Simple But Perfect

Simple But Perfect
Unknown Number



Kenn yang baru saja keluar dari kontrakannya pagi itu, dan hendak menaiki motornya. Tiba-tiba dering ponsel yang terdengar menghentikan gerakannya. Lelaki tampan itu perlahan membuka ponselnya dan melihat ada notifikasi pesan dari nomor tak dikenal. Penasaran, ia pun membuka pesan itu dan seketika matanya terbelalak melihat tiga foto gadis cantik yang amat sangat dicintainya.


Belum habis keterkejutannya disertai sedikit kesal dan khawatir. Kembali ia menerima pesan dari nomor yang sama.


Unknown number


Dia cantik dan seksi sekali bukan? Jika kau ingin si cantik itu selalu aman, tinggalkan dia.


Deg!


Jantung Kenn berdetak dengan kencang.


Jenn.


Ia membisikan satu nama yang selalu mampu memporak-porandakan dunianya. Nama yang dan sosok yang menjadi kekuatan sekaligus kelemahannya.


Melihat kembali pesan-pesan yang di kirim orang asing itu, seketika darah Kenn mendidih. Rahangnya mengeras, tangannya terkepal. "Br*ng**k!" umpatnya. Hampir dia membanting ponselnya. Untung saja dia masih mengingat sang kekasih hati.


Lelaki tampan itu mencoba untuk menghubungi nomor si pengirim pesan itu, namun sayangnya nomor yang dituju sudah tidak dapat dihubungi.


Kenn menjadi khawatir. Dia lalu beralih menelpon gadisnya. Tetapi tak ada yang mengangkat. Lagi dia mengulanginya. Masih sama tak ada jawaban. Kenn mulai khawatir. Dengan cepat ia menaiki motornya dan langsung melaju ke rumah kekasihnya dengan kecepatan tinggi.


Apa dia orang yang sama yang mengikutiku semalam? tapi siapa?


Dalam perjalanannya, Kenn terus saja membatin dengan pikiran-pikiran yang tak menentu.


Sesampainya di rumah tiga gadis cantik itu, Kenn langsung membuka pintu pagar dan masuk. Namun sebelumnya, ia menyapu sekeliling rumah itu dengan pandangan penuh selidik.


Cepat-cepat ia melangkahkan kakinya menuju pintu rumah itu lalu mengetuknya.


Tok, tok, tok!


Tak lama setelah itu pintunya terbuka dengan seorang gadis tomboi yang berdiri dihadapannya.


"Eh, selamat pagi, Kak! masuk dulu, Kak. Gue panggil Jenn yah. Sebentar" Kenn mengangguk dengan wajah datar. Putri pun sedikit bingung. Pasalnya lelaki itu selalu datang dengan wajah bahagia dan dipenuhi senyum. Kali ini berbeda sekali. Tidak ada senyuman manis yang sering mereka lihat.


Setelah Putri menghilang dari hadapannya, Kenn masuk dan matanya menangkap sebuket mawar merah yang sama pada foto yang dikirimkan nomor tak dikenal tadi. Tergeletak disudut sofa dalam ruang tamu itu.


Perlahan ia mengambilnya dan mengamati bunga itu dengan datar. Ia pun membaca tulisan pada kartu yang terselip disana.


"Hm, mantannya? atau pengagum rahasianya?" mencoba menerka-nerka. "Kalo hanya pengagum, dia gak mungkin macam-macam kan? gak mungkin juga gue dipaksa buat ninggalin Jenn kan?" masih bermonolog. "Kan hanya sekedar mengagumi" masih dalam posisi berdiri.


"Sayang!" suara lembut yang selalu menenangkan jiwanya memanggil dan mengalihkan perhatiannya.


Kenn membalikan tubuhnya, melihat wajah cantik yang telah menguasai seluruh hatinya. Si cantik itu berjalan menghampirinya dengan wajah bahagia. Dilihatnya bunga yang tadi ditemukannya ada digenggaman sang kekasih.


"Itu gak ada nama pengirimnya. Aneh kan?" menunjuk bunga itu. Kenn tak menyahut. Ia hanya menunduk menghujam netra pekat sang kekasih dengan tajam.


"Ehm, itu tiba-tiba sudah ada di depan pintu dan aku yang mengambilnya. Gak berniat buat disimpen juga kok. Buang aja" memahami tatapan kekasihnya bahwa, tersirat sebuah tanya disana.


Jenn sedikit salah tingkah ditatap seperti itu. Dengan gerakan cepat ia ingin mengambil bunga itu untuk dibuang, namun Kenn menahannya.


"Yakin gak ngeliat siapa-siapa?" Jenn mengangguk. "Sering dapet yang kek begini?" menggeleng. "Jadi baru kali ini?" mengangguk lagi. Kenn pun hanya ikut manggut-manggut lalu menyerahkan bunga tadi pada Jenn.


"Ada apa? gak percaya sama aku?" tanya Jenn seperti menemukan ada gelagat yang tak biasa dari kekasihnya.


"Kenapa keluar rumah dengan pakaian yang kurang bahan itu lagi sih?" mendengus kesal.


Jenn mengernyit. "Eh, tau dari mana?" heran Jenn. "Itu tadi gak sengaja. Pas ada yang ngetuk pintu, aku keluar dan gak ada siapa-siapa kok. Cuman buket bunga itu doang, langsung masuk lagi. Lagian masih didalem pagar juga kok ini" jelas Jenn.


"Ck, tetep aja gak boleh. Kan banyak yang lalu lalang diluar sana yang nengok kesini. Jadi puas kan mereka liatnya" meski nadanya pelan, namun wajahnya terlihat sangat kesal.


"Maaf, sayang! Iyah aku ngaku dah salah. Jangan marah lagi yah" menggoyangkan lengan kekasihnya. Kenn masih diam dan kesal. "Jadi bener, udah gak percaya lagi sama aku?" mulai merengek dan melempar bunga ditangannya begitu saja ke lantai.


Kenn sedikit menyunggingkan senyum kecil dibibirnya. "Aku percaya kok. Mana bisa marah sama kamu. Aku sedikit kesal saja, sayang" mengacak rambut gadisnya.


"Aaaaa,,, jadi hancur lagi kan. ih nyebelin" gerutu si cantik itu sambil merapikan kembali rambutnya menggunakan jemari.


Kenn terkikik. "Tetep cantik kok. Sudah siap kan? ayo!" ingin mengantar Jenn ke kampus. Namun gadis cantik itu masih tetap berdiri dengan wajah cemberut.


"Ayo! tunggu apa lagi?" tanya Kenn sekali lagi.


"Dateng-dateng gak ada sapaan manis-manisnya. Malah marah-marah, banyak nanya, banyak ceramah. Abis itu ngajak pergi gitu aja. Ih nyebelin banget!" mengerucutkan bibirnya.


"Ngambek dia, kak" Rossa dan Putri yang baru keluar dari kamar dan siap untuk berangkat ke kampus.


"Kayak gak tau dia aja, kak" seru si gadis tomboi.


"Maaf sayang" menarik lembut tangan kekasihnya dan membawanya ke dalam pelukannya. Menghujani kepalanya dengan kecupan mesra."Gara-gara bunga tadi aku sedikit hilang fokus. Maaf" bisik Kenn dengan lambut.


"Astaga, berasa nyasar dirumah sendiri" Putri langsung keluar disusul Rossa.


Keduanya menertawakan tingkah dua gadis yang sudah keluar itu. "Kalo sudah di kampus, jangan kemana-mana lagi yah. 15 menit sebelum pulang, ngasih tau. Biar aku jemput tepat waktu. Gak boleh asal main nerima barang dari orang asing, yah" pesan Kenn pada kekasihnya.


"Ada apa? ada yang kamu khawatirkan? tentang buket bunga itu?" pertanyaan beruntun dari Jenn.


"Yah, mungkin itu. Sedikit sih" tersenyum menutupi kegelisahannya. Tidak ingin membuat gadisnya ikutan khawatir.


"Siap laksanakan semua perintah" tersenyum sekilas. "Tapi aku percaya, gak akan terjadi apa-apa sama aku. Kan ada kamu yang ngelindungin aku" ucap Jenn dengan sangat yakin.


Masih dalam posisi memeluk kekasihnya, Kenn menunduk dengan sebelah tangan menarik tengkuk gadis itu lalu perlahan ia menempelkan b*bi*nya pada b**ir Jenn. Mengecup dan mengulum b*b*r sang kekasih dengan sangat lembut dan mesra. Mencecap kembali rasa manis yang kemarin tak puas-puas direguknya. Mereka berciuman sangat dalam dan lama. Sampai Kenn merasa puas dan perasaan gelisah dihatinya perlahan mulai sirna, ia pun mengakhiri ciuman itu.


"Aku akan selalu ada untuk kamu. Tidak akan pernah meninggalkan kamu apapun yang terjadi. Karena kamu segalanya buat aku, Jenn. Percayalah!" berbisik sambil menatap Jenn dengan sangat dalam.


Jenn menyunggingkan senyum manisnya. "Aku selalu percaya sama kamu" membelai lembut rahang tegas yang terpahat sempurna pada wajah tampan lelaki yang kini sangat dicintainya. "Ayo! ditungguin Putri sama Rossa tuh" Kenn mengangguk dan keduanya lalu bergegas keluar.


Baru saja keluar, mereka disambut kedua sahabat Jenn dengan gerutuan dan sebuah pesan yang membingungkan.


"Ngapain aja sih? pacarannya lama bener" Rossa menggerutu.


"Tuh, ada taksi yang nungguin dari tadi" ucap Putri menunjuk sebuah taksi online yang terparkir di depan pagar rumah mereka.


Jenn dan Kenn sama-sama bingung.


"Taksi? siapa yang pesan emang?" tanya Jenn.


"Sopir taksinya bilang, udah dipesan seseorang buat Lo, bebs" lagi kata Putri.


Kenn yang penasaran pun melangkah keluar dan menemui sopir taksi tersebut. Ia menanyakan dan sang sopir menjawab seperti yang dikatakan Putri.


"Maaf Pak! ini saya bayar ongkosnya. Dan Bapak boleh pergi. Tidak perlu repot-repot. Maaf yah pak sudah membuat Bapak menunggu" ucap Kenn dan memberikan beberapa lembar uang untuk sopir taksi itu. Namun sang sopir menolak menerimanya.


"Tapi, saya ditugaskan untuk menjemput Nona Jenn. Saya akan tetap disini dan menunggu" ucap sang sopir dengan tegas.


Bunyi notifikasi yang masuk ke ponselnya menghentikan gerakan Kenn yang ingin berdebat dengan sopir itu. Dibukanya ponselnya itu, dan ia mendapatkan pesan dari nomor yang sama seperti tadi.


Unknown number


Biarkan dia pergi dengan taksi itu. Bukan kah sudah kukatakan untuk menjauh darinya?


__________________________________


.


.


.


.


.


to be continued ...


_________________


Hai hai πŸ‘‹


Jangan lupa tinggalkan jejaknya yah sayang²ku 😍


Plissss kasih like, komen, rate, dan tambahkan ke favorit yah ❀️


Terimakasih untuk yang selalu mampir πŸ™πŸ˜Š


Nantikan STP terus yah 🀭😚


Selamat membaca πŸ€—πŸ€—πŸ₯°


Follow πŸ‘‡


Ig : @ag_sweetie0425