
...~ Happy Reading ~...
...___________________...
...*...
...*...
...*...
Pukul 12 siang, Jenn baru saja tiba di rumahnya. Ia berjalan dengan sedikit pelan karena lelah. Meski tak dipungkiri bahwa ia tengah bahagia, sebab sahabatnya sudah ditemukan. Terlebih lagi ia diterima baik oleh keluarga Alvino.
Jenn membuka pintu rumah dan berjalan lurus menuju ruang tengah.
"Ibu!"
Tampak sepi. Ia tahu bahwa pasti Kay sudah berangkat ke kampus, dan suaminya pasti sudah ke bengkel.
"Ib ...."
"Dari mana saja, kamu?"
Jenn terperanjat. Ucapannya tertahan, suara yang hendak mengudara seketika kembali tertelan di tenggorokannya. Mendengar suara tegas bernada rendah yang bergema di ruang tengah saat itu, Jenn merasa terciduk.
Ia berbalik menoleh ke samping dan mendapati Kenn sedang duduk menatapnya dengan tajam.
Aaaa, takuuuuuttttt.
Jenn kenal tatapan ini. Ia ingat betul pernah mendapat tatapan ini saat mereka masih pacaran dulu. Saat dia kerap berbuat salah.
"Eh, Sayang. Belum ber ...."
"Aku tanya dari mana?" Nada itu masih sama seperti tadi.
Jenn salah tingkah, mendadak bungkam. Tadinya ia ingin bersikap biasa saja dan hendak menyapa suaminya dengan wajar. Namun, pertanyaan kedua kalinya dari sang suami, menguras habis keberanian Jenn dalam sedetik.
Dia marah.
Kenn memindai istrinya dari atas hingga ke bawah, begitu lagi sebaliknya. Wajahnya tampak datar tanpa ekspresi dan tak terbaca sama sekali.
"Aku tadi cemas dan ikut nyariin Rossa." Menjawab tapi sambil menunduk. Tidak berani menatap Kenn yang tampak berbeda dari biasanya.
"Pertanyaanku, dari mana kamu? Bukan apa yang kamu lakukan." Jenn menangkap aroma ketidaksukaan yang samar tercium.
Jenn tampak berpikir sejenak. Apakah dia tahu aku dari mana? Marah gak sih kalau aku jujur? Aaaaa, jangan seperti ini, sayang.
Ekor matanya menangkap kemunculan ibu mertuanya yang baru keluar dari kamar. Jenn langsung menoleh pada sang mertua. Tatapannya bermakna meminta tolong.
Segaris senyum tipis terlukis di wajah sang ibu. Tampaknya ia mengerti tatapan menantunya.
"Sudah kembali, Nak?" Berjalan mendekat. "Pasti belum makan, kan? Ayo, makan dulu!" Ibu sengaja melakukannya.
Kenn langsung berdiri dan menghampiri kedua wanita yang sama-sama berharga dalam hidupnya.
"Nanti saja, Bu. Atau gak, ibu duluan aja. Kenn mau ngomong bentar sama Jenn." Setelah mengucapkan itu, Kenn langsung menarik tangan Jenn dan berlalu menuju kamar mereka.
Jenn mengikuti suaminya tapi sesekali menengok ke belakang melihat wajah ibu dengan tatapan memohon seperti tadi.
Sudah sangat lama ia tak pernah melihat wajah marah itu lagi. Terutama sepanjang pernikahan mereka, sepertinya ini untuk yang pertama kalinya.
Ibu hanya tersenyum melihat wajah takut menantunya yang malah terlihat menggemaskan. Ia tahu betul putranya seperti apa. Untuk orang yang dia cintai, tidak akan pernah bisa ia marahi apalagi dikasari.
Brakkk
"Kak, ak ...."
Jenn menutup matanya ketika tangan Kenn menyudutkan dirinya pada pintu yang tertutup rapat. Ia menunduk mensejajarkan pandangan mereka.
"Ngapain harus ke rumah orangtuanya segala?" tanya Kenn dengan nada pelan.
Tuh, kan, dia tauuuu.
"Cuman mau ngasih tau soal Rossa." Menatap sepasang iris hitam pekat yang memantulkan bayangan dirinya di sana.
"Atas izin siapa, kamu berani ke sana?" Jenn tidak bisa untuk menjawab. Ia mulai menyadari kesalahannya.
"Maaf, Sayang. Habisnya tadi kamu masih nyenyak banget. Aku gak tega bangunin." Beralasan apa adanya. Memang seperti itu.
"Kapan aku pernah mengabaikan suara panggilanmu?" Jenn merasa teriris dengan suara serta tatapan itu. Bahkan di saat paling lelah menurut Kenn, ia tidak bisa mengabaikan keinginan Jenn sekali pun. "Kamu tahu hal pertama yang ingin aku lihat saat menutup dan membuka mata ini. Apa kamu sengaja melupakannya?" Tentu saja dirinya. Jenn masih terbungkam. "Sudah lupa kejadian sebulan lalu? Sengaja buat aku khawatir? Apa peringatan dariku belum cukup tegas hingga kamu melanggarnya?" cecar Kenn tanpa jeda. Tapi nada itu tetap rendah dan normal. Semarah-marahnya Kenn, ia tahu batasannya. Emosionalnya tetap terkontrol baik. Ini Jenn loh. Memarahinya, mustahil bagi Kenn melakukan itu.
"Maaf." Tertunduk. Antara takut dan sesal.
"Sudah puas?" Jenn mengernyit. Apanya yang puas? Orang lagi capek juga. "Mereka pasti menyambutmu dengan suka cita bukan? Ah yah, tentu saja. Drama pelukan dan, arrrrgggghhh." Terlihat kesal sekali membayangkan hal yang diceritakan Reza lewat telepon tadi.
Oh, cemburu? Jenn tersenyum baru menemukan jawaban itu.
Kenn menegakkan punggungnya kembali. "Senang sekali rupanya." Tidak suka melihat senyum manis istrinya saat mengingat orang lain. Padahal tidak begitu.
"Kamu cemburu?" Langsung pada intinya.
Kenn langsung menarik pinggang Jenn, merapatkan dengan tubuhnya. "Kamu tau itu. Sekalipun mereka orang tua, tetap saja aku tidak suka jika meraka berlebihan."
"Apaan sih, aneh tau gak. Masa cemburu sama orang tua?" Masih tertawa.
"Orang tua mantan kekasihmu, yang mengharapkan kamu untuk bisa kembali bersama anaknya. Ya jelas aku cemburu, Jenn!"
Jenn menghentikan tawanya melihat wajah serius Kenn. Segera ia ingin melepaskan diri dari pelukan Kenn, tapi sulit.
"Ya, aku minta maaf. Tapi aku harus melakukan itu demi sahabatku, Kak." Berbicara sembari berusaha melepaskan tangan Kenn yang bahkan tidak bergerak sedikitpun. Meski seluruh tenaga ia keluarkan.
"Apapun alasannya, kamu punya batasan untuk itu. Ingat status kamu. Kamu bukan lagi seorang gadis yang bebas menentukan langkahmu seenaknya. Kamu sudah menjadi seorang istri. Izin suami itu penting." Menyoroti mata istrinya dengan sebuah peringatan. "Jangan mengulanginya lagi!" Pelan tapi tegas.
"Ak ...."
Ucapannya tertahan tak sampai terlontar sepatah pun. Matanya refleks terpejam, tubuhnya mendadak diam patuh dan melunak. Perlahan, kaki jenjangnya ikut berjinjit, kedua lengannya dikalungkan pada leher Kenn. Hangat menyapu lembut bibirnya, menjalar sampai ke hati. Rasa yang sempat bersembunyi beberapa waktu ini, kini muncul kembali.
Aku tau, sayang. Jenn tersenyum di sela-sela rasa nikmatnya.
Beberapa detik Kenn menyudahinya lalu menyatukan kening mereka. Jenn menurunkan kakinya, tapi tidak dengan tangan yang masih bergelayut di leher Kenn.
"Sebulan sudah aku menahannya. Itu tidaklah mudah, Jenn." Hasrat itu terdeteksi jelas di matanya. "Aku bisa menahan karena cintaku jauh lebih besar. Tapi tidak kali ini." Nafas hangatnya menerpa wajah cantik Jenn. "Kata orang, dua mingguan juga sudah boleh. Tapi aku tetap sabar menahan demi kamu."
Jenn tersenyum. Dia tahu ini, dia kenal sentuhan apa yang diberikan suaminya. Dan senyum itu tertangkap netra pekat Kenn yang sudah berkabut.
"Maaf." Kasihan pada suaminya yang tersiksa sebulan ini.
Dalam sekejap mata, keduanya sudah berada di atas ranjang.
"Minta maaflah dengan benar di tempat ini."
"Tapi aku gerah." Sengaja membuat Kenn kesal.
"Mandi bareng setelah ini."
"Aku lapar belum makan." Lagi dan lagi.
"Aku yang lebih lapar selama sebulan. Ini juga mau makan bareng. Jangan ada alasan apapun. Anggap saja ini hukuman untuk keberanian atas pelanggaranmu hari ini."
Kenn bangkit dan berjalan menuju pintu lalu menguncinya. Berpindah ke arah jendela dan menutup kembali tirai. Lampu kamar ia matikan. Dan ia pun berakhir di atas tubuh kecil istrinya.
"Sekarang." Titahnya, dan Jenn tidak bisa menolak.
Aktivitas setiap malam yang Kenn selalu lakukan, kembali dilakukannya setelah sebulan penuh beristirahat total.
Teriknya matahari di siang itu tidak lantas menjadi penghalang. Justru sengatnya membakar habis dan menyalakan hasrat Kenn yang berdiam sebulan ini.
Ruangan yang tadinya di penuhi aura kemarahan dan kecemburuan, berganti didominasi aroma cinta yang besar. Sepi memperdengarkan suara-suara desa*han kecil seperti senandung yang erotis.
Siang yang luar biasa ...
..._____πΉππΉππΉ_____...
...Tak mengenal waktu dan musim....
...Tanpa alasan, tak bersyarat ......
...Di saat hasrat itu muncul,...
...Kuatku tak cukup mampu tuk menahan....
...Bila terik, aku siap terbakar....
...Kala hujan, aku tak ingin berteduh....
...Hanyutkan aku dengan cintamu....
..._Kennand_...
...###...
...To be continued ......
...__________________...
...*...
...*...
...*...
Halo semuanya π Happy Sunday π
Makasih buat kalian yang masih selalu menunggu π
Terima kasih sudah singgah π
Jangan lupa like dan komen yah ππ
Sampai jumpa di episode berikutnya π€
Ig author : @ag_sweetie0425