Simple But Perfect

Simple But Perfect
Efek LDR-an & Rindu



"Bilang apa tadi, Jenn?" tanya Fio dengan sebelah alis yang terangkat.


Jenn yang sadar dengan ucapannya pun mendadak bisu. Ingin sekali menjawab pertanyaan Fio, namun bibirnya terasa kelu. Jenn menyadari, tidak ada pembenaran untuk pernyataannya tadi. Dan pula tidak ada jawaban untuk pertanyaan Fio.


Apa yang harus gue bila?


Bagaimana tanggapan Fio nantinya?


Aaaaa,,, bahkan rindu pada Alvino gak bikin nyesek kek gini.


Memalukan!


Jenn memalingkan wajahnya ke arah jendela di sampingnya. Tidak ingin melihat Fio? Bukan! Dia yang tidak ingin Fio melihat wajahnya. Pikirnya ini hal memalukan. Jika saja Fio tahu bahwa dia dibuat kacau efek kehadiran Kenn akhir-akhir ini.


"Hei, gue lagi ngomong sama Lo Jenn." Fio menarik tangan Jenn sambil mengguncangnya sedikit kuat.


"Ayo ngomong, ada masalah apa sama kak Kenn? Gue bohong soal apa tentang dia? Ngomong dong Jenn," Fio terus saja memaksa.


Gadis cantik itu memejamkan matanya sejenak, sambil menarik nafas sejenak lalu menghembuskan dengan pelan. Usaha menguasai diri rupanya sukses. Perlahan Jenn menoleh pada Fio. Dia menyunggingkan senyum manisnya.


"Lupain aja bebs! Gak ada apa-apa kok. Ayo jalan!" ucap Jenn dengan anteng.


"Gak! Gak, gak bisa. Tadi Lo marah-marah, sekarang Lo bilang gak ada apa-apa? Pokoknya gak bisa! Lo harus ngomong s e k a r a ng j u g a!" Fio semakin ngotot.


"Ck, gue udah gak marah lagi sama Lo, bebs." Tersenyum lagi. Masih berusaha menghindari pertanyaan Fio. "Jalan yuk, ntar Alvino marah lagi kalo gue kelamaan di luar," sambungnya.


"Pokoknya gue mau Lo ngomong sekarang, kalo gak, gue gak bakal jalan."


"Ok, gue turun di sini." Membuka pintu mobil dan hendak keluar, namun ditahan oleh Fio.


"Oke! Kalo Lo gak mau ngomong sekarang. It's okay, kita pulang." putus Fio


"Gitu kek dari tadi." Jenn tersenyum senang.


Hah, untung aja. Kalo gak, mau taroh di mana muka gue? Aaaaaa bahkan rindu pada Alvino gak bikin nyesek kek gini. Batin Jenn.


Keyaknya gue harus nyari tau. Gue yakin banget dia mau ngomong sesuatu tentang kak Kenn tadi. Ya, gue harus nyari tau. Batin Fio.


Fio kembali menghidupkan mobilnya setelah memastikan Jenn sudah menutup pintu mobil. Gadis itu lalu menjalankan mobilnya dengan kecepatan sedang membelah jalanan menuju rumah Jenn.


Sampai mereka tiba didepan pagar rumah Jenn, keduanya diam tanpa obrolan. Keduanya sibuk larut dengan pikiran masing-masing.


"Thanks ya, bebs. See you tomorrow." Jenn turun dan melambaikan tangannya pada Fio.


Fio hanya mengangguk dan tersenyum kecil, lalu kembali melaju meninggalkan Jenn dengan perasaannya yang lega.


_______________________


"Hah, syukurlah! Selamat!" ucap Jenn bernafas lega sambil memegang dadanya. Sedetik kemudian dia kembali merentangkan kedua tangannya sambil menengadahkan wajahnya ke atas disertai senyuman kecil.


Dari dalam rumah, Rossa sedang mengintip di balik tirai gorden. Gadis kalem itu geleng-geleng lalu tertawa kecil melihat tingkah sahabatnya diluar sana.


"Ada-ada saja si tu anak. Mana ada orang berjemur tengah hari terik begini? Gak takut gosong apa? Nikmatin banget lagi. Udah gak waras kali tu anak," Rossa bermonolog disertai tawa kecilnya. Namum sedetik kemudian, matanya membulat sempurna dengan mulut yang menganga. Kedua tangannya lantas terangkat dan menutup mulutnya.


"Ya ampun! Separah itukah? Astaga, ternyata efeknya semengerikan ini? Gak bisa dibiarin." Rossa langsung lari masuk kedalam kamar mengambil ponselnya. Secepat kilat dia kembali ke tempat tadi lalu mengambil foto serta video tingkah Jenn siang itu.


"Ya, Tuhan! Gue gak percaya dia bakal kek gini," berbicara sambil tangannya cekatan menyentuh layar ponselnya. Setelah itu Rossa buru-buru menelepon si Putri.


"Halo Put, Lo dimana ?" tanya Rossa tidak sabaran, begitu sambungannya tersambung.


"Masih di kampus. Ini baru mau pulang. Kenapa?"


"Lo harus cepetan pulang. Si mini udah gak bener ini,"


"Jenn? Kenapa dia?"


"Pokoknya Lo buru-buru pulang deh. Dia keknya sakit, Put"


"Heh, sakit apa dia? Lo kalo ngomong itu yang bener dong ah,"


"Kayaknya dia gangguan sarap, sakit jiwa dia, Put!"


"Hah? Lo ngaco yah? Jangan ngadi-ngadi Lo."


"Lo liat foto ma video yang gue kirim tadi, dan cepetan pulang. Gue takut."


Tut ... Tut ... Tut


Sambungan telepon itu pun diakhiri sepihak oleh Putri. Bersamaan dengan panggilan telepon yang berakhir, saat itu juga Jenn masuk ke dalam rumah. Rossa yang kaget melihat sahabatnya langsung terduduk di sofa dengan kaku. Sedangkan ponsel yang berada di genggamannya pun terlepas dan jatuh ke lantai begitu saja.


"Ada apa? Kenapa Lo kaget begitu? Kek liat hantu aja," ucap Jenn yang memergoki kekagetan sahabatnya.


"Eh, eng - enggak kok. Lo masuknya tiba-tiba ya gue kaget lah," jawab Rossa dengan gagap.


Jenn melangkah maju menghampiri Rossa dan hendak duduk di sofa. Melihat itu, Rossa mulai was-was. Begitu sampai di dekat Rossa, tangan Jenn terangkat ingin menyentuh dahi sahabatnya itu. Namun Rossa yang sudah diliputi pikiran-pikiran buruk, bertambah panik dan ...


"Aaaaaaaaaaaaaaaa, jangan sakitin gue, Jenn. Ampun!" Rossa berteriak sambil memejamkan matanya dengan posisi meringkuk di sudut sofa.


Jenn yang melihat tingkah aneh sahabatnya itu pun tidak tahan untuk tertawa.


"Ha-ha-ha." Jenn terbahak. "Ha-ha-ha," masih terbahak memegangi perutnya. "Jadi Lo pikir gue hantu? Mana ada hantu yang cantik begini," ucap Jenn dengan sisah-sisah tawanya. Rossa yang melihat Jenn tertawa pun bergidik takut.


"Jenn, Lo masih kenal gue kan? Gue Rossa, sahabat Lo." Rossa mulai berdiri dengan perlahan.


"Hei, ada apa sama Lo? Lo udah gila yah?" ucap Jenn masih saja tertawa.


"Jenn, Lo masuk kamar dan tidur yah, gue siapin makan buat Lo. Ok?" ucap Rossa mencoba merayu Jenn yang dianggapnya sudah tak waras.


Jenn mendekatinya. "Gue maunya sama Lo aja, mami!" Tidak menunggu lama, Rossa langsung melarikan diri ke luar rumah. Jenn pun dengan spontan mengejarnya.


Karena Jenn yang asik menertawakan Rossa, dan Rossa yang juga terlalu fokus dengan ketakutannya. Sehingga keduanya tidak sadar dengan bunyi motor trail yang berisik di halaman rumah. Begitu Rossa berhasil membuka pintu dan keluar ...


Brukkk ...


Gubrak !!!


"Aaaaaaa tolooonggg!!!" teriak Rossa yang ketakutan.


"Aaaaaa sakit, berat woe!!!" teriak Putri yang keberatan.


"Auh," aduh Jenn pelan.


Ketiganya bertubrukan dan terjatuh dengan saling menindih. Putri yang paling di bawah begitu kesakitan dengan dua manusia yang menindihnya.


"Awas woe, bangun! Gue bisa penyek ini!" teriak Putri dengan ngap-ngapan.


Jenn pun bangun dengan cepat, namun Rossa masih saja menindih tubuh Putri. Dengan kesal Putri pun menjitak kepala Rossa.


"Auh, sakit, Putri." sungut Rossa.


"Lah makanya move, Lo mau gue sesak nafas trus mati gitu? Awas sana ih." Putri mendorong Rossa, perlahan gadis itu bangun lalu melirik Jenn.


"Apa? Ini gara-gara Lo," ucap Jenn jengkel pada Rossa.


"Lo gak papa, Jenn?" tanya Putri penuh khawatir.


"Emang gue kenapa? Yang harus ditanya itu, Lo. Emang Lo baik-baik aja ditindih gitu?" Jenn balik bertanya.


"Bukannya tadi Lo sakit?" Putri bingung.


"Sakit apaan? Orang gue baik-baik aja, gak kenapa-kenapa kok. Nyumpahin gue yah?" Jenn jadi kesal.


"Lah, kata Rossa Lo lagi sakit, makanya gue khawatir," ucap Putri.


Gadis mini itu berkacak pinggang dan menatap Rossa dengan tajam.


"Ngomong apa Lo sama Putri hah?" tanya Jenn dengan galak.


"Eng, i - itu gue bilang ... Lo sakit. Sakit jiwa," ucap Rossa tergagap dan begitu pelan.


"Hah??? Jadi ... dari tadi tingkah aneh Lo itu karena Lo pikir gue gila? Iya?" bentak Jenn. Rossa terperanjat dan mengangguk pelan.


"Astaga! Benar-benar ini anak minta di tabok ini. Lo itu yang udah gak waras tau gak." Jenn menoyor kepala Rossa.


Putri yang melihat itu tertawa terpingkal-pingkal. Merasa lucu dengan kejadian sejak tadi.


"Tunggu-tunggu, ini keknya ada salah paham" Putri berbicara disela-sela tawanya. "Sini, kita liat dulu video yang dikirim Rossa tadi. Gue juga belom sempet liat karena buru-buru pulang, pas dia bilang Lo sakit," merogoh ponselnya lalu membuka pesan video.


Putri dan Jenn menonton bersama. Tidak ada apapun yang aneh dengan video itu.


"Maksudnya apa ini?" keduanya bertanya kompak pada Rossa.


Rossa menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Ya gue pikir ... Lo udah gak waras. Lagian mana ada orang yang berjemur di tengah hari? Senyam-senyum sendiri, ngomong sendiri, itu kan gila. Gue pikir karena pengaruh LDR-an dan rasa rindu Lo ke Alvino, jadinya buat Lo gak waras," menjelaskan dengan rinci dan santai.


"Ya ampun, Rosaaaaaa ... Lo kebangetan deh," Jenn dan Putri saat itu juga langsung mengacak-acak kepala gadis kalem itu.


Ketiganya tertawa di depan rumah meramaikan suasana rumah mereka di siang yang terik itu.


_Sahabat adalah seseorang yang menari bersamamu di bawah matahari dan berjalan bersamamu di kegelapan_


🌸🌸🌸🌸🌸


.


.


.


.


.


to be continued ...


_____________


Hai semuanya πŸ‘‹


Terimakasih buat yang sudah mampir πŸ™


Jangan lupa komen, like dan rate yah guys 😊


Selamat membaca πŸ€—


follow akun author πŸ‘‡


Ig : @ag_sweetie0425