
...Hola epribadeeeh ποΈ jumpa lagi π€...
...Kali ini otor double up nih π€...
...Jangan lupa like dan komen yah π ...
...Salam sehat, dan ......
...~ Happy Reading ~...
...___________________...
π Cintaku setabah hujan di malam hari, tetap turun ke bumi meski tak menjanjikan pelangi π
[ Firman Nofeki ]
Sebuah perjuangan mengharukan yang mendeskripsikan perasaan Kenn, dimana misi rahasia yang ia lakukan menimbulkan keraguan di hati sang kekasih. Seperti halnya dengan hujan yang turun di malam hari, meski perjuangannya tak terlihat tapi tetap menyejukkan meski pelangi itu tersembunyi dalam gelap. Ketika hujan itu redah, cerah sang surya akan menghadiahkan kehangatan dalam cahaya kisah mereka.
Perjuangan Kenn kala itu tidaklah semudah menjentikkan jari, bahkan sekuat tepukan tangan pun belumlah juga cukup. Lantas perjuangan seperti apa yang harus ia lewati? Bukan tentang seberapa hebat kekuatannya. Tapi tentang waktu, perasaan, bahkan harga diri yang ia korbankan.
Kenapa dengan waktu? Yah, waktu yang seharusnya ia gunakan untuk bekerja, bahkan menemani sang kekasih yang sedang mengandung anaknya pun harus ia korbankan. Lalu perasaan seperti apa yang dimaksud? Sama halnya dengan waktu, ada perasaan cemas serta gelisah saat membiarkan sang kekasih sendirian di tempat yang jauh, apalagi tanpa kabar darinya. Ini menyiksa tapi harus ia lakukan, bahkan rasa rindu yang terus mengamuk pun sebisa mungkin ia tahan. Dan bagaimana dengan harga diri? Mungkin kenangan ini bisa mengkisahkan.
"Apa? ... Kau bilang apa? Ingin melamar Jenn?" tanya ayah Jenn sedikit terkejut, saat mendengar ucapan lelaki muda yang dengan berani bertandang ke rumahnya malam itu, bahkan dengan lantang mengatakan ingin melamar putri semata wayangnya. "Apa kau waras? Putriku itu masih kuliah. Sepertinya kau sedang tidak sehat, anak muda! Pulang dan beristirahatlah!" kata ayahnya Jenn dengan pelan sembari tersenyum kecil.
"Tidak Om! Saya tidak akan pulang. Saya ...."
"Sudah berapa lama pacaran sama anak saya?" lelaki tua itu sedikit menurunkan kacamatanya, menatap Kenn dengan seksama.
"Sudah tiga bulan, Om!" jawab Kenn dengan tegas.
Lelaki paruh baya itu tertawa kecil. "Ada-ada saja. Baru kenal sama anak saya dan langsung ingin melamarnya?" Orang tua itu menggelengkan kepalanya pelan. "Dengar, anak muda! ... Usia Jenn baru 19 tahun. Saya akan mengizinkan dia menikah apabila dia telah menyelesaikan kuliahnya, dan usianya mencapai 24 tahun. Itu artinya dalam kurun waktu lima tahun ke depan, saya masih ingin menjaga putri saya. Jadi sebaiknya urungkan saja niatmu, anak muda!" tandas ayahnya Jenn.
"Maafkan saya, Om! Tapi saya tidak bisa ...."
"Keras kepala sekali kamu. Kamu pikir menikah itu hal main-main? Saya tidak memberikan anak saya untuk lelaki sembarangan. Maaf!" Lagi lagi orang tua itu menghentikan ucapan Kenn. "Suruh dia untuk pulang, Bu!" ucapnya pada sang istri yang hanya diam sedari tadi. Ia langsung berdiri dari duduknya dan hendak meninggalkan ruang tamu. Sepertinya ia mulai jengah dengan pemuda itu.
"Tunggu, Om!" seru Kenn dan ia pun bangkit dari duduknya. "Mungkin Om akan terpaksa menerima lamaran saya, tapi saya tidak terpaksa untuk meminta Jenn. Saya sungguh-sungguh dengan tulus meminta dia dari Om dan Tante. Saya sangat mencintai Jenn, dan saya ingin mempertanggung jawabkan kesalahan saya," ucap Kenn tanpa takut.
"Tanggung jawab? Kesalahan? Maksud kamu apa?" tanya ayah Jenn sedikit bingung. Ia memicingkan matanya.
Sedangkan ibunya Jenn mendadak khawatir. Wanita paruh baya itu pun ikut berdiri di samping suaminya. "Ada apa dengan putriku? Dia baik-baik saja kan?" tanyanya dengan raut cemas.
Detik itu juga, lelaki muda berparas tampan itu berjalan menghampiri dua orang tua di hadapannya, ia langsung menjatuhkan tubuhnya perlahan dengan kedua lutut menyentuh lantai. Ayah dan ibu Jenn kaget dengan apa yang ia lalukan.
Tatapan berani serta suara tegasnya sedari tadi mendadak melemah. Ia menundukkan pandangannya kala rasa bersalah berkecamuk dalam hati dan pikiran, membuatnya merasa sesak untuk berucap bahkan bernafas pun terasa sulit, tapi ia tetap harus mengatakannya.
"Maafkan saya Om, Tante! Saat ini ... Jenn ... Jenn ...."
"Jenn kenapa? Ada apa dengan putriku? Katakan!" pekik ibunya Jenn memotong perkataan Kenn yang belum selesai dengan kepanikan yang semakin menjadi-jadi, ia menunduk dan mengguncang bahu Kenn berulang kali.
"Jenn sedang mengandung! ... mengandung anak saya!" lirih Kenn dengan segala rasa bersalahnya.
Duarrr!!!
Ucapan lelaki muda itu bagai petir di siang bolong, memekikkan telinga, menyambar hati, menghanguskan jiwa, menggetarkan seluruh raga, bahkan mengguncang seluruh dunia pasangan paruh baya itu.
Keterkejutan membuat dua orang tua itu, tertegun, terpaku, dan linglung. Jiwa serta raga mereka seolah terpecah belah, berdiri tegak dalam kebisuan, hingga suara Kenn berikutnya menarik kesadaran dan perhatian mereka kembali.
"Saya minta maaf!"
"Be-benarkah ... Je-Jenn? ...." Wanita tua itu tak mampu meneruskan kalimatnya, hatinya remuk redam. Suaranya serta tubuh ringkih itu bergetar menahan sesak di dada.
"Maafkan saya!"
Pijakannya goyah tak mampu lagi untuk berdiri di atas tumpuan yang lemah, wanita tua itu lantas terhempas, terduduk di atas sofa begitu saja dengan air mata yang rebas tak tertahan.
Bugh!
Bugh!
Bugh!
Tiba-tiba saja Kenn tersungkur karena tidak siap dengan serangan mendadak dari ayah kekasihnya. Lelaki yang masih saja tampan di usia senjanya itu menghajar Kenn tanpa ampun, meluapkan sakit hatinya, dan Kenn tak berniat melindungi diri sedikit pun. Ini kesalahannya, dan dia sudah siap dengan segala konsekuensi.
Sedangkan ibunya Jenn tak mampu lagi untuk menghentikan suaminya yang tengah emosi. Ia hanya mampu menangis meluruhkan sakit hatinya lewat air mata yang berjatuhan.
Puas melampiaskan kekecewaan yang sebenarnya tak terobati dan belum terpuaskan, lelaki paruh baya itu berhenti dari amukannya, memandang Kenn yang sudah babak belur.
"Keluar kau dari rumahku! Jangan mimpi untuk menikahi Jenn!"
"Saya tidak akan pergi dari sini sampai Om menerima saya!" ucap Kenn dengan lantang kali ini.
"Saya tidak akan memberikan anak saya untuk laki-laki sepertimu. Buang jauh-jauh harapanmu untuk memiliki dia, karena itu tidak akan pernah terjadi."
Kenn meraih kaki lelaki tua itu. "Saya sangat mencintai Jenn, saya mau bertanggung jawab, Om!" Ia memohon di kaki ayah dari kekasihnya.
"Saya tidak perduli dengan cinta dan simpatimu." Mendorong Kenn dengan kakinya, hingga Kenn kembali tersungkur. "Kau pikir setelah melemparkan kotoran di wajahku, mencoreng nama baik keluargaku, menjatuhkan harga diri saya sebagai seorang ayah, dan saya akan langsung menyetujui kau menikahi putriku? Tidak! Sekarang keluar dari sini, keluar!" teriak lelaki itu dengan murka.
"Pukul saya lagi, Om! Pukul saya sesuka hati Om, tapi izinkan saya untuk bertanggung jawab Om! Saya sangat mencintai Jenn!" Kembali ia meraih kaki lelaki tua, memohon dengan sangat.
Lagi-lagi ia didorong lelaki itu dengan keras.
"Bu! Kemarin dia bilang sudah selesai KKN kan? Tinggal laporan seminggu lagi saja kan?" tanya lelaki tua itu pada sang istri yang sedang menangis pilu. Wanita tua yang masih cantik itu mengangguk. "Siapkan barang-barang, Bu! Kita jemput Jenn malam ini juga. Dan kau ... keluar dari rumah saya sekarang juga!"
"Tidak, Om! Saya mau tetap di sini, bahkan jika Om ingin bunuh saya, silahkan Om lakukan. Tapi jika ini akhir hidup saya, izinkan saya menikahi Jenn dan mempertanggung jawabkan perbuatan saya terlebih dulu, meski hanya satu detik yang tersisa di hidup saya. Saya ingin memperjuangkan dia sampai nafas terakhir saya," ucap Kenn dengan sungguh-sungguh.
Ibunya Jenn bergeming, ia memandang Kenn dengan datar. Air mata tak berhenti rebas dari mata indahnya. Perlahan ia bangkit dari duduknya, berdiri di depan Kenn.
Plakkk!
"Jika kau begitu mencintai putriku, kau tidak mungkin merusaknya."
Plakkk! Plakkk!
"Jika dia begitu berharga bagimu, kau akan menjaganya bukan menghancurkan masa depannya seperti ini!"
Plakkk! Plakkk! Plakkk!
"Itu untuk rasa sakit hatiku!" Wanita itu berucap dengan sesegukan.
"Sudahlah, Bu. Hentikan ini dan kita siap-siap menemui Jenn!"
Dua orang tua itu hendak berlalu dari sana, tapi lagi-lagi Kenn menahan langkah mereka. Ia bersujud memegangi kaki pasangan paruh baya itu.
"Maafkan saya, Om, Tante! Berikan saya kesempatan sekali saja, saya akan membuktikan bahwa saya benar-benar mencintai Jenn. Saya ingin memperbaiki kesalahan saya, saya akan bahagiakan dia."
Ibunya Jenn terdiam sambil terus menangis, sedangkan ayahnya sudah sangat muak menghadapi Kenn yang terus memaksa tanpa lelah.
"Saya tidak perduli pertanggung jawabanmu, karena saya sendiri yang akan mencarikan laki-laki yang baik dan lebih pantas untuk menikahi anak saya." Lelaki itu melepaskan diri dari Kenn yang masih bersujud di kakinya dan sang istri. Ia berjalan ke arah pintu rumahnya dan berdiri di sana. "Silahkan keluar dari rumah saya! Jika tidak, saya akan lakukan dengan cara kasar dan paksa," sambungnya dengan tegas.
Kenn tidak bergeming, ia masih tetap di tempatnya, bersujud dengan memegangi kaki wanita paruh baya di depannya.
"Tolong jangan lakukan itu, Tante! Saya mohon tolong saya, Tante! Jenn bersama anak dalam kandungannya hanya milik saya, jangan pisahkan kami, saya mohon!"
Kali ini Kenn menitikkan air matanya. Mendengar perkataan ayahnya Jenn, rasanya lebih menyakitkan dari lebam dan memar di sekujur tubuhnya.
Ayahanda sang kekasih tidaklah perduli sama sekali. Tak satupun perkataan Kenn yang digubris, dengan sekuat tenaga ia menyeret Kenn keluar dari rumahnya lalu menutup pintu itu dengan keras.
Brakkk!!!
Kenn belum juga menyerah, ia terus memohon dari luar, sedangkan ibunya Jenn masih terus menangis sambil bersandar di balik pintu.
Hati wanita itu sedikit tersentuh melihat betapa gigihnya Kenn, ia bisa melihat cinta yang besar di mata lelaki muda itu untuk anaknya. Tapi kekecewaan dan rasa malu memaksanya harus egois, ditambah dengan kerasnya hati sang suami, ia pun tidak bisa memaafkan Kenn.
..._____π±π±π±π±π±_____...
...To be continued ......
...__________________...
Hai semuanya π
Jangan lupa tinggalkan jejaknya yah biar makin semangat otornya ini π€
Terima kasih buat yang selalu menunggu Jenn dan Kenn ππ
Sampai jumpa di episode berikutnya π€
Follow Ig author : @ag_sweetie0425