Simple But Perfect

Simple But Perfect
Kalah Sebelum Perang



Sekembalinya dari kamar, dia menjelaskan kepada kedua sahabatnya tentang semua yang terjadi hari ini, yang membuat nomernya tidak bisa dihubungi. Ia pun menceritakan perkenalannya dengan lelaki yang sudah memperbaiki ponselnya, dan juga pertemuannya dengan Dion, Reni dan yang lainnya tanpa terlewatkan satu pun.


"Jadi cowok itu sepupunya Reni?" tanya Rossa yang juga kenal dengan Reni. "Jangan bilang Lo suka suka sama dia," sambung Rossa memicingkan matanya.


"Sembarangan, jangan ngadi-ngadi Lo. Emang gue Lo yang Jones?" sahut Jenn tak terima. "Nih denger ya, gue udah punya Alvino yang sempurna, gue juga punya beberapa koleksi pajangan yang selalu siap saat gue butuh. Kurang apa lagi coba? So, nggak mungkinlah gue suka sama dia," sambung Jenn mulai membawa status.


"Iyah, iya. Gue tau gue jomblo, tapi nggak usah pake jones juga kali, gue nggak ngenes yah." balas Rossa yang tidak suka jika status kejombloannya dibawa-bawa. "Gini-gini gue jomblo ter-happy dan terhormat yah," lanjut Rossa bangga dengan statusnya.


Seketika rumah yang sejak pagi sepi tak berpenghuni itu, ramai dipenuhi gelak tawa Jenn dan Putri. Mereka terbahak begitu mendengar Rossa yang membanggakan status kejombloannya. Rossa kesal melihat keduanya dan berlalu ke dapur meninggalkan sahabat-sahabat lucknutnya itu untuk memasak.


"Ah, kebetulan gue laper banget mami," keduanya mengikuti Rossa ke dapur. Seperti itulah mereka bertiga. Saling marah, menyindir, menegur bahkan saling menertawakan namun tak pernah ada dendam. Dan akan cepat melupakan kesalahan dan saling memaafkan, tanpa kata itu terucap dari mulut mereka. Begitulah sahabat sejati.


"Sana ih, mandi dulu baru boleh makan, jorok banget." Rossa mengusir keduanya yang sedang mengendus-endus aroma masakannya.


"Ck, emang Lo udah mandi? Perasaan belom kan? Nah, sama kek kita. Apa bedanya?" protes si nona trail.


"Kalo gitu, bantuin gue biar cepat selesai masaknya. Dan kita bisa mandi bertiga, setelah itu baru makan bersama, oke?" tawar Rossa.


"Nah, ini baru oke!" sahut Jenn mengangkat sebelah tangannya, lalu melipat jari jempol dan jari telunjuknya membentuk bulatan sambil mengedipkan sebelah matanya.


Mereka lalu memasak bersama secepat kilat, dan mandi bertiga, kemudian makan bersama disaat sore menjelang malam itu. Begitulah keseharian ketiganya jika dirumah.


๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ


Di langit mulai tampak kilau kemerahan, semburat jingga mempertontonkan indahnya, pertanda malam akan segera datang. Matahari tersenyum dengan hangat sebagai simbol perpisahan dengan hari itu, untuk beristirahat di peraduannya dan berjanji akan kembali esok.


Di sebuah rumah yang cukup besar dan sejuk dengan pekarangan yg ditumbuhi beberapa pohon dan tanaman lainnya. Di depan teras rumah itu, tampak dua orang sepupuan duduk dan berbincang ringan di sana. Mereka adalah Kenn dan Reni. Yang sudah tiba di rumah Reni sejak tadi. Dan setelah makan bersama, Kenn hendak pulang. Namun dia teringat sesuatu, dan memaksa Reni untuk menemaninya berbincang sebentar.


"Hmm, Ren! Lo udah kenal lama sama Jenn?" tanya Kenn langsung.


"Lumayanlah, Kak. Emang kenapa? Kakak suka ya sama Jenn?" tebak Reni tersenyum menggoda kakaknya.


"Hmm kayaknya deh, Ren." Kenn menjawab sambil tertawa memamerkan deretan gigi putihnya. "Dia gimana sih orangnya? Hanya satu yang gue tau, dia cantik." Kenn tertawa lagi. Reni geleng-geleng melihat kakaknya.


Sepertinya dia benar-benar sudah jatuh cinta pada Jenn. Reni membatin.


"Pokoknya orangnya baik banget. Tapi ... Dia udah punya pacar, kak." kata Reni singkat.


"Nggak usah kecewa gitu juga kak, ha-ha-ha. Masih ada cewek lain kok," Reni tertawa prihatin melihat senyum yang hilang di wajah tampan kakaknya. "Atau, mau nomer ponselnya aja? Biar bisa berkirim pesan. Nggak jadi pacar, kan masih bisa jadi teman," tawar Reni sengaja ingin menghibur Kenn.


"Nah, boleh juga tuh, Lo emang adik pengertian." Kenn kembali senang lalu mengacak rambut adiknya.


Setelah mendapatkan nomor ponsel Jenn, lelaki tampan itu berpamitan pada Reni, Juga Om dan tantenya, orang tua Reni. Kemudian ia melajukan motornya meninggalkan rumah Reni.


๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ


Setelah makan dan mencuci piring bekas makan mereka, Jenn segera kembali ke kamar menghidupkan ponselnya yang sudah cukup terisi, dan menghubungi sebuah kontak di sana yang bertuliskan My Alโฃ๏ธ dihiasi emoji hati berwarna merah. Baru saja Jenn mendengar bunyi telepon itu terhubung dengan nomor tujuannya, seseorang telah menjawabnya di sana dengan tidak sabaran.


"Jenniferrrrrrrr !!!" Jenn lantas menjauhkan ponsel dari telinganya begitu mendengar suara berat meneriaki namanya dari balik ponsel.


Jenn tahu betul jika kekasihnya itu sedang marah, kesal bahkan cemas bercampur rindu karena tak ada kabar darinya seharian ini. Jenn pahami betul jika kekasihnya itu tidak akan bisa melewati sehari saja tanpa kabar darinya. Begitupun dengan Jenn, namun dia tidak se-bucin Alvino.


.


.


.


.


.


to be continued ...


.


.


.


Happy reading buddies ๐Ÿ˜Šโค๏ธ


Jangan lupa tinggalkan jejaknya yah guys ๐Ÿ™๐Ÿฅฐ๐Ÿฅฐ