Simple But Perfect

Simple But Perfect
11 - 12 ( Kenn dan Alvino )



Malam kian larut. Pada waktu yang sama, namun ditempat yang berbeda. Dua orang lelaki tampan dengan pesona masing-masing, yang mampu membuat banyak kaum hawa tergila-gila. Namun pada kenyataannya, mereka sama-sama dibuat gila hanya oleh satu gadis yang sama. Keduanya tidak dapat tidur malam ini.


Kenn yang begitu gelisah didalam kontrakannya. Hanya bisa duduk menatap temannya yang sudah berlayar didunia mimpi sejak tadi. Pikirannya masih saja tertuju pada Jenn.


Apakah dia sudah sadar ?


Seperti apa kekasihnya ?


Bagaimana cara menghentikan perasaan ini ?


Kenn masih terus berspekulasi sendiri.


____


Sedangkan Alvino. Lelaki tampan berlesung pipi itu didera gelisah, cemas, marah, yang terus saja menyiksanya malam ini. Rasa tak sabar menunggu, untuk pagi segara datang. Agar dia bisa bertemu dengan satu-satunya perempuan yang bertakhta dihatinya.


Walaupun seorang playboy, banyak wanita cantik yang menginginkannya. Dan ya, tidak munafik. Kadang, Alvino membutuhkan wanita-wanita itu untuk menemani kesepiannya, bahkan menghangatkan malam-malamnya selama ini. Namun semua itu, tidak lantas menggeser ataupun menghapus satu nama yang bertakhta dihatinya. Semua itu tidak lantas mengurangi dan menghilangkan besarnya cinta Alvino untuk gadis pemilik hatinya. Jennifer Greecya, nama dan wajahnya sudah terpatri indah dalam hati dan jiwa Alvino.


Kamu selalu saja membuatku khawatir.


Aku pastikan orang itu akan membayarnya.


Haruskah aku memaksamu ikut bersamaku ?


Aku marah pada diriku sendiri ketika tidak bisa menjagamu.


Alvino masih larut dalam pikiran-pikirannya.


๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ


Waktu menunjukkan pukul 03:10 dini hari. Seorang gadis cantik baru saja bangun dari mimpi indahnya, sejak pingsan malam tadi. Dia meringis masih merasakan sedikit pening. Pandangannya menjelajah seluruh ruangan. Dia baru sadar jika dia dan teman-temannya berada di rumah sakit.


Disana, gadis-gadis cantik itu masih lengkap personilnya. Keenam temannya itu tertidur dengan posisi duduk bersandar disofa, dengan berdempetan. Jenn tersenyum kecil melihat kekonyolan teman-temannya. Dalam hatinya bersyukur memiliki teman-teman seperti ini. Jenn mencoba untuk duduk. Gerakan-gerakan kecilnya membangunkan salah satu temannya.


"Sudah bangun Jenn ? mau apa ?" tanya Yuni, lalu mendekat pada Jenn.


"Hmm, tolong ambilin gue minum" pinta Jenn.


"Kenapa kita disini sih ?" tanyanya lagi.


Yuni memberikannya sebotol air mineral. "Ck, nanya lagi. Lo pingsan mini, kita panik dan bawa Lo kesini". jelas Yuni.


"Ck, gue nggak kenapa-kenapa. Kita pulang aja yuk"


"Ini masih terlalu dini Jenn, tidur lagi gih. Ntar pagi baru kita balik. Lo masih pusing nggak ?"


"Sedikit, gue udah nggak ngantuk lagi bebs."


Tiba-tiba Putri terbangun, dan mendekati Jenn dan Yuni.


"Kenapa bangun sih ?" ucap Putri sedikit kesal.


"Jadi Lo mau gue tidur terus ? gak bangun-bangun lagi gitu ?" Jenn ikutan kesal.


"Eh enggak, bukan gitu. Maksud gue, Lo tidur aja sampai pagi. Biar kalo bangun dah sembuh, dah enakan, gitu miniiii" jelas Putri.


"Gue nggak kenapa-kenapa. Gue sehat-sehat aja. Kalian aja yang lebay"


"Bukan kita Jenn, tapi pacar Lo tuh yang lebay"


"Alvino ?" tanya Jenn ambigu.


"Lah siapa lagi ? bukannya hanya dia yang pasti. Yang lain cadangan aja kan ?" ucap Putri


"Makanya, satu aja miniii. Biar nggak bingung" sambung Yuni.


"Iya. Maksudnya, Alvino, dia tahu kalo gue disini ?" tanya Jenn mulai was-was. Karena dia tahu, apa yang akan lelakinya itu lakukan setelah ini.


"Lo tu yah, kayak nggak kenal pacar Lo aja. Udah pasti dia nelpon lah Jenn. Dan gue nggak mungkin bisa bohong kan ?" kata Putri


"Astaga, habislah gue. Trus dia ngomong apa lagi ?"


"Dia marah-marah, teriak-teriak ke gue. Ck, gara-gara si Willy sialan itu" sungut Putri.


Syukurlah ! cuman marah-marah. Jangan sampai dia kesini.


"Semalam itu kak Kenn, sepupunya Reni kan ?" tanya Jenn lagi.


"Iya, sialan itu dibuat babak belur oleh Kak Kenn yang ganteng itu" Yuni yang menjawab. Karena Putri tidak mengenal Kenn sebelumnya.


"Lagian kenapa Lo peduli segala sih ? dia yang buat Lo ada disini. Dia kurang ajar Jenn. Dan karena dia, gue dimarahi Alvino" kesal Putri.


Jenn terkekeh, "Nggak sampai ditelan Alvino kan ? lagian gue udah nggak kenapa-kenapa bebs. Jangan terlalu mendendam" ucap Jenn menasehati.


"Ck, jadi orang jangan terlalu baik Jenn. By the way, itu Kak Kenn, yang Lo ceritain ke gue sama Rossa ? yang ngerusak ponsel Lo waktu itu ditaman budaya kan ?" tanya Putri penasaran. Yang mendapat anggukan dari Jenn.


"Gue lihat ... sepertinya dia suka sama Lo"


"Ck, sembarangan kalo ngomong"


"Benar Jenn. Gue setuju sama Putri. Gue lihat dari pertama kita kenalan waktu itu. Kita yang godain dia, tapi Lo yang diliatin terus. Trus, semalam juga dia perhatian banget sama Lo Jenn. Sampai rela bawa Lo kesini" ucap Yuni panjang lebar.


"Hah ? seriusss ?? gue dibawa kesini sama Kak Kenn ?"


"Iyalah, emang Lo pikir siapa ? gak mungkin kita lah Jenn"


"Aahh gue malu tau nggak ? iish kalian nyebelin" Jenn merengut kesal bercampur malu.


"Malu apa suka nih ?" Putri menaik turunkan alisnya menggoda Jenn.


"Apa sih, jangan gila kalian. Gue udah punya Alvino yang sempurna yah"


"Tapi sumpah Jenn, dia ganteng banget. Sebelas-duabelas sama Alvino" Lagi-lagi Putri menggodanya.


"Kalo gitu, buat gue aja Kak Kenn-nya" Yuni menimpali.


"Silahkan, nggak ada yang keberatan" Jenn mengedikan bahunya.


"Sayangnya, dia gak tertarik sama gue" Yuni memasang tampang sedih, membuat Jenn dan Putri tertawa dipagi buta itu dan membangunkan yang lainnya.


"Berisik banget sih. Udah jam berapa ini ?" tanya Alena yang baru bangun.


"Jam 04:50 bebs" jawab Yuni.


Sudah satu jam lebih, ketiga gadis itu duduk bercerita. Dan waktu berlalu begitu saja tanpa disadari. Sebentar lagi terang akan datang, dan gadis-gadis itu mulai bersiap-siap, untuk kembali kerumah masing-masing.


"Jangan dulu buru-buru Jenn. Ini masih terlalu pagi" Ucap Putri.


"Gue udah gerah bebs, udah nggak tahan pengen pulang".


"Iya, gue tau. Gue juga gerah, tapi bentar lagi dong" Putri seolah menahan Jenn. Ya, karena dia tahu kalau hari ini Alvino datang. Lelaki itu memintanya untuk tidak memberitahu Jenn. Dan juga menahan Jenn dirumah sakit, sampai dia datang dan menjemput kekasihnya.


"Iya, Put. Kita juga dah pada pegal-pegal ini. Tidur kayak semalam, bisa patah nih tulang-tulang" sahut Maureen.


"Lagian Lo kenapa sih ? kayak nahan-nahan gitu ?" Alena bertanya penuh curiga.


Gimana caranya lagi kalau begini ? Kak, Gue nyerah aja deh.


.


.


.


.


.


to be continued .....


.


.


.


Happy reading buddies ๐Ÿ˜Šโค๏ธ