
Universitas xx
Sebuah ruangan yang terletak di lantai dua, gedung Fakultas Keguruan Dan Ilmu Pendidikan, program studi English Departemen. Pada Universitas xx, baru saja selesai dengan proses perkuliahan. Setelah dosennya keluar dari kelas itu, teman-temannya Jenn menyerbu Rossa dengan berbagai pertanyaan.
"Eh, Sa ! si mini kemana ? kok nggak masuk" tanya Alena langsung.
"Nggak kemana-mana tuh, dirumah aja dia" kata Rossa singkat.
"Lah, ngapain dirumah ? sakit dia, sampai nggak ikut kelas hari ini ?" Fio yang bertanya kali ini.
"Enggak juga sih, cuman ya ... gitu. Biasalah kekasihnya berulah lagi, dan kalian juga pada tahu kayak apa kekasihnya itu kan ?" ungkap Rossa.
"Hah lagi dan lagi. Sumpah ya demi apapun, tu cowok nyebelin banget. Ganteng doang, tapi nggak ada akhlak" geram Alena.
"Emang, Jenn dilarang gak boleh ikut kelas lagi ya, sama tu cowok ?" tanya Retha yang mendapat anggukan dari Rossa.
"Ih, si mini kok betah ya sama cowok kek gitu ? kek gak ada cowok lain aja deh. Cinta sih cinta, tapi gak usah sampai segitunya juga kali" Maureen ikutan kesal.
Cinta itu pada dasarnya suci. Adanya kepincangan dalam sebuah hubungan yang mengatas namakan cinta, itu bukanlah salah cinta. Namun tempat dimana cinta itu tumbuh yang salah. Karena cinta tidak memilih kepada siapa dia datang. Kita sendirilah yang berani menumbuhkan dan membiarkan cinta itu bertakhta dalam hati kita dengan metode-metode yang keliru.
πΈπΈπΈπΈπΈ
Bertengkar lalu sesudah itu baikan. Begitulah yang selalu terjadi antara Jenn dan Alvino. Pertengkaran tak selalu berujung pisah kan ?. Sama halnya dengan pasangan ini. Mereka hanya berbeda pendapat, bukan beda perasaan. Perasaan itu tetaplah sama besar dihati kedua insan itu.
Setelah menyelesaikan pertengkarannya dengan sang kekasih, dan mengakhiri panggilan itu, Jenn memilih rebahan dan malas-malasan sambil mengotak-atik ponselnya. Pikirnya apa yang harus dilakukannya dirumah sendirian ?. Namun kemudian, matanya menangkap sebuah pesan chat yang belum dibacanya sejak tadi. Saking ribetnya menghadapi Alvino, membuat Jenn tidak bisa fokus dengan hal-hal kecil disekitarnya. Pikirannya hanya berpusat pada Alvino.
081386xxxxxx
Selamat pagi π
"Hm, nomor tak dikenal, siapa ya ?" Jenn bertanya pada diri sendiri.
Karena melihat nomor yang tak dikenal, Jenn mengabaikannya. Dan membuka akun sosial media miliknya. Banyak DM dari pacar-pacar pajangan menurut istilah Jenn. Yang dibiarkannya saja, bahkan tak ada niat untuk membaca gombalan-gombalan receh disana. Dia tersenyum, begitu melihat postingan Alvino beberapa menit yang lalu. Menandai dirinya dalam sebuah tulisan;
"Still be my girl, do not ever change. Cause i love you more than anything β£οΈ"
Hanya dengan kalimat-kalimat sederhana seperti ini saja, sudah cukup membuat Jenn bahagia. Dan dengan mudahnya memaafkan sang kekasih yang bossy itu.
"Akh, cinta saja nggak buat kenyang ternyata. Masak ah, laperrrr" Jenn bangun mengganti pakaian rumahan, dan bergegas menuju dapur dan memasak. Karena tadi dia hanya baru makan sedikit, dan dilanjutkan dengan pertengkarannya tanpa menghabiskan sarapan.
πΈπΈπΈπΈπΈ
Disela-sela aktifitasnya mengantar penumpang. Entah mengapa tiba-tiba saja, Kenn teringat wajah cantik gadis kecil yang sudah mencuri perhatiannya. Saat pertama kali mereka bertemu dalam sebuah insiden kecil waktu itu. Kenn menggoyangkan kepalanya. Sekedar ingin mengusir bayang wajah cantik itu dari pikirannya.
"Ada apa nak ? anda tidak apa-apa kan ?" tanya penumpang dibelakangnya, yang adalah seorang bapak-bapak.
"Ah, nggak papah pak. Saya baik-baik saja, maaf ya pak, kalau gak nyaman" jawab Kenn tak enak hati, karena merasa telah mengganggu kenyamanan pelanggan.
"Tidak apa-apa nak" kata sang bapak-bapak itu, menepuk kecil bahu Kenn. "Saya pikir tadi pusing, mikirin pacar yah ?" lanjut sang bapak menebak.
Si bapak bisa aja, keturunan cenayang mungkin.
Kenn bergumam dalam hati.
"Bukan pacar pak, tepatnya pencuri hati" dan itu hanya bisa terucap dalam hatinya. Tidak diucapkan langsung kepada bapak itu.
Dia merasa apa yang ditebak bapak itu benar adanya. Namun bukan pacar, tapi gadis kecil pencuri hati. Yang bahkan sudah memiliki hati yang lain tuk disinggahi. Bukan hatinya. Apa sedikit saja Kenn boleh berharap ?Tak ada yang tak mungkin di dunia ini bukan ?
Setelah sampai ketempat tujuan, setelah mengantarkan bapak tadi dengan selamat. Kenn melajukan motornya menuju warung makan favoritnya, untuk mengisi perut. Dia menggunakan kesempatan ini, untuk mengirimkan pesan pada gadis cantik bertubuh mungil. Yang nomornya sudah di save sejak beberapa hari lalu, yang didapatnya dari adik sepupunya waktu itu.
"Tapi gue bilang apa ya ?" pikir Kenn bermonolog.
Dia mulai mengetik beberapa kata dilayar ponselnya, yang kemudian dihapus kembali.
"Apa selamat pagi aja ya ? akh basi banget" Kenn terus berpikir, kata apa yang tepat yang akan dikirimnya.
"Bilang hai aja gitu ? atau halo cantik. Ck, ribet banget sih, udah kayak bocah SMP aja" lagi-lagi Kenn dibuat pusing memilihkan kata yang tepat. Pada akhirnya, ucapan selamat pagi di lengkapi emoji smile yang dikirimkannya pada gadis pencuri hatinya itu.
Jenn π
Selamat pagi π
Kenn menyimpan nama Jenn di list kontaknya dengan simbol hati yang menjelaskan bahwa sebagian dari hatinya telah dicuri gadis manis berambut panjang itu.
.
.
.
.
.
to be continued ...
.
.
.
Happy reading buddies πβ€οΈ
Jangan lupa tinggalkan jejaknya yah ππ₯°π₯°π₯°