempat duduk. Namun, saat baru melangkah, Jenn tersadar dengan kotak makan yang sudah berserakan di tanah. Semua makanan yang ia siapkan untuk Kenn, tumpah semuanya.
"Yah," keluh Jenn dengan lemas. Matanya kembali berkaca-kaca. "Sayang banget, gimana dong? Hiks." Kembali menangis membuat Kenn kebingungan.
"Gimana apanya? Ada apa, Sayang?" tanya Kenn dengan panik. Ia berpikir istrinya kenapa-kenapa.
"Oh, itu ... udah gak papah. Kita makan di warung sebelah aja yah," ucap Kenn meminta pendapat sang istri, sekaligus menghiburnya.
"Tapi kan sayang, aku udah capek masakin buat kamu, malah tumpah gitu aja. Sia-sia dong aku kemari." Raut sedih bercampur kecewanya tidak bisa disembunyikan.
"Kata siapa kamu ke sini sia-sia? Aku bahagia banget, dikunjungi dan ditemani kerja sama ibu negara yang cantik ini." Kenn menghibur istrinya dengan gombalan receh. Dan hal itu sedikit membuat Jenn tersenyum.
Tadinya Kenn ingin meminta istrinya untuk menunggu sebentar agar ia berganti baju, tapi mengingat hal buruk yang mengintai mereka, Kenn mengurungkan niatnya. Setelah mencuci tangan, ia mengajak istrinya makan siang bersama di warung sebelah dekat dengan tempat kerjanya.
Namun yang terjadi, nyatanya Jenn hanya menemani suaminya untuk makan. Karena di waktu yang bersamaan, Jenn mendapatkan panggilan dari dua sahabatnya bahwa mereka sedang menunggunya untuk makan siang bersama di rumah.
Akhirnya, setelah menemani suaminya makan siang, giliran Kenn yang mengantarnya menemui kedua sahabatnya. Bukan saja karena alasan makan siang bersama, tapi gadis-gadis itu ingin membicarakan persiapkan mereka besok untuk menghadiri pernikahan Fio dan Farel.
"Gak boleh keluar, gak boleh kemana-mana. Di dalam aja sampai aku selesai kerja dan aku jemput lagi, yah!" Titah Kenn setelah tiba di depan rumah yang dulunya juga dihuni Jenn bersama dua sahabatnya. Seperti biasanya, Kenn selalu meninggalkan istrinya dengan pesan yang sama. "Hati-hati, Sayang. I love you." Setelah memastikan istrinya sudah masuk ke dalam rumah, Kenn lalu melajukan motornya dari sana, kembali menuju bengkel.
Tiba di bengkel, ia kaget dengan karyawan wanita bagian kasir yang tadi sengaja ingin mencelakai istrinya. Tampak wanita itu berjalan keluar dengan wajah sembabnya.
Ia melewati Kenn dengan tatapan penuh kebencian. Lo liat saja apa yang akan terjadi nanti. Selamat menikmati bahagia yang sementara itu. Batin wanita itu sambil tersenyum sinis dan segera menghilang dari sana.
Kenn tidak berniat untuk menyapanya sedikit pun, ia hanya berdiri dan menyaksikan kepergian wanita itu. Hmm, perasaan gue gak enak yah. Tangan Kenn menyentuh dadanya. Sekita ia teringat sang istri yang baru saja ia tinggalkan beberapa menit yang lalu.
Lelaki itu cepat-cepat berbalik ingin menyelesaikan pekerjaannya dan segera menemui istrinya kembali. Baru saja ingin bergerak cepat, tiba-tiba saja Farel sudah muncul di hadapannya.
"Et dah, ngagetin aja." Sungut Kenn. "Dia kenapa sih sampe nangis gitu? Lo marahin?" tanyanya pada Farel.
"Bukan cuman marahin, tapi juga gue pecat," ucap Farel dengan enteng.
"Lah, kok ...."
"Intinya, gue gak mau ada yang nyakitin orang-orang terdekat gue. Gue juga udah lama curiga sama tuh cewek, emang gak bener dia." Farel menyampaikan apa yang dipendamnya selama ini. "Gue minta sama Lo buat lebih berhati-hati ke depannya. Entah kenapa gue ngerasa ada hal buruk di sekitar Lo sama Jenn." Ia memperingati temannya.
Farel menepuk pundak Kenn sekali dan ia berlalu dari sana, meninggalkan Kenn dalam spekulasinya.
..._____π»π»π»π»π»_____...
...*...
...*...
...*...
...To be continued ......
...__________________...
...###...
Hai semuanya π Ketemu lagi π€
Terima kasih buat kalian yang selalu setia menunggu cerita receh ini ππ
Tinggalkan like dan komen yah tayangΒ²ku ππ
Sampai jumpa di episode berikutnya π€π₯°
Ig author : @ag_sweetie0425