
...~ Happy Reading ~...
...___________________...
...*...
...*...
...*...
Di tempat lain, sebuah mobil sport yang melaju dengan kecepatan rata-rata di tengah kota, baru saja terparkir di depan sebuah cafe.
Pengemudinya keluar dan langsung berlari masuk ke dalam mencari seseorang yang sudah ia hubungi sebelumnya. Tidak sulit, orang yang dihubunginya ternyata lebih dulu menyambutnya.
"To the point aja, waktu gue gak banyak. Di mana kekasih Lo menyembunyikan Jenn?" tanya seorang lelaki yang tidak lain adalah Alvino.
Seseorang yang kini berhadapan dengan Alvino adalah dia, wanita yang telah menghancurkan hidup Alvino berulang kali, dan yang telah berhasil memisahkannya dan Jenn. Siapa lagi kalau bukan Verlita.
Tadi saat ditelepon, Alvino mengenali suara laki-laki yang telah membawa kabur Jenn. Dan dia tahu persis bahwa lelaki itu adalah kekasih dari Verlita, mantan kekasihnya dulu.
Verlita terkekeh. "Tidak semudah itu, Baby. Kau sudah berjanji padaku saat di telpon tadi. Tentunya kau ingat bukan?" Hendak menyentuh Alvino.
"Ada uang, ada barang." Menepis tangan Verlita. "Begitu Jenn ditemukan lebih dulu, maka gue akan ikut sama Lo," ucap Alvino dengan serius. "Lo udah pernah membuktikan kata-kata gue kan? Apalagi soal Jenn, gue gak pernah bercanda jika hal itu berkaitan dengan dirinya," tutur Alvino dengan mantap.
"Ok, baiklah! I trust you, baby." Wanita itu tersenyum manis. Namun, percayalah! Di balik senyumannya, sesuatu telah terencana dengan mantap. "Ayo, ikut!" Berjalan menuju mobilnya.
Tanpa ragu Alvino mengikutinya, dan meninggalkan mobil miliknya terparkir di depan cafe begitu saja. Lelaki itu tidak ingin berdebat atau apapun yang hanya akan membuang-buang waktu. Ia telah mempertaruhkan nyawanya dalam waktu lima menit, dan setiap detik adalah sangat berharga baginya.
Meskipun sedikit ragu karena tidak hanya keduanya yang berada dalam mobil tersebut, tapi Alvino tetap nekat karena ia tidak mau mengingkari janjinya pada Kenn. Ia tak bisa lagi untuk mundur.
*****
Sementara itu, Reza dan Kenn baru saja hendak meninggalkan unit apartemen Alvino, setelah kepergian pemiliknya dua menit yang lalu.
Sedangkan Farel juga sudah meninggalkan tempat itu bersamaan dengan Alvino. Namun, tujuan keduanya berbeda.
Tiba-tiba sebuah notifikasi pesan masuk di ponsel Kenn. Cepat-cepat Kenn membukanya dan ia melihat sebuah alamat yang dibagikan oleh nomor yang tak dikenal.
Dahi Kenn berkerut, belum juga sempat menelpon untuk menanyai, nomor tersebut sudah lebih dulu mengirim pesan berikutnya yang mengatakan bahwa itu adalah alamat keberadaan istrinya.
Ia menunjukannya pada Reza dan tanpa menunggu lama, keduanya secepat kilat berlari menuju lift.
"Za, ini jauh banget. Kalo gak salah ...."
"Dekat lokasi KKN kita. Iya bener." Tebak Reza melanjutkan ucapan Kenn yang menggantung.
Pintu lift terbuka lalu keduanya kembali berlari maraton menuju basemen.
"Gue aja, Kenn. Lo liat maps aja, takutnya Lo gak fokus," kata Reza saat hendak membuka pintu mobil.
Kenn mengangguk. "Ngebut, Za. Kita gak punya banyak waktu," pesan Kenn dan keduanya segera melesat dari sana dengan mobil milik Reza.
Ya, meski Kenn sadari betul bahwa jarak yang akan mereka tempuh tidaklah semudah yang dibayangkan. Waktu lima menit pun tidaklah cukup, bahkan untuk sampai di tempat itu membutuhkan waktu berjam-jam. Namun, ia tetap menyematkan doa di setiap asa yang terus terlantun seiring getar nadinya.
Harapan akan adanya keajaiban itu terus ia lambungkan. Meski tak munafik bahwa ia setengah mati merasa khawatir, tetapi berusaha meyakinkan diri dalam situasi yang tak memungkinkan adalah pilihannya.
"Lebih cepet lagi, Za! Gue ngerasa ini jalannya lama banget," gerutu Kenn tidak sabaran.
"Ini udah cepet banget ini, Bro. Kita cepet tapi mesti hati-hati juga." Reza tetap bersikap tenang dan fokus menyetir dengan kecepatan tinggi.
Lima menit sudah terlewati, bahkan sudah lebih dari sejam dan baru setengah dari perjalanan mereka. Namun, keduanya masih berkejaran dengan sang waktu menembus pekatnya malam yang kian larut.
"Gue gak bisa sabar lagi, cepetan Rezaaa!!!" teriak Kenn dengan frustasi.
"Hei, tenang. Ini udah maksimal, Bro. Gimana kalo kita gak selamat? Sia-sia dong kita berusaha."
Kenn tersadar dari kegilaannya. Ia menutup wajahnya dengan kedua tangan sambil menundukkan kepala.
Maafkan aku, sayang! Aku pasti menemukanmu, aku akan menjemput kalian.
Lindungilah mereka, Tuhan!
Doa Kenn dalam hati dengan setetes air mata yang menitik dari netranya. Sungguh, Jenn adalah kelemahan terberat baginya.
"Gue berharap abang Lo udah sampai di sana," ucap Kenn dengan wajah yang masih ditutupi kedua tangannya.
Dua jam telah berlalu dan sedikit lagi mereka hampir tiba di lokasi yang tertera pada ponsel Kenn. Jika waktu normal biasanya akan tiba setelah lima jam perjalanan, tetapi karena kecepatan maksimal yang diupayakan Reza, keduanya dapat mempersingkat waktu dalam dua jam lebih.
Reza mulai menormalkan laju mobilnya dan mengamati keadaan sekitar. Tampak sunyi dan mencekam tanpa ada adanya aktivitas apapun di daerah itu.
"Lo yakin tempatnya di sekitar sini? Ini ... ini gak ada perumahan sama sekali, Kenn." Reza merasa ragu.
Reza kemudian menjalankan mobilnya lebih pelan lagi menengok ke sana kemari mencari sesuatu di tengah kegelapan, yang mungkin saja bisa menjadi titik temu mereka.
Kenn pun melakukan hal sama hingga matanya menemukan setitik cahaya yang datangnya dari tengah belantara.
"Dapat!" seru Kenn membuat Reza serta-merta menoleh dan melihat apa yang ia temukan.
Reza beralih menatap Kenn. "Ya, pasti di dalamnya ada Jenn." Ia berhenti dan melepas sabuk pengaman hendak keluar. "Tapi ... di sana aman gak yah?" Menoleh pada Kenn.
Tanpa menjawab, Kenn langsung bergegas keluar dari mobil dan langsung berjalan menuju sumber cahaya yang masih jauh beberapa meter dari mereka. Mau tak mau, Reza pun mengikutinya. Meninggalkan mobilnya terparkir di tepi jalan begitu saja.
Setelah beberapa saat begitu sukses melewati pepohonan dan semak-semak, keduanya sampai dan mencapai gerbang yang menjulang tinggi di depan mereka.
Dua lelaki itu saling tatap. Bingung memikirkan cara supaya dapat masuk ke dalam sana. Tiba-tiba bunyi gerbang itu terbuka lebar disertai sebuah mobil yang keluar. Keduanya segera bersembunyi dan berusaha menggunakan kesempatan ini untuk masuk.
Setelah mobil tersebut sedikit menjauh dan gerbangnya hendak ditutup kembali, dua lelaki itu bergerak cepat masuk dan meladeni dua pria yang menjaga gerbang, sebelum akhirnya mereka berhasil menyelinap masuk dalam bangunan megah itu.
"Kenn, tadi gue gak liat mobil bang Vino di luar. Dia belum sampai kayaknya deh." Bisik Reza sembari keduanya berjalan mengendap-endap.
Kenn menempelkan telunjuk pada mulut Reza yang tidak bisa diam dari tadi. Ia sedang fokus dengan keributan yang terjadi dari arah tangga yang menuju lantai dua bangunan tersebut.
Memahami itu, Reza pun diam dan keduanya menajamkan pendengaran mereka. Semakin jelas terdengar di telinga Kenn, suara bariton penuh amarah dari seseorang yang ia yakini adalah ketua dari meraka yang telah membawa kabur istrinya.
"Untuk apa aku membayar kalian kalau hanya untuk menjaga satu wanita yang sedang tak sadarkan diri saja tidak becus hah???"
Maksudnya apa? ....
Kenn dan Reza saling tatap penuh tanya.
Plak, plak, plak, plak!!!
Banyak sekali bunyi tamparan yang menembus di pendengaran Kenn dan Reza.
"Perintahkan anak buahmu untuk temukan mereka di manapun, secepatnya!"
Suara itu semakin menggelegar memenuhi seisi bangunan, di sertai bunyi benda yang terbentur di lantai dengan serpihan yang terhempas kemana-mana.
"Aku ingin wanita itu kembali, apapun yang terjadi!" Perintah lelaki itu diikuti dengan beberapa orang yang langsung berjalan keluar dari sana, melewati Kenn dan Reza yang sedang bersembunyi.
Dua lelaki itu sepertinya mulai memahami setiap kata dari pria yang berteriak penuh amarah tadi.
"Jenn?!" bisik Kenn. "Apa mungkin ada yang membawanya kabur dari sini?" Mulai menduga-duga.
"Sebentar Kenn, kita cek dulu. Jangan-jangan meraka hanya mengelabui kita." Saran Reza.
Ia hendak berpindah, tetapi tidak sengaja kakinya menyenggol guci besar yang terletak di dekat pintu dan ....
Prang!
Lelaki itu terbelalak dengan refleks menutup mulutnya. Sedangkan Kenn memejamkan matanya dengan rahang yang mengeras. Dalam hati, ia mengumpat kecerobohan Reza setengah mati.
Habislah kita ....
..._____ππ±ππ±π_____...
...*...
...*...
...*...
...*...
...*...
...To be continued ......
...___________________...
...####...
Hola π
Nah, penasaran kan siapa laki-laki itu? Hehehe π Tebak hayoooo π
Selamat membaca,
Jangan lupa like dan komen yah π
Ig author : @ag_sweetie0425