Simple But Perfect

Simple But Perfect
Hanya Masalah Waktu



...~ Happy Reading ~...


...___________________...


...*...


...*...


...*...


Kurang lebih satu jam setelah itu, Kenn keluar dari kamar, berjalan menuju dapur. Wajah tampannya tampak segar dengan rambut yang masih basah. Aura kusut sedari bangun pagi tadi, menguap tanpa jejak.


Ibu menatap anak laki-lakinya dengan datar. Namun, dalam hati, sebenarnya ia senang. Senang melihat raut Kenn yang bahagia seperti itu. Sedikit, tapi ia mengerti roman wajah apa yang tengah menguar dari diri anaknya.


"Jenn mana?" Tahu, tapi sengaja bertanya.


"Di kamar, Bu." Berhenti sebentar dan menjawab, lalu kembali melangkah menuju dapur.


"Kenapa dikurung? Dia belum makan, Kenn. Kau apakan putriku?"


"Gak diapa-apain, Bu. Biasalah." Terkekeh lalu mengambil piring. "Ini, mau antarin makan siang untuk nyonya Kennand." Memasukkan beberapa menu makan yang tersedia di atas meja makan. Kenn mengambilnya dalam jumlah yang cukup banyak.


Ibu hanya menggeleng pelan kepalanya. Ia menghampiri Kenn dan menahannya sebentar. "Jangan terlalu memaksanya jika dia belum siap lagi." Mengkhawatirkan kondisi Jenn.


Bagi sebagian wanita yang baru mengalami keguguran, harapan untuk memiliki anak kembali terkadang sirna. Tak jarang hal itu kadang menyisakan trauma bagi sebagian wanita. Untuk memiliki harapan itu lagi, dibutuhkan kesiapan mental dari mereka yang pernah mengalaminya.


"Tenang saja, Bu. Kenn juga memikirkan hal itu." Menatap ibunya dengan tatapan lembut dibarengi senyum samar. Benar, ia pun mengerti hal itu. "Kenn juga belum mau sekarang. Hal itu akan Kenn kurangi jadwal dan porsinya." Tertawa lepas membuat tangan ibu refleks menghadiahinya satu geplakan. "Menantu ibu aman sama Kenn. Levelnya normal kok, Bu. Nanti kalo dia udah siap, baru Kenn lembur lagi." Semakin tertawa lebar sambil berlalu ke kamar dengan sebuah nampan di tangannya. Meninggalkan ibu yang ikut bahagia melihat kedewasaan dan kebahagiaan rumah tangga anak-anaknya.


Nikmatilah waktu kalian, sebelum dia hadir kembali.


*****


Di tempat Rossa dan Putri.


Gadis itu baru saja sampai dan berjalan masuk ke dalam rumah. Putri yang memang sudah menunggu kepulangannya, langsung berhambur memeluknya dengan tangis yang pecah tak terelakkan.


Keduanya saling berpelukan dan meminta maaf. Putri yang sedih karena merasa lagi-lagi ditinggalkan. Sebar-barnya dia, sahabat tetaplah yang sangat berarti baginya.


"Jangan pergi lagi, nanti gue sama siapa?" Berucap dengan sesegukan. "Jenn udah pergi dengan kak Kenn, Lo jangan lagi. Tetap di sini temenin gue. Gak ada yang ngertiin gue seperti kalian berdua. Gue emang bawel, ngeselin, gue kasar, tapi gue sayang sama Lo berdua. Gue janji bakal jadi onty yang baik buat ponakan gue nanti." Masih terus menangis sambil mengoceh tak ada habisnya.


Rossa sudah pengap karena dipeluk terlalu kencang oleh Putri, tapi tak mau juga bersuara menyadarkan sahabatnya. Ia pun mulai tidak enak dengan adanya orangtua Alvino di sana. Gadis itu tengah memikirkan kata yang tepat untuk menyampaikan apa yang telah menjadi keputusannya.


Keduanya lalu duduk pada sofa yang berada di ruang tamu. Putri yang fokus dengan sahabatnya, tidak melihat sepasang suami-istri paruh baya yang mengantarkan Rossa saat itu.


Rossa pun seolah melupakan calon mertuanya itu, dengan berbagai beban pikiran yang menutupi setengah akal sehatnya.


"Udah, Beb. Jangan sedih lagi dong. Kalo Lo begini, gue jadi dilema. Gak tau mau ngomong kek gimana sama Lo." Bingung dan sudah pasrah pada takdir yang akan membawa langkahnya.


Putri menghentikan tangisnya. Menatap Rossa dengan tatapan penuh tanya. Tangannya terulur menghapus basah yang membuat sembab di wajah cantiknya.


"Ada apa? Ayo, ngomong!" Sedikit penasaran.


Rossa meremas jemarinya. Sesekali ia melirik ke arah orangtua Alvino.


"Put, gue ... gue minta maaf sebelumnya. Kalau ini kedengarannya nyakitin kita. Ingat, bukan cuman Lo, gue juga. Tapi, gue harap Lo ngerti yah." Meraih tangan sahabatnya. Kening putri berkerut. "Gue ... gue harus pergi, Put. Dengan dan tanpa persetujuan Lo, gue tetap akan pergi." Tertunduk dengan setetes air mata yang jatuh tepat di atas tangan sahabatnya.


"Lo ngomong apa, sih? Lo mau ke mana? Jangan ngadi-ngadi. Gak mau gue, gak!" Menarik tangannya dari genggaman Rossa.


"Dia akan ikut bersama kami."


Suara itu berhasil menarik perhatian Putri. Gadis tomboi itu terperanjat dan langsung bangkit dari duduknya.


"Mereka siapa, Sa?" tanyanya pada Rossa.


Memang benar, Putri belum pernah melihat orang tua Alvino sebelumnya. Rossa pun begitu sebenarnya. Ia baru tahu hal itu waktu Alvino kecelakaan dan masuk rumah sakit. Ia yang diam-diam mengamati laki-laki itu dari jarak yang cukup dekat, bisa mengetahui segalanya. Sejauh itu perasaannya untuk mantan kekasih sahabatnya sendiri.


"Mereka orangtuanya, Put." Menjawab pelan dan ikut berdiri.


"Apa???" Semakin kaget. Ia berbalik menatap Rossa. "Jadi, Lo juga akan ninggalin gue sama seperti Jenn?" Matanya kembali terasa perih.


Gadis-gadis yang cantik dan baik. Manis sekali persahabatan kalian. Sahabat yang baik akan memberikan pengaruh yang baik. Yah, kenyataannya memang seperti itu.


"Maafin gue. Mungkin ini bukan jalan yang baik buat gue. Tapi ini satu-satunya yang terbaik buat anak gue, Put. Lo ngerti kan?" Air mata sialan itu kembali meluncur tak tahu malu.


"Apa dia juga akan nerima Lo? Apa dia sudah mengakui anaknya?"


Kata-kata itu bagai anak panah yang menancap tepat di dada Rossa. Menikamnya, melubangi hati yang telah utuh ia siapkan dengan susah payah beberapa saat lalu. Keyakinannya seketika goyah hampir runtuh berantakan.


Namun, ucapan maminya Alvino seolah menahan hatinya agar tak sampai hancur berkeping-keping.


"Dia akan mengakuinya. Percayalah, Vino tidak seburuk yang kalian pikirkan. Dia lelaki yang bertanggung jawab. Hanya saja sedikit keras. Masalah sahabatmu, jangan khawatir. Dia akan menjadi satu-satunya menantu kami. Iyah kan, Pi?" Papi Alvino mengangguk.


"Benar, Nak. Jangan takut, sebab sahabatmu tengah mengandung penerus keluarga Dharmawan. Kebahagiaan akan selalu ia dapatkan. Soal Vino, hanya masalah waktu. Sama seperti karang di tepi pantai, sekeras-kerasnya ia, akan hancur juga dengan sendirinya oleh tetes demi setetes ombak yang membasuhnya."


Sederet kata-kata itu menata kembali harapannya. Bukan dirinya yang ia pikirkan, bukan. Ia melakukan itu semua hanya demi satu kehidupan baru yang tangah berteduh pada rahimnya.


Sudah, Rossa sudah memantapkan hatinya. Ia bahkan tahu persis resiko apa yang sedang ia ambil. Sekali lagi ia meyakinkan dirinya sendiri.


Isak tangis kembali memenuhi ruang tamu pada rumah sederhana itu. Tangis sedih bercampur harap yang sama seperti Rossa.


"Beb, gue bahagia untuk Lo. Tapi gue juga sedih. Sakit banget ditinggal pergi kalian." Memeluk Rossa dengan eratnya. "Kapan perginya?"


"Lusa kami akan berangkat. Jadi malam ini, kamu masih punya waktu berduaan dengan sahabatmu ini," ucap maminya Alvino.


"Apa? Berangkat? Lusaaaaa?" pekiknya tidak percaya. "Berangkat kemana? Bukannya di sini saja?" Pikirnya seperti itu. Bahwa ia masih bisa mengunjungi Rossa seperti Jenn. Bahwa mereka masih bisa jalan bersama-sama. Ia salah.


"Maafkan kami, Nak. Vino memang gak tinggal di sini. Dia punya pekerjaan di kota xx. Sudah lama dia tinggalkan, dan sekarang dia harus balik mengurus pekerjaannya. Kami semua akan kembali lusa."


Putri langsung terduduk. Harapannya hanya akan menjadi mimpi yang entah kapan bisa terwujud.


Tidak lama setelah itu, orangtua Alvino pamit pulang. Rossa mengantarkan mereka hingga depan pagar.


"Hati-hati yah, Sayang. Besok mami jemput lagi." Mengusap kepala calon menantunya.


Rossa hanya mengangguk tanpa kata. Meski wanita paruh baya itu sudah memintanya untuk memanggil dirinya dengan sebutan mami, tapi Rossa masih kaku untuk mengucapkannya.


Ia tetap berdiri di depan sana sampai mobil yang mengantarkan kedua calon mertuanya menghilang dari pandangannya.


Gadis itu kembali melangkah masuk ke dalam menemui sahabatnya. Menghabiskan sisah waktu yang mereka punya dengan berbagai hal, yang dibumbui dengan tangis dan tawa dalam waktu yang bersamaan.


..._____πŸ’¦πŸŒΊπŸŒΊπŸŒΊπŸ’¦_____...


...*...


...*...


...*...


...*...


...*...


...To be continued ......


...__________________...


Hola epribadeeeh πŸ‘‹ Aku balik lagi 😁 Mumpung Rajin 🀭


Makasih yah buat yang mampir dimari πŸ™πŸ˜Š


Jangan lupa tinggalkan jejak laike dan komen yah 😍


Sampai jumpa di episode berikutnya πŸ€—


Ig author : @ag_sweetie0425